
Karena asyik melamun, Ira tak sadar bahwa di depannya ada pertigaan. Ia masih lurus saja, sedangkan ada mobil melaju kencang dari samping nya.
tiinnn.. tin..
Mobil itu sudah berhenti karena melihat sepeda melintas dan mengklaksonnya agar si pengendara sadar akan kelakuannya.
Ira yang mendengar bunyi klakson kaget lalu oleng. ia akhirnya menabrak pot di pinggir jalan dan kakinya tertindih sepedanya.
Sebenarnya sepedanya itu ringan tapi kakinya terkilir karena kakinya nyangkut di pedal rantainya. Orang yang di dalam mobil pun kaget dan keluar dari mobilnya untuk membantu si pengendara sepeda itu.
Ternyata si pengendara mobil adalah Gavin. Gavin mendekati sepeda lalu melihat Ira sedang kesakitan karena kakinya terjepit.
"Ira?" panggilnya.
Ira menoleh dan mendapati Gavin di belakangnya. Ia pun tersenyum menyapa.
"Hai!" ucapnya dengan nada yang masih ceria. Begitulah Ira, sesedih sesakit apa dia, dia takkan pernah membagikan pada orang lain.
"Perlu bantuan?" tanya Gavin karena ia tau bagaimana tabiat Ira.
"hmmm... sepertinya perlu." jawab Ira pasrah karena ia tak bisa melepaskan diri dari sepedanya.
Gavin pun mengangkat sepeda Ira perlahan. Namun itu malah membuat Ira menjerit
"aduhh...."
.Akhirnya Gavin memikirkan cara agar bisa melepas jepitan rantai itu dulu karena kaki Ira terkilir.
"Sebentar Ra"
Gavin pun pergi ke mobilnya dan mengambil sebuah tang untuk memotong rantai.
Gavin pun memotong rantai itu dan melepaskan kaki Ira dari sepeda.
"ah akhirnya, terima kasih Gavin."
Ira pun menyeret tubuhnya duduk di tepi dengan peluh yang membasahi dahinya. Sedangkan Gavin, ia membawa sepeda dan tang itu ke mobilnya lalu kembali ke tempat Ira duduk.
"kenapa disini?" tanya Gavin datar.
"cari makan" jawab Ira sambil mencoba menggerakkan kakinya.
"ayo kuantar saja. dah malam." Gavin pun berdiri dan membantu Ira berdiri menuju mobilnya.
Begitulah Gavin, ia tak suka berbasa-basi. Ira juga. Akhirnya Gavin mengantar Ira membeli sate lalu balik ke apartemen Ira.
Sampai di sana Gavin menurunkan sepeda Ira dan memanggil Cahaya.
"Loh Ira kau kenapa?" Tanya Cahaya berakting. Mereka sudah biasa melakukan ini. Akting seolah semua baik-baik saja.
__ADS_1
"Jatuh" ujar Gavin.
"Gue pulang" pamit Gavin.
ia sempat melirik tangan Ira yang beruam dan rahangnya juga beruam keunguan. Dia sadar apa yang terjadi namun pura pura buta. Hey, dia dan Cahaya sudah sahabatan dari SMP. Dia tau Cahaya punya bipolar. Namun ia tidak yakin Cahaya akan melakukan itu.
Setelah Gavin berlalu, Cahaya melepas topangannya pada ira, merampas satenya dan langsung masuk meninggalkan Ira yang terhuyung karena tak bisa berdiri.
Setelah Cahaya masuk Ira meremas tangannya sendiri. Rasanya sakit. Hatinya sakit, juga lelah.
Akhirnya ia pun masuk lift setelah mengirim pesan ucapan terima kasih dengan Gavin.
Ia berjalan tertatih sambil berpegangan dinding. Keluar lift juga begitu sampai ia masuk apartemen.
"Lo pura-pura apaan lagi hah?! Ngadu Lo sama Gavin?" tuduh Cahaya saat melihat Ira tertatih melewati dapur.
Ira menunduk dan menjawab.
"ti.. tidak..maaf."
"Jangan pernah ngadu atau perusahaan bokap Lo bangkrut." Ujar Cahaya penuh ancaman sambil mendekati Ira.
Saat sudah sampai di depan Ira, ia melirik kaki Ira.
"Drama queen!" serunya di depan wajah Ira sambil menendang kaki Ira yang terkilir. Sebisa mungkin Ira tak bersuara walau rasanya sakit. ia menahannya dengan menggigit bibirnya.
"akhh..."
"oh ya jangan tidur kamar malam ini. Kamar Bu Ning kosong!" seru cahaya dan menghilang dari balik pintu.
Ira pasrah.
Ia menangis dan menahan isaknya agar tak terdengar lelah Cahaya.
"mom, dad, Bantu iraa..." ucapnya dalam hati.
"ayo Ira, kamu kuat! Demi keluarga mu!" Ira pun berdiri dan menuju kamar Bu Ning di depan dapur pas.
Ia memijat kakinya sendiri dengan hati-hati. Ada bekas darah kering di sekitar pergelangan kakinya. Sepertinya karena terjepit. Karena tak kuat berjalan lagi, akhirnya Ira membasahi Hoodie nya untuk menyeka darah.
Selesai itu, dia membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata.
"Mom, biasanya kalo Ira sakit, Mom pasti ngobatin Ira. Nungguin Ira, dan nemenin Ira tidur."
"Ira kangen Mom. Cepet pulang ya"
Ujar Ira dalam hati.
"Ya Tuhan, kenapa harus aku? Apa salahku?" Setelah itu Ira pun terlelap.
__ADS_1
.
.
.
Sementara itu Cahaya di kamar sedang mencari obat penenang nya. Ia takkan bisa tidur tanpa obat penenang itu. Sebelum amarahnya kembali membuncah ia cepat-cepat minum obat itu.
Namun ia merasa beberapa hari ini badanya aneh. Pinggang nya sering sakit. Akhirnya dia juga minum obat pereda nyeri.
Setelah itu, Cahaya pun membaringkan tubuhnya di kasur king size nya. Ia menatap sofa lalu tersenyum miring. Rencananya berhasil.
Dia muak sangat muak dengan perempuan yang dianggap nya ular itu. Biasanya si Ular itu akan tidur di sofa tapi sekarang lenyap.
Cahaya bangga. Sangat bangga. Namun ia belum puas untuk menyiksanya. Ia akan membuat dia jera.
Sampai sekarang Cahaya sangat yakin bahwa ini adalah tipuan Ira agar ia juga bisa ikut menikmati harta warisan dari papa nya. Dan ia takkan membiarkan itu terjadi.
Cahaya akan membuat Ira dan keluarganya bertekuk lutut padanya memohon ampun dan mengakui salahnya.
Sebenarnya sebelum ia menikah dengan Ira bipolar nya tak pernah kambuh lada malam hari. Namun semenjak ia membenci Ira ia selalu ingin melihat Ira ketakutan lalu pasrah atas dirinya.
Sebenarnya ayahnya sudah berpesan jangan menyakiti Ira nantinya. Tapi namanya juga Cahaya.
Dia pernah sempat luluh karena malam pertama mereka.
Wajah imut Ira, rambutnya yang lurus panjang, tubuh putihnya, dan badannya yang porposional membuatnya terpana sejenak. Namun setelah itu Cahaya malah menganggap Ira penggoda.
Setahun ini membuatnya mengerti cara menyiksa Ira. Jika Ira telat pulang, Ia akan menyuruh Ira di luar semalaman. Karena Ira punya bronkitis, ia pasti akan pingsan dan Cahaya suka itu. Lalu ia akan berakting perhatian, membuat Ira juga mau tak mau harus mengikuti.
Jika Ira tak mau mengerjakan tugasnya maka ia akan mengikat Ira semalam hingga tak bisa tidur hingga esok harinya.
Jika Ira membantah omongannya ia akan menjambak, mencengkram dan kadang menampar Ira.
Ia merasa tak cukup ia melihat itu jika hanya satu tahun. Ia benar-benar tidak memiliki rasa apapun pada Ira selain benci. Gavin sudah memperingatkan berkali-kali tapi ia tak menghiraukan.
Ia dengan sengaja bermesraan di depan Ira bersama Gladis dan menelepon Gladis di depan Ira. Namun jika ia melihat Ira dekat dengan lelaki selain sahabatnya, ia akan membuat k••sm••k di sekitar tangan, kaki, serta leher Ira. Pokoknya bagian tubuh yang bisa dilihat lah(tidak lebih)
Jika ia benar-benar kesal dan marah karena sesuatu, ia akan menyuruh Ira untuk job.
Ia selalu melampiaskan semuanya pada Ira. Ia memperlakukan Ira saat sedang job dengan kasar. Namun ia tak pernah Sudi melakukan timbal baliknya.
*mereka tak pernah berbuat lebih kok*
Namun setahun ini ia bingung. Kenapa Ira masih di sisinya. Masih bertahan dengan nya? Apa karena hartanya? Tapi dia selalu seperti kucing diambang Kematian jika bersama Cahaya.
Apa yang membuatnya bertahan?
Karena lelah memikirkan semua itu, Cahaya pun terlelap masuk kealam mimpi
__ADS_1