
Semalam mereka berdua bergulat PANAS diatas ranjang. Mereka melaksanakan kegiatan yang dilakukan suami istri pada umum nya. Ini adalah yang pertama kali bagi Ira maupun Cahaya. Mereka sama-sama belajar.
Kira-kira, tadi malam mereka sampai jam 11. Bu Ning yang menonton tv di ruang tengah hanya seyam-senyum sendiri dengan kelakuan majikannya.
Pagi yang cerah menyapa kedua insan yang masih bergelut di bawah selimut.
Cahaya sebenarnya sudah bangun dari 1 jam yang lalu, untung sekarang hari minggu.
Cahaya meniti wajah Ira. Dari satu jam yang lalu ia pikirannya di penuhi oleh Ira.
Gue kenapa sih?- begitulah batinnya sedari tadi.
Ia melihat jam yang sudah menghadap angka 7.
Cahaya pun meniup wajah Ira hingga sang empunya menggeliat.
"Engghhh.."
"Istriku bangun," Ujar Cahaya sambil tangannya bergerilya di badan Ira.
"eghhh... Yaaa!" Desahnya.
"Bangun Ra. Kalo ga mau bangun yaudah sih gapapa, asalkan...."
Brret...
"Aku bangun!"Seru Ira langsung berdiri.
Ira masih tak menyadari bahwa ia tak memakai sehelai benang pun saat berdiri, hingga Cahaya berucap,
"pftt... Ira, kamu pandai menggoda juga ya??" ejeknya.
Seketika Ira langsung melihat tubuhnya yang memberi tontonan bagi mata Cahaya.
Ia pun menarik selimut untuk melilitkan di tubuhnya.
Sreekk
"Loh Ra, kalau kamu ambil selimut aku yang ditonton dong sama kamu..." Goda Cahaya Lagi.
"Kyaaa!" Ira pun menutup matanya dengan kedua tangan dan melupakan selimut yang langsung melorot dari tubuhnya.
Tak menyia nyiakan kesempatan, Cahaya langsung menarik Ira ke dekapannya. Wajah mereka bertemu dan hanya berjarak 5 cm.
Cahaya tersenyum pada Ira dan mulai mempertipis jarak antara mereka. Cahaya mencium dan mengekploitasi mulut Ira.
Namun tiba-tiba Ira melepaskan diri. Ia lalu duduk di perut six pack Cahaya. Raut mukanya seketika berubah.
"Ya, hubungan kita udah sejauh ini, gimana dengan Gladis?" tanya Ira. Seketika raut muka Cahaya juga berubah.
"Aku... Aku tak tau mau gimana lagi. Aku sayang dia tapi juga tak ingin melepasmu. Aku bingung Ra." Ujar Cahaya lirih.
Ira lalu mencium bibir Cahaya sekilas.
"Kita hanya sebatas pernikahan bisnis. Ceraikan saja aku tidak apa." Ujar Ira sendu.
"Tidak! aku tak akan menceraikanmu. Kita sudah sejauh ini. Dan kau sudah bersamaku hampir 3 tahun."
Ira mendesah berat lalu turun dari perut Cahaya. Ia ikut berbaring di sebelah Cahaya dan menarik selimut.
"Dulu aku selalu bermimpi bisa menikah dengan orang yang aku cintai, dan tentunya dia mencintaiku. Aku juga bermimpi kalau aku hanya akan menikah sekali seumur hidup. Aku berjanji semua yang aku punya akan kuberikan pada suami ku kelak. Memang hanya seperti kisah novel, tapi itu nyata dalam hidupku. Semua nya hancur. Mimpiku hancur.
"Aku juga tak ingin berpisah. Tapi aku tak mau menghancurkan mimpiku yang lain. Yaitu hidup bersama orang yang aku cintai dan mencintaiku.
Pertanyaan ku dari awal saat kita menikah adalah bisakah cinta itu tumbuh di antara kita? haha tapi sepertinya tidak mungkin. Ini sudah hampir 3 tahun." Ujar Ira panjang lebar.
Cahaya yang mendengar nya hanya diam.
Apakah gue cinta sama ira? Akan kah cinta itu tumbuh di antara kita? Haruskah aku menceraikan nya? Pertanyaan itu berputar di kepala Cahaya. Ia semakin bingung.
Ia pun memeluk Ira dari samping dan mendekap nya.
__ADS_1
"Kita akan lewati ini. Percaya padaku." Bisiknya.
"Ya sudah , aku mau mandi." Ira pun melepas pelukan Cahaya dan beranjak ke kamar mandi dengan keadaan telanjang.
Cahaya masih bergeming berpikir.
Apakah langkah yang gue ambil udah benar? Akankah gue harus pilih Gladis atau Ira?
Ia termenung.
.
.
.
Ira POV
Di kamar mandi aku termenung. Semalam kami melakukannya. Tapi, cinta sepihak ini membuat aku resah. Aku sadar jika itu adalah wujud Cahaya yang masih 'normal'. Namun di sisi lain aku takut. Takut Cahaya akan kembali lagi. Aku terlalu takut untuk mengahadapi nya. Hatiku juga pasti sudah tak sanggup.
Tujuan ku untuk kuliah di luar negri adalah salah satu cara untuk kabur dari Cahaya dan keluarganya. Bukan aku tak peduli bagaimana keluarga ku, tapi ini masalah hati.
Aku cinta dia. Tapi dia cinta dengan Gladis. Kami hanya sebatas perjanjian dia atas kertas.
Aku juga tak ingin keluargaku tau tentang pendonoran ginjalku waktu itu. Aku berencana akan pergi secepatnya sebelum semua orang menyadarinya. Akhir-Akhir ini rasanya badanku lemas. Perutku seperti melilit.
Aku tau ini gejala ginjalku mulai tak membaik karena aku konsul dengan Vander.
Selama ini setiap akhir pekan aku sering ke tempat Vander karena Cahaya keluar dengan Gladis. Walau hatiku sakit, tapi aku harus sadar diri bukan?
Setelah aku selesai memikirkan itu semua, aku keluar dari kamar mandi dan Cahaya sudah entah dimana.
"Ya?" Panggil ku. Namun tak ada sahutan . Akhirnya aku mengganti baju dan pergi ke dapur.
Aku melihat Cahaya dan Bu Ning duduk di meja makan. Sambil bercanda
Ira pov end.
"Bu, Cahaya bantu ya?!" Tawar Cahaya.
"Aduh den, ga usah. Bibi bisa sendiri kok," tolak Bu Ning yang masih berkutat dengan wajannya.
"Ga papa Bu. Lagian Ira lagi mandi kok. Cahaya siapin meja makan aja ya Bu?"
Cahaya pun mulai membereskan meja dan menaruh hidangan di atas meja.
"Aduh.... Den Cahaya sudah besar ya..."Ujar Bu Ning saat akan menaruh sayur di meja. Cahaya menanggapinya dengan tertawa.
"Ahahah Ibu bisa aja....."
Saat sedang asik mengobrol , Ira datang dengan rambut basah sehabis mandi.
"Ah, tumben kamu bantu Ya?" Tanya Ira.
"Ga boleh gitu??!" Jawab Cahaya dengan wajah melas.
"Ahahah, iyaiya boleh. Ah wajahmu Ya, jadi pengen aku kantonhin kamu...." Ujar Ira.
"Sudahlah... Ayo kita makan saja," Ajak Bu Ning ke mereka berdua. Mereka pun makan bersama pagi itu.
Pagi itu berjalan dengan tenang dan mereka melakukan kegiatan masing-masing. Cahaya sedang main game di kamar dan Ira sedang beberes kamar mereka.
Tiba-tiba handphone yang Cahaya pegang bergetar menandakan ada panggilan masuk.
"Halo? Iya Dewa? ga kok.. Ah?" (Cahaya)
"....."
"Oke2 nanti gue kesana. Iya bentar lagiiiii...."
tut
__ADS_1
Setelah menerima panggilan itu Cahaya bergegas mengganti baju dan celana. Ia dengan cepat menyambar kunci motor nya dan berlari keluar.
Ira yang melihat itu hanya melongo.
"Cahaya mau kemana???" Seru Ira. Tapi sepertinya ia sudah tak mendengar nya.
Ting!
Ira meraih hp nya dan membaca pesan yang masuk.
Gladish
Ra, gue sakit😪 temenin dong......
Dan sekarang Ira mengerti kenapa Cahaya begitu buru-buru.
Ira menghela nafasnya dan membalas pesan dari Gladis.
Me
Maaf ya Dis, aku lagi ga bisa dateng. Mungkin nanti sore?
Ya, Gladis berencana pergi ke RS menemui Vander. Untungnya Cahaya pergi. Namun, ia sedikit cemburu.
Ah, tapi Ira tak boleh egois. Bagaimanapun juga Di hati Cahaya hanya ada Gladis.
Akhirnya Ira pun siap-siap untuk pergi ke RS.
"Bu, Ira pergi jenguk temen ya. Nanti kalo Cahaya pulang sebelum Ira bilang aja Ira sama ke mall bentar." Pamit Ira. Bu Ning yang sedang menonton tv hanya mengacungkan jari jempolnya.
Ting!
Sebuah pesan masuk lagi ke ponsel Ira.
Gladish
Ah ga apa Ra, lagian disini udah ada Dewa sama Cahaya. Eh kata Gavin, kakak lo sakit ya? Bilangin GWS ya....
Ira terkejut dengan isi pesan Gladis bahwa kakanya sakit. Akhirnya dia pun memilih tak membalas pesan tersebut. Ia pikir, ini bagus untuk alibinya nanti.
Akhirnya Ira pun pergi ke RS dengan taksi.
.
.
.
"Ra, kamu harus cepat." Ujar Vander serius.
"Iya. Setelah pengumuman mungkin aku akan berangkat." Ujar Ira.
"Aku sudah bilang temanku, dan dia sudah konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam di RS nya. Aku juga tak bilang ke orang lain kalau kau akan ke Belanda."
"Terimakasih Vander." Ujar Ira.
"Kau istirahat lah dulu. Aku banyak pasien." Akhirnya Vander pun pergi keluar ruangannya. Menyisakan Ira yang masih termenung.
"Apakah langkahku sudah benar Tuhan?" Ucapnya dalam hati.
Ia bingung. Ira tak tau harus bagaimana. Ia berdoa supaya diberi kemudahan dan dapat menemukan jalan yang terbaik.
Akhirnya Ira hanya duduk di kursi Vander dan menuliskan surat yang mungkin akan berguna bagi kedepannya.
Setelah beberapa jam di ruangan Vander, Ira akhirnya pulang dan mampir ke tempat kakaknya. Di sana sudah ada Gavin. Alhasil ia malah di ceramah oleh Indi dan Gavin untuk persiapannya kuliah di luar negri nanti.
Dia telah berbohong pada Cahaya kalau Indi yang telah mengurus semuanya. Padahal itu hanya alibinya. Seluruh keluarganya tak tahu tentang pengobatannya ke Belanda. Ia hanya bilang akan kuliah di Inggris.
Sebenarnya, Ginjalnya itu juga ginjal donoran salah satunya. Dia terpaksa di donorkan ginjalnya karena ia gagal ginjal semenjak ia kecil. Dan ginjal yang ia donorkan ke Cahaya itu adalah ginjalnya yang asli. Maka dari itu Gavin dan keluarganya yang lain tak memperbolehkan nya melakukan sesuatu yang 'neko-neko'. Tapi ternyata ginjal donorannya tak bisa bertahan lama. Apa lagi harus bekerja ekstra. Alhasil sekarang kondisinya menjadi lebih buruk lagi.
Sebagian besar fungsi neuron neufron nya sudah tak jalan. Ia hanya bisa mengandalkan obat-obatan dan jaga pola makannya. Ia tak berani jika harus cuci darah sekarang.
__ADS_1
Ira pasrah dan iklas dengan apa yang telah dan akan terjadi nantinya.