
Pagi hari yang cerah. Bunga-Bunga bermekaran di taman rumah Ira dan Cahaya. Sedangkan si empunya sedang pergi untuk menuntut ilmu. Tiada seorang pun dirumah itu. Hanya ada motor yang bertengger manis di garasi dan lampu taman yang memang di biarkan menyala.
Seorang lelaki berdiri di pagar rumah mereka dengan wajah yang menyeringai. Dia berpakaian seperti orang biasa. Namun sorot matanya menyiratkan kebencian. Menyiratkan dendam yang mendalam pada di empunya rumah.
Lalu lelaki itu pergi dari situ. Ia tahu ada cctv di pojok gerbang kiri. Ia memang berencana membuat kecurigaan sang empunya rumah nantinya. Biarlah semua berjalan seperti rencana. Ia hanya ingin, adiknya kembali. Adiknya sembuh kembali. Dan biarlah si empunya rumah tau bagaimana rasanya saat orang yang di cintai menderita.
.
.
.
"Ra, hari ini aku mau ke kantor lagi. Dady mau pulang. Kamu ga mau ketemu dulu?" Tawar Cahaya. Saat ini mereka berdua sedang berada di kantin kampus untuk istirahat. Cahaya habis ini masih ada kelas, sedangkan Ira sudah tidak. Ia memang tidak diperbolehkan mengambil 2 mata kuliah sekaligus dalam 1 hari. Takutnya malah tambah sakit.
"Yaudah nanti aku ikut. Dady juga udah bilang sama aku kemarin."Jawab Ira sambil meminum jus tomatnya.
"Yaudah kalo gitu kamu mau nunggu aku selesai kelas atau mau pulang duluan?" Tanya Cahaya.
"Mm.. Kayaknya aku di perpus aja deh. Ada yang mau aku kerjain sekalian." jawab Ira.
Cahaya hanya mengangguk menanggapi itu.
Setelah beberapa menit mereka disitu, Cahaya pun pamit untuk masuk kelas.
"Yaudah aku mau masuk dulu. Kamu jaga diri. Inget jangan maksain. Kalo ada apa-apa telfon aku." Nasehat Cahaya posesif.
Ira tersenyum dan mengangguk.
"Yaudah. Aku udah di panggil Raven nih. Bye!" Pamit Cahaya sambil mencium Kening Ira lalu beranjak dari situ.
"You are so fucking sweet!!" komentar Raven, teman Cahaya.
Cahaya hanya menanggapi itu dengan nyengir.
"Oke! let's going Class." seru Cahaya berlalu dengan Raven yang mengikuti di belakangnya sambil tertawa sendiri.
Ira yang melihat Cahaya menjauh segera membuka ponsel .Ia tak tau kenapa, tapi dari kemarin malam ada nomor tak dikenal mengirimi pesan misterius yang ditujukan untuknya. Pesan itu seperti sebuah ancaman bahwa ia tak boleh memberitahukan pada Cahaya atau pun keluarga nya yang lain. Jika tidak, orang itu akan membantai semua keluarga nya dan Cahaya.
Yang membuat Ira heran adalah, ia mengenal Cahaya. Ia bingung. Siapa yang diincar disini? Dia, keluarga nya,Cahaya, atau malah keluarga nya Cahaya? Maka dari itu hari ini ia ingin ke perpus untuk mencari tau siapa orang itu dengan kemampuan dalam ilmu teknologi.
Kali ini ada pesan baru.
Coba kau buka cctv rumahmu. Kau kan pintar, jdi kau pasti bisa tau siapa saya.
Begitulah pesannya. Segera mungkin Ira pergi ke perpus untuk mencari tau.
Ia membuka laptop dan masuk ke keamanan rumahnya.
Disana, di depan pagar, pukul 08.33, seorang lelaki dengan pakaian biasa yang tak mecolok berdiri di depan rumahnya. Ia tidak seperti ******* ataupun pembunuh bayaran.
Tapi sial, orang itu menoleh ke samping kanan.
Siapa sebenarnya dia? Batin Ira. Ira juga mulai melacak nomor telepon tadi. Namun sayang nya orang itu sehabis chat dirinya langsung melepas kartu nya dan memasangnya kembali jika ingin chat dirinya lagi.
Sekarang Ira mulai gelisah. Ia was-was untuk dirinya, Cahaya, maupun seluruh keluarga nya dan keluarga Cahaya.
Ia ingin memberi tau yang lainnya tapi sepertinya orang ini sudah tau luar dalam keluarganya. Jika orang misterius itu tau, tentu akan semakin bahaya. Sebelumnya ia harus tau siapa yang diincar di sini.
__ADS_1
Ia mulai mencari data tentang keluarganya dan Cahaya. Mulai dari skandal perusahaan dan urusan pribadi sekecil apapun.
Sudah hampir 2 jam lamanya ia meneliti, hingga gak sadar hidungnya sudah keluar darah lagi. Ira sedang mencermati dan Tiba-tiba saja darah itu menetes di tangan serta keyboard nya.
Sesegera mungkin ia membersihkan itu sebelum orang lain tau, atau Cahaya sendiri yang tau. Ia sudah tak mau merepotkan Cahaya lagi.
Selesai itu, ia menyenderkan tubuhnya di kursi dan menghela nafas. Dua jam ia mencari, namun hanya ada Skandal saat perusahan dadynya dan papa Cahaya sedang di judge negatif oleh para netijen. Yaitu pas pernikahan ia dan Cahaya(padahal kan skandal boong itu).
Apa ada yang iri dengan pernikahanku dan Cahaya? Pikirnya buntu. Ia sudah tak tau bagaimana. Mungkin ia harus istirahat dulu sebelum memulai lagi.
"Eh, Cahaya sudah selesai belum ya?" lirihnya. Biasanya kelas hanya berlangsung 2 jam jika tak praktek.
"Apa ku telfon saja?"
Iapun menelfon Cahaya.
- nomor yang anda tuju sedang tidak-
Belum selesai operator menjelaskan, Ira sudah mematikan telfon nya.
"Loh mati? Apa dia ada praktek ya? mm setauku dia hanya kelas Bahasa. Kenapa ada praktek?" gumamnya.
"Ah sudahlah nanti kalau sudah selesai dia pasti ke sini." hiburnya pada diri sendiri.
Akhirnya Ira mulai menyembunyikan wajahnya di antara lipatan kedua tangannya yanga ada di atas meja.
Ia mulai terlelap saking lemahnya. Dan ditambah kepalanya pusing.
Ira tertidur di perpustakaan lama. Sangat lama. Hampir 3 jam. Ia bangun pukul 5 sore. Badannya serasa pegal sekali.
"Mm? Cahaya belum datang? jam berapa ini?" gumamnya lalu melihat jam di ponselnya. Untunglah selama ia tidur tidak ada petugas perpustakaan yang tau.
dari pengunjung perpustakaan yang lain. Memang kampus nya ada kelas malam. Jadi masih buka sampai nanti jam 9 malam.
Segeralah dia membereskan barang nya dan keluar dari perpus. Hari sudah mulai gelap. Ia mengecek ponselnya. Tanya ada telfon ataupun pesan sama sekali dari Cahaya.
Sebenarnya, kemana dia?! Cemasnya. Ia kesal, takut, sekaligus cemas karena Cahaya tak ada kabar.
"Ah Iya. Aku pulang naik apa? taksi? tapi bahaya gak ya? inginkan sore.." Gumamnya.
Dengan masih melangkah terburu-buru ia berjalan ke halaman kampus. Tiba-tiba sakit kepala itu menyerangnya dan perut nya serasa ditusuk. Dia berhenti dan menjatuhkan semua barangnya termasuk laptop yang dia tenteng.
Nasibnya dia tak punya teman dan tak pandai sosialisi, ia yang merintih kesakitan hanya di lihatin saja oleh orang di sekitarnya. Tubuhnya mulai melorot. Namun orang-orang masih tak peduli.
Hingga tepat sebelum kesadarannya terengut, sayup-sayup ia mendengar seseorang memanggilnya.
"NADHIRAA!!"
Akhirnya tanpa melihat orang itu, Ira sudah jatuh pingsan.
"Ra! Ra, Ira! are you okey? Ra bangun...." bujuk orang itu. Orang itu adalah Dava. Kebetulan Dava memang sesekali mengambil kelas sore. Dan hari ini ia bingung melihat Ira ada di kampus sore2 begini. Biasanya ia akan pulang begitu kelasnya selesai.
"Ra... Ira..." Panggil nya. Namun Ira masih menutup matanya.
Segeralah Ia membawa Ira ke mobilnya dan menjalankannya ke rumah sakit tempat Kirara praktek.
"Ra lo kenapa sih? Dan Cahaya juga kemana nih.. di telfon ga diangkat. Bini sendiri malah ditinggalin. " gerutu Dava dalam mobil.
__ADS_1
Tak sampai setengah jam dia sudah sampai di rumah sakit.
Ia.masuk ke Igd dan berteriak memanggil Kirara.
Dasar tidak sopan.
"RA!KIRARA! DIMANA DOKTER KIRARA?!" Teriaknya sambil membopong Ira keluar mobil. Segera para perawat mengambil Brankar untuk Ira.
"Panggil dokter Kirara! SEKARANG!!!" Bentaknya pada salah satu perawat. Ia kesal? Tidak. Dia hanya panik. Tapi ada kesalnya juga sih sama Cahaya.
Salah satu perawat di receptionis langsung ke ruangan Kirara dan tak lama kemudian Kirara menyusul mereka yang membawa brankar Ira.
"Eh! Dava? ada apa?" Tanyanya kaget. Perawat tadi hanya bilang ada seorang yang berteriak memanggilnya dan membutuhkannya segera.
"Tangani Ira. Ia pingsan. dia di ruangan itu " Ujar Dava lalu mendorong Kirara untuk cepat masuk ke ruangan yang di maksudnya.
"Ira?! oke gue masuk!" segeralah Kirara masuk dan memeriksa Ira.
Tak lama kemudian Kirara keluar dengan terburu-buru.
"Kenapa Ki?" Tanya Dava saat melihat Kirara keluar.
"Dia telat makan dan telat minum obatnya. Tubuhnya juga terlalu banyak beraktifitas di luar belakangan ini. Gue mau ke ruang an dulu ambil obatnya Ira. Lo boleh masuk kok." Jawab Kirara lalu pergi. Segeralah Dava masuk dan melihat beberapa Perawat yang membawa Ira tadi masih di dalam sambil memastikan alat yang mereka pasang di tubuh Ira sudah benar.
Selang pernafasan, infus, dan kandung darah terpasang ke tubuh kecil Ira. Ia jadi semakin tak tega.
"Pak, kami permisi." pamit para perawat.
"Iya, terimakasih." Jawab Dava. Perawat itupun keluar menyisakan Dava dan Ira saja di sini.
"Kapan Ra?! kapan lo bisa normal lagi? kapan lo bisa sembuh. Dari kecil infus emang temen lo ya? Ga inget kalo gue juga temen lo?" Lirih Dava. Ia kasihan dan tak tega.
Dari kecil memang Ira seperti ini. Hidupnya di temani Infus dan rumah sakit. Badannya sungguh sulit untuk menyesuaikan sesuatu yang baru. Termasuk Organ yang di donorkan kepadanya.
ceklek
Pintu terbuka menampilkan sosok Kirara yang membawa botol dan suntikan di tangannya.
"Gue mau suntikin obat ke infusnya." ujar Kirara. Dava hanya mengangguk.
"Btw Cahaya kemana?" Tanya Kirara. Bisanya jika saat-saat seperti ini ada Cahaya. Tapi kali ini tidak.
"Tau! Dia di telfon ga diangkat. Gue aja liat Ira di halaman kampus sendirian dan uda mau pingsan." gerutu Dava mengingat Cahaya yang menghilang.
"Mm... Kenapa aneh Ya?" gumam Kirara.
"Sudahlah masalah Cahaya urus nanti. Jadi Ira kenapa?" Tanya Dava.
"Ira? Dia telat makan, telat minum obat, terlalu banyak pikiran, terlalu kelelahan. Dan..... Ah tidak apa-apa hanya itu." ujar Kirara. Hampir saja ia keceplosan.
"Dan?" Lanjut Dava. Ia seperti merasa ada yang sedang di sembunyikan Kirara.
"Dan... Dan dia... Dia..." gagap Kirara sambil mencari alasan.
"Dan seperti nya dia... Dia harus makan banyak. Biar hal kayak gini gak terjadi lagi." ujar Kirara spontan. Ia lega karena raut wajah Dava terlihat percaya. Hampir saja. Jika ia bilang, mungkin ia akan dibunuh oleh Ira.
xixi
__ADS_1
Happy reading all♡