
Cahaya dan Gavin menyusuri lorong rumah sakit. Cahaya cemas dan Gavin malah santai-santai saja.
Pikiran Cahaya terlempar ke masa lalu.
"*Cahaya!!" Gladis melambaikan tangannya ke arah Cahaya. Hari ini weekend jadi dia dan Gladis akan pergi jalan-jalan. Nge date gituuu. Cahaya pun menghampiri Gladis.
"Mau kemana kita hari ini?" Tanya Cahaya.
Gladis masih tersenyum dan menjawab.
"Aku mau ke alun-alun yang di dekat Rumah Sakit aja. Katanya lagi rame."
Cahaya pun mengangguk setuju dan menggandeng Gladis ke motornya.
Selama di perjalanan mereka diam. Cahaya fokus mengendarai motor dan Gladis hanya memperhatikan jalanan yang lenggang.
Saat di depan rumah sakit, Cahaya menangkap sosok Ira akan masuk ke dalam rumah sakit tersebut*.
Kenapa Ira ke situ? Siapa yang sakit? Ah mungkin dia cuma cek kesehatan aja. - *batin Cahaya.
Memang setelah insiden Cahaya sakit itu, Ira sering memaksanya untuk cek kesehatan paling tidak 1 bulan sekali. Kadang Ira ikut cek, kadang juga tidak.
Cahaya pun kembali fokus ke motornya.
Seharian itu mereka gunakan untuk bersenang-senang.
Hari sudah agak gelap. Langit sudah berubah warna orange kemerahan. Cahaya mengantar Gladis pulang. Saat dia hendak pulang ke apartemennya, ada Ira baru keluar dari mobil. Cahaya pun menghentikan motornya di balik pos satpam. Ira keluar dari mobil, kemudian ada seorang lelaki yang jelas bukan keturunan Indo juga keluar dari mobil yang sama.
Cowok itu mengelus rambut ira sambil tersenyum. Cahaya yang memperhatikan itu mulai muak. Tapi ia hanya bersembunyi.
Ira juga tersenyum pada sosok itu dan melambaikan tangannya. Entah apa yang mereka bicarakan, lalu Cowok itu pergi ke mobilnya. Cowok itu adalah Vander. Vanderpun masuk ke mobil dan pulang.
Ira beranjak pergi dan menaiki lift. Saat itulah Cahaya keluar dari persembunyiannya dan segera memarkirkan motornya.
Ia tidak langsung masuk lift untuk ke apartemennya. Cahaya hanya duduk di bangku lobi*.
Gue sayang Gladis... Tapi gue juga ga bisa ngelepasinIra gitu aja. Apa gue egois?- *Cahaya sedang kalut.
Lagi dan lagi semua itu menghantui Cahaya. Beberapa memori langsung memutar di otak Cahaya seperti roll film.
"Akhh" rintih Cahaya memegangi kepalanya.
Ia melihat seorang perempuan menangis di depannya. Ia melihat saat dia mendatangi mamanya.
Kepalanya semakin berdenyut. Setelah beberapa saat, semua itu mulai berkurang.
Apa yang terjadi?
Karena pusing memikirkan itu semua, Cahaya pun memilih masuk menemui Ira*.
Tidak hanya sekali itu Cahaya melihat Ira bersama Vander. Tapi berkali-kali. Hingga amarahnya memuncak ditambah lagi ia mabuk. Ia semakin kehilangan kontrol waktu itu. Hingga tak sadar kalau Ira sudah menghilang.
Tidak ada yang mengatakannya. Jadi dia tak tau.
Akhirnya berkat Gavin, Cahaya menemukan ruang Inap Ira. Awalnya memang terjadi adu mulut antara Gavin dan Cahaya. Cahaya marah karena ia tak di beri tau. Namun dengan santai Gavin menjawab denagn sarkas.
"Kapan sih lo peduli sama dia saat lagi kayak gitu?"
Akhirnya Cahaya hanya membenarkan perkataan Gavin lalu diam.
__ADS_1
Ceklek...
Pintu ruangan Vander terbuka. Di dalam, Dava sedang makan. Dan Vander sedang pergi menangani pasiennya. Cahaya masuk dan melihat sosok Ira yang masih terbaring lemah di Ranjang khususnya.
Tatapannya beralih ke Dava yang juga menatapnya tajam.
"Lo siapa nya Ira sih??" Tanya Cahaya emosi. Gavin hanya diam saja dan mendekati ranjang Ira.
"Harusnya lo tanya diri lo sendiri. Bukan gue!" Sentak Dava yang juga emosi.
"Gue suaminya!" Balas Cahaya.
"Suami yang punya pacar lagi maksud lo? Suami yang nyakitin istrinya? Atau suami yang istrinya cuma buat pelampiasan aja?" Ujar Dava sarkas.
Buagh..
Cahaya memukul Dava saking emosinya.
"Lo diem!! Emang lo tau apa ? hah?!" Serunya. Sedangkan Dava hanya menyeringai.
Tiba-tiba suara Gavin melerai mereka dan kompak melirik ke arah Gavin.
"Ira, lo sadar?" Ujar Gavin. Cahaya dan Dava bergegas untuk menghampiri mereka dan Gavin memberikan minum pada Ira.
"Gue panggil kakak ya," Ujar Dava lalu berlari keluar. Cahaya hanya mematung melihat Ira yang sepucat itu.
Memori masa lalu terputar lagi di kepalanya. Kali ini kepalanya berdenyut sangat kuat.
"akhh " Rintihnya.
Ira melihat Cahaya yang kesakitan jadi panik sendiri. Gavin pun begitu.
"Lo baik-baik aja?" Tanya Gavin.
Melihat Ira khawatir seperti itu membuat kepalanya tambah sakit.
Gavin pun ikut panik dan segera membawa Cahaya Sofa. Ira berusaha untuk berdiri namun tak bisa.
Vander dan Dava masuk ke ruangan. Melihat Vander, Cahaya terkejut. Dan dia pun pingsan. Vander yang melihat itu Mlh bingung.
"Vander, tolong Cahaya..." pinta Ira hampir meneteskan air mata saking khawatirnya. Vander pun mengangguk dan segera menangani Cahaya. Dava yang masih emosi denagn Cahaya hanya berlalu menghampiri Ira.
Ira memperhatikan wajah Dava
"Dava? Kamu habis berantem?" Tanyanya saat menyadari pelipis Dava lebam.
"Iya. Sama tu orang." Jawabnya ketus. Ira mengusap luka Dava dan menatapnya sendu.
"Sorry." Ujarnya.
"Gapapa dia emang ngeselin." Ujar Dava.
"Gimana? Udah baikan?" Ira mengangguk.
"Cahaya gapapa Ra. Dia cuma pingsan." Ujar Vander.
"Lo gimana? Ga ada yang sakit kan?"
Ira menggeleng lalu tersenyum.
__ADS_1
"Makasih." Ujarnya.
"Ah, Ira, selamat kau lulus." Ujar Dava. Ira langsung mengerutkan keningnya.
"Lo udah pingsan dari 2 hari. Hari ini hari kelulusan lo kan? Dava udah ambil suratnya dan lo lulus."Jelas Vander. Ira tersenyum sumringah. Pandangannya ke arah Gavin.
" Kamu sama Cahaya sama yang lain gimana Vin?" Tanya Ira.
"Belum tau. " Jawab Gavin singkat.
"Kalo gitu gue balik ke sekolah. Kalian, gue titip Cahaya juga." Gavin pun pergi.
Ira menatap Cahaya cemas.
" Dia beneran gapapa kan?" Tanyanya.
"Lo kenapa sih ra? Orang kayak gitu masih lo belain? Dia itu uda nyakitin lo?!" Ujar Dava geram.
Ira termenung menatap Cahaya.
" Jawabannya karena aku cinta sama dia. Aku ga peduli apa yang udah aku alamin. Ini juga udah tugasku jadi istrinya. Aku tau aku bodoh dengan masih membiarkan dia sama Gladis. Tapi aku juga ga mau merusak hubungan persahabatan. "
"Ra.. Apa lo berubah pikiran?" Tanya Vander.
"Nggak. Aku mau sembuh buat dia. Biar aku selalu di sampingnya. Jagain dia. Dan bantu dia sembuh dari bipolarnya." Tegas Ira. Ia mulai menangis.
"Tapi, rasanya sakit... hiks... Aku pingin lepasin rasa sakit ini. A...Aku ... hiks..hiks.."
Vander pun segera memeluk Ira menenangkannya
"Aku hiks... cinta sama dia Dava... hiks hiks.. Aku cinta ." Ira masih menangis. Dava melihat pengorbanan Ira yang begitu tulus.
"Iya Ra. Gue ngerti. Kita sahabat sekaligus keluarga lo. Kita selalu ada buat lo." tenang Vander.
Tiba-tiba Cahaya bangun dan langsung mendapati Ira menangis. Hatinya terasa teriris melihat tangisan itu. Cahaya sudah ingat semuanya yang ia lalui. Baik sadar maupun tak sadar.
Cahaya pun beranjak memeluk Ira. Awalnya Ira terkejut, begitupun Vander dan Dava. Akhirnya Vander DAN Dava keluar ruangan menyisakan mereka berdua.
"Maafkan aku. Maafkan Aku Ira...." lirih Cahaya. Tangis Ira semakin kencang dibuatnya.
"Sakit Ya.... sakit banget .. hiks.....hiks..." Ujarnya di sela-sela tangisan.
"Kamu hutang cerita kenapa sampai begini..." Jawab Cahaya mengelus rambut ira.
"Aku... sayang sama.. hiks.kamu." (Ira)
Setelah itu ira pingsan lagi. Cahaya yang merasakan Ira semakin merosot akhirnya melepaskan pelukannya. Lagi-lagi Ira pingsan. Darah keluar dari hidung dan mulutnya. Cahaya semakin panik. Ia pun berteriak memanggil Vander dan Dava. Btw karena dia belum tau nama Vander, dia hanya memanggil nama Dava.
"DAVA!!DOKTER!! TOLONG!!! IRA KELUAR DARAHHHHHH!!! " teriaknya panik. Dava dan Vander segera masuk dan terkejut dengan kondisi Ira.
"Dava, panggil perawat ke sini. bawa brankar" Suruh Vander. Segera Dava menuju tempat istirahat para suster dan memanggilnya tak lupa dengan Brankar.
"Kita pindah ke ruang operasi." Titah Vander saat mereka sudah sampai. Cahaya segera membopong Ira ke brankar dan mengikutinya. Dava juga mengikuti mereka.
"Dava, hubungi Aunty sama Uncle. Jangan lupa Indi, " Setelah itu Vander pun masuk ke ruang operasi. Dava sibuk menghubungi orang tua Ira sedangkan Cahaya juga menghubungi papa juga kakaknya.
Mereka berdua sama-sama panik dan kalut. Cahaya juga tak menyangka akan terjadi seperti ini. Ia memang ingat semuanya dan ia sangat menyesal. Tidak, dia sungguh amat teramat menyesal. Di pikirannya hanyalah Ira. Bahkan Gladis pun tersingkir dari pikirannya.
Sekarang ia hanya merenungi nasibnya. Ia takut akan kehilangan Ira. Begitupun Dava.
__ADS_1