Bad Liar

Bad Liar
15 KECURIGAAN


__ADS_3

Hari ini mereka semua, Ira, Cahaya, Gavin, Gladis, Dewa, Anisa, Indi, dan juga Dava akan segera berangkat ke puncak menggunakan mini bus yang mereka sewa. Mereka sengaja menggunakan kendaraan sendiri untuk sampai di Puncak walau mungkin akan memperlama perjalanan.


Semuanya semua berkumpul di depan Galeria. Hari ini Cahaya terlihat cemas, padahal ada Gladis yang sedari tadi berbicara kepadanya. Sedangkan Gavin dan Indi malah bermesraan. Emang ya, orang dingin itu so sweet banget kalo sama pasangannya. Sedangkan Ira mengobrol dengan Dava. Dewa, ya you know lah sama bucin itu...


Disana mereka menunggu mini bus yang mereka sewa.


"Mending kita masuk ke Galeria. Kali aja ada yang mau dibeli ." Usul Dewa. Mereka semua mengangguk kecuali Ira dan Dava.


"Ah. Kalian saja. Aku akan menunggu disini sama Dava." Ujar Ira. Mendengar itu Cahaya jadi merasa bersalah. Ia menatap Ira. Ira hanya membalasnya dengan tersenyum lalu menyuruhnya mengikuti Gladis yang sudah berjalan masuk.


Aku janji ini yang terakhir Ra. Batinnya dalam hati. Lalu iapun mengikuti Gladis.


Ira di luar hanya duduk dengan Dava sambil bercerita.


Sesekali mereka tertawa.


"Ra. Ku tinggal dulu ya. Aku akan masuk dan beli minuman. Hanya sebentar kok." pamit Dava.


"Hmm.... Pergilah. Aku titip belikan kebab atau wafle ya." Ira mengijinkan. Dava pun berlari masuk.


Ira di luar hanya memandangi jalanan yang agak lenggang.


Entah kenapa kepalanya jadi sakit. Ia memijit kepalanya pelan lalu mencari minum di tas yang ia gendong lalu meminumnya.


"Sekarang sudah lebih baik." gumamnya.


Sedangkan di sisi lain, Cahaya sedang menemani Gladis membeli beberapa camilan untuk di bus nanti.


"Ya! Enaknya yang mana? Jagung atau keju ya?" Tanya Gladis meminta pendapat.


Namun Gladis tak kunjung mendapat jawaban. Iapun menoleh ke arah Cahaya yang melamun.


"Hey, kamu kenapa sih?" Tanya Gladis. Cahaya terkejut namun langsung bisa menguasai dirinya.


"Ah iya. Kenapa?" Tanyanya balik.


"Semenjak kelulusan kamu aneh. Pertama kamu menghilang. Terus Tiba-tiba telfon bilang soal liburan. Dan seminggu ini kamu bahkan gak telfon aku. Kamu kenapa sih,?" omel Gladis kesal.


Tatapan Cahaya jadi melunak.


"Maaf ya," Ujarnya. Artinya maaf itu untuk semuanya di masa lalu dan masa depan.


Gladis merasa aneh.


"Ini bukan kamu banget, tiba-tiba minta maaf." Ujarnya sarkas. Namun Cahaya malah tersenyum.


"Uda selesai belanja nya? Kalo udah ayo ke kasir." Ajak Cahaya.


Gladis pun hanya menurut dan mendorong troli belanja nya ke kasir dan membayar tagihannya.


Beberapa menit kemudian mereka semua keluar dari Galeria. Mobil sudah datang sesaat setelah Dava pergi. Untung ada Ira diluar dan dia dibantu sopir minibus nya memasukan barang mereka semua.


Gavin yang sadar telah meninggal kan Ira sedikit lama akhirnya menghampirinya.


"Sorry, gue lama ya?" Ujarnya dengan rasa bersalah sambil menyodorkan pesanan Ira.


"Gapapa. Makasih. Loh kok malah kamu beli 2 2 nya?" Tanya Ira saat mengetahui isi plastik.


"Banyak lagi." Tambahnya melongo karena Dava memesannya terlalu banyak. Dava hanya cengengesan.


Cahaya melihat itu sambil tersenyum. Namun ia juga khawatir karena nafas Ira terlihattak teratur dan Wajahnya berkeringat. Padahal cuaca sedikit mendung dan pasti Ira tak mengankat barang yang berat kan?.


Namun untuk saat ini dan mungkin 3 hari kedepan ia harus tahan.


"Udah, ayo masuk kasihan abangnya. Iya gak bang?" Seru Dewa. Untunglah Dewa orangnya supel jadi tukang sopir itu tak merasa kesepian.


Mereka pun masuk. Di mini bus hanya ada 10 kursi. Dan anehnya kursi di minibus yang mereka pesan berada di tengah-tengah dengan berjajar. Satu deret ada 2 kursi. Dan jumlah deretnya ada 5, 6 dengan sopir dan kursi sebelah sopir. Benar-benar unik dan nyaman.


Perjalanan yang cukup lama mereka habiskan dengan bercerita, bermain kartu, nyanyi-nyanyi, makan, dan pasti nya tidur.


Yang paling banyak tidur adalah Ira dan Dava. Hah! mereka ini memang....


Hampir setengah hari perjalanan dan mereka pun sampai.

__ADS_1


"Wah... segarnya ," Ujar Anisa.


"Iya disini sesuka dan lebih hijau, Yakan Ra?" Tanya Indi menyahuti.


Ira yang masih setengah bangun dari tidurnya hanya mengangguk-angguk tak jelas.


"Hahaha dasar lo Ra. Ya uda, gue sama Ira masuk Vila duluan ya. Ira Kek nya masih ngantuk. Gue juga mau tidur."


Ujar Dava pamit sambil memapah Ira masuk Vila.


"Eh lupa. Bantuin angkatan barang gue sama Ira donggg" Pinta Dava. Segera Cahaya dan Gavin membawakan barang mereka karena Dava yang memapah Ira.


Sampai di kamar untuk membaringkan Ira, Cahaya menatap wajah tidur Ira khawatir.


"Apa dia baik-baik aja?" Tanya nya.


"Iya baik kok. Dia tidur karena efek obatnya. " Ujar Dava yang ikut tiduran di sofa.


Gavin hanya menunggui mereka.


"Semoga baik-baik."Ujarnya juga ikut khawatir.


"Gue janji akan selesai in ini." gumam Cahaya yang masih didengar Dava dan Gavin.


"Emang harus." jawab Dava.


"Udah sana lo keluar! Biar gue yang jagain dia. Trus bilang sama Kak Indi suruh sekamar sama Ira." Usir Dava lalu terlelap.


Cahaya dan Gavin pun keluar.


Gladis yang sedari tadi mengulang langsung sembunyi di balik tembok. Tak ada alasan kenapa dia menguping. Hanya saja Cahaya lama jadi dia menyusul dan gak sengaja mendengar itu.


Setelah Ia rasa Cahaya dan Gavin menjauh dia bisa bernafas lega.


Apa yang Cahaya, Gavin, Ira, dan Dava sembunyikan?


Batinnya heran. Ia masih belum mengerti.


Apa maksudnya menyelesaikan?


Akhirnya Gladis memilih untuk pergi dan masuk ke kamarnya.


Ira POV


Malam pun tiba. Disini lebih dingin dari Jogyakarta. Aku mengeratkan jaket serta syalku. Di halaman Vila, mereka semua telah berkumpul sambil menyalakan api unggun. Aku menghampiri mereka.


"Hei." Sapaku pada mereka.


"Oh, lo udah bangun ya. Lo tau? Lo tidur kayak orang mati ****..." Ujar Gladis tertawa. Mereka semua jadi ikut tertawa..


"Iya tuh.... Dari perjalanan hingga malam gini, lo tidurrrr mulu." Ujar Dava.


Pletak!


"Lo juga sama ****." Sahut Cahaya sambil menjitak kepala Dava. Sedangkan Dava hanya mencibirnya.


Aku hanya tersenyum lalu duduk di sebelah Dava sambil mengusap kepalanya yang dijitak Cahaya.


"Jangan jitak *****... Ntar tambah **** adek gue."Sahut Kak Indi yang membuat mereka semua tertawa lagi, termasuk aku.


Aku menyadari tatapan khawatir Cahaya. Aku menatapnya balik dan mengedipkan sebelah mata padanya tanda aku baik-baik saja. Dia membalasnya dengan tersenyum.


Akupun mengalihkan pandanganku karena Gladis berbalik dan mengajak Cahaya berbicara.


Aku mengerti perasaan Cahaya. Sebenarnya, jika dia ikut ke Belanda aku tak apa. Toh masih ada Dava. Dan aku mengerti kalau cinta pertama emang susah buat dilupakan.


Kita menyanyi dan berbagi cerita di api unggun ini. Malam semakin larut. Sebenarnya mataku sudah berat. Namun kutahan. Ini demi kebersamaan.


"Kau lelah?" Tanya Kak Indi sedikit berbisik. Aku menggeleng. Aku harus bisa menahannya walau sebentar.


"Pergilah bersama Dava." Ujar Kak Indi.


"Aku baik, kak," Jawabku. Kak Indi pun mengalah.

__ADS_1


"Hei! Kita main yok, " ajak Anisa. Semua langsung antusias.


"Kita main, Angka 8." Lanjut Anisa.


"Permainan apa itu?" Tanya Cahaya.


"Jadi mainnya itu, Kita bakal buat 2 lingkaran kayak angka 8. Nah nanti semua orang harus ada di lingkaran2 itu. Yang jaga cuma boleh muterin garisnya doang. Dan kita boleh melompati antar lingkaran asal ga keluar garis. Yang jaga bakal kasih pertanyaan dan nanti 1 orang yang kena harus jawab pertanyaan itu. Gimana?" Aku menyimaknya. Ah rasanya aku sangat ingin ikut.


Aku menatap Cahaya namun malah Gladis yang menatapku. Aku segera memalingkan wajah. Sekilas aku melihat mata Gladis memicing.


"Yaudah ayookk!! Ira kau ikut?" Tawar Cahaya. Sorot matanya menampilkan kecemasan. Tapi aku ingin ikut main juga.


Akhirnya aku mengangguk. Kulihat raut mukanya terkejut begitupun dengan Dava.


"Beneran?" Tanya Cahaya lagi. Aku mengangguk mantap. Aku melihat Gladis mulai berlagat aneh. Seperti, curiga?


Ah mungkin perasaanku saja.


Ira POV end


Permainan di mulai. Yang mendapat giliran jaga adalah Dava.


"Oke, pertanyaan pertama. Apa yang bakal lo lakuin kalau udah putus sama pacar lo? Satu, dua, tiga, mulai" Seru Dava lalu mulai berlari. Semua lalu berhamburan dan menghindari kejaran Dava. Dan akhirnya kenalah Gladis.


"Ya aa... Gladis jaga... Oke jawab dulu pertanyaan gue." Ujar Dava.


"Mm kalo gue sih mungkin bakal jauhi dia selamanya ya.... Tapi gue belum punya mantan sih. Dan semoga gue ga punya." Jawab Gladis.


Jawabannya ini mengandung sorakan dari teman2nya. Sedangkan dia berharap pada Cahaya mendengarkannya.


Ira juga hanya tersenyum.


"Yaudah sekarang, ini pertanyaan gue. Di mana kalian bakal kuliah?" Lalu Tiba-tiba Gladis langsung lari mengejar mereka. Karena kaget kenalah Cahaya.


"Yaahhh. kamu mah curang... masa ga di itung dulu ..." Rajuk Cahaya. Sedangkan Gladis dan teman-teman yang lain malah tertawa.


"Udah.... dijawab aja kenapa sih?" Sahut Dewa masih tertawa.


"Mmm..... Kuliah ya. Gue kuliah di Belanda." Jawab Cahaya santai. Sedangkan Gladis, Dewa, dan Anisa terkejut.


"Hah?! Belanda?!" Seru mereka bertiga. Yang lain mah ga perlu kaget lagi.


Cahaya mengangguk. Sorot mata Gladis menyiratkan kekecewaan.


Kenapa tiba-tiba? Batinnya.


"Udahlah nanti gue jelasin sekarang ayo lanjut main. " Ajak Cahaya. Namun Gladis bergeming.


"Kenapa Gladis?" Tanya Cahaya.


"Kenapa tiba-tiba?" Ujar Gladis balik tanya.


"Nanti aku jelasin yaa..." Bujuk Cahaya. Ia tak mau acara liburan mereka gagal.


"Aku keluar." Ujar Gladis lirih lalu pergi. Mereka semua jadi diam.


"Gue susul dulu." Pamit Cahaya.


Ira juga bergeming. Ia mulai jongkok.


" Kenapa Ra?" bisik Dava.


"Boleh aku masuk duluan?" Tanyanya pada semua.


Gavin dan Indi langsung mengiyakan.


Anisa dan Dewa jadi bingung sendiri. Akhirnya Dava membantu Ira masuk ke Vila.


"Sepertinya kalian utang penjelasan pada kami." Ujar Anisa.


Indi yang melihat semua jadi kacau merasa bersalah. Padahal ini baru hari 1.


"Kita akan bicarakan ini. Ayo masuk." Sahut Gavin. Gavin ingin cepat selesai. Jadi saat liburan sudah tak ada lagi kepura-puraan.

__ADS_1


Xixi


__ADS_2