Bad Liar

Bad Liar
18 KEHIDUPAN BARU


__ADS_3

"Iraaa!! Ayo berangkat!!"


Suara Cahaya memenuhi rumah yang mereka tinggali di Belanda.


Sudah 2 tahun mereka ada di Belanda. Mulai dari tahun pertama, Ira menjalani perawatan intensif dengan dokter Kirara, kenalannya Vander. Dan walaupun di tahun kedua Ira belum sepenuhnya sembuh namun Dava memilih kembali ke apartemennya.


Kehidupan mereka sangat harmonis. Cahaya sudah tak pernah lagi marah tanpa alasan. Dia tetap jadi orang yang ceria. Umur mereka sekarang sudah 20 tahun. Kadang jika Cahaya tak menemani Ira kontrol atau dia ngampus, dia akan membantu perusahaan cabang milik Ira. Ira pun kadang juga ikut membantu.


"Yaudah ayo .... Aku harus urus ini dulu." Ujar Ira sambil membawa kertas yang bertumpuk setebal 2 cm mungkin.


"Kamu emangnya mau ngapain sih?? Jangan terlalu capek lo." Peringat Cahaya sambil merangkul Ira dengan sayang.


"Aku harus lulus 3 tahun biar bisa bareng kamu." Jawab Ira cengengesan.


Memang akhirnya Ira kuliah di Belanda karena dia belum sembuh. Sebenarnya dia sudah sembuh dari penyakit ginjalnya, tapi ternyata pengobatan itu berefek samping untuk darahnya. Kadang jika dalam keadaan tertentu, Ira akan mimisan atau pun muntah darah karena tubuhnya menolak darah itu masuk ke ginjalnya. Untuk penyebab pastinya memang belum di ketahui. Makannya Ira sering kekurangan darah.(Aduh asli aku ngarang nii*-*)


"Oh ya Ya. Nanti sore Kirara akan kemari memeriksa. Karena kamu pergi, makannya Kirara aku ajak untuk periksa di rumah. Ia juga katanya bosan sih." Ujar Ira.


" Iya tak apa. Maaf ya, nanti aku harus bantu Dady kamu urus pengretrutan pekerja baru. Yaudah ayo ke kampus.."


Mereka pun berjalan ke arah mobil mereka dan melajukannya ke kampus mereka.


Baru tahun ini, Ira masuk kampus mengambil jurusan Teknologi Komputer. Alasannya? Biar bisa bantu Dady sama Kakak nya dong. Sedangkan Cahaya dan Dava sudah masuk tahun ke 2. Cahaya mengambil jurusan hukum sedangkan Dava ke teknologi mesin.


"Dava!!" Panggil Ira sambil melambaikan tangannya ke arah Dava yang sedang mengobrol dengan salah satu cewek.


"Ahh iya bentar!" Balas Dava. Ira tak tau apa yang di lakukan Dava tapi terlihat kalau Dava sedang membungkuk ke arah si gadis dan langsung lari ke arah Ira dan Cahaya.


"Hh... Nyusahin!" Gerutu Dava.


"Kenapa?" Tanya Cahaya.


"Biasa" Jawab Dava datar. Cahaya dan Ira hanya mengangguk-angguk. Mereka maklum. Memang Dava dan Cahaya menjadi idola kampus. Mungkin karena Cahaya mukannya ke-indo an dan dia yahh... Tampan.


Kalau Dava ya jangan di tanya. Dia mah emang ganteng, friendly, dan pacarable bangeettt.... Tapi Dava sampe sekarang jomblo gaes.... Ada yang mau ngaet?


"Yaudah lah ayo! Dava nanti pulang titip Ira. Gue langsung ke kantor soalnya. Jangan bawa ngelayap soalnya Kirara bakal ke rumah." Cerewet Cahaya. Ira hanya tersenyum.


"Yeshh! Kalo Kirara dateng gue bakal jagain Ira sepenuh hati. heheh" Ujar Dava. Udah bisa ditebak kan? Dava menyukai Kirara. Sang dokter yang lebih tua 4 tahun dari mereka. Cahaya dan Ira hanya bisa cengengesan melihat Dava.


"Yaudah dadah Ra, baik-baik ya. Jangan makan sembarangan, jangan terlalu capek, dan jangan lupa minum obatnya." Nasehat Cahaya sambil mencium Kening Ira.


"Hahaha... Iya-iya. Kamu juga hati-hati kalo kerja jangan maksain. Inget kamu juga masih kuliah. " Jawab Ira. Dia senang Cahaya sekarang sudah lebih baik. Dia juga sepertinya sudah melupakan Gladis.


Cahaya, Ira, dan Dava akhirnya mencar ke fakultas masing2. Ira menuju fakultasnya, tapi di tengah jalan dia di hadang seorang lelaki tinggi da kelihatan sekali dia asli Belanda.


"Ira. I want you answer for my ask last day." Uajr orang itu. Ira terlihat jengah dengan pemuda di depannya ini. Namanya Gaston. Dia adalah anak dosen fakultas Ira, teknologi komputer. Gaston sekarang sudah tahun ke dua.


"Sorry Gaston. I have a husband. Mau ku bilang berapa kali sih." Jawab Ira. Namun suara nya melirih saat menggunakan Bahasa Indonesia.


"I dont believe it. Tell me, You liying ." Ujar Gaston yang juga tak percaya. Pasalnya Ira selalu bilang begitu dan Gaston tak percaya. Siapa yang percaya juniornya sudah bersuami? Kedengarannya aneh.


"Whatever. I have a Class." Ira pun berlalu begitu saja meninggalkan Gaston. Gaston masih tak percaya. Ia mencoba. memanggil-manggil Ira namun tak di gubrisnya. Ira juga sudah jengah. Akhirnya dia masuk kelasnya.


Di kampus Ira memang tak memiliki teman. Temannya hanya Cahaya dan Dava. Dari dulu ia memang tak pandai bersosialisasi. Sedangkan Dava dan Cahaya jangan ditanya. Mereka memiliki banyak teman.


.


.

__ADS_1


.


"Oke Class, I finish this lesson. See you soon." Ujar sang dosen sambil memberesi barangnya dan keluar ruangan. Ira juga ikut membereskan barangnya dan menunggu Dava serta Cahaya menghampirinya.


Namun tak di sangka Gaston menghampirinya ke kelas.


"Ira!" Panggil nya.


"Oh my..... Gaston what are you fucking doing here?" Tanya Ira.


"I want your answer," jawab Gaston.


"Bukannya udah kujawab ya.." Lirih Ira sambil memutar bola matanya.


Untungnya Dewi fortuna sedang memihak padanya. Dava dan Cahaya datang.


"Hey Ra. What happend? And this...." Sapa Cahaya sambil merangkul Ira karena tau keadaan.


"This Gaston. And Gaston this Cahaya, My husband and my nephew Dava."Jelas Ira.


"Oh i Cahaya. Ira's husband. Nice to meet you." kenal Cahaya. Sedangkan Dava malah diam saja memperhatikan mereka.


Namun Gaston terlihat marah dan tak menghiraukan uluran tangan Cahaya. Dia langsung pergi begitu saja.


"Ya! Orang gue baik-baik kenalannya. Dia langsung pergi. Salah siapa gebet bini orang." Gerutu Cahaya.


Ira hanya tertawa.


"Yaudah gapapa sih. Aku mau langsung pulang aja. Hari ini aku cuma 1 kelas kok. Dava?"


Dava yang di panggilpun menoleh.


"ih kamu kamu ga dengerin aku ya." Gerutu Ira.


"Lo masih ada kelas ga?" Tanya Cahaya akhirnya.


"Mmm ga ada sih. Yaudah ayo pulang." Ajak Dava semangat. Jelaslah semangat, soalnya ketemu Kirara.


"Yaudah, kamu hati-hati. Aku pulang malam. Dahh" Ujar Cahaya sambil menjauh. Ira melambaikan tangannya begitupun Dava.


"Yaudah Yuk Ra." Mereka berdua pun bergegas.


Dava mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang menuju rumah Ira dan Cahaya.


" Ra, Cahaya baik-baik aja kan?" Tanya Dava membuka pembicaraan.


"Hm.. gapapa kok. Akhir-akhir ini dia jarang kumat. Dia masih bisa kontrol emosinya. " Jawab Ira.


"Syukurlah kalo gitu."


"Tapi aku ngerasa aneh Dav, " Ujar Ira lagi.


"Kenapa?"


"Aku seperti diintai. " Jawab Ira lirih.


Dava masih terlihat tenang.


"Aku bakal suruh pengawal papa ngawasin kamu juga Cahaya." Jelasnya. Ira hanya mengangguk.

__ADS_1


Merekapun sampai di rumah. Dava yang sudah sering ke sana langsung masuk kamar tamu dan rebahan.


"Hah nyaman....." Gumamnya sambil memejamkan mata. Namun karena untuk bel ia langsung terbangun.


"Kirara!" Gumamnya semangat. Iapun keluar dari kamar tamu. Dan benar saja dugaannya. Kirara dengan pakaian santai tengah berdiri di ambang pintu yang di bukakan Ira.


Wanita berambut Ungu Soft dan kulit putih susu itu tersenyum melihat Dava yang baru keluar dari kamar tamu.


"Hai, Dava!" Serunya. Dava malah tersenyum kikuk dan jadi salah tingkah.


Ira hanya tersenyum melihat tingkah Dava. Untunglah Kirara bisa berbahasa indonesia. Jadi mereka nyaman untuk berkomunikasi.


"Yaudah ayo periksa dulu sebelum cerita-cerita, " Ajak Kirara dengan wajah sumringah. Sedangkan Dava? Dia memilih mandi dulu sambil menunggu pemeriksaan Ira selesai.


Kirara menuju ruang kesehatan di rumah Ira. Disana sebenarnya adalah ruang belajar, namun diganti jadi ruang kesehatan karena mereka masih bisa belajar di ruang kerja. Untuk alat2 medis yang di sana adalah alat medis milik Kirara namun ada juga milik pribadi.


Mereka pun memulai pemeriksaan Ira.


"Hmm. Ra, jangan sampai kecapean dan banyak pikiran dulu. Kau dibilang ngeyel sih!" Gerutu Kirara saat melihat hasil tes darah Ira.


"Hehehe.. iya2. Ini karena ada beberapa masalah aja." Jelas Ira.


"Tapi jangan sampai membahayakan kesehatan mu dong. Lihat, darahmu rendah sekali. Minggu depan kau harus donor darah karena sepertinya vitamin penambah darah juga kurang membantu." Jelas Kirara.


Ira hanya patuh.


Tak berapa lama kemudian pemeriksaan selesai. Dava juga sudah selesai mandi. Mereka berkumpul di ruang tamu.


"Hei Ra, Bolehkah aku menginap di sini?" ijin Kirara.


"mm? kenapa? Tumben kau mau menginap." tanya Ira karena merasa janggal.


"Mm... Karena, aku bosan di apartemen. Apalagi sendiri." Jawab Kirara seperti ragu.


"Baiklah. Tapi karena Dava juga mau menginap di sini, aku tidur dengan Dava. Aku tak mau pisah dengan Cahaya." Terang Ira.


"Ra! Kau Gila?!" Ujar Dava dan Kirara berbarengan karena terkejut.


"Tak mau ya sudah. Kalian pikirkan sendiri." Acuh Ira. Ini memang rencana nya dari dulu. Tak menyangka akan secepat itu terlaksana.


"Mmm... kalau begitu biar Kirara saja yang tidur di kamar tamu. Aku akan di sofa depan tv saja." Ujar Dava malu-malu. Ah lucu sekali dia....


"Eh... tak apa Dava. Aku tak tau kalo kami juga mau menginap. Aku kan pulang aja tak apa." Tolak Kirara. Ia jadi tak enak hati pada Dava.


"Sudahlah. Kalian cuma tidur satu ranjang saja. Bukan disuruh buat anak kan?" Sarkas Ira. Dia malah dihadiahi pelototan dari Mereka berdua.


"Hehehe ..." Jawab Ira cengengesan.


"Ya sudah tak apa. Terimakasih Ra, Dava." Ujar Kirara.


Sedangkan Dava sekarang tubuhnya jadi menegang. Ja mempercayai Kalau Kirara mau satu kamar dengannya.Fantasi liarnya mulai keluar. Ia berharap Hari esok cerah .


xixi


**Yoshhh .....


Aku lagi ga mood nulis sih sebenarnya. Ga tau kenapa aku selalu kepikiran lansung ke ending. Jadi nya pas lagi di tengah-tengah langsung blank.


Mungkin beberapa hari ini aku ga up dulu ya. Nanti kalo udah bisa nentuin jalan ceritanya aku baru up lagi. Makasih yang udah mau baca cerita ku..

__ADS_1


Boleh kritik, saran, atau pesan kok. Ajak yang lainnya baca cerita ku juga ya aa... dadahhhh 😘**


__ADS_2