Bad Liar

Bad Liar
25 SEMAKIN TAK MENGERTI


__ADS_3

Ira menyusuri lorong rumah sakit menuju tempat Cahaya di rawat. Sebenernya dia tak apa tapi kata Avi dia lebih aman di tempat keramaian dan dekat Avi.


Ya, kemarin malam, setelah keluarganya pulang dari pesta ulang tahunnya, ia pergi lagi ke rumah sakit untuk menemui Cahaya. Dan kebetulan ada Avi yang sedang berbicara pada Cahaya.


Sebenarnya Avi hanya bicara yang penting saja. Bahkan ia juga tak memberi tau apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana itu bisa terjadi. Tapi Ira berusaha mengerti keadaan yang seperti nya rumit untuk Cahaya. Jadi Ia hanya iya-iya saja.


Ceklek..


Ira membuka pintu kamar Cahaya sepulang dia mandi tadi pagi. Disana lagi-lagi ada cewek itu. Ada Avi. Bohong kalau Ira tidak cemburu. Tapi seperti yang dibilang tadi, dia mencoba mengerti keadaan.


"Pagi Cahaya. Pagi Avi." Sapanya. Seketika 2 orang itu menoleh dan baru menyadari keberadaan Ira saat Ira menyapa.


"Eh, kau Ra. Pagi...." Jawab Avi. Cahaya hanya membalasnya dengan senyuman.


"Ya sudah Ya. Nanti jika kakak ada pergerakan lagi aku akan menghubungimu. Dan lebih baik kau pulang ke rumah. Untuk sementara ini aku akan balik ke Indo. Kondisi Via memburuk." Ujar Avi langsung berdiri. Cahaya mengangguk. Avi pun menghampiri Ira yang masih setia berdiri mendengarkan mereka mengobrol.


"Ra, aku pamit. Kalian pulang saja nanti. Jangan cemas." Pamit Avi. Ira pun membalasnya dengan senyuman juga anggukan.


"Terimakasih." Ujarnya tulus. Ira tentu berterima kasih karena Avi membantu untuk melindunginya juga Cahaya.


Avi pun keluar. Cahaya lantas menyuruh Ira mendekat.


"Sini..." Ujarnya manja. Ira hanya tersenyum lalu mendekat. Ira duduk di atas ranjang Cahaya karena Cahaya juga duduk.


"Kenapa?" Tanya Ira saat sudah memposisikan diri.


Dengan cepat Cahaya mencium pipi Ira.


"Untuk sementara ini kita aman. Jadi kita habis ini pulang saja. Aku kangen." Rengek Cahaya.


"Hehehe.... kamu nih. Ya, kenapa sih dia yg ngejar kamu?" Tanya Ira. Ia semakin penasaran. Ya sekarang dia jadi sangat penasaran karena di dorong rasa kesal.


"Sabar. Kalo saatnya uda tepat aku ceritain." Jawab Cahaya lembut. Mendengar jawaban itu, bibir Ira lantas mengerucut. Dia sebal. Sebenernya dia juga ingin menunjukan pesan yang sering dikirim oleh orang misterius itu, tapi dia ragu. Kasihan Cahaya jika harus memikirkan dirinya juga. Jadi Ira hanya bisa menahannya dan sebisa mungkin membereskannya.


"Yaudah aku beresin barang dulu baru pulang." Sahut Ira cepat sambil turun ke lantai.


"Ra, sekarang jadwal kamu check up kan?" Tanya Cahaya memastikan. Ira mengangguk.


"Iya. Tapi nanti sore aja biar Kirara yang ke rumah. " Jawabnya. Tangannya masih bekerja membereskan baju dan barang lainnya milik Cahaya..


"Tapi kamu akhir-akhir ga papa kan? Maaf jarang perhatiin kamu lagi..." sesal cahaya.


"Ga papa kok. Aku tuh uda sembuh...." Jawab Ira mantab.


Cahaya pun mengangguk setuju.


"Moga aja kamu emang sembuh. Jadi kita bisa bikin baby....." Goda Cahaya.


"Hah... apa sih Ya..." Jawab Ira malu digoda seperti itu.


"Emang kamu ga mau baby? Aku padahal pengen banget lo sama Baby. Yang lucu gitu... Ahh ga Sabar deh..." Ujar Cahaya sambil berfantasi jika ia menjadi ayah. Mempunyai bayi lucu nan imut..


Melihat Cahaya yang seperti itu membuat Ira terdiam dan berpikir sejenak.


Apakah aku bisa memberimu keturunan dengan keadaanku? Tapi kamu sampai bersemangat begitu. Baiklah aku akan berusaha Ya!


Batin Ira dalam Hati.


Cahaya pun melanjutkan mengoceh sedang Ira masih membersihkan loker.


.


.

__ADS_1


.


"Ki, aku bisa punya anak gak?" Tanya Ira.


Sekarang mereka berdua ada di ruang kesehatan rumah Ira untuk check up keadaan Ira.


"Anak? Lo merencanakan punya nih?" Goda Kirara.


Ira jadi salah tingkah.


"Bu.. bukan gitu. Cuma, Cahaya pengen banget punya anak. Kalo di pikir-pikir iya juga sih. Kita udah 5 tahun barengan." Jawab Ira sendu.


"Sebenernya bisa kalo lo kuat." Jawab Kirara. Dia terlihat berpikir sejenak.


"Eh gue lebih tua 3 tahun dari lo, masak lo duluan yang punya anak." Gerutu Kirara.


"Ahahaha.... yaudah minta Dava cepet lamar uda.." Sahut Ira.


"Apa sih Ra..." Sekarang wajah Kirara jadi merah padam.


"Yaudah yaudah kalo ga mau ngaku. Tapi aku boleh kan punya anak?" Tanya Ira memastikan.


"Iya-iya boleh. Elah lo mah. Tapi lo harus tau batasan lo ya. Kalo sekiranya itu bahaya buat lo terpaksa kita harus gugurin. " Jawab Kirara.


Ira jadi terdiam sejenak .


Percuma dong kalo nanti aku gugurin?


"Seberapa parah?" Tanya Ira.


"Seenggaknya dalam waktu 2-3 tahun ini nggak bakal pecah." Jawab Kirara serius.


Aku pasti bisa. Demi Cahaya!! Demi kelengkapan dan kebahagiaan keluarga ku!! Batinnya semangat.


"Ya perhatiin kalian itu. Jadi ngerti deh. Kan cuma kayak aku-kamu." Jawab Kirara. Ira mengangguk.


"Cocok uda sama Dava." Gumamnya.


"Kenapa?!" Sentak Kirara yang mendengar gumaman Ira tadi.


"Hehehe nggak. Nggak. Nggak apa." Jawab Ira cengengesan. Kirara pun memasang wajah sebal.


"Yaudah gue mau pulang." Pamit Kirara sambil membereskan Barangnya..


"Hati-hati!" Ujar Ira saat Kirara berjalan menuju pintu keluar..


"Dah...." seru Kirara. Sekarang Ira ada di ruang kesehatan sendiri.


tring !


Ponselnya bergetar karena notifikasi yang masuk. Ira Segera membaca nya. Dari orang misterius itu lagi.


Break.


Hanya satu kata itu. Hanya satu kata yang membuat Ira bingung.


"Break? Istirahat? Apa maksudnya. Apakah orang ini berhubungan sama orang yang mengincar Cahaya?" gumamnya.


"Heh! Ternyata kau sini." Suara Cahaya mengagetkan Ira.


"Ah kau membuat aku kaget." Kesalnya.


"Habisnya kau melamun. Kenapa? Kau memikirkan membuat baby?" Goda Cahaya lagi.

__ADS_1


"Ihh.. Kau mesum... Oh kata Kirara boleh kok." Ujar Ira bersemangat sambil menyimpan ponselnya.


"Kalau begitu......." Segera dengan cekatan Cahaya membopong Ira pergi dari ruang kesehatan dan membawanya ke kamar.


Sepeninggal tuannya, Ponsel Ira terus bergetar. Pesan itu masuk lagi.


*see you again.


dont forget me Ira.


I will back*.


Cahaya Is mine.


Tapi pesan terakhir langsung di hapus oleh si pengirim. Dan Ira belum mengetahui maksud yang sebenarnya. Mungkin setelah itu, si pengirim tak akan mengirimi pesan lagi. Entah aky juga tak tau.


.


.


.


Ini sudah hampir pagi. Dan mereka baru 'selesai'. Ira benar-benar tak bisa bergerak. Nafas nya tercekat. Dadanya sesak. Seperti nya ini di luar kendali tubuhnya. Ia melirik Cahaya yang terlelap.


Ira ingin meminta tolong padanya, tapi kasian. Dengan tenaga yang masih tersisa Ira membuka laci di sebelah nya dan mengambil obat.


Ia mencoba duduk dengan dadanya yang sangat sakit. Seperti di hantam. Ia membuka obatnya dan langsung menelannya, tanpa minum. Karena minumnya sudah dia habiskan tadi.


Perlahan rasa sakit itu mereda. Ia sudah tidak bisa mempertahankan matanya. Akhirnya dia terlelap.


Beberapa jam kemudian matahari sudah menyembul. Cahaya awalnya enggan bangun. Dia juga merasa lelah. Tapi dia harus membuka mata untuk menghubungi temannya kalau dia absen 'lagi'. Begitupun ia meminta tolong Dava mengijinkan Ira juga.


Setelah berbicara seadanya lewat telpon itu, Cahaya melihat Ira yang masih tertidur pulas. Ia menyibak poni di rambut Ira. Dahinya mengerut seperti menahan sakit. Cahaya menatapnya sendu lalu mengusap pelan dahi Ira. Perlahan dahi itu kembali normal.


Maafkan aku. Kamu pasti sama cemasnya. Ini demi kebaikan kita, dan keluarga kita. Jangan menyerah Ra. Jangan tinggalin aku. Aku.. Aku mencintaimu. batinnya.


Ia jadi teringat Gladis. Kemana perasaan nya untuk gadis itu? Ah sudah hampir 2 tahun mereka tak saling berkomunikasi. Waktu itu dia memberikan pilihan menunggu 5 tahun karena ia tau pasti seiring berjalannya waktu semua itu pupus. Dulu memang dia tak rela melepas Gladis tapi sekarang beda.


Melihat wajah Ira, membuat Cahaya berkeinginan terus bersamanya. Walau sekarang sedang gak aman, tapi dia percaya Ira mengerti. Ah mungkin suatu saat ia akan merindukan sosok perhatian ini.


Cahaya pun menyusul ira untuk masuk ke dunia mimpi lagi. Masa bodo tentang cahaya mentari yang mulai menerobos masuk. Ia hanya ingin bersama Ira. Bersama Istrinya.


.


.


.


"Baiklah. Aku akan menjalankan rencana ke 2. Beritahu jika kau sudah kembali. "


"....."


"Ya. Aku akan baik-baik saja. Kau tau kan kami dekat?"


"..."


" Kau urus sisanya untuk rencana terakhir kita."


"...."


"Baiklah"


Panggilan pun di tutup. Gadis itu menyeringai menatap foto liburan mereka. Ia akan merebut kembali miliknya!!

__ADS_1


xixiz


__ADS_2