Bad Liar

Bad Liar
14 SUARA HATI


__ADS_3

Tut tut tut tut


Untuk sekian kalinya Gladis mencoba menghubungi Cahaya. Namun lagi-lagi tak dapat jawaban.


"Wa, beneran Cahaya gak ada di apartemen?" Tanya Gladis yang jadi kesal sendiri.


Ini sudah 3 minggu dari graduation party itu Cahaya menghilang. Tak hanya Cahaya, Gavin, dan Ira pun ikut menghilang.


Dewa dan Gladis mencoba menghubungi mereka bertiga namun tak ada satupun yang menjawab. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar di mereka berdua. Mereka sudah mencari ke tempat tinggal bahkan ke kantornya, namun semua orang seakan bungkam tak tau apa-apa. Ini sangat aneh bagi mereka.


"Sebenernya ada apa sih ini? Kok mereka semua kompakan banget ngilangnya." gerutu Gladis. Dewa yang sedang bermain game hanya mengangguk-angguk saja.


Gladis merebahkan tubuhnya ke Sofa. Ia memejamkan matanya dan bergumam.


"Cahaya... Kamu kemana?? Aku kangen .."


Dewa yang melihat adiknya lalu menghentikan game nya.


"Awas aja mereka, kalau sampai mereka muncul langsung kupukul mereka." Candanya. Sontak dia dan Gladis tertawa.


Tring tring


Sebuah panggilan masuk ke ponsel Gladis atas nama Cahaya. Gladis yang melihat nama yang tertera segera menyuruh Dewa diam. Diapun mengangkat telponnya.


"Cahaya!!!!! Kamu kemana sih?! Dihubungi susah... Ga kasih kabar apa-apa 3 minggu ini. Gavin juga! Ira juga..." omelnya.


Belum sampai Cahaya menjawab, Dewa sudah ikut mengomel.


"Iya... dasar lo ya aa... Gue jadi Balapan sendiri nih.. Main game sendiri.." gerutunya.


Sedangkan Cahaya di seberang panggilan Cahaya malah terkekeh. Akhirnya panggilan itu beralih menjadi vidcall.


"Iya-iya sorry gue sama Gavin ruh ngurus kuliah tau... Ira juga kata Gavin persiapan ke Inggris. Nih ada Gavin nih...."


Ujar Cahaya sambil menyorot Gavin yang sedang makan.


"Ah iya Cahaya,, kamu jadinya kuliah tahun ini? Dimana? Masih di Yogya kan?" Tanya Gladis antusias.


"Iya Ya, moga lo bisa barengan sama gue di UNY. Si Gladis nih maksa banget mau sama lo. Padahal dia juga udah keterima di UNY." Sahut Dewa.


Raut wajah Cahaya langsung berubah.


"Sorry banget ya. Gue harus kuliah di Belanda... Gladis maaf banget. Aku tau kamu kecewa..."


Ujar Cahaya merasa bersalah.


"Kok gitu?! Kenapa tiba-tiba??" Cerca Gladis. Ia kecewa. Kenapa harus ke Belanda? Itu jauh sekali. Bagaimana hubungan mereka??


Dewa yang mengetahui itu bungkam. Ia tak menyangka mereka akan berpisah-pisah. Ira di Inggris, Cahaya di Belanda, Gavin masih di Indonesia namun dia memilih di ITB.


"Kenapa ya??" Tanya Dewa akhirnya.


Cahaya menundukkan kepalanya.


"Ada sesuatu hal yang harus gue lakuin. Tapi tenang aja... Oh Iya rencana kita liburan bareng gimana?" Tanya Cahaya mencairkan suasana. Seketika raut wajah mereka berdua.


"Kita jalanin aja sesuai rencana." Ujar Gladis.


Mereka berlima sepakat untuk berlibur bersama di Puncak saat kelulusan tepat sebulan setelah kelulusan. Awalnya mereka pikir Ira tak bisa ikut karena harus berangkat lebih awal, makannya mereka masih mempertimbangkan.


"Ira gimana?" Tanya Dewa.


Tiba-tiba Gavin menyahuti dari seberang panggilan.


"Ira belum berangkat." Ujarnya. Tentu Gladis dan Dewa sangat senang.


"Yoshhh... Kalau begitu seminggu lagi kita berangkat. Aku akan mengurus Vilannya. "Seru Gladis senang. Dewa langsung menyahuti.


"Boleh kuajak anisa? Nanti Gavin boleh mengajak Indi. Tapi Ira??" pertanyaan nya menggantung.


Namun disahuti Gavin.


"Ia akan mengajak Dava."


Cahaya terkejut dengan rencana Gavin. Sedang dua makhluk yang di telepon bingung.

__ADS_1


"Siapa Dava?" Tanya mereka berbarengan.


Cahaya tak menjawab. Gavin hanya menjawab singkat.


"*Nanti juga tahu."


"Ya sudahlah. Kita lihat nanti saja. Aku akan mengurus sisanya. Gladis tolong nanti kirim alamat Vila yang kamu pesan ok*?" Ujar Cahaya.


Gladis pun mengangguk. Setelah itu Dewa hanya diam dan kembali bermain game. Walaupun di benaknya serasa tak asing dengan nama Dava itu.


Akhirnya telepon terputus.


"Kenapa Cahaya aneh ya Wa?" Tanya Gladis menyadari ada yang aneh dari Cahaya. Tak biasanya Cahaya hanya meneleponnya singkat.


Dewa sendiri masih memikirkan Si Dava ini.


.


.


.


Back to kondisi Ira 1 minggu sebelumnya.


Cahaya bangun dari tidurnya di sofa rumah sakit. Ia menatap Ira nanar. Setiap kali ia bangun tidur ia berharap gadis di hadapannya segera membuka matanya.


Cahaya pun mendekati Ira dan mencium keningnya .


"Bangun dong Ra, aku kangen."Ujarnya.


Tiba-tiba pintu terbuka dan tampaklah mommy Ira dan Indi datang membawa sekantung kresek yang isinya makanan.


"Cahaya kau pulang dan mandi lah dulu. Biar kami yang menjaga Ira." Ujar Indi. Sedangkan Mommy Ira masih sedikit marah atas pengakuan Cahaya tempo hari dan atas apa yang terjadi pada putri nya.


Bagaimana tidak? Pasti semua ibu akan marah jika putrinya disakiti lahir batin. Apalagi oleh menantunya sendiri. Dady Ira sebenarnya juga masih marah. Namun apalah daya nasi sudah jadi bubur. Jadi sekarang bagaimana caranya dibuat bubur ayam. Biar enak...


Akhirnya Cahaya menurut dan kembali ke apartemen untuk mandi.Ia menghubungi Gavin untuk datang ke apartemennya menemani dia. Namun hasilnya Gavin disuruh menyiapkan makanan untuk sarapan.


"Nah. Lo udah dateng. Selagi gue mandi. Buatin makanan kek atau pesanin apa gitu. Laper gue." uaje cahaya cengengesan lalu kabur . Sedang Gavin hanya pasrah dan menuruti Cahaya.


Ia kasihan karena semakin hari Cahaya semakin kurus. Walau terlihat ceria, namun pasti dia kecewa. Pada dirinya sendiri dan pada kenyataan.


Ceklek..


Cahaya membuka pintu ruang rawat Ira. Sontak semua orang didalam menatapnya. Papanya, Mommy Ira, Indi, Dady Ira, mamanya, Dava, serta Vander ada di situ menatapnya dengan raut yang sulit diartikan.


"Apa?" Tanya Cahaya polos. Serempak pula mereka melirik ke arah ranjang Ira. Cahaya mengikuti arah pandang mereka. Dan gotchaa! Disana lah dia.


Ira sudah membuka lebar matanya. Posisinya duduk sambil mengulas senyum lemah ke arah Cahaya.


"Ira?! Kau sudah sadar??" Ujar Cahaya tak percaya . Iapun mendekati Ira dan memeluknya.


"Ca..haya.. sakit..." Rintih Ira karena dipeluk terlalu berat oleh Cahaya.


"Ah... maaf. Kapan kau sadar ha? Kau tau? aku sangat mengkhawatirkanmu. Sekali lagi maafkan aku atas semuanya." Ujar Cahaya tulus.


Ira hanya tersenyum.


"Iya. Aku tau kok. Dan .. mmm Cahaya aku ingin mengatakan sesuatu. Gavin juga." Ujarnya lirih.


Tatapannya beralih ke sanak saudaranya.


"Biarkan aku yang membicarakannya dengan Cahaya dan Gavin. Kalian keluarlah." Pinta Ira.


Semua pun keluar kecuali Cahaya dan Gavin.


"Apa yang ingin kau bicarakan hm?" Tanya Cahaya sambil duduk di kursi sebelah ranjang Ira. Sedangkan Gavin duduk di sofa yang jaraknya tak jauh dari ranjang.


"Sebenarnya.. Aku bukan kuliah dInggris. " Aku Ira


"Lantas?"(Cahaya )


"Rencananya aku aku akan berobat ke Belanda atas saran Vander. Hah. Awalnya aku ingin melakukannya tanpa ada yang tau. Hanya satu tahun. Setelah itu aku akan mengejar akselerasi di Inggris. Namun.. kayaknya udah ketahuan. Jadi aku akan jujur."


Cahaya yang mendengar itu heran. Sedangkan Gavin sudah mengerti arah pembicaraan itu.

__ADS_1


"Aku emang gagal ginjal dulunya. Dan saat kau sakit, aku mendonorkan ginjalku. Awalnya aku baik-baik saja. Namun ternyata tak bertahan lama. Dan hasilnya adalah sekarang. Jadi, aku akan tetap ke Belanda bersama Dava." Jelas Ira.


Cahaya yang mendengar itu hanya terdiam lalu menimpali.


"Kau tahu? Aku memang banyak salah padamu. Tapi kenapa harus bersama Dava? Belum cukup aku kesal dengan si dokter itu. Sekarang kau mau sama Dava? Huh." Ujar Dava ngambek. Ira terkekeh.


"Jadi ceritanya kau cemburu heh? Ya... Mereka itu sepupuku lo." Ujar Ira.


"Ya rapikan masih ada aku. Kenapa harus mereka?!" Protes Cahaya. Gavin yang melihat drama itu hanya memutar bola mata nya malas.


Ira sengaja tak begitu mengungkit masa lalu yang bisa membuat Cahaya kambuh lagi. Ia menjaga ucapannya agar tak menyentil ego Cahaya.


"Kan kamu masih punya Gladis. " Jawabnya Halus.


Tatapannya berubah sendu dan matanya mulai berkaca-kaca.


Melihat itu Cahaya jadi merasa bersalah.


Iapun memeluk Ira.


"Katakan. Katakan apa yang ingin kau katakan.Aku tak akan menyakitimu lagi. Aku berjanji." tenang Cahaya. Akhirnya Gavin mulai jengah dan keluar dari ruangan itu.


Tinggal mereka berdua.


Ira menangis.


Cahaya masih dengan nyaman memeluknya.


"Maafkan aku. Aku tau kau mencintai ku. Mulai hari ini aku akan mencoba untuk kembali mencintaimu " Ujar Cahaya. Tangis Ira masih setia.


"Aku... Aku selalu cemburu Ya. Aku cemburu dengan Gladis. Aku ingin hiks... Aku ingin kau memperlakukan aku sepertinya hiks.. hiks... Aku tak ingin di selingkuhi. Hiks...hiks. Walau pun aku lah penghalang kalian... Tapi.. Tapi, sekarang aku istrimu ....hiks.. Aku istrimu Ya...." Tidak Ira.


"Maafkan aku. Maafkan semua kesalahanku di masa lalu. Mulai sekarang hingga nanti dan di masa depan pun. Aku akan selalu bersamamu. Kita akan lewati ini bersama. Aku pernah bilang kan kita bisa mengatasi ini. Ya... kamu adalah istriku. Istriku yang paling baik... paling perhatian dan paling sabar." Saking tak dapat mengatasi rasa sesalnya Cahaya meneteskan air mata.


"Aku akan ikut denganmu ke Belanda. Aku yang akan menjaga mu langsung. Karena aku suamimu. Aku suamimu Ra....." Ujar Cahaya mengelus Rambut ira. Namun ia merasa a respond dari Ira. Ia melonggarkan dekapannya dan di sana ira tertidur. Nafasnya teratur dan wajahnya damai.


Dalam hati Cahaya berjanji tak akan menyakitinya dan menyelesaikan urusannya dengan Gladis.


.


.


.


Sudah beberapa hari Ira siuman dan Cahaya selalu ada di dekatnya. Bahkan mereka tak membuka ponsel mereka masing-masing.


"Ya. Aku ingin sekali liburan bareng kita semua. Untuk yang terakhir sebelum kita ke Belanda." Pinta Ira.


Pada akhirnya Cahaya dan Ira memutuskan sekalian kuliah di Belanda sambil pengobatan Ira. Mereka memutuskan satu univ dengan Dava agar mudah untuk saling memantau.


"Iya. Nunggu kondisi kamu stabil ya."Ujar Cahaya sambil mengulas buah untuk Ira.


"Hey! bukankah kita susah buat rencana liburan ke puncak?" Ingat Gavin. Cahaya ingat itu.


"Ya.... betul.. Tepat 1 bulan pengumuman kita akan ke puncak... Kalau gitu saat itu saja..." Usul Cahaya.


Gavin langsung berubah semangat.


"Kalau gitu, aku akan mengajak Indi. Sebentar Ra. Aku akan tanya Vander kau boleh atau tidak." Gavin pun keluar.


"Akhh rasanya tak sabar...."Ujar Ira.


Melihat raut bahagia Ira Cahaya jadi senang.


Sebaiknya aku akhiri hubunganku dengan Gladis saat itu juga. Batin Cahaya.


Tak berapa lama kemudian Gavin datang.


"Boleh. Namun hanya 3 hari dan harus dipantau." Ujar Gavin.


Ira tentu senang.


"Baiklah kita telpon Gladis dan Dewa."


Saat Cahaya membuka ponsel, sudah banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Gladis maupun Dewa. Akhirnya Cahaya meneleponnya dan mengutarakan maksudnya.

__ADS_1


Sedangkan Ira menatap tajam Cahaya.


"Semoga kali ini aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. " ujarnya lirih.


__ADS_2