Bad Liar

Bad Liar
17 TAK BERUBAH


__ADS_3

Hari ini adalah hari keberangkatan Ira, Cahaya, dan Dava ke Belanda. Orang tua Cahaya dan Ira setuju-setuju saja asal Ira bisa sembuh. Rencananya mereka akan tinggal di rumah keluarga Ira yang ada di sana, bersama Dava juga untuk berjaga-jaga.


Mereka sudah di Bandara. Gavin dan Indi menemani mereka bertiga. Ada mama Ira, Oma Cahaya dan kakaknya juga. Mereka tinggal menunggu Dewa, Anisa, dan Gladis saja.


"Kenapa mereka lama sekali?" Keluh Oma Cahaya.


"Mungkin lagi di perjalanan Oma," tenang Ira. Memang semenjak Ira sakit ini, Oma jadi lebih care dengan Ira.


Wajah Gavin juga terlihat tak sabaran.


Tak lama kemudian, mereka bertiga datang dengan nafas terengah engah.


"Maaf.. hosh... kamih.. telat hosh hosh. " Ujar Dewa. Sedangkan Anisa dan Gladis tampak bercucuran keringat dan nafas juga tak teratur.


"Tak apa. Ah, kalian sampai berkeringat." Ujar Ira. Dewa sedari tadi hanya melamun. Entah apa yang dipikirkannya.


Tiba-tiba Gladis langsung memeluk Ira.


"Iraaa!!! jaga diri ya. Cepet sembuh. Makasih udah jadi sahabat gue yang palinggggg baik." Ujarnya. Yahh entah tulus atau tidak. Namun Ira yang kelewat polos membalas pelukannya.


"Iya makasih juga udah jadi sahabat aku 3 tahun ini. Dewa, Anisa, Gavin juga. Kapan-kapan main ya ke Belanda." Usul Ira.


"Lo kira ke Belanda naek permadani terbang... Mahal anjirr" Timpal Dewa di sertai kekehan di akhir kalimatnya. Alhasil mereka juga ikut tertawa.


Sekarang gantian Mommy Ira yang memeluknya.


"Hati-hati sayang. Cepet sembuh ya. Nanti Mommy jenguk deh sesekali. Baik-baik ya sama Cahaya sama Dava juga" Nasihat mamanya Indi juga akhirnya ikut-ikutan memeluk adik nya itu.


"Iya. Jangan bandel. Belajar yang bener dan cepet sembuh ya..." Nasihatnya. Tatapannya lalu beralih ke Cahaya dan Dava.


"Lo dan lo harus jagain adek gue. Kalo sampe dia kenapa-napa, liat aja lo berdua!" ancamnya .


Mereka berdua jadi pucat pasi, hanya mengangguk kaku karena mendapat tatapan tajam dari kakak mereka yang satu itu.


"Ya udah sana kamu berangkat. Cahaya, Ira, Dava hati-hati ya. Sampaikan salam kami sekeluarga dari Indonesia untuk keluarga di sana." Ujar Oma.


Mereka bertiga mengangguk dan berjalan menjauhi lobi sambil melambaikan tangan.


Sedangkan Gladis hanya diam dan menatap mereka berdua tajam.


Aku gak akan tinggal diam. Cahaya cuma milikku dan seharusnya memang jadi miliku. Siapapun yang mengambil nya harus musnah.


Batin Gladis. Hatinya di selimuti rasa egois dan obsesi akan cintanya . Ia tak mau kehilangan cintanya. Ia yakin Cahaya juga tak mau kehilangannya. Ia tak akan kalah dengan Ira! Itulah tekatnya.


Lo kira, gue semudah itu nunggu lo 5 tahun? hah! gue gak senaif itu kali. Ejeknya kemudian menjauhi bandara menuju tempat parkir diikuti Dewa dan Anisa dan lainnya juga. Akhirnya mereka berpisah dan pulang ketempat masing2.


(*flasback saat liburan)


"Ya ampun Gladis, sadar! Ira itu sahabat lo. Gak seharusnya lo egois." tenang Anisa.


"Gak bisa Nis. Ira yang egois. Udah tau Cahaya cinta sama gue, dia rebut... hikss..hikss..." Isaknya lagi.


Anisa hanya geleng geleng kepala. Percuma memberi tau Gladis saat masih emosi.


"Udah mending kita tidur. Udah malem. Kita harus tetep baik-baik atas nama persahabatan Oke?" bujuk Anisa. Mungkin karena terlalu lama menangis jadinya Gladis hanya menurut dan begitu menyentuh bantal dia langsung tidur.


Paginya Anisa tak melihat Gladis ada di Kasurnya.


"Ah mungkin mandi." Gumamnya. Diapun lanjut tidur. Tapi dugaannya salah. Sekarang Gladis ada di dapur membantu Ira memasak. Ira memang sudah terbiasa seperti ini. Yahh walaupun 1 bulan terakhir dia tak melakukannya. Di samping itu Gladis ingin mengorek Informasi lebih jauh.

__ADS_1


"Mmm Ra! Bagaimana kuliahmu?" Tanya Gladis sambil memotong sayuran. Sedangkan Ira sedang mencuci bahan yang diperlukan.


"Oh... itu.. Mungkin aku akan pengobatan dulu di Belanda dan setelah itu baru lanjut di Inggris. Tapi kalau nggak memungkinkan ya aku kuliah di Belanda." Jelasnya.


"Cahaya.... Ikut?" Tanya Gladis hati-hati.


"Iya." Jawab Ira.


Mendengar jawaban Ira yang seakan tak bersalah membuatnya geram.


"Kenapa lo mau-mau aja nikah sama Cahaya? padahal kalian kan baru sma." Tanya Gladis lagi. Kali ini agak ketus.


Mendengar nada suara Gladis yang mulai tak enak di dengar membuat perhatian Ira tertuju sepenuh nya pada Gladis.


"Maaf ya aku menyembunyikan ini dari kalian semua. Tapi jujur awalnya aku juga gak tau kalo orang itu Cahaya. Pas tau kalo calon suami ku Cahaya jelas aku kaget dong. Tapi aku mencoba menerima. Bagaimana pun aku nggak mau kecewain orang tua ku ataupun Orang tua Cahaya." Jelas Ira menerawang.


Ia jadi ingat Ekspresi Cahaya yang murka selama 2 Tahun pernikahan mereka. Semua itu membuatnya takut. Tapi ia mencoba mengatasi rasa takut itu sendiri. Menghadapi Cahaya bagaimana sifatnya. Berusaha sabar dan tetap memberi dia perhatian. Luka yang ia dapat setiap hari. Dan bodohnya ia mencintai orang itu.


"Maaf Gladis, sekali lagi maaf. Bukannya aku tak memikirkan persahabatan kita. Maka dari itu aku dan Cahaya terus menyembunyikan semua itu. Aku gak mau persahabatan kita pecah hanya karena ini." Ujar Ira sangat menyesal. Ia sadar bahwa bagaimana pun, cinta pertama itu sulit untuk dihapus.


Gladis hanya mengangguk-angguk saja. Dalam pikirannya ia sudah mempersiapkan beberapa rencana. Diapun berdiri meninggalkan tugasnya. Ira hanya menatap Sahabat nya sendu.


"Maaf." Lirih Ira lagi. "Maaf tak Jujur kalau aku cinta sama Cahaya."


Namun kejadian itu tak berlangsung lama. Jam 7 mereka semua sudah berkumpul lagi untuk sarapan. Ira terlihat kelelahan karena memasak sendiri dalam jumlah banyak.


"Wah... Ra. Ini lo yang masak?" Seru Dewa kagum.


"Ah. Tadi dibantu sama Gladis." Jawab Ira. Yang di sangkutkan hanya tersenyum dan melirik ke arah Cahaya. Dan bodohnya Cahaya memberikan senyuman bangga. Padahal Gladis hanya memotong sayuran saja, dan itupun sebentar.


Tubuh Ira bercucuran keringat. Suhunya jadi panas dingin. Gavin yang duduk di sebelah Ira merasakan panas tubuh yang berbeda dari Ira karena mereka duduk dengan jarak sangat dekat. Gavin juga mendengar deru nafas yang tak teratur dari wanita yang senantiasa tersenyum itu.


"Ra, lo ga apa ?" Tanya Dava. Cahaya yang mendengar itu jadi menoleh ke Ira.


"Kenapa Ra?" Tanyanya perhatian.


"Hah?! Kenapa ? Aku baik-baik saja. Ayo lanjut makan. Habis ini kita akan ke danau. " Ujar Ira bersemangat. Ia tak mau acara liburan gagal hanya karena dirinya yang lemah.


Perhatian Cahaya sudah berganti lagi. Mungkin karena kebiasaan. Ia akan lebih perhatian pada Gladis daripada Ira jika mereka berdua sama-sama di dekat nya.


Sarapan berjalan dengan baik. Sekarang mereka akan menuju danau kecil dekat Vila. Mereka rencana nya akan jalan kaki.


Dava, Indi, dan Gavin menemani Ira berjalan di belakang.


"Sepertinya Cahaya belum bisa lepas sepenuhnya." Ujar Dava.


"Iya. Dan seperti nya ada yang tidak beres disini." Timpal Indi.


"Sudahlah. Aku yang meminta. Cinta pertama memang tak semudah itu di lupakan. Lagipula kan ini demi persahabatan kita semua." Jelas Ira.


"Ra, lo kenapa? Badan lo....." perkataan Gavin menggantung dan Ira cepat-cepat menjawab.


" Gapapa Vin. Aku udah minum obat kok. Aku gapapa."


Jika susah begini mereka bertiga hanya diam.


Akhirnya liburan mereka berjalan tanpa perselisihan dan itu benar-benar menyenangkan. Ini akan menutup masa sma mereka dan bersiap lanjut ke jenjang yang lebih tinggi.


Ira POV

__ADS_1


Entah kenapa Cahaya berbeda. Dia memang masih perhatian, tapi seperti ada yang menjanggal di hatinya. Tengah malam Cahaya terjaga begitupun aku .


"Kenapa?" Tanya Ira.


"Gladis nangis. Aku ngerasa bersalah." Jawab Cahaya yang menatap langit-langit kamar.


Aku pun berbalik menatap Cahaya walaupun nafasku masih tersengal. Disini sangat dingin.


"Kita masih punya waktu. Kamu bisa merubah pilihan mu. Aku tak apa." Ujar ku. Tapi Cahaya menggeleng.


"Ini kewajibanku. Aku bakal jaga kamu. Ninggalin Gladis juga pilihanku."


"Kamu boleh menghabiskan waktu liburan ini bersama Gladis. Aku bisa sama Dava dulu kok. Aku ngerti kalo cinta pertama itu sulit untuk di lupain." Putusku.


Ya. Untuk ini tak apa. Aku juga memikirkan Gladis. Selama di sma hanya dia sahabat perempuanku karena aku tak begitu dekat dengan Anisa. Cahaya akhirnya balas menatapku. Dia mencium ku sekilas.


"Terimakasih " lirihnya.


Aku hanya tersenyum.


"Sudahlah. Aku tau kamu belum tidur. Lebih baik sekarang kamu tidur ." Bujuk ku. Dan Cahaya memelukku saat tidur.


Dalam hatiku ada ribuan jarum tertusuk dan semakin dalam. Aku mulai meneteskan air mata.


Aku menguatkan hatiku. Percaya dengan Cahaya.


Aku akan mempercayai Cahaya.


Pagi harinya aku pergi ke dapur pukul 5. Aku menyiapkan beberapa makanan untuk sarapan. Pukul 6 Gladis keluar kamarnya dan membantu ku. Namun hanya sebentar. Aku maklum jika dia marah padaku. Akupun menyelesaikan masakan itu sendirian.


Tepat pukul 7 mereka semua berkumpul di di ruang makannya. Mungkin karena kelelahan aku jadi lemas. Badanku mulai panas dingin dan aku bisa merasakan itu. Nafasku juga kurang beraturan. Gavin bertanya padaku tapi kujawab baik-baik saja. Aku tak ingin membuat kekacauan. Maka dari itu kutahan sebentar rasa sakit itu. Cahaya malah seperti tak menghiraukan. Ia hanya fokus pada Gladis.


Selesai makan cepat-cepat kuminum obatnya dan mengikuti mereka ke danau.


Dava, Kak Indi, dan Gavin menemani ku berjalan di belakang.


"Sepertinya Cahaya belum bisa lepas sepenuhnya." Ujar Dava.


"Iya. Dan seperti nya ada yang tidak beres disini." Timpal Kak Indi.


"Sudahlah. Aku yang meminta. Cinta pertama memang tak semudah itu di lupakan. Lagipula kan ini demi persahabatan kita semua." Jelas ku menengahi . Jujur aku juga sepemikiran dengan mereka. Namun pothink aja.


"Ra, lo kenapa? Badan lo....." perkataan Gavin menggantung dan Aku cepat-cepat menjawab.


" Gapapa Vin. Aku udah minum obat kok. Aku gapapa."


Mereka semua terdiam.


Dan akhirnya semua berjalan tanpa perselisihan. Aku rasa kondisiku memburuk. Tapi aku mencoba menahannya hingga keberangkatan ku ke Belanda. Aku tak ingin membuat mereka semua cemas untuk kedua kalinya.


Apalagi aku alergi dingin. Hh lengkap sudah penderitaanku.


Namun ada yang mengganjal di pikiranku. Kenapa Sikapnya tak berubah jika ada Gladis? Dia tetap saja memperlakukan Ira sahabatnya dan Gladis adalah orang penting di hidupnya.


Aku hanya pasrah. Apapun yang dilakukan Cahaya sekarang juga permintaanku. Tapi entah kenapa itu membuatku cemburu.


Cahaya dan Gladis tak berubah. Apa ada yang ku lewatkan? Aku memiliki firasat buruk tentang itu .....


Ira POV end*

__ADS_1


__ADS_2