
"Gladis tunggu!" Seru Cahaya. Namun yang dipanggil terus saja berjalan menjauh. Gladis menangis. Ia sangat sedih dan kecewa pada laki-laki yang tengah mengejarnya ini.
"Gladis please, aku mohon." Serunya sambil terus memanggil sang gadis.
Beberapa saat kemudian Gladis berhenti. Pipinya masih di basahi derai air mata.
"Gladis please aku mohon. Jangan kayak gini. " Ujar Cahaya lirih sambil membalikan badan Gladis.
Gladis berbalik dan membalas perkataan Cahaya.
"Kenapa? Aku kecewa Ya. Kenapa kamu gak bilang kalau kuliah di Belanda? Hiks.. aku bela-belain belum nentuin tujuanku karena kamu. hiks....hiks..." Isaknya .
Cahaya yang tak tega jadi memeluknya.
"Maaf, maafin aku. Bukannya aku mau kecewain kamu. Tapi ini demi Ir-" Kata-kata Cahaya terpotong.
"Demi siapa?! Siapa Ya? Selingkuhan kamu?" Seru Gladis sambil memukul dada Cahaya.
"Maaf. Aku ga bisa cerita sekarang." lirihnya.
Seketika Gladis melepaskan pelukannya dengan kasar dan menghapus airmata nya.
"Ira kan?" Ujar Gladis. Cahaya membeku.
"Kenapa ga jawab? Bener?" Sahutnya lagi.
"Jelasin Ya! Apa yang terjadi antara kamu sama Ira.!!" Teriak Gladis histeris.
"Aku-"
" Dia istri kamu? Dan kamu cinta sama dia! Iya?!" Teriaknya lagi..
"...."
" Jawab Ya!!"
Cahaya yang awalnya terkejut karena Gladis tahu.
"Maaf." Ujarnya menunduk.
Gladis kembali menangis.
"Jadi bener?! hiks... Selama ini aku selingkuhan kamu?. Hiks...hiks Aku gak nyangka.... Kenapa bisa Ya.... Kenapa??!!!" Lirih Gladis. Cahaya kembali memeluk Gladis yang menangis.
"Kenapa kamu gak bilang....hiks....hiks... Kenapa...hiks.."
Cahaya menuntun Gladis untuk duduk di kursi dekat mereka.
"Aku bakal cerita." Ujar Cahaya. Ia sudah tak punya pilihan. Ini membuatnya terpojok. Bagaimana pun semua terlihat sangat jelas.
"Tapi sebelum itu, kamu dapet info itu dari mana?" Tanya Cahaya baik-baik.
Tangis Gladis sedikit reda.
"Dewa. Waktu nginep di apart kamu." Lirihnya.
Cahaya menghela nafas. Ia tak mengira bahwa Dewa bisa menemukan jejak2 itu.
"Sebenarnya itu rencana aku sama Dewa karena curiga sama kamu, Gavin, juga Ira." lanjutnya.
Cahaya hanya menyimaknya.
"Dan aku juga dapet petunjuk di apartnya kakak Ira. Ada foto kalian sekeluarga di nikahan kalian. Awalnya jelas aku kaget. Tapi memang itu faktanya. Ditambah lagi cincin kalung yang dipakai paling sama Ira. Ukirannya nama kamu."
Cahaya tak menyangka mereka sudah tau selama itu. Ia jadi merasa bersalah.
__ADS_1
"Maafkan Aku gak bilang sama kamu.
Aku nikah sama Ira udah hampir 3 tahun lalu karena perjodohan. Aku nolak dia. Dan kamu tau? Aku bipolar. Hampir selama 2 Tahun aku udah nyakitin Ira. Waktu aku sakit, dia yang donor ginjal. Dan setelah itu entah kenapa aku udah jarang kumat. Sekarang Ira sakit. Gantian aku yang jaga dia." Ujar Cahaya lembut.
"Kamu... bipolar? Dan... Ira sakit? Jadi alasan kalian ga datang waktu graduation party karena Ira di rumah sakit?" Tanya Gladis tak percaya. Cahaya mengangguk.
Untung Gladis tipe orang yang prioritas Sahabat. Batin Cahaya. Ia sangat bersyukur karena Gladis juga paham.
"Kamu... Sayang dia?" Tanya Gladis.
Cahaya tampak berfikir sebentar.
"Nggak. Kamu cinta sama Ira?" tanya Gladis lagi.
"Aku... Aku takut kehilangan dia. Dia udah berkorban banyak buat aku." Ujar Cahaya ragu (?)
"Ya. Aku ngerti sekarang posisi kamu. Tapi gimana pun, kamu harus pilih antara aku dan Ira. Aku ga bisa terus-terus an ngejar kamu saat kamu udah sama Ira.
Ira juga ga bisa di duain sama kamu. Begitupun aku. Kita wanita Ya." Desak Gladis.
Cahaya merasa bersalah. Ia bingung. Ia cinta sama Gladis, tapi dia juga tak mau kehilangan Ira. Ira sudah banyak berkorban untuknya.
Namun ia mengingat saat 1 bulan Ira terbaring di rumah sakit. Itu serasa neraka baginya. Ia terasa.... kosong.
Di sisi lain ia melihat Gladis. Sosok yang ceria, dan selalu menemaninya. Memang tidak pernah ada konflik serius antara dia dan Gladis. Tapi Gladis adalah Cinta pertamanya.
"Tunggu aku, Gladis." Ujarnya pada Gladis. Ia tak tau harus bagaimana lagi. Tekad yang ia kumpulkan dari 1 bulan terakhir lenyap. Ia tak mau kehilangan mereka berdua. Egois memang. Tapi merasa ini hanya jalan satu-satunya.
"Tunggu aku sampai kembali. Lima tahun. Saat itu aku akan memantapkan pilihanku."
Gladis terlihat terkejut.
"Bagaimana aku bisa menunggu mu 5 tahun Ya! " Seru Gladis sambil berkaca-kaca. Menunggu 5 tahun woy... Apalagi cowoknya sama cewek lain.
"Lima tahun bukan waktu yang lama Ya." Lanjutnya.
"Gak. Aku gak akan melepasmu. Baiklah. Kau akan menunggu 5 tahun itu. Aku cinta Ya sama kamu." Jawab Gladis lirih. Cintanya mengalahkan akal sehatnya. Cahaya tersenyum.
"Aku juga mencintaimu. "
Cahaya tau ini salah. Namun untuk kali ini ia akan menjadi egois dalam hal cinta.
Tiba tiba Gladis menciumnya . Cahaya terkejut namun lalu tersenyum dan membalas ciuman Gladis.
"Untuk 3 hari ke depan, kita harus bersenang-senang atas dasar sahabat oke?" Gladis pun mengangguk.
Di tempat lain, Indi juga sudah selesai menceritakan semua yang terjadi.
"Aku sudah tau." Jawab Dewa enteng.
Indi terkejut begitupun Anisa. Yah kecuali Gavin sih.
"Kalo gitu, ngapain gue cape-cape jelasin *****." Gerutu Indi.
"Tapi sekali lagi mohon bantuannya ya. Ini adalah yang terakhir kalian bersama. Jadi diharap kalian mengerti keadaannya." Mohon Indi.
"Iya kak. Kami ngerti. Gladis juga pasti ngerti. Tenang saja. Liburan ini kita gunakan untuk persahabatan kita." Hibur Anisa. Walau dia masih belum terima, begitupun Dewa, namun ini demi persahabatan. Indi mengangguk senang. Sedangkan Gavin mencemaskan Cahaya. Ia khawatir Cahaya tak bisa melepas Gladis.(bener sih)
Namun beberapa saat kemudian mereka berdua datang. Wajah Gladis sembab namun ada raut senang yang membuat Gavin menjadi curiga.
Ia menatap Cahaya. Cahaya mengacungkan jempol nya. (Ia berbohong.) Gavin pun lega.
"Dimana Ira? Aku ingin bicara dengannya." Tanya Gladis. Anisa juga menganggukan kepalanya.
"Dikamar dengan Dava." Ujar Indi. Mereka berdua pun menuju kamar yang di inapi ira. Belum sampai mereka membuka pintu kamar,pintunya sudah terbuka kasar.
__ADS_1
Brakk!
Mereka kaget. Dava keluar dari situ dengan wajah panik.
"Kita perlu tabung Oksigen."Serunya. Semua jadi ikut panik.
"Kenapa Ira?" Tanya Cahaya cepat, Ia khawatir. Belum mendapat Jawaban, Cahaya sudah masuk ke kamar Ira.
"Nafas ira tersengal . " Jawab Dava.
"Kita bawa ke rumah sakit." Ujar Gavin. Segera Gavin keluar menyiapkan mobil. Namun sebelum beranjak, Ia ditahan Indi.
"Kenapa? Itu bisa bahaya!" Protes Gavin.
"Kita tak bisa menyerahkannya ke sembarang dokter, Vin"
bela Indi.
"Tapi, kalau Ira tak segera ditangani-" Omongan Gavin terputus karena gelengkan Indi.
"Itu karena ia alergi dingin. Hangatkan saja dia. Pasti sembuh." Ujar Indi lalu ikut masuk ke kamar diikuti semua orang.
Saat mereka masuk, Cahaya sudah memberikan semua selimut Cadangan untuk Ira dan Cahaya mendakapnya.
"Heh! Dasar lo mesum." Ujar Dewa. Cahaya hanya terkekeh.
"Dia sadar?" Tanya Gladis. Jujur ia cemburu sekarang. Ia jadi kepikiran apakah mereka sudah melakukannya? Maksudnya hubungan suami istri.
Cahaya menjawabnya sambil menggeleng.
"Dia hanya tidur. Tadi dia sempat kebangun. " Jawabnya.
Semua orang jadi lega dan kasihan dengan Ira. Ia berkorban besar ternyata.
"Sudah malam. Sebaiknya kita tidur." Ajak Indi sambil keluar diikuti semua orang kecuali Cahaya.
"Kamu ga tidur Ya?" Tanya Gladis.
"Aku tidur sama Ira.Jagain dia." Jawabnya. Gladis makin terbakar api cemburu. Ia keluar dengan menghengakan kakinya. Cahaya sadar itu namun pura-pura tak tau.
"Maafin aku Ra," Bisiknya. Lalu dia tidur di samping Ira sambil memeluknya seperti biasa.
Gladis yang satu kamar dengan Anisa menangis saat masuk di dalamnya. Ia menumpahkan semua kekesalan, sakit hati, dan kekecewaannya pada Anisa. Ia menceritakan apa yang Cahaya katakan padanya.
"Aku gak akan biarkan Ira dapetin Cahaya. Aku akan ambil kembali posisiku. Aku akan ikut mereka ke Belanda." Ujarnya kemudian.
"Tap-" Belum Anisa berbicara, Gladis sudah menyambung lagi.
"Cahaya punya gue. Dan seharusnya cuma jadi milik gue ."
Sekarang Gladis sudah dipenuhi oleh rasa dendam dan obsesi akan cintanya. Cahaya dan Ira hanya belum tau, akan ada badai yang menghantam mereka.
xixi
.
.
.
Gak nyangka aku bakal bikin Gladis jadi kek gitu 😥
Tapi cerita kalo ga ada konfliknya kan ga seru yaa....
Oh iya, besok aku pengumuman kelulusan. Semoga lulus Aminnnnn....🙃
__ADS_1
Menurut kalian di part selanjutnya aku harus bahas saat mereka sudah di Belanda beberapa tahun kemudian, atau lanjutin mereka di Puncak nya???
Mohon bantuannya yaa🙏🙏