
Weekend ini mereka berlima akan hang out bareng. Soal acara menginap itu, untungnya berjalan sukses. Tidak ada yang curiga. Tapi untuk berjaga-jaga Gavin pun ikut menginap di apartemen Cahaya. Maklum yg tau Cahaya bipolar hanya dia, orang tuanya, dan Ira.
Pagi itu Gavin sudah berada di depan mal bersama Indi ada Cahaya juga. Tak berapa lama kemudian Dewa dan Gladis datang. Langsung saja Gladis menempel pada Cahaya.
Indi yang melihat itu merasa sangat heran. Namun, Gavin menangkap sinyal dari Indi dan akhirnya hanya bisa mengedipkan mata tanda untuk diam saja. Cahaya? Dengan rasa tak bersalah nya dia menyambut itu.
"loh kak, Ira mana? kok belum nyampe?" tanya Dewa
"a iya tadi dia menyuruhku duluan bareng Gavin." Jawab Indi sambil melirik Cahaya yang masih bermesraan dengan Gladis. Tentu saja ia bohong.
Akhirnya Gavin mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Indi.
nanti Ku jelaskan
begitu isi pesannya. Indipun melirik Gavin dan mengangguk. Ia marah? tentu saja. Ia merasa tak habis pikir, bagaimana Cahaya bisa meninggalkan Ira dan sekarang malah bermesraan dengan teman akrab Ira.
"ahh.... maaff telat...hosh.. hosh.." ujarnya sambil terengah-engah.
"Haduh Ra. Lagian tadi ga nebeng aja." Ujar Indi. Ira hanya tersenyum.
"Yaudah yuk langsung aja. Film nya udah mau mulai." ajak Gladis.
Mereka pun jalan berpasangan. Indi dengan Gavin, Cahaya dengan Gladis, Dewa dengan Ira. Sebenarnya Dewa punya pacar, tapi tidak bisa datang sekarang. Mungkin nanti.
Ira dan Dewa berbincang sedikit. Dewa sangat kewalahan jika berbicara dengan Ira, karena Ira orang yang sangat tertutup. Namun Dewa suka bercerita pada Ira karena ia pendengar yang baik. Sesekali Ira tertawa karena cerita Dewa.
Film pun dimulai dan keadaan jadi hening.
Bukannya menonton film Ira malah membuka ponselnya dan mengerjakan beberapa berkas perusahaan. Dia memang tak pandai main komputer tapi ia memiliki komitmen dan komunikasi sangat baik pada klien.
Selesai mengerjakan Ira memilih mencari tahu tentang nyeri pinggang. Sepertinya akhir-akhir ini Cahaya sering nyeri pinggang.
Tapi yang ditemukan nya adalah penyakit ginjal. Tak mungkin kan Cahaya kena penyakit ginjal.
Akhirnya Ira memilih untuk fokus pada filmnya. Ia sempat melirik ke arah Cahaya, dan benar saja Cahaya sedang menahan nyeri di pinggang nya. Tapi Ira gak bisa berbuat apa-apa. Ia pun hanya diam dan memerhatikan.
.
.
.
Film telah selesai dan pacar Dewa, Anisa telah datang. Mereka semua memilih berkeliling mall kecuali Ira. Ira memilih istirahat dan makan sendirian karena sepertinya dadanya terasa sesak.
Ia makan tak jauh dari time zone untuk mengawasi Cahaya dan Gladis. Ia takut sewaktu waktu Cahaya kesakitan lagi.
Tapi semakin lama rasanya napasnya semakin sesak. Ia menepuk dadanya pelan. Ia yakin ini bukan karena bronkitis nya, tapi ini karena ia mencintai Cahaya. Memang tak ada yang patut ia perjuangkan dari seorang Cahaya, namun apa daya hatinya memilih nya.
Ia melihat Cahaya sangat bahagia bermain bersama Gladis. Sesekali Gladis maupun Cahaya mencium pipi satu sama lain. Dan kembali ia mengingat jika Cahaya bersamanya. Entah apa yang dipikirkan Cahaya terhadapnya. Tapi ia sudah terlanjur berjanji akan membantu menyembuhkan bipolar Cahaya.
__ADS_1
Ini demi keluarga Cahaya dan keluarganya. Ia tak akan menyerah sebelum Cahaya sadar dan malah makin menjadi.
Setelah 2 jam duduk dengan laptop, akhirnya Ira memutuskan pulang duluan karena masih ada kerjaan. Ia lupa mengerjakan tugas nya dan Cahaya untuk Senin depan.
.
.
.
Cahaya sampai dirumah pukul 8 malam. Tidak seperti biasa, Cahaya berjalan tertatih. Tangannya digunakan untuk menekan pinggangnya yang semakin nyeri. Cahaya melewati dapur dan di sana ia melihat Ira sedang mencuci piring.
Cahaya makin tak kuat.
"raa..Ira....." Ucapnya lirih. Ira yang mendengar itu langsung menghampiri Cahaya.
"kamu kenapa? pinggangmu nyeri lagi? kita ke RS aja ya... mana kunci mobilnya." Ira pun segera memapah Cahaya ke mobil. Dalam pikiran Cahaya saat ini malah ada banyak pertanyaan.
Ira tau gue selalu sakit pinggang? sejak kapan? kenapa dia tau? dari mana? kok bisa sih? dan banyak lagi pertanyaan pertanyaan di pikiran nya.
Ira segera melajukan mobilnya ke RS terdekat. Di jalan ia juga menghubungi papa mama Cahaya juga mommy Dady nya, Gavin, serta Indi.
Setelah memanggil perawat, Cahaya di bawa ke ruang ICU. Di luar Ira berharap harap cemas. Mommy Dady nya belum bisa datang begitupun mama papanya Cahaya. Sekarang ia benar-benar kalut. Ia menangis. Ira takut Cahaya kenapa kenapa-kenapa. Ia takut jika terjadi sesuatu pada Cahaya.
Tiba-tiba Gavin datang. Ia terburu buru sampai berlari.
Tak berapa lama dokter keluar.
"saya perlu bicara pada keluarga pasien." ujar dokter itu.
Akhirnya Gavin berdiri dan mengikuti dokter itu.
Dokter itu duduk di ruangan nya bersama Gavin.
"Apa bapak tau dia sering mengkonsumsi obat-obatan?" tanya dokter.
"tau. Dia bipolar dok, dan ia perlu obat penenang." jawab Gavin.
"hh begini pak, pasien memakan obat penenang tersebut bersamaan dengan obat-obatan lainnnya dalam jangka waktu lama. Ini menyebabkan kerusakan pada ginjalnya. Tapi saya mendiagnosa kalau sebelumnya ia sudah memiliki sakit ginjal. " ungakp dokter itu. "Singkatnya dia perlu pendonor pak." ujar dokter tersebut karena melihat tatapan tajam Gavin.
"Lakukan yang terbaik dok." ujar Gavin, lalu ia keluar ruangan.
Saat ia keluar sudah ada Indi di samping Ira.
Menyadari kedatangan Gavin, Ira langsung berdiri.
"Dia butuh pendonor ginjal." ujar Gavin to the poin. Seketika Ira lemas. Ia baru menyadari bahwa ginjal Cahaya memang bermasalah karena ia menemukan obat-obatan di kamar Cahaya. Dan Ira tau itu bukan obat penenang nya.
"Ini salahku...hiks.. aku... tak memerhatikan..hiks.. dirinya.." ucap Ira menyalakan diri sendiri.
__ADS_1
"Nggak Ira, kamu ga salah. Kamu udah jadi Istri paling baik..." Ujar Indi menenangkan. Sekarang ia bisa memahami perasaan adiknya itu. Gavin sudah menceritakan semuanya.
Gavin terlihat sedang menelepon seseorang. Beberapa saat kemudian dia kembali.
"aku sudah telepon om. Tenang saja."
Tiba-tiba seorang perempuan paruh baya datang tergopoh-gopoh bersama sepasang suami istri dengan anaknya. Seingat Ira dia adalah Oma Cahaya, kakak perempuan dan iparnya, serta keponakan nya.
"Dimana cucuku? dimana dia?! apakah dia baik-baik saja??!!" Ujar Oma histeris.
"Oma tenang ya... Cahaya baik-baik saja..'" tenang Pelita, kakak Cahaya.
Mata Oma menemukan Ira yang sedang menangis. Oma berjalan mendekati Ira. Lalu Oma mengangkat wajah Ira dan menatapnya dengan sorot kebencian.
plakk...
Oma menampar pipi kanan Ira.
"ini pasti gara gara kamu tidak mengurus nya dengan baik. Kau memang pembawa bencana bagi keluarga kami.!!!!" teriak Oma di depan wajah ketakutan Ira. Indi terpaku akan kelakuan Oma. Ia membayangkan kelakuan Cahaya yang mungkin 11 12 dengan Oma dan Ira menerima itu semua selama 1 tahun.
"Oma sudah Oma. Kita tak boleh begitu. Sudah Oma." tenang Pelita lagi.
"Tidak bisa... kamu harus pergi dari sini. Perggiii.. jangan sampai adanya kamu membuat cucu ku meninggal!!!" Oma mengusir Ira.
Ira semakin dibuat sesegukan. Dia memang patut disalahkan karena telah ceroboh dalam mengurus Cahaya. Ira pun berdiri sambil menunduk.
"PEERRGIII!!"
PLAKK..
Tamparan kali ini lebih keras dan membuat ujung bibir Ira sobek. Ira terlempar hingga di depan Gavin. Indi tak bisa berbuat apa-apa. Ia terlalu takut begitu juga Pelita dan suaminya. Akhirnya tanpa banyak bicara Gavin membantu Ira keluar dari sana.
Mereka yang menyaksikan itu membeku. Tak ada yang berani berkutik. Bahkan Pelita tak pernah melihat Oma nya semarah ini.
Cahaya yang masih belum sadarkan diri malah semakin memburuk saat Ira di bawa pergi. Dokter-dokter juga dibuat kewalahan. Mereka sedang memasang alat bantu untuk membantu fungsi ginjal.
Ira berjalan tertatih di bantu Gavin. Masih sambil menangis ia menghentikan langkahnya.
"anterin aku ke ruang dokter.... yang menangani Cahaya...." pinta Ira.
"Buat apa?" tanya Gavin.
"please..." pinta Ira.
"jangan bodoh Ra!"
"aku mohon Vin... Hiks. .. aku mohon... hiks. ... hiks... please.." pintanya.
Akhirnya Gavin luluh dan membawa Ira ke ruangan dokter.
__ADS_1