Bad Liar

Bad Liar
10 DAVA dan KEBENARAN


__ADS_3

Di dalam ruangan, Vander sibuk menangani Ira.


Ini pasti karena ia telat minum obat- Batinnya.


Vander amat khawatir karena kondisi Ira yang malah semakin memburuk.


Akhirnya setelah memasang alat pendeteksi denyut jantung, Vander terduduk di bangku sebelah brankar. Ia menunduk sambil merenung. Di luar sana ada Dava. Ia tak tau harus menjelaskannya bagaimana.


"Dok, kita pindahkan atau?" Tanya salah seorang suster yang ikut menangani Ira. Vander terbuyarkan lamunan dari lamunannya. Ia berpikir sejenak lalu menjawab.


"Pindahkan ke ruangan saya saja. Dan taruh alat seperlunya ke ruangan saya." Ujar Vander. Suster itu mengangguk dan mulai membereskan peralatannya. Kemudian dibantu para suster lainnya memindahkan Ira.


Saat Vander keluar, ia menemui Dava dan Bu Ning terlebih dahulu.


"Gimana keadaan Non Ira dok? Non Ira ga kenapa-napa kan?" Tanya Bu Ning.


"Iya Bu. Ira tidak apa-apa kok. Tidak usah cemas. Ibu pulang saja. Saya dan Dava yang akan menjaga dan menghubungi keluarganya."Ujar Vander. Dava juga mengangguk menyetujui. Ia berencana menanyakan apa yang disuarakan di pikirannya.


"Ah terima kasih den. Dan nanti kalau nyonya sama tuan besar datang, tolong kasih tau kalau saya ambil cuti. Saya tidak bisa mengurus Non Ira. " Minta Bu Ning.


"Iya Bu. Nanti saya sampaikan." Jawab Vander.


"Terima kasih den. Kalau begitu saya permisi."


Akhirnya Bu Ning keluar dan pergi dari rumah sakit.


Dava menatap kakaknya dan bersiap-siap untuk menerkamnya.


"Kak?" Panggil nya geram. Ia yakin Vander mengetahui semuanya.


"Ayo ikut gue...." Ajak Vander yang sudah mengetahui gelagat adiknya.


Mereka pun berjalan menuju ruangan Vander.


"Ira dimana kak?" Tanya Dava.


"Di ruangan gue..." Jawab Vander santai. Tapi hatinya tetap tak tenang.


Ira gue minta maaf banget harus ceritain ini...


Ceklek...


Pintu ruangan didepan mereka terbuka dan para suster keluar dari ruangan yang bertuliskan 'dr. Vander spesialis penyakit dalam'


"Semuanya sudah beres dok. Kami permisi.."Akhirnya Suster- Suster itu pergi dari sana. Vander dan Dava masuk ke ruangan Vander.


Di sana, sudah ada Ira yang terbaring lemah di ranjang dengan banyak selang terpasang. Dava sampai meringis melihatnya. Akhirnya mereka duduk di sofa dekat ranjang itu.


Memang ruangan Vander ini sangat luas. Awalnya memang ada 2 brankar dan meja serta tak kerjanya. Tapi karena Ira sering kesini akhirnya ia memutuskan membeli ranjang dan sofa yang nyaman.


"Kak, jelasin.!" Ujar Dava.


"Panjang Dev, " Dev adalah panggilan sayang Vander ke adiknya.


" Pokoknya jelasin. Aku punya hak dong buat tahu masalah Ira..."


"Hh... Oke..


Nah jadi, Ira itu udah nikah..."


"HAH??!! Becanda lo ya??!" Seru Vander tak percaya.


"Ah... lo motong sih.. ga jadi deh.."Vander pun bersiap-siap untuk beranjak dari situ.


"Iya-iya gak lagi deh...." Dava pun membujuk Vander agar melanjutkan ceritanya.


"Ira tuh sebenarnya emang dijodohkan. Tapi dia ga tau kebenaran ini. Lo masih inget paman Haico?? Nah Ira dijodohkan sama anak paman Haico. Awalnya emang harusnya Indri yang dijodohkan karena dia anak pertama. Tapi Dia ga mau. Tujuan sebenarnya mereka menikah adalah agar Cahaya, anak paman Haico bisa lepas dari trauma dan bipolarnya. Ira dan keluarganya ga tau soal itu awalnya. Tapi Ira melihat sikap Cahaya setelah menikah dia jadi ngerti kelainan Cahaya. Jadi dia milih diam dan membantu Cahaya. Dia udah ngelakuin banyak cara biar Cahaya sembuh. Tapi belum membuahkan hasil. Tapi kyknya sekarang berhasil deh.


" Satu tahun yang lalu, Cahaya sakit ginjal dan Ira donorin ginjalnya."


"Lah kan ginjal dia juga hasil donoran kak... " Sela Dava. Seketika Vander melirik tajam Dava dan mendesis.


Dava hanya memberi tanda 'peace' dengan jarinya sambil cengengesan.


"Ya makannya itu... Sekarang kaeadaan nya mengkhawatirkan. Rencananya dia memang mau ke Belanda buat berobat. Dan Dava... Jangan bilang apapun ke keluarga kita, Ira, atau orang terdekat Ira. Bisa-bisa digorok gue...."Ujar Vander tajam. Vander bisa dengan mudahnya mendapat info yang benar dari Haico saat Ira donorin ginjal waktu itu.


Tidak mendengar omongan Vander, Dava malah merenung.


Cahaya...Cahaya.... kenapa tidak asing?? mm...


Ah iya.. Dia yang waktu itu ikut balapan sama ceweknya yang namanya... Mmm...Galon? Guling?? Gla... mm gla siapa ya?? Ah gladis.

__ADS_1


Tapi kalau ira istrinya, berarti.....


" Woy lo dengerin ga sih??" Seru Vander.


"EH,, iya-iya dengerin...." Jawab Dava malas. Ia masih sibuk dengan pikirannya.


Vander membuka handphone nya dan mulai memainkannya.


"HAH?!" Seru Vander kaget.


Plak!


Saking kagetnya Dava refleks menepuk Kepala Vander.


"***** sakit ****...."


"Abis nya lo ngagetin... kenapa sih?"Tanya Dava.


"Besok harusnya Ira pengumuman *****. Gimana nih?" Tanya Vander kalang kabut.


Dava terlihat berpikir sejenak.


Ia pun ikut membuka p ponselnya dan mencari kontak sesorang.


Ia menelepon ayah Ira.


tut... tut...


panggilan masih menyambungkan.


"Lo telfon siapa ****!" Ujar Vander.


"Paman..." Ujar nya santai .


"EH ****... Jangan lah... Kalo ketauan mati gu.."


"Halo uncle. Apa kabar?" Belum sempat Vander menyelesaikannya panggilan sudah tersambung. Vander pun pasrah apa yang akan terjadi.


" Uncle aku di indo dan baru aja ketemu Ira."


"..."


" Iya. Katanya dia besok pengumuman. Uncle ga dateng?"


"..."


"..."


"Ya. Baiklah Uncle. Tapi Ira sedang ke kamar mandi. Katanya ponselnya rusak."


"..."


" Baiklah. Iya Uncle. Sampai jumpa."


"Lemes kali tu mulut ngomongnya."Sindir Vander. Ia tak menyangka adiknya begitu fasih untuk berbicara bohong seperti itu.


"Iya dong.... Ooh Aunty dan Uncle gak bisa datang. Tapi aku akan menggantikannya."Ujar Dava.


"Heh! Bagaimana kalau Cahaya mencarinya?Kau mau bilang apa?" Ujar Vander.


Dava terlihat berpikir sejenak


"kalau gitu.. gue langsung ke kepalanya aja minta surat keterangan lulus nya. Trus pulang deh." Jawabnya enteng.


"yaudah deh terserah lo. Tapi jangan sampe ketauan ya." Ujar Vander. Dava pun tersenyum penuh arti.


.


.


.


Cahaya sedang duduk di salah satu club. Ia bersama Gavin. Cahaya sudah mulai mabuk dan berbicara ngelantur .


"Lo tau Vin? Entah kenapa gue marah banget waktu ngeliat Semua cewek. Tapi gue lebih marah karena ngeliat ira itu polos. Gue jadi bingung... anatara bersalah sama marah...


"Dan lebih parahnya lo tau? Dia minum obat .... Mirip banget sama nyokap gue... Haha j****g!" Umpatnya. Gavin yang tadinya menyimak akhirnya angkat suara.


"Lo kumat ya? Apa yang lo lakuin?" Tanya Gavin.


"HAH gak parah kok. Paling cuma pipi, rambut, dan hahahaha dia pingsan...." Racau Cahaya.

__ADS_1


Kayaknya emang bener dia kumat lagi deh... aduh ira... Gimana kondisi dia sekarang? batin Gavin dalam hati.


"Lo tau rasanya di hianati? Sakit Vin. Gue punya kelainan ya emangan.... Gue ga normal. Gue monster Vin... Ira pingsan Vin... Dan Obat itu... obat.." Belum selesai Cahaya berbicara ia sudah tertidur. Gavin cemas.


Apa penyebab Ira pingsan? Jangan-jangan Cahaya mukul terlalu kenceng?


Melihat Cahaya yang tertidur membuat Gavin menghela nafas. Padahal besok ada pengumuman dan pesta kelulusannya.


Ia pun membopong dan membawa Cahaya pulang.


Di dalam mobil Cahaya tertidur sambil mengigau. Gavin hanya diam dan memperhatikan jalan. Untungnya dia tidak banyak minum.


Sampai di Apartemen Cahaya, Gavin memencet bel.


Tringgg.... tringg...


Ceklek.


"Ah, maaf den Gavin. Silahkan masuk." Ujar Bu Ning. Gabungan masuk dan membawa Cahaya ke kamarnya. Sedangkan Bu Ning, kembali beberes untuk pulang ke kampung besok.


Setelah membaringkan Cahaya, mencopot sepatu dan menyelimuti nya, Gavin melihat keadaan kamar. Pandangannya jatuh ke obat yang berceceran di dekat sofa. Ingatannya jatuh pada saat Cahaya bilang obat2. Gavin pun mendekati dan mengambil obat itu. Obat itu berwarna Hijau. Dia meneliti sekitar dan melihat botol obat di bawah kolong meja.


Gavin pun menggapainya dan meneliti botol obat tersebut. Namun nihil karena labelnya telah dilepas. Akhirnya Gavin memasukan beberapa obatnya ke dalam botol lalu dimasukkannya ke dalam sakunya.


Ia menyadari sesuatu.


Ira, dimana Ira?


Akhirnya dia keluar dan menemui Bu Ning. Ia mengetok kamar Bu Ning.


tok tok tok


"Maaf Bu?" salam nya.


Bu Ning yang sedang beberes langsung membukakan pintu untuk Gavin.


"Iya den? Ada apa ya?" Tanya Bu Ning halus.


"Ini bu, Ira kemana ya?"


Raut wajah Bu Ning langsung berubah.


"Ah anu den, sebenernya... Non Ira di rumah sakit bareng kerabatnya ...." Kilah Bu Ning. Ia tidak mengatakan kalau Ira sakit.


"Bu saya mohon jujur sama saya..." pinta Gavin karena melihat sesuatu yang mengganjal dari ekspresi Bu Ning.


"Maaf.. Maaf den... saya minta maaf. Non Ira di rawat di rumah sakit sejak tadi pagi. Tadi pagi setelah Den Cahaya pergi Non Ira pingsan. Disana dia dijaga kerabatnya yang dokter." Aku Bu Ning.


Gavin terlihat mengerutkan dahinya.


"Trus sekarang Ibu mau kemana?" Tanya Gavin.


"Saya mau pulang den, Non Ira kasih cuti saya. "


"Yaudah Bu. Lanjut saja. Saya permisi. Terima kasih bu." Gavin pun pergi ke kamar Cahaya lagi.


Gavin menimbang-nimbang. Dia akan pergi menemui Ira atau menjaga Cahaya? Tapi jika Cahaya tak dijaga, dia bisa melakukan hal di luar nalar. Akhirnya Gavin memilih duduk di meja belajar Ira dan menjaga Cahaya.


Ia melihat-lihat buku ira. Satu buku bersampul kuning menarik perhatiannya. Iapun mengambil dan menelitinya. Mulai dari sampul, pembatas, hingga warna kertasnya berwarna kuning.


Ia membaca lembar pertama dalam buku.


Untuk Cahaya


(suatu saat nanti)


Bukan nya melanggar privasi orang, tapi Gavin semakin penasaran. Ia pun langsung membuka lembar tengah nya. Di sana ada foto Ira saat masih kecil dan 2 orang cowo yang seperti nya bule. Ia merasa kedua cowok itu tak asing baginya. Disitu ira memakai baju Rumah Sakit. Dan foto di bawahnya Ira dalam ruang operasi bersama 1 orang dokter lelaki dan belakangnya seorang cowok yang terbaring lemah. Gavin mencoba melihat jelas siapa cowok itu, namun gagal. Akhirnya ia membuka lembar belakangnya yang terdapat tulisan.


*****Hai Cahaya. Sekarang kamu sudah sehat kan? Jangan sakit lagi ya. Soalnya kalau kamu sakit lagi, aku udah ga bisa memberikan apa-apa untuk kamu. Di balik lembar ini ada foto saat aku masih kecil kan?


Nah, jadi dulu itu aku gagal ginjal. Terus aku harus cangkok ginjal. Untungnya ada orang baik hati buat donorin ginjalnya buat aku. Saat itu cuma 1 ginjalku yang bisa di cangkok. Untung nya sampai sekarang aku masih sehat. Masih bisa jadi istri mu. Bisa jagain kamu....


Tapi sayangnya kamu malah jatuh sakit. Aku ga punya pilihan lain Ya buat selamatiin kamu. Kamu kayak gitu juga karena aku. Aku lalai jaga kamu.


Dulu orang itu udah baik selametin aku. Sekarang gantian aku selametin orang lain. Kamu Ya.


Aku kasih bagian tubuhku buat kamu. Tenang itu ginjal asliku kok. Dan semoga aku bisa bertahan dengan ginjal orang lain sampai aku bisa selesai in tugas aku. Kamu sekarang semangatku Ya. Apapun yang akan terjadi di masa depan, aku gak akan menyesal.


Sekarang hidupku buat kamu. Semua dalam diriku buat kamu. Bilang aja aku bucin. Asal itu sama kamu aku ga papa kok. \=^;^\=


Aku sayang kamu<3***.

__ADS_1


"Jadi Ira???!!"


Gavin merasa sangat bodoh.


__ADS_2