Bad Liar

Bad Liar
19 TAK BIASA


__ADS_3

"Hoekk!"


Tengah Malam Ira langsung berlari ke kamar mandi karena tiba-tiba ada yang ingin keluar dari tubuhnya.


"Ukhuk! ukhuk!" Batuk nya tatkala ia selesai muntah. Ini buka pertama kalinya untuknya. Ia muntah darah. Banyak. Sangat banyak.


Namun ia sedang tak menghiraukan itu. Segeralah ia membersihkan semuanya dan kembali ke kamar.


"Cahaya kok belum kembali?" Tanyanya pada diri sendiri.


Tumben dia sampai tengah malam belum pulang? Apa yang terjadi? Batinnya. Sungguh ia mengkhawatirkan Cahaya.


Kepalanya pusing dadanya berdenyut kencang seperti ada yang ingin jebol dari dalam. Ira memejamkan matanya.


Kapan ku mendapatkan hidupku lagi? Batinnya merintih. Memang semenjak Ia sakit, Ira lebih kurus. Padahal tadinya juga memang kurus. Tubuhnya banyak terdapat ruam ke biru-unguan karena kekurangan darah.


Iapun meminum obat penambah darahnya agar tak sampai pingsan. Setelah itu, Ira merebahkan diri ke kasur. Ia mencoba menghubungi Cahaya.


tut tut tut


Panggilan nya di reject.


Kok ? Gak biasanya Cahaya ngreject panggilan ku. Batinnya. Pikirannya tambah kalut. Ia takut terjadi apa-apa dengan Cahaya.


Ia pun beralih menghubungi Papanya.


"Hallo Dad," Sapanya pada dadynya saat panggilan sudah tersambung.


"Iya, kenapa sayang?"


" Dady dimana?"


"Ah, Dady masih di kantor. Kenapa? Kamu kangen heh?"


" Mm tidak. Hanya saja, apakah Cahaya sudah pulang?"


"Sudah. Sudah dari sore tadi dia pulang. Kenapa? belum sampai rumah dia?"


"Ah.. Bukan. Hanya memastikan. Tadi seperti sudah dirumah tapi kok sekarang gak ada. Mungkin aku ngayal. hehehe. Ya sudah Dad, dadah.."


"Iya dadah. Oh Iya Ra, besok Dady akan pulang ke Indo."


" Ya sudah hati-hati dad. Salam buat Mommy."


Setelah itu percakapanpun diakhiri.


Ira menghela nafas pelan. Kenapa Cahaya belum pulang juga? Ia melirik jam. Hampir jam 2 pagi.


Karena lelah menunggu akhir nya Ira memilih tidur. Ia sudah merasa badannya tidak enak.


.


.


.


Pagi hari Ira bangun dari tidurnya. Ia mendapati Cahaya yang sudah tertidur pulas di sebelahnya dengan jaket, sepatu yang belum dilepas, dan dia bau alkohol.


"Cahaya?" Panggil Ira.

__ADS_1


"Ughh.. kamu bau. Tumben kamu Minum sih,?!" Gerutu Ira.Memang selama di Belanda Cahaya ga pernah minum lagi. Cahaya hanya takut jika dia minum, dia bisa diluar kontrolnya.


Sekarang baru jam 4. Baru 2 jam Ira tidur. Namun Ira memilih beranjak dari tidurnya. Ia berhati-hari agar tak membangunkan Cahaya. Iapun menuju kamar mandi dan mulai mandi karena nanti ia ada kelas pagi.


Selesai mandi Ira mencoba membangunkan Cahaya.


"Cahaya.. Cahaya bangun. Kamu ada kelas pagi kan? Bangun.." bujuknya. Namun jawaban Cahaya hanya..


"hmmm..." Ia hanya mengerang kecil.


"Kamu kenapa minum si? Sana mandi aku buatin sarapan." Bujuk Ira lagi. Kali ini Cahaya mulai terbangun. Iapun duduk. Namun tak akan kemudian tubuhnya ambruk lagi.


"Kenapa sih--- Ya ampun Cahaya kamu demam!" Seru Ira saat menyadari gelagat aneh dari tubuh Cahaya dan wajahnya yang sudah memerah.


"Aduh kamu ngapain sih sampe demam gitu...." segeralah Ira turun dan mengambil baskom air hangat untuk mengompres Cahaya.


Pelan-pelan dan telaten Ira mengompres dahi Cahaya. Cahaya juga mulai tertidur lagi. Suhu tubuhnya sangat tinggi sampai 38°C. Setelah memastikan Cahaya benar-benar tidur, Ira pun keluar kamar dan menuju dapur bersama ponselnya. Batu setengah lima. Ira pun duduk di meja pantry.


"Oh iya. Dava sama Kirara kan disini. Sampe lupa aku. Minta tolong Kirara aja apa ya?" Gumamnya sendiri kala matanya melihat pintu kamar tamu.


"Ah kalo sekarang mungkin blm bangun ya. Yaudah masak dulu aja deh." lanjutnya lalu berdiri dan bersiap memasak.


Karena Cahaya sakit, Ira memutuskan membuat bubur dan susu untuk sarapan. Ia yakin kalau Cahaya takkan mau jika bubur biasa, jadi dia bikin bubur ayam. Soalnya biar sekalian untuk Dava dan Kirara.


"Pagi Ra!"


Ira tersentak kaget karena sapaan itu. Saat dia berbalik, ada Kirara dengan wajah segar disana, dibelakang pantry.


"Ah. Kau mengagetkanku. Dava belum bangun?" Ujar Ira sedikit menggoda Kirara yang semalam tidur dengan Dava .


"Ah. Yah dia masih tidur.Oh apa yang kau masak?" Tanya Kirara.


"Eh? Dia demam? Kok bisa? Sepertinya tadi pagi buta dia dibawa Dava masuk masih baik-baik saja. " Ujar Kirara.


"Hm? Jadi yang bawa Cahaya masuk Dava?" Tanya Ira.


"Iya. Soalnya dari jam 3 tadi ada yang menelepon Dava untuk menjemput Cahaya. Dia mabuk berat." Jawab Kirara.


Ira yang mendengar hanya mangut-manggut.


"Habis sarapan aku periksa." Lanjut Kirara.


Akhirnya Kirara membantu Ira membuat bubur ayam untuk sarapan. Hingga akhirnya setengah 7 masakannya selesai. Bubur ayam memang lama untuk memasak kuah nya.


"Akhirnya selesai. Aku bawa ke atas buat Cahaya ya. Oh ya panggul Dava juga sarapan. Bilang dia ada kelas pagi. Trus bilangin juga aku sama Cahaya absen buat hari ini." Pamit Ira sambil membawa baki makanan Cahaya.


"Oke. Nanti habis sarapan aku ke atas." Jawab Kirara. Ira pun melenggang.


Kirara segera masuk ke kamar tamu. Sebenarnya semalam mereka tak satu ranjang. Soalnya Ira punya kasur lipat di sana. Jadinya Dava yang tidur di kasur lipat.


"Hei bocah! Bangun. Kamu ada kelas pagi kan?! Bangun!!!" Seru Kirara sambil menggoyang goyangkan tubuh Dava.


"Mmm" Gumam Dava namun masih belum melek.


"Dava!! Ayo!!!! Ira sama Cahaya absen hari ini. Cepet bangun!!" Bujuknya lagi. Sedikit-sedikit mata Dava terbuka.


"Kenapa absen?" Tanya Dava seperti anak kecil yang baru bangun tidur.


"Hihihi. Kamu lucu kalau bangun tidur." Ujar Kirara yang membuat wajah Dava memerah.

__ADS_1


"A-apa sih. Kenapa Mereka ijin?" Tanya Dava kembali ke topik.


"Itu. Cahaya sakit jadi Ira nungguin." Jawab Kirara.


"Udah sana mandi trus sarapan. Habis itu anterin aku ke rumah sakit sekalian kamu berangkat kampus. " Pinta Kirara. Langsung saja Dava mandi. Selesai itu dia dan Kirara sarapan bersama.


"Udah kek suami istri aja. Ya gak?" goda Dava pada Kirara sambil menaik turunkan alisnya. Wajah Kirara bersemu.


"apa sih.." Ujar Kirara jadi salting. Sedangkan Dava malah senyum senyum sendiri.


"Aku mau periksa Cahaya dulu. tunggu ya." Pamit Kirara lalu pergi ke ruang kesehatan di rumah Ira mengambil beberapa peralatan dan obat.


Tok tok tok.


"Ra?" Kirara mengetuk pintu kamar sambil memanggil Ira.


"Masuk aja." seru Ira dari dalam. Kirara pun masuk.


Di sana ada Cahaya dan Ira. Cahaya bangun sambil disuapi oleh Ira. Dia tersenyum.Mereka berdua pun membalasnya.


"Kok bisa sakit sih?" Tanya Kirara sambil menaruh peralatannya.


Ia mulai memeriksa kesehatan Cahaya. Mulai dari suhu tubuh, tekanan darah, dan denyut jantungnya.


"Kamu jangan mikirin hal terlalu keras Ya. Kamu stress. Mending kamu istirahat beberapa Hari." Ujar Kirara sambil memilih obat yang diperlukan.


"Kamu mikirin apaan sih Ya?" Tanya Ira lembut. Cahaya hanya menjawabnya dengan gelengan dan tersenyum lembut.


"Ini obatnya. Tapi kalau demamnya uda turun jangan dikasih lagi. Trus ini obat penghilang mabuk. Yaudah aku langsung balik ya. Dava nungguin." Pamit Kirara.


"Iya. Makasih Ki," Jawab Cahaya dengan suara serak. Kirara pun keluar dan menghampiri Cahaya.


Selepas Kirara keluar, Ira jadi kepikiran. Apa yang dipikirkan Cahaya sampai sampai dia demam seperti ini?


"Kenapa Ra?" Tanya Cahaya. Ira menggeleng.


"Ng? Nggak. Kalo gitu kamu nanti istirahat aja. Aku uda bilang Dava kalau kita absen hari ini. Sekalian aku mau jaga kamu dan bersih-bersih rumah."


"Iya. Makasih ya. Jangan sampe capek banget lo ya. Inget kesehatan kamu. Masa aku sakit kamu juga sakit." Ujar Cahaya memperingatkan. Ira mengangguk.


"Yaudah. Habisin makannya. Habis itu minum obat dan lanjut tidur." Ujar Ira. Cahaya tersenyum melihat perhatian Ira padanya.


"Makasih ra. Makasih 5 tahunnya. Nyesel aku pernah abai in kamu." Ujarnya sendu.


"Apa sih Ya. Udah gapapa. Cepet habisin." Jawab Ira cepat. Dia mau soalnya.


Ira sebenarnya ingin tanya apa yang terjadi hingga dia mabuk, tapi itu diurungkannya takut kalau Cahaya jadi kepikiran dan tambah sakit.


Tak lama Cahaya selesai makan dan minum obatnya. Diapun lanjut tidur. Ira melanjutkan mengompres nya.


Beberapa menit kemudian baru Cahaya benar-benar tidur lelap. Ira memandangi Cahaya.


"Terimakasih Ya. Kamu udah nerangin hidupku. Tetap Jadi Cahaya ku. Tetap di sampingku." Ujar Ira menatap wajah damai cahaya saat tidur.


Tapi, seterang terangnya cahaya itu, suatu saat juga akan padam. Hh kapan hari itu akan tiba? Ku harap saya hari itu tiba aku masih jadi prioritasmu.


Batin Ira. Ia hanya pasrah akan apa yang akan terjadi. Dia bukan tuhan yang bisa menentukan jalan yang akan dia pilih.


xixi

__ADS_1


__ADS_2