Bad Liar

Bad Liar
26 KEPINGAN MASA LALU


__ADS_3

"Ra aku masuk kelas dulu ya..." pamit Cahaya. Mereka berdua ada di parkiran sekarang. Ora juga bersiap masuk kelasnya.


"Iya. Nanti jangan lupa kabarin kalo udah mau pulang. Aku di perpustakaan. " Jawab Ira.


"Kenapa sih akhir-akhir ini kamu seneng banget ke perpustakaan?" Tanya Cahaya heran. Ya beberapa hari ini, Ira lebih suka menunggu Cahaya pulang di perpustakaan daripada di rumah.


"Ya gapapa. Di rumah sendiri bosen!" Jawab ira.


"Yaudah Daahh!" Cahaya pun berlalu ke fakultas nya, fakultas hukum. Sedangkan Ira berjalan ke arah berlawanan.


Cahaya masuk kelas seperti biasa. Dia berkumpul bersama teman teman nya yang lain.


"Morning!!" Sapa Cahaya. Cahaya tak memperhatikan teman-teman nya yang bermain game online. Memang beberapa dari teman-teman nya bisa berbahasa indonesia. Tapi suara ini asli orang Indonesia.


"Hei, Cahaya!" Cahaya yang merasa tak asing pun menoleh. Di pojokan sana, ia mendapati seorang wanita yang merupakan tambatan hatinya dulu. Jantungnya serasa berhenti berdetak dengan euforia yang menggelitik tubuhnya.


Gladis. Gladis ada di sini. Di kelasnya. Di fakultasnya. Sepertinya baru kemarin ia menyatakan cintanya pada Ira. Namun, sekarang rasanya ia kembali goyah.


Gladis mendekati Cahaya dan duduk di bangku sebelah Cahaya.


"Lama ga ketemu." Sapa Gladis dengan senyum manis. Cahaya sejenak terpaku.


Ngga, gue ga bakal sakitin Ira lagi. Gue udah melangkah an berubah sejauh ini. Batinnya. Sungguh Ia takut.


"H hei Dis, apa kabar?" Jawab Cahaya sambil membangkitkan obrolan normal.


"Yahh... Aku baik walau setelah kamu pergi tentunya." Jawab Gladis dengan nada sarkas sedikit.


"Oh? Mana Ira?" Tanya Gladis sambil mencari keberadaan Ira.


"Ira ambil ilmu komputer. Kok lo bisa ada di sini?" Tanya Cahaya balik. Ia mencoba membentengi dirinya dengan kata lo gue.


"Hehehe kaget ya. Aku ikut sebagai calon pertukaran pelajar dan ternyata terpilih. Ga nyangka sih bisa nyasar ke belanda." Jawab Gladis bercanda.


"Wah. Hebat lo sekarang! Kita berjuang sampai lulus bareng-bareng" ujar Cahaya.


Pertukaran pelajar ini emang biasa di lakukan pada saat akan masuk semester 3 dan mereka akan belajar di sana sampai mereka lulus.


"Eh apa kabar Dewa?" Tanya Cahaya.


"Ah betul juga udah 2 tahun ga kontak ya kita. Baik kok. Dia masih ama Anisa juga. Dan masih menetap di jogja." Jawab Gladis. rupanya gadis ini pandai memainkan kata-kata nya.


"Aku kangen banget sama kamu." Ujar Gladis tiba-tiba. Cahaya yang mendengar itu langsung terhenyak. Ia jadi ragu. Apa yang di rencanakan nya?


"eh Gue juga. Udah lama kita ga ketemu atau kontakan," Jawab Cahaya. Hatinya sudah ia tetapkan. Ia tak akan jatuh dan terseret dalam lubang yang sama.


Ia hanya menikah sekali seumur hidup. Ia tak akan membuat Ira menderita lebih jauh lagi.


"Kamu bener -bener udah batesin antara aku sama kamu Ya. Kalo gitu kenapa kamu suruh aku nunggu?" Tanya Gladis lirih. Cahaya ingin menjawab namun Dosen sudah masuk duluan. Jadi ja mengurungkan niat dan fokus ke pelajaran hati ini.


.


.


.


"Cahaya kau mau pulang? Aku ingin bertemu Ira," Ujar Gladis semangat setelah selesai kelas.


Dia melupakan hal tadi? Hah dia masih Gladis yang kukenal. pikir Cahaya.

__ADS_1


" Em. Gue mau jemput dia di perpustakaan. Ayo ikut. Sekalian mampir ke rumah gue." Jika Cahaya. Mereka berdua pun keluar dari kelas dengan keadaan yang canggung. Tapi Gladis selalu membuka pembicaraan Cahaya hanya menanggapi sekenanya. Mereka sampai di perpustakaan dan mencari keberadaan Ira.


Mereka menemukannya. Ira tertidur di meja perpustakaan dengan laptop yang sudah mati.


"Hei, Ra! Wake up! Aku udah selesai kelas" Bujuk Cahaya.


Hati Gladis terasa tercubit kala Cahaya memakai aku-kamu ke Ira.


Apa dia memang sudah pindah hati?


Namun Ira tak kunjung bangun. Cahaya mulai jengah. Sepertinya Istrinya itu kelelahan hingga susah bangun. Tak ada pilihan lain, Cahaya menggendong Ira.


"Gladis, maaf ngerepotin, tapi lo bisa tolong bawain barang nya Ira?" pinta Cahaya. Hati Gladis semakin hancur. Hanya 2 tahun dan semua sudah berubah.


"E eh. B Baiklah." Jawab Gladis sambil memasukan laptop, handphone, dan buku yang berserakan ke dalam tas Ira dan membawanya mengikuti Cahaya.


Mereka menuju parkiran. Cahaya membaringkan Ira di kursi belakang dan menaruh tasnya sebagai bantalan.


"Masuk!" Ujar Cahaya pada Gladis agar dia masuk dan duduk di kursi penumpang di sebelahnya. Gladis segera menuruti nya.


Mobil pun berjalan menuju kediaman mereka berdua. Gladis memperhatikan Ira sejenak.


"Dia.... Udah sembuh?" Tanya Gladis hati-hati.


"Hmm... sedang pengobatan pemulihan." Jawab Cahaya masih fokus menyetir.


"Syukurlah." Jawab Gladis sendu.


"Aku gak nyangka dulu, aku kira aku sahabat yang paling ngerti dia , nyatanya hal penting kayak gitu aja aku gak tau....," Ujar Gladis dengan tatapan menerawang. Kali ini ia serius dan tulus. Bagaimanapun Ira adalah sahabatnya.


"Hm. Aku juga. Aku ga sadar kalo aku lah yang bikin dia kayak begitu. Makanya sekarang aku hanya bisa menebus semua penderitaan nya dulu dengan kebahagiaan." Jawab Cahaya.


Apa ini hanya penebusan dosa mu Ya?! Lalu apakah nantinya kau akan balik kepadaku? Batin Gladis.


Cahaya kembali menggendong Ira masuk ke dalam rumah an membaringkannya di kasur.


Setelah beres, ia cepat-cepat datang ke ruang tamu karena Gladis ada di situ.


"Mau dibuatkan minum?" Tanya Cahaya.


Gladis mengangguk.


"Aku ingin air es. Ada?" Jawab Gladis. Ia tak mau munafik. Ia harus minum. Dan untungnya ini dengan Cahaya Jadi dia nyantai sedikit.


"Baiklah." Cahaya pun menuju pantry dan membuka kulkas untuk menuang air es pesanan Gladis tadi.


"Ini." suguhnya. Gladis pun segera minum.


"Makasih" ujarnya setelah selesai minum.


"Kalian hanya berdua? Tak ada pembantu?" Tanya Gladis heran.


"Tidak, kami masih bisa urus sendiri." Jawab Cahaya.


"Ya, aku Tak mau basa-basi. Apa kau sudah tak mencintaiku ?" Tanya Gladis.


"Maaf Gladis tapi...." ucapan Cahaya terpotong.


"Kau menyuruhku menunggu 5 tahun sedangkan 2 tahun aja kau sudah berpaling." Ujar Gladis lirih.

__ADS_1


"Maaf. Tapi kita masih sahabat kan?" Tanya Cahaya. Gladis melihat ke arah Cahaya yang memulai mengembangkan senyumnya.


"Baiklah. Terimakasih." Jawab Gladis juga dengan senyuman.


"Heh?! Gladis??????!!!" Dari arah tangga ada suara mengglegar yang mengagetkan momen canggung mereka berdua.


" Eh, lo bangun Ra." Jawab Gladis. Dengan wajah berbinar.


"Aaaa Gladis... seneng banget bisa ketemu kamu..." seru Ira sambil berlari turun dan langsung memeluk Gladis.


"Ra, jangan lari-lari, nanti jatuh!" Peringat Cahaya.


"Iya-iya! Eh Gladis kamu banyak berubah ya....." Ujar Ira mengamati Gladis.


"Ahahaha.... Iya. Lo juga. Gue kira gue yang bakal bersikap kayak gitu kalau ketemu." Jawab Gladis. Dia memang merasakan Ira lebih dewasa. Dan lebih percaya diri.


"Ah. Kamu mah. Malu aku tu...." Jawab Ira.


"Eh? Kok kamu bisa kesini?" Sebenarnya dalam Hari Ira ada ketakutan akan Cahaya hilang dari sisinya. Tapi ia tak mementingkan egonya. Bagaimana pun Gladis tetap Sahabatnya. Masa lalu biarlah.


"Iya. Gue pertukaran pelajar." Jawab Gladis. Mereka dinikmati empat semula.


"Wah.... Kamu sekarang berubah jadi anak rajin ya..." goda Ira.


"Apa sih Ra?? Oh lo punya temen nih udahan?" Tanya Gladis. Dia kenal betul dengan sahabatnya yang satu ini. Tapi siapa tau sudah berubah kan?


"Hmm... soal itu... Yah. Seperti nya aku harus belajar banyak." Jawab Ira lirih. Dia gak pandai bersosialisasi dan mencari teman seperti itu.


"Hah! Sudah kutebak.. Tapi tak Apa. Sekarang kau akan bersamaku lagi. Aku kan selalu jadi sahabatmu. " Ujar Gladis.


"Eh! Aku juga punya teman dokter. Dia hanya 3 tahun lebih tua dari kita. Namanya Kirara." Ujar Ira mulai semangat.


Akhirnya sisa waktu itu mereka gunakan untuk saling bercerita bagaimana 2 tahun kehidupan mereka. Sesekali mereka melemparkan candaan dan sedikit bernostalgia. Mereka bercerita dengan pikiran lebih terbuka an dewasa. Walau kadang da pembicaraan yang sedikit sensitif bagi hubungan Ira, Cahaya, dan Gladis, tapi mereka menyikapi dengan dewasa. Seiring berjalannya waktu semua pasti berubah.


Cahaya yang memilih untuk kembali ke kamar hanya merebahkan dirinya dan memikirkan sesuatu. Ka sengaja tak ke kantor hari ini. Dalam hati nya ia kalut.


*Ra, apa lo ga ngerasa takut saat gue ketemu lagi sama dia? Lo gak berpikir kalo dia itu cinta pertama gue? Lo keliatan tenang banget .


Gue takut Ra. Gue takut kalo ampe apa yang gue takutkan terjadi. Udah cukup pengorbanan lo buat gue, buat keluarga gue. Sekarang giliran gue yang ganti semua penderitaan lo.


Tapi saat dia kembali gue jadi ragu. Apakah gue bisa bertahan dengan asa ini? Atau suatu saat gue akan kembali ke dia? Ra, gue minta maaf. Ternyata gue masih ragu. Ga mudah ngelupain dia yang udah ngasih kebahagiaan buat gue selama 3 Tahun*.


Cahaya merenungkan itu semua. Hati nya goyah.


Cahaya berdiri dan mengambil laptop nya. Tapi setelah mencari ke mana-mana laptop nya tidak ada.


"Issshh!! Kemana sih?!" gumamnya kesal. Akhirnya karena tak menemukan, dia mengambil laptop Ira.


Ia membukanya dan yang pertama ia lihat adalah laman peretasan milik perusahaan Ira.


Cahaya memang tak begitu mengerti. Tapi ia tau kalau id ini milik Ira. Yah wajar, dia hanya bekerja sebagai asisten pribadi dadynya Ira di perusahaan. Ia bekerja jika ada Ayahnya Ira.


Namun, baru-baru ini, papanya berencana membuka Cabang FCA di belanda dan US. Ayahnya ingin tau bagaimana persaingan perusahaan nya jika meluas ta hanya di asia saja.


Cahaya penasaran apa yang Ira kerjakan. Ia melihat-lihat. Tapi ia tak begitu mengerti karena semua titik memakai kode khusus. Cahaya menyerah dan mengeluarkan laman itu lalu membuka sistem keamanan rumahnya.Ia lihat dari CCTV kalau mereka berdua masih asik mengobrol.


Cahaya mendesah pelan.


"Apa yang harus kulakukan?"

__ADS_1


xixi


Mohon tinggalkan jejak. Boleh kasih kritik dan sarannya juga loo... Maaf karena jarang berinteraksi sama kalian semua 🙏Tapi tetep dukung yaaaa...


__ADS_2