
Ira sedang belajar di kamarnya. Ia sedang mempelajari tentang penyakitnya. Mungkin jika ia sembuh nanti, ia akan kuliah kedokteran.
Ini sudah terhitung 1 bulan setelah ujian. Sebentar lagi mereka akan pengumuman.
Ira sudah mempersiapkan semuanya dengan matang untuk kedepannya. Ia berusaha agar nantinya saat kuliahnya ia bisa lulus 1 tahun lebih cepat agar tidak menimbulkan kecurigaan. Rencananya ia akan off 1 tahun dulu untuk pengobatan.
Brrukk!
Ira menoleh dan mendapati Cahaya ambruk di depan pintu.
"Cahaya??!"
Ira pun mendekatinya dan membantunya menuju tempat tidur. Namun aneh. Cahaya langsung menepis bantuan dari Ira.
Ira mengerutkan dahinya heran akan sikap Cahaya.
Ia pun mendekati Cahaya yang terhuyung.
"Lepas!!!!" Bentaknya.
"Kamu mabuk ya?" Tanya Ira melihat keadaan Cahaya.
"Apa pedulimu? Dasar perempuan penggoda!!" Serunya lalu tertawa.
Ira menghela nafas pasrah . Ira hanya menerima apa yang akan terjadi.
"Kau!! Perempuan Penggoda!! ******!! Aku memberikan semuanya untuk mu dan ini balasannya? Hahahaha sudah 3 tahun. Tapi kenapa aku tak melepasmu???!!!! Haha!! Seperti nya aku bodoh...."
Plaakk!!!
Cahaya menampar Ira. Ia terlempar ke bawah ranjang. Ia mulai menahan diri agar tak menangis. Ia pun kembali berdiri tanpa menghiraukan pipi nya dan mendudukkan Cahaya di ranjang.
Cahaya pun langsung ambruk di ranjang.
"sana-sana kau pergi!!" Usir Cahaya. Setelah itu Ia terlelap.
Ira menghela nafas dan membuka sepatu serta membuka kemeja Cahaya. Lalu ia menyelimuti Cahaya.
"Maaf Cahaya....." Ujar Ira sedih. Ia mulai terisak. Ira duduk di lantai dengan tangan nya menggenggam tangan Cahaya.
Ia menidurkan kepalanya di ranjang yang tak terlalu tinggi itu.
"Aku tak bisa janji untuk menemanimu selalu. Tapi doaku selalu bersamamu." Ujarnya sambil menagis.
.
.
.
Pagi harinya Cahaya terbangun dan melihat Ira tidur sambil terduduk di lantai. Rasanya ia marah. Rasa sesak semalam kembali membuncah saat melihat sosok wanita. Ia pun mencoba duduk. Diraihnya rambut Ira dan di tariknya sampai Ira memekik.
"Arghh....!! Cahaya tolong.... lepas.." Rintih Ira memohon. Cahaya semakin geram.
"Minta maaf sekarang.. Minta maaf ga loe!!!" Serunya.
"I.. Iya.... Maaf, maaf ... Cahaya aku ... Minta maaf.." Ujarnya.
Cahaya melihat mata wanita itu meneteskan air matanya. Ia tersenyum dan menghempaskan wanita tadi.
Ia pun beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi. Cahaya merasa marah tak berujung. Ada rasa tak puas dan rasa sakit yang tak berujung. Namun ia sendiri juga bingung. Ia tak tau harus bagaimana. Ia merasa melupakan semua hal kecuali cara menyalurkan kemarahannya.
Ahhh pokoknya sulit di jelaskan.
Sedangkan Ira sedang memijat kapalanya yang terasa perih itu.
Sepertinya Bu Ning harus diliburkan dahulu.. kemarahan Cahaya bisa bahaya. Kali ini apa pemicunya?? batin Ira.
Biasanya jika Cahaya dalam keadaan seperti ini, ada pemicunya. Dulu karena dia harus dihadapkan pilihan berat dan ..... Ada deh ( daripada spoiler).
__ADS_1
Ira mulai meneteskan air matanya lagi.
Cahaya, maaf. Aku tak bisa memenuhi janjiku ke keluargamu. Maafkan aku tak bisa menjaga mu. Maafkan aku telah gagal.
Ira semakin terisak dalam kamar dingin itu. Ia berusaha berdiri dan berjalan menuju dapur.
"Bu Ning," Panggil Ira halus.
"Iya? Ah non Ira, apa Non tidak apa-apa? Pipi non bengkak ," Ujar Bu Ning panik.
"Sudah tidak apa-apa bu. Hmmm Maaf, sepertinya Ibu harus saya libur kan sementara. Tak apa kan bu?"Tanya Ira sambil duduk di meja makan membantu Bu Ning memotong sayuran.
"Den Cahaya ya non?" Ujar Bu Ning sendu.
"Hh.... Iya Bu. Jika ibu disini juga takut kenapa-napa." Jawab Ira .
"Apa tidak apa Non? "
"Tidak apa Bu, saya bisa mengatasinya. Soalnya nanti setelah pengumuman saya akan berangkat dan Cahaya bakal ke rumah orang tuanya bu." Jawab Ira.
Bu Ning memperhatikan Ira dengan wajah sendu. Ia kasian dengan orang selembut dan sebaik Ira bisa menerima semua ini. Ia hanya bisa berdoa semoga ia mendapat yang terbaik.
"Akhh...."
Tiba-tiba Ira merintih dan memegang perutnya.
"Non? Kenapa non?" Seru Bu Ning panik.
"Tidak... apa Bu. Tolong ambilkan air...." Ujar Ira menahanrasa sakitnya. " Bu Ning segera berdiri dan menuangkan air putih ke dalam gelas lalu menyodorkan nya ke Ira.
"Ini non, "
"Akhh... makasih Bu..."
Ira cepat-cepat meminum air tersebut dan mencoba menekanrasa sakit itu. Ia membuat raut mukanya setenang mungkin.
"Sudah tak apa Non?" Tanya Bu Ning
Akhirnya Ia masuk dan segera ambruk. Ia menjaga kesadaran nya dan mencoba menyeret tubuhnya ke meja belajarnya. Ia mencoba mencari botol obatnya.
Belum sampai ia membuka obatnya, Cahaya sudah berada tepat di depannya.
sejak kapan dia di situ??- batinnya.
Iapun mencoba menyembunyikan obatnya tadi. Namun sayang, Ia kalah cepat. Cahaya merampas obat itu dan melemparkan nya hingga berceceran di meja dekat sofa dan sebagian masuk ke kolong sofa.
"Obat apa itu??"Ujar Cahaya ketus dan menatap Ira dingin.
"Ah.. Tidak... it-itu hanya vitamin biasa...." Ujar Ira tergagap.
"Apa itu anti hamil?!. Jadi setelah lo main di luar sana lo minum obat anti hamil iya?? Dasar j****g!!" Serunya.
Astaga! apa yang terjadi sebenarnya?! Kenapa ia menganggap itu aku?? siapa yang dia lihat sebenarnya??
Plakk!!!
" JAWAB!!!" seru Cahaya.
"Cahaya please sadar," Ujar Ira lirih.
Ira sudah tak bisa menjaga kesadarannya. Ia pun jatuh dari kursinya dan tak sadarkan diri. Cahaya yang melihat itu hanya diam.
"Cih, drama..." Ujarnya lalu pergi keluar kamar tanpa menghiraukan Ira yang pingsan.
Di ruang makan sudah ada makanan yang tersaji. Bu Ning masih membereskan peralatan masak nya tadi.
Cahaya langsung makan tanpa menunggu. Bu Ning jelas langsung kicep melihat tuannya sudah kumat.
Beberapa menit kemudian Cahaya selesai makan dan langsung pergi dengan motornya. Bu Ning bernafas lega dan membereskan makanan Cahaya. Sekarang ia tinggal menunggu Ira untuk makan bersama. Rencana nya juga ia akan langsung pulang besok pagi. Ia terlalu takut menghadapi Cahaya.
__ADS_1
Hampir satu Jam Bu Ning menunggu Ira tapi Ira tak kunjung keluar kamar.
Tumben Non Ira telat sarapan? atau masih sakit ya? Ah lebih baik saya bawakan makannya ke sana saja...
Akhirnya Bu Ning mengambilkan Ira makanan dan minum. Ia taruh di nampan lalu pergi ke kamar Ira dan Cahaya.
"Permisi non.... " Bu Ning memberi salam di depan pintu kamar. Namun sayangnya tak ada jawaban. Akhirnya Bu Ning memberanikan diri membuka pintu nya yang ternyata tak di kunci.
"Non, ini sara----" Prangg
Belum selesai bicara, Bu Ning sudah kaget duluan sehingga menjatuhkan nampannya.
Ia kaget karena melihat Ira yang sudah pingsan di dekat meja belajarnya. Bu Ning pun menghampiri nya.
"Non, non Ira bangun... Non kenapa???" Tanyanya cemas.
"Aduh bagaimana ini??"Ujar Bu Ning kalang kabut. Ia bingung harus bagaimana. Cahaya sudah pergi.
Akhirnya Bu Ning keluar kamar dan pergi ke tetangga terdekat untuk mencari bantuan.
tok...tok..
"Pak Bu permisi...."Seru Bu Ning di luar pagar.
"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" Seorang pria seumuran Cahaya keluar dari rumah tersebut.
"Aduh ,, maaf bila menganggu den. Anu, itu majikan saya pingsan. Dirumah tidak ada siapa-siapa. Boleh tolong bantu saya membawanya ke rumah sakit?" Tanya Bu Ning tergesa. Ia takut akan kondisi Ira.
"Oh iya bu. Mari saya bantu!" Akhirnya pemuda itu keluar rumahnya dengan kunci mobil lalu mengunci pintu rumahnya.
Bu Ning segera menunjukan jalan ke kamar Ira.
Pemuda itu mengikuti Bu Ning dari belakang.
"Itu den.... Tolong yaa??!"
Akhirnya pemuda tadi membopong tubuh rapuh Ira. Saat pemuda itu melihat siapa yang pingsan, ia terkejut. Namun, ia berusaha biasa saja. Yang terpenting afalah keselamatannya .
Ira? Dia kenapa? Kenapa dia bisa disini juga?- batin pemuda itu.
"Tolong ya den.... sekali lagi terima kasih." Ujar Bu Ning saat pemuda itu memasukan tubuh Ira ke mobil nya.
"Ah iya bu tak apa. Lebih baik kita ke RS sekarang sebelum kondisinya memburuk." Mereka pun melaju ke rumah sakit dimana Vander praktek.
Pemuda itu turun dari mobilnya setelah sampai di rumah sakit dan memanggil perawat dari ugd.
"Suster tolong saya!"Serunya. Akhirnya dengan cekatan suster mendorong brankar ke mobil pemuda itu dan memindahkan tubuh Ira. Bu N i ng dan pemuda itu mengikutinya dari belakang.
" Dokter tolong! Unit 13 , pasien tak sadarkan diri!" Seru adalah satu suster saat mereka di depan resepsionis. Dengan cekatan seorang dokter pun mendatangi Ira dan mengikuti suster tadi.
"Ira??!!" Seru dokter itu terkejut. Dokter itu adalah Vander.
"Dava!! Kenapa Ira?" Tanya Vander pada pemuda yang tadi mengantar Ira. Yang dipanggil hanya menggeleng.
Ira pun dimasukan di ruangan ICU dan langsung ditangani Vander.
Sedangkan pemuda tadi dan Bu N ijng menunggu di luar.
"Sekali lagi terima kasih den... Mmm ngomong-ngomong, kok aden sama dokter tadi kenal sama non Ira?"Tanya Bu Ning hati-hati.
"Oh iya... Kenalin Bu. Saya Dava adiknya Dokter tadi. Namanya Vander. Saya dan kakak saya masih kerabat Ira. Kami menetap di Belanda tapi saya sedang liburan ke Indonesia." Ujar Dava.
"Ahhh... Iya. Sekali lagi terima kasih den." Ujar Bu Ning.
"Kalau boleh tau, Ira kenapa ya Bu?" Tanya Dava hati-hati.
"Saya juga tidak tau den... Tadi pagi dia seperti sakit perut. Pas saya tunggu buat sarapan, eh nggak dateng-dateng . Akhirnya saya samperin ke kamar. Pas di kamar dia sudah pingsan den..." Jelas Bu Ning.
"Ohh... Gitu ya Bu.. "
__ADS_1
Kenapa gue ga pernah tau kalo tetangga gue Ira?? Bukannya kata Vander dia tinggal sama Ka Indri? dan setau gue, Disitu bukan apartemen nya Ka Indri... Apa yang terjadi??