
Tok tok...
Ira mengetuk ruangan dokter yang menangani Cahaya. Saat pertama masuk Ira kaget karena yang jadi dokter adalah sepupu jauhnya dari Belanda. Namanya Vander. Vander juga terkejut dengan kedatangan Ira.
"Ira ini kamu?" Sapa Vander. Ira hanya tersenyum dan mengangguk. Vanderpun berlari untuk memeluk Ira. Ira juga membalas pelukannya. Mereka merindukan satu sama lain karena tak bertemu 2 tahun belakangan.
Vander melepaskan pelukannya dan ia terkejut lagi karena wajah Ira penuh memar dan membengkak.
"Ira, wajahmu kenapa?" tanyanya sambil meneliti wajah bengkak Ira.
"Ah tak apa Vander. Aku perlu ngomong sama kamu." ujar Ira.
"Oke. Tapi ngomongnya sambil aku obati wajah kamu, atau ga sama sekali." Begitulah Vander dan Ira hanya bisa pasrah. Sambil mengobati luka Ira, Vander bertanya tentang keluarga Ira. Ira hanya menjawab seadanya.
"Mm Vander boleh aku minta tolong padamu?" Sela Ira.
"hm? Apapun buat kamu princess" jawab Vander sambil masih fokus pada wajah Ira. Vander sedikit ngeri karena ada banyak bekas ruam yang ternyata ditutupi Ira dengan fondasion. Tapi Vander tak bertanya 'kenapa?' karena ini pasti privacy Ira dan Ira tak pernah mau diganggu privacy nya.
"Kamu ingat pasienmu bernama Cahaya Galaksi?" tanya Ira.
"Iya ingat kenapa?"
"Aku mau donor ginjal buat dia."
Seketika tangan Vander berhenti mengompres. Vander menatap wajah Ira mencari kebohongan sayangnya tidak ada.
"Ra?" Panggil Vander memastikan.
"Cahaya itu suamiku Van. Kami menikah 1 tahun lalu." Tutur Ira. Vander terkejut dengan kabar itu. Sepertinya keluarga Ira di Belanda tak ada yang tau.
"Hh.. begitu ya. "
"Iya Vander. Tolong aku. Biarkan aku melakukan ini. tapi jangan beri tau siapapun. Termasuk mom dad ataupun kak Indi. Siapapun nantinya orang yang bertanya siapa pendonornya, bilang kau tak tahu. Kumohon tolong aku." Pinta Ira sambil menahan isak tangis nya.
"Tapi Ra.."
"Kumohon Vander. Aku mencintai suamiku. Ini semua salahku sampai dia seperti ini. Please" Potong Ira.
Melihat Ira menangis seperti ini membuat Vander luluh juga. Ia melihat ketulusan dari ira.
"baiklah Ra, tapi kau harus janji padaku, kau akan baik-baik saja." Ucap Vander . Ira mengangguk sambil menangis.
"terima kasih Vander. Terimakasih." Ujar Ira.
"Oke aku akan mengurusnya. Datanglah besok ke sini untuk cek kesehatan ginjalmu. Kita akan melakukan oprasi dalam 3 hari ini, menunggu kestabilan dari Cahaya."
Akhirnya Ira pun mengangguk mengerti dan beranjak keluar.
__ADS_1
"Baiklah aku akan pergi sekarang. Terimakasih banyak Van." Ujar Ira sambil memeluk Vander. Vander menepuk punggung Ira.
Saat Ira menghilang dari pandangannya pun ia masih merasakan beban berat yang dibawa Ira. Vander memang tak tau apa yang terjadi. Tapi ia tahu bahwa Ira sedang menderita.
.
.
.
Ira sudah cek kesehatan ginjalnya dan sehat. Walaupun ia pecandu kopi, tapi untung lah ginjalnya baik-baik saja.
Oprasipun akan dilakukan 2 hari lagi.
Setelah Ira diusir Oma Cahaya, Ira tak pernah menjenguk Cahaya. Tadi saat Vander cek kondisi Cahaya, Ira menitip untuk memotokan Cahaya. Dan alhasil sekarang Ira memandangi wajah pucat Cahaya dari foto di ruangan Vander.
"Kenapa aku harus jatuh cinta padamu. Dan kenapa mencintai mu sesulit ini. Ya, sebenci itu kah dirimu ke aku? Kenapa kamu ga pernah mau Nerima aku?" lirih Ira sambil meneteskan air matanya.
Vander yang baru memasuki ruangannya kaget karena Ira menangis. Vander tidak pernah bertanya namun begitu jelas bukan?
Akhirnya Vander memilih untuk meninggalkan Ira sendiri di ruangan nya. Ia juga merasa sedih, juga bersalah pada keluarga nya, keluarga Ira.
Ira masih SMA dan harus menanggung ini semua sendiri demi keluarganya. Sungguh Sebenarnya orang yang mendapatkan Ira adalah orang paling beruntung.
Ira baik, cantik, pengertian, dan sabar. Walaupun dia sangatlah tertutup, tapi ia adalah pendengar yang baik. Kadang juga ia bisa memberikan solusi dari sebuah masalah.
.
.
.
Hari ini adalah hari oprasi itu. Keluarga Cahaya sangat menunggu saat ini. Mereka juga sangat bersyukur karena bisa mendapatkan pendonor secepat ini. Seperti permintaan Ira, Vander tak memberi tahu siapapun.
Didepan ruang oprasi ada Oma Cahaya, mama papanya, kakak dan suaminya, Dady Ira dan Indi. Dady Ira sempat tanya kemana Ira, tapi Indi bilang ia tetap sekolah karena sudah ujian kenaikan kelas. Mereka pun mengerti kecuali Oma Cahaya.
"Hah! Istri tak becus. Suami sakit malah mentingin ujian." Cibirnya.
"Sudahlah Bu, belajarnya Ira juga penting." tenang Haico.
Selama 3 jam orang di sana berharap harap cemas.
Kali ini Gavin sama sekali tak curiga apa yang dilakukan Ira karena ijin Ira adalah sakit. Pastilah Ira menemani Cahaya operasi. Tapi dia sedikit ragu karena Oma Cahaya. Namun setelah dipikir lagi pasti disana ada orang tuanya ira.
Sedangkan Gladis juga berharap harap cemas di sekolah. Ia baru mengetahui berita Cahaya sakit hari ini karena Ira juga sakit, begitu yang dia tau. Gladis menjadi tidak focus ujian saat kedua sahabatnya sakit bersamaan. Dewa pun begitu.
Oprasi berjalan dengan lancar. Selama 3 jam itu, Ira hanya meminta bius setengah badan karena ia ingin melihat wajah Cahaya. Walau saat biusnya hilang itu sangat sakit, tapi Ira akan bertahan sampai ia diberi obat bius lagi.
__ADS_1
Sekarang Cahaya sudah dipindahkan ke ruang rawat sambil menunggu ia sadar. Sementara itu, Ira dirawat oleh Vander sendiri di ruangan nya. Diruangan Vander ada 2 brankar yang biasa di buat ia istirahat. Selesai oprasi itu, tiba-tiba Ira pingsan entah karena kehilangan banyak darah. Kondisinya lumayan mengkhawatirkan. Namun Vander masih bisa mengatasi nya.
Ia berharap semoga dalam 2 hari ini Ira sudah membaik agar keluarga nya tak curiga.
Sekarang Vander sedang berbicara dengan Haico, papa Cahaya. Namun tiba-tiba ada suara lirih memanggil Vander.
"Van.. Vander tolongin.." Itu suara Ira. Vander jadi kalang kabut sendiri.
"Siapa itu dok? Seperti suara menantu saya." tanya Haico penasaran.
"Ah itu pak... anu.."
.prangg.
Gelas yang akan diambil Ira malah jatuh dan pecah.
"Ira!" Seru Vander tanpa sadar. Haico kaget dan akhirnya mengikuti Vander ke balik tirai belakang Vander.
Di sana ada Ira yang mencoba turun dari ranjangnya.
"Ra, kamu ga papa? Oh kamu sudah sadar. Sebentar aku baresin beling nya." ujar Vander sambil memungut beling dengan tisu lalu membaringkan Ira kembali .
Haico yang melihat Ira ada di situ dengan wajah pucat, terkejut.
"Sayang, kamu kenapa disini? Kamu sakit? Bukanya Indi bilang kamu sekolah? Kamu..." Ucapan Haico berhenti karena melihat kantung darah di sebelah infus.
"Ira, jangan bilang kamu...." Ucap Haico menggantung. Detik berikutnya Ira malah menangis.
"Pa, maafin Ira ga bisa jaga Cahaya. Ini semua salah Ira. Maaf pa. Tapi Ira mohon pa, jangan bilang siapapun. Papa aja sama Vander yang tau." Lirih Ira sambil terisak.
Akhirnya Haico memeluk Ira yang sesegukan dan mengelus rambut nya.
"Tidak Ira, kamu sudah baik sekali. Maafkan papa ya kamu harus menanggung semua ini. Tapi terima kasih sekali kamu mau menerima Cahaya. Kamu sudah baik Ira. Sangat baik." Ujar Haico.
Dia sangat bersyukur atas adanya Ira di hidup Cahaya. Setidaknya Cahaya sudah mau bantu bantu di kantor untuk menghidupi keluarganya dan membayar art. Haico memang sengaja tak memberi Cahaya uang setelah menikah.
Ini memang rencananya. Karena tak mungkin Pelita menjadi penerusnya. Dan ternyata berhasil. Cahaya juga terlihat lebih bersih dan terurus karena biasanya ia hanya bersama pembantu di rumah mereka. Cahaya juga tak pernah mabuk mabukan lagi seperti waktu SMP .
Padahal Haico tak tau sebenarnya apa yang telah Ira lalui demi semua itu.
Ira masih menangis dan Haico memeluknya. Vander yang mendengar semua itu hanya bisa berdiam di balik tirai. Ia juga terharu karena ketegaran Ira. Ia seakan merasakan kesakitan bersama Ira.
Ira melepas pelukannya dan mengusap air mata nya.
"Ira janji pa, Ira akan berusaha lagi biar bipolar Cahaya bisa disembuhkan. Ira ga akan ngecewain papa lagi. Ira akan bertaruh dengan nyawa Ira sendiri buat Cahaya. Apapun yang terjadi nanti Ira akan terus di samping Cahaya. Tapi papa harus janji untuk tidak memberi tahu siapapun. Bahkan Cahaya sekalipun." Pinta Ira.
"Iya nak, papa janji." Jawab Haico.
__ADS_1
Baru kali ini Ira mau ngobrol panjang lebar dengan nya. Ia merasa senang dan beruntung memiliki mantu seperti Ira.