
Pagi hari menyapa Ira yang tidur di brankar rumah sakit dekat jendela. Kicauan burung terdengar merdu di pohon besar dekat jendela. Ira yang sudah bangun dari tadi hanya menikmati keindahan ciptaan Tuhan ini.
Di sampingnya ada Dava. Hanya seorang Dava yang sedang tidur dengan berlandaskan kepala di ranjang nya.
Ia tersenyum dengan perhatian yang over dari sepupunya itu. Mengingatkan dia di masa lalu.
Ira kembali menatap handphone nya. Tak ada telfon ataupun pesan dari Cahaya yang masuk. Ia mendesah pelan.
"Kau kemana Cahaya...." lirihnya.
"Eh, Ira kau sudah bangun." ucap Dava serak dan muka habis bangun tidur.
"Mm? iya. Aku gak tega membangunkanmu. Kau ada kelas? Pulang lah aku bisa jaga diri. Terimakasih sudah menjaga ku." Jawab Ira. Ia mengelus rambut berantakan Dava untuk di rapikan.
"Baiklah. Nanti mom aku suruh kesini. Aku mau pulang. Byee..." pamit Dava. Dia berdiri an menghampiri wastafel untuk mencuci mukanya lalu pergi dari ruangan Ira.
Di luar ia segera menelepon Mommy nya untuk menjaga Ira.
Sedangkan Ira hanya gelisah memikirkan Cahaya. Akhirnya dia memutuskan untuk menelpon nya lagi.
tut tut tut
Panggilan langsung terputus. Di tolak. Panggilan dari Ira ditolak oleh Cahaya. Ira tak percaya ini.
"Apa yang...." lirih Ira mematung.
Akhirnya Ira membuka ponsel nya untuk melacak keberadaan Cahaya. Namun belum sempat ia membuka ponselnya kembali benda itu sudah tak mau menyala.
"low bat? ashh... ceroboh sekali aku. Charger ku dirumah." gerutunya kesal. Dia sekarang hanya pasrah. Bodo amat Cahaya tau atau tidak. Dia memutuskan untuk tidur kembali.
Belum 1 jam Ira tidur, Kirara masuk. Karena suara pintu, Ira pun terbangun.
"Ra? Kau udah baikan?" Tanya Kirara.
"Mm.. Lumayan. Apakah aku sudah boleh berjalan-jalan? Aku sangat bosan." ijin Ira.
"Nanti Ra. Kau tahu? Penyakitmu semakin parah. Jika kita tak memasang ring-"
"sstt.. percaya padaku." potong Ira.
"Tapi Ra, ini demi kebaikanmu, " Bantah Kirara mulai jengkel.
"Aku tak apa. Aku kan baik-baik saja. Aku janji ini untuk terakhir kalinya aku di rawat di sini." Jawab Ira.
"Baiklah. Tapi kau harus janji an tepati itu." sahut Kirara. Ira mengangguk untuk menjawabnya.
"Okey kau mau makan? kita lepas infusmu dan ayo makan di kantin rumah sakit. Aku tau kau begitu kelaparan. Setelah itu minum obat dan kau harus kembali tambah darah." Jelas Kirara sambil melepas Infus Ira. Ira masih memakai baju rumah sakit dan keburu di tarik oleh Kirara untuk keluar.
Mereka berjalan ke arah kantin rumah sakit di lorong kanan ruang Inap Ira.
"Mau apa?" Tanya Kirara.
"Bubur ayam. Tanpa daging ayam." Jawab Ira. Kirara pun segera memesan dan Ira mencari tempat duduk untuk Mereka berdua.
__ADS_1
Tak lama kemudian Kirara datang dengan Bubur pesanan Ira dan kentang goreng miliknya serta sandwich. Oke di tambah susu dan air putih.
Kirara menaruhnya di meja.
"Nih. Makan lah." ujarnya. Mereka pun makan sarapan mereka.
"Mmm Ra. Cahaya udah bisa di hubungi?" Tanya Kirara hati-hati. Ira hanya menggeleng dengan raut wajah sedih.
"Kau benar-benar tak tau dia dimana?" Tanya nya lagi.
"Tidak. Dia meninggalkan ku di kampus dan belum memberikan kabar hingga pagi ini." ujar Ira. Jujur Kirara juga merasa prihatin.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Nanti kau jadi drop." Hibur Kirara sambil memperingatkan tentang kesehatannya.
"Ki, apakah aku masih bisa hidup sama-sama lagi bareng cahaya?" Lirih Ira. Ia merasa semakin lama Cahaya semakin jauh. Ia tak bisa menggapainya.
"Sudahlah. Oh iya-"
kring ting kring ting
ucapan Kirara terputus karena ada panggilan masuk. Kirara segera mengangkat nya keran itu dari ketua direktur.
"Baik pak. Saya datang segera." Ujar Kirara lalu menutup teleponnya.
"Ra aku ga bisa lama-lama. Kau bisa balik kamar sendiri? Aku ada rapat sebentar. Nanti aku akan ke ruangan mu untuk memasang kantung darah. Dadahhh..." Pamitnya sambil berlalu.
Ira hanya melongo. Ia ditinggal sendirian di kantin rumah sakit. Masih dengan baju pasien. Sungguh memalukan.
Akhir nya dia pun cepat-cepat makan dan pergi dari situ.
Perhatiannya teralihkan karena seorang perempuan yang duduk di kursi roda dengan lelaki yang mendorongnya. Ia tak sempat melihat jelas karena mereka membelakangi dirinya. Tapi postur badan itu, baju itu, mirip, tidak, sama... dengan milik Cahaya.
Ira pun mengikuti mereka berdua. Kedua sejoli itu pergi ke taman. Sepertinya si cewek sakit sangat parah hingga wajahnya sepucat itu. Akhirnya si lelaki berbalik. Ira yang melihat itu terkejut. Jantungnya berdetak cepat. Perutnya serasa akan jatuh begitupun matanya yang ingin ia buang jauh jauh karena melihat itu.
Itu Cahaya. Cahaya Galaksi. Cahayanya. Bersama perempuan lain di rumah sakit dengan istrinya sendiri juga sedang sakit. Dia Cahaya yang dari kemarin tak mengabarinya sama sekali. Bahkan meninggalkannya di kampus.
Ia marah? kesal? kecewa? cemburu? Tentu saja. Di istrinya.Sah. Rasa Di hatinya lebih sakit dari pada melihat Cahaya yang kasar padanya dulu dan Cahaya yang selalu bermesraan dengan Gladis. Sesak. Itulah yang di rasakannya.
Dadanya sesak dan matanya panas. Tubuhnya ia senderkan ke balik tembok lalu meluruhkannya.
Ia kecewa. Ia sangat kecewa dan sakit hati. Ia menangis. Beberapa orang yang melihat hanya diam sambil berlalu. Ira masih menangis rasa sesak itu tak pernah ada sebelumnya.
Hingga akhirnya Ira memutuskan untuk balik di kamarnya.
Namun saat ia berbalik sudah ada Cahaya dan Wanita itu di depannya.
Cahaya terlihat terkejut dan salah tingkah begitupun si wanita. Ira mengusap wajah sembab nya dan memasang senyuman.
"Hai.. Oh Cahaya. Kau kemana? Aku mencemaskan mu dari kemarin. Kau tak ada kabar." Sapa Ira mencoba tenang.
"Ra.. Ini gak kayak yang kamu pikirkan. Aku berani sumpah." Jelas Cahaya yang diangguki si wanita.
"Hm? Aku memikirkan apa? Oh kita belum kenalan. Aku Ira. Dan Kau?" Tanya Ira mengulurkan tangannya. Ia benci suasana canggung. Jadi Ia melakukan itu.
__ADS_1
"A.. Avi.." Ucap Wanita yang bernama Avi itu gugup. Ira yang melihat itu tersenyum.
"Salam kenal." Ujar Ira masih dengan nada ceria.
"Ra, maafkan aku-" Cahaya coba berbicara namun sudah di potong.
"Tak apa. Aku kemarin pulang dengan Dava. Aku lelah jadinya langsung pulang ke rumah. Aku tau pasti kau memiliki hal yang lebih penting ," jawab Ira penuh pengertian.
Bahkan dia lebih penting dari diriku, Ya. Batinnya.
Sekarang raut wajah Cahaya jadi senang. Ia bersyukur karena Ira sungguh mau mengerti. Padahal ia tak tau apa yang dirasakan Ira.
"Baiklah. Terimakasih. Kenapa kau ada di sini? Tidak kuliah?" Tanya Cahaya.
"Mm.. Aku check up." Kilah Ira. Ia tak mau membebani Cahaya karena sepertinya Cahaya sedang fokus pada so wanita bernama Avi tadi.
"Kenapa kau pakai pasien rumah sakit? Apa kau..."
"Ya, nggak kok. Tadi bajuku ketumapahan susu milik Kirara jadi aku ganti pakai ini dulu. Dan, Avi sakit apa?" Tanya Ira mengalihkan topik.
"Mm dia gegar otak. Ra maafin aku sekali lagi tapi aku akan antar Avi pergi dulu. Nanti baru aku jelasin semuanya ya." Pamit Cahaya. Ada raut ke sedihan di mata Ira.
"Iya tak apa. Setelah ini aku juga memiliki janji kapan-kapan bareng Kirara. Kau urus saja dulu masalahnya. Tapi hati-hati. " Ujar Ira. Lalu kedua orang itu pergi.
Ada rasa kasihan dengan Avi itu tapi ia juga kecewa. Siapa sebenarnya dia. Kenapa ka bersama Cahaya? Apa hubungannya? Apa Cahaya selingkuh?
Ira segera menepis jauh-jauh pemikiran itu. Ia pun segera kembali ke ruangannya.
Semoga tak terjadi apa-apa yang serius. batin Ira.
Diapun masuk ke kamarnya dan mendapati Kirara sudah duduk manis di sana.
"Kau lama sekali...." Ujar Kirara kesal.
".. Maaf.." Jawab Ira singkat. Menyadari ada yang tak beres Kirara lantas bertanya.
" Kenapa?"
"Tak apa . Ayo selesaikan. Aku harus segera pulang sebelum Cahaya pulang. " Jawab Ira lalu berbaring
Kirara hanya mndesah pelan lalu mulai memasangkan infus darah ke lengan Ira.
"Arrghhh3..." Seru Ira. Ia kesakitan. Entah kenapa rasanya jarum itu sangat sakit saat menusuk lengannya.
"Kenapa ??" Tanya Kirara. Ira memejamkan matanya dan menggeleng.
"Cepat pasang..." Perintah Ira dan segera melempangkan infus darah di lengan Ira yang beruam-ruam kebiruan. Siapapun yang melihatnya pasti jadi tak tega. Maka dari itu Ira selalu memakai baju tertutup.
"Lebih baik kau tidur. "Bujuk Kirara. Ira mengangguk dan memejamkan matanya. Segera Kirara menyuntikan obat tidur pada Ira agar ia tak banyak pikiran.
"Maafkan Ra." Ujar Kirara.
Ira yang merasa sakit lagi ingin berteriak,Tapi sepertinya efek obat itu sangat cepat hingga ia terlelap begitu saja.
__ADS_1
xixi
Maap kalo ada typo. mohon bantuan, dukungan, saran, dan kritiknyaaaa♡♡♡♡♡♡♡♡♡