
Rio masih terdiam menatap beberapa file yang ada di meja ruang kerja nya. Fikirannya melayang membayangkan bibir lembut Maya yang mengecup dahi nya tadi siang.
Kecupan ringan yang entah kenapa membuat hati Rio berdesir tak karuan
Dadanya terasa sesak dan semakin sesak ketika senyuman polos Maya bermain di dalam otaknya.
" Sialan... !!! " Teriak Rio frustasi.
" Maaf tuan.. Ada yang bisa saya bantu ?!! " ucap salah satu pelayan yang setia menunggu Rio didalam ruangan kerjanya.
Rio menatap pelayan itu dengan sedikit canggung.. Akhhhh.. Bahkan sekarang dirinya lupa kalau dia selalu di kawal dimanapun dia berada.
" Gue mau tidur.. "
" Siap Tuan.. "
Rio berjalan menuju kamarnya, namun kakinya terhenti saat dia melihat tubuh Maya yang hanya terbalut dengan pakaian tidur yang sangat tipis, hingga memperlihatkan lekuk tubuh Maya yang terbilang cukup sexy untuk seukuran tubuh wanita.
" Akhh kenapa tiba-tiba ruangan ini terasa panas " Rio mengibas-ngibaskan tangannya kearah wajahnya yang terasa panas. Mungkin saat ini wajahnya sudah memerah.
" Apa AC nya rusak ?! " gumam Rio yang semakin kepanasan.
" Rio.. " panggil Maya dengan suara serak khas orang bangun tidur yang entah kenapa suara itu terdengar begitu sexy di telinga Rio.
" Akhh shitt... " umpat Rio didalam hatinya saat Maya berbalik menghadapnya.
Rio membulatkan mata nya saat pandangannya tertuju pada dada Maya yang jelas terlihat kalau saat ini Maya tidak mengenakan pakaian dalam.
Tak biasanya Maya seperti ini !! Apa Maya sedang ingin menggodanya ?!!
Bagaimanapun juga Rio seorang pria sejati, lagian mana ada seekor kucing jika diberi ikan segar tidak langsung dilahap.
Uhhfftt haruskah dia menahan hasratnya yang sudah bergejolak saat Maya mengecup dahi nya atau kah dia melakukannya ?!! Toh mereka sudah sah menjadi suami istri. Dan sekarang pastinya R butuh di jenguk sang papa.. Iya kan ?!!!
Rio mengepalkan tangannya kuat berusaha menahan hasratnya yang semakin menjadi saat Maya bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kearahnya dibawah sinar lampu yang remang-remang ditambah lagi sinar rembulan dari luar. Sungguh pemandangan yang sangat mengagumkan.
" Kenapa kamu bangun ?!! Apa R butuh sesuatu ?!! " Maya menggelengkan kepalanya dengan wajah ngantuknya.
" Terus, kenapa kamu bangun?!!" tanya Rio berusaha meminta penjelasan.
" Panas... " Maya mengibaskan rambutnya tepat di hadapan Rio, membuat pria itu semakin menegang. Aroma tubuh Maya begitu khas membuatnya semakin tergoda untuk mencium aroma itu lebih dalam. Bahkan yang disana, sudah siap untuk melaksanakan tugasnya bahkan sudah menuntut untuk bergegas masuk membobol pertahanan musuh.
" Panas apanya !! Disini dingin Maya.. "
" Dingin... !! Terus kenapa kamu juga berkeringat ?! " tanya Maya polos.
Rio salah tingkah, jujur saja dia merasakan sangat kepanasan saat ini. Bahkan saat ini juga dia kepengen untuk membuka seluruh pakaian yang ia kenakan. Kalau saja Maya tidak berada dikamar ini, mungkin saat ini Rio sudah tidur tanpa menggunakan sehelai pakaian di badannya.
" Tadi habis olah raga " kilahnya. Maya menatap tak percaya.
" Dengan pakaian itu ?!! " tanya Maya heran.
Rio memandangi dirinya sendiri.. Akhh shiittt... Baru kali ini dia merasa bodoh dengan tingkahnya sendiri. Kenapa dia bisa seceroboh ini !!! Mana ada orang yang habis olah raga menggunakan pakaian dengan stelan Jas lengkap seperti ini.
Bodoh...
" Anu.. Tadi... " Rio menggaruk kepalanya canggung. " Ehhh.. Mau ngapaian ?!! " tanya Rio frustasi. Tiba-tiba saja Maya hendak membuka pakaiannya.
Astaga... Cobaan apa lagi ini !!
" Panas... " ucap Maya risih.
" Lo mau menggoda gue ?!! " ucap Rio sedikit bernada marah.
" Nggak.. " Maya menggeleng cepat. " Panas... " keluhnya sambil mengibaskan tangannya.
" Mandi sana.. "
" Nggak mau.. "
" Katanya kepanasan... " kesal Rio.
" Airnya dingin.. Nggak mau mandi.. " Rio mendesah kesal. Dia melirik AC yang ada di ruangannya. " Sudah paling kecil kok suhunya " gumamnya didalam hati.
" Jangan buka disini Maya.. "
__ADS_1
" Panas... Ichhh.. Kamu tuch yach nggak ngerti banget.. Gue itu kepanasan Rio " bentak Maya. Rio membulatkan matanya kesal. Ini pertama kalinya Maya membentak dirinya, dan ini pertama kalinya ada orang yang berani berkata tinggi dihadapannya kecuali keluarga dan sahabatnya.
" Hikkksss.. Lo nggak apa-apa nggak perduli sama gue, tapi lo harus perduli sama R.. Dari tadi dia itu kepanasan.. " tangis Maya.
Rio semakin berdecak kesal, tangannya mengepal saat Maya mengeluh.
Mana ada bayi di dalam rahim ibunya bisa kepanasan..
" Panggil pelayan perempuan kesini " teriak Rio marah pada pengawal yang berjaga di luar kamarnya. Hanya dalam hitungan 5 menit 3 pelayan wanita sudah masuk kekamar Rio.
" Ada apa Tuan.. "
" Bawa dia ke kamar tamu " perintah Rio menunjuk Maya yang masih menangis di hadapannya.
" Nggak mau.. " Tolak Maya." gue mau tidur disini.. Ini kan kamar gue "
" Keluar.. "
" Hikksss.. Nggak mau.. "
" Ya sudah.. Lo disini.. Siapkan gue kamar " ucap Rio pasrah. Dia malas hari ini meladeni Maya. Semakin dia meladeni Maya, hatinya semakin tak karuan. Bisa bahaya..
" Nggak mau.. Lo jangan pergi.. Hikksss.. "
" Ok gue nggak akan pergi, tapi lo nggak boleh tidur tanpa baju "
" Panas.. Hikkss "
" Maya... " bentak Rio keras. Membuat pelayan dan Maya tertunduk ketakutan.
Air mata Maya tak henti mengalir walaupun dia berusaha menahan suara tangisnya agar tak terdengar oleh Rio.
" Cepat siapkan kamar buat gue "
" Hikksss... "
" Kenapa lagi lo nangis ?!! " tanya Rio frustasi.
" Gue cuma pengen disini sama lo, bukannya lo bilang kalau gue boleh tidur sama lo.. Terus kenapa lo mau tidur di kamar lain.. Apa gue mengganggu lo selama ini ?!! " lirih Maya pelan.
" Kalau gue memang mengganggu lo, sebaiknya gue yang pergi.. Gue akan pulang kerumah mama.. "
" Gue cuma nggak mau mengganggu lo.. "
" Nggak mau mengganggu atau sengaja ingin pergi.. Haaa... " Tanya Rio dengan suara tinggi.
" Jangan mentang mentang gue menikahi lo, jadi lo bisa seenaknya keluar masuk dirumah ini... Ingat status lo.. " Maya menatap Rio dalam.
Status... !!
Ia.. Dia lupa dengan statusnya dirumah ini.. Kalau dia hanyalah budak yang harus melahirkan bayi Rio yang ada di rahimnya, tak lebih.
Bodoh... Bodoh.. Maya bodoh.. Makinya pada dirinya sendiri.
Beberapa hari ini Maya terlena dengan kebaikan Rio hingga dia lupa dengan kedudukannya dirumah ini. Bahkan dia lebih rendah dari 3 wanita yang memakai baju pelayan dihadapannya.
Maya berbalik dan berjalan menuju kamar mandi dalam kebisuannya. Dengan sangat hati-hati dia menutup pintu kamar mandi dan menutup mulutnya erat agar tangisnya tak terdengar oleh Rio. Sekuat tenaga dia menahan rasa sakit di dadanya.
Perkataan Rio yang mengingatkan statusnya dirumah ini sangat menusuk hatinya.
Maafkan mama sayang..
Maya mengelus perutnya yang masih kelihatan rata sambil menggigit bibir bawahnya
Sial....
Teriak Rio sambil melemparkan vas bunga ke sembarang arah. Dia menyesal mengatai Maya, dan mengingatkan akan status Maya disini.
Entah kenapa dia merasa marah mendengar Maya yang akan pergi dari dirinya. Rio merasa kalau Maya akan pergi untuk selama-lamanya.
" Tuan... "
" Apa... !!!! " bentak Rio pada pelayan yang memanggilnya dengan pelan.
" Saya fikir nyonya sedang mengidam Tuan " ucap pelayan itu tanpa sedikit rasa takut.
__ADS_1
" Ngidam.. " lirih Rio pelan.
" Iya.. Sewaktu saya hamil, saya juga seperti itu sama suami saya Tuan.. Saya selalu ingin didekatnya dan selalu ingin dimanja sama suami saya.. "
" Tapi nggak pakai buka baju segala kan " ucap Rio frustasi.
" Itu karena nyonya benar-benar merasa kepanasan Tuan. Ibu hamil memang sering merasakan kepanasan.. " Rio menyimak dengan baik apa yang di ucapkan pelayan itu. " Sebaiknya Tuan membujuk nyonya, karena emosi ibu hamil sering kali tidak stabil dan lebih sering merasa sedih dan terabaikan. Kalau nyonya sering mengalami hal seperti itu, akan berdampak kurang baik dengan bayi nya." Rio menghela nafas panjang. Sepertinya apa yang dikatakan pelayannya ada benarnya juga. Kalau Maya sering menangis, bisa-bisa R akan bermasalah.
" Panggil Maya keluar.. " perintah Rio pelan. Bergegas pelayan itu mengetuk pintu kamar mandi dan menggiring Maya berjalan kehadapan Rio.
Tanpa sepatah katapun Maya berdiri menunduk dihadapan Rio. Sesekali, isak tangisnya terdengar begitu pilu ditelinga Rio membuat hatinya sedikit sakit.
" Tidur disana.. Besok gue akan suruh beberapa orang untuk memasang 3 AC dikamar ini, biar lo nggak kepanasan lagi " ucap Rio membuat ketiga pelayan **** senyum mereka.
Ini pertama kalinya Rio berbicara dengan bernada pasrah seperti ini.
Tanpa menyela, Maya berjalan ke tempat tidur dan berbaring memunggungi Rio yang masih berdiri menatap punggungnya.
" Kalian boleh pergi.. "
" Baik Tuan.. "
Panas... Keluh Rio didalam hatinya. Kenapa malah dirinya yang merasakan kepanasan saat ini.. Bahkan Rio ingin sekali membuka pakaiannya agar panasnya hilang.
Apa perasaan ini yang dirasakan Maya barusan !!!
" Maya... "
" Iya Tuan... " jawab Maya pelan dengan suara seraknya habis menangis.
Tuan... !!!
Kenapa Maya balik memanggil dirinya dengan sebutan Tuan..
" Panas... " ucap Rio keceplosan.
" Tidak Tuan.. Saya tidak kepanasan lagi " bohong Maya sambil menarik selimut untuk menutupi dirinya.
" Bukan lo tapi gue... " kesal Rio.
" Tuan, mau perintahkan saya apa ?!! " Tanya Maya hormat sambil menatap Rio dengan matanya yang sembab.
Lepasin baju gue... Gumam Rio didalam hatinya.
" Siapkan air dingin... "
" Baik Tuan.. "
" Ehh.. Jangan... Ehmm siapkan gue pakaian tipis.. "
" Baik Tuan.. "
" Ehh... Nggak jadi... "
Maya menatap Rio dengan tatapan kesal. Sebenarnya apa yang di inginkan Rio.
" Lo beneran nggak merasa kepanasan lagi ?!! " Maya menggeleng pelan. " Sial.. Gue kepanasan banget... "
" Kalau Tuan merasa kepanasan, buka baju saja Tuan.. Itu mungkin bisa membuat Tuan sedikit merasa nyaman.. "
" Tapi lo... "
" Kenapa dengan saya Tuan ?!! "
" Apa kamu tidak merasa risih melihat saya tidur tanpa mengenakan pakaian... " Maya menggeleng. Dia tidak kepikiran akan risih jika Rio membuka pakaiannya.
Tadi dia juga merasakan kepanasan, bahkan sangat kepanasan. Hingga dia ingin sekali membuka pakaiannya. Mungkin saat ini Rio juga seperti itu.. Bukan kah itu hal yang wajar, kenapa harus risih.
Rio berjalan mendekat kearah Maya sambil berusaha membuka jas dan kemeja yang dia kenakan. Nggak ada reaksi sedikitpun di raut wajah Maya saat satu persatu pakaian Rio terlepas dari tubuhnya.
Apa sekarang daya tariknya di hadapan wanita sudah menurun ?!! Kenapa Maya tidak terlihat tergoda seperti wanita lainnya saat melihat tubuh atletis nya.
" Apa Tuan membutuhkan sesuatu ?! " tanya Maya dengan wajah datarnya.
" Ya... "
__ADS_1
" Tuan butuh apa ?!! "
" Tubuh lo... "