Bad Liar

Bad Liar
6 BERLALU


__ADS_3

Sudah satu tahun semenjak oprasi ginjal Cahaya. Mereka (Cahaya and the gank) sudah akan menempuh ujian nasional. Satu tahun pula semua berlalu seperti itu saja.


Sayangnya ada yang aneh. Cahaya. Semenjak itu, dia seakan lupa dengan kejadian 2 tahun belakangan. Ia tak pernah lagi berbuat kasar. Walaupun ia dan Ira satu apartemen, ia tetap memperlakukan Ira seperti saat bersama temannya yang lain. Ia tak pernah menyakitinya lagi.


Cahaya kembali menjadi Cahaya yang seorang bad boy dan nakal di sekolah.


Namun, ia masih ingat jika ia dan Ira sudah menikah jadi mereka masih merahasiakan nya.


Awal-awal Ira sangat bingung dengan sikap Cahaya. Begitupun Gavin, dan orang tua Cahaya. Walaupun Oma Cahaya masih belum mau bertemu Ira, tapi setelah tau maksud Ira di nikahkan dengan Cahaya, ia jadi berterima kasih.


Haico lebih sangat berterima kasih kepada Ira. Ia beranggapan kalau bipolar Cahaya sudah sembuh. Ia mengira ini berkat pengorbanan Ira selama ini.


Ira? Dia tentu bingung. Namun ia mencari lagi informasi tentang bipolar dan ia Konsul terhadap psikiater. Kata psikiater itu, ada 2 kemungkinan.


Satu, Cahaya memang sembuh, Dua, Itu hanya saat ia sedang tidak kambuh. Sudah tau bukan kalau gejala bipolar bisa kambuh bertahun-tahun dan berhenti bertahun-tahun pula.


Orang lain senang, Ira takut. Ia takut sewaktu waktu Cahaya dapat kambuh lagi. Namun selagi Cahaya seperti ini, Ira menikmati nya. Ia tak tau kan apa yang terjadi di masa depan?


"Iraaa gue pulangg!!" Teriak Cahaya dari depan pintu apartemen. Ira yang mendengar itu lekas meninggalkan dapur dan menghampiri Cahaya.


"Kok baru pulang Ya?" tanya Ira sambil menyalami Cahaya dan membawa tasnya.


"Iya tadi ada beberapa yang perlu di beresin." jawab Cahaya lalu merebahkan tubuhnya di sofa.


"Kan aku udah bilang, kerja nya tinggalin dulu. Kita udah mau ujian Ya." ujar Ira. Setelah berkata seperti itu Ira pergi ke kamarnya dan menyiapkan air untuk Cahaya.


Cahaya termenung di sofa ruang tamu. Ia masih terngiang-ngiang suara Gladis tadi siang. Sebenernya dia juga susah untuk melepas Gladis. Mereka sudah pacaran 3 tahun. Namun di sisi lain dia juga merasa bersalah pada Ira. Ia binggung.


"*Cahaya!" panggil Gladis. Gladis baru saja keluar kelas bersama Ira. Sedangkan Cahaya baru balik dari kamar mandi.


"Kenapa?" jawab Cahaya.


"Ke taman yuk! Di sana juga ada Gavin kok. Baru aja tu anak jalan." ujar Gladis sambil bergelayut manja di tangan Cahaya.


Cahaya pun mengangguk setuju dan Ira mengikuti mereka dari belakang.


"Yang, tolongin aku sihh... Nilai bahasa Mandarin ku jelek banget Lo." ujar Gladis di tengah jalan.


"Ya belajar sana. Sama Ira tuh." jawab Cahaya santai.


"Lah minta ajarin dia... Dia juga sama jeleknya tau... Iya ga Ra?" ujar Gladis terkikik.


"Hm m" jawab Ira seadanya. Cahaya melirik Ira ke belakang dan Ira sedang focus dengan buku bacaan bahasa Mandarin.


"Lah Ira gelo, katanya ga bisa bahasa Mandarin, tapi bacaan nya kek gitu." ujar Cahaya sambil tertawa.


"Ahaha iya nih, aneh Lo Ra!" sahut Gladis. Akhirnya mereka berdua hanya tertawa tawa sampai di taman.


"Ra, lo sama Gavin dulu ya, gue mau ngomong sama Cahaya." Ijin Gladis sambil menjauh bersama Cahaya. Cahaya hanya pasrah dan mengikuti Gladis.


Mereka duduk di bangku taman yang letaknya agak jauh dari tempat Gavin dan Ira.


"Kenapa sih sayang... kok tumben?" tanya Cahaya.


"Ihh kamu nih ga peka deh. Kita udah lama ga berduaan tau..." jawab Gladis manja.

__ADS_1


"iya-iya." Cahaya pun merebahkan kepalanya di paha Gladis.


"Kamu lucu deh... ihh gemessssss" ujar Gladis sambil mencubit pipi Cahaya.


"Emwangg!!!" Jawab Cahaya sambil memasang ekspresi lucunya.


"Cahaya." panggil Gladis masih menangkup pipi Cahaya.


"hm?"


"Janji ya jangan tinggalin aku? Kemanapun kamu kuliah nanti, aku selalu ikutin kamu." Ujar Gladis.


"Hmm.... Aku belum kepikiran mau kuliah dimana sihh... tapi aku ga bakal tinggalin kamu." jawab Cahaya.


"Beneran kamu belum kepikiran kuliah?" tanya Gladis.


"Iya... Kayaknya mau break setahun dulu deh. Mau bantu papa dulu." Jawab Cahaya*.


Ira mau kuliah ga ya? Kira-kira dia kuliah dimana? Pikir Cahaya.


"Cahaya, mandi dulu gih habis itu makan ya."


Suara Ira membuat Cahaya membuka matanya. Sampai sekarang ia masih memikirkan dimana Ira akan kuliah.


Ah masih bisa dibicarakan nanti, pikir Cahaya.


Akhirnya Cahaya masuk ke kamar dan mandi. Sedangkan Ira pergi ke dapur lagi untuk membantu Bu Ning.


Di kamar mandi ia masih memikirkan hal yang sama. Entah kenapa ada perasaan tak rela Ira pergi di hati Cahaya.


Cahaya bingung. Satu tahun terakhir ia dilema akan perasaan nya. Ia tak mungkin menyukai Ira kan? Ira sahabat nya, ia tak mungkin menghancurkan persahabatan nya.


Pikirannya kalut.


Setelah mandi 15 menit Cahaya pun menuju dapur. Disana sudah ada Ira dan Bu Ning menyiapkan makan malam.


Mereka bertiga Memang selalu makan bersama.


"Eh Cahaya. Yaudah Bu, ayo kita makan." Ajak Ira saat menyadari keadaan Cahaya.


Mereka makan malam dengan tenang. Setelah selesai makan dan membereskan meja makan serta piring kotornya, Bu Ning memilih untuk menonton tv sedangkan Ira dan Cahaya masuk kamar mereka untuk belajar.


Ira belajar dengan tenang sedangkan seperti biasa Cahaya malah leha-leha.


"Cahaya kamu ga belajar?" tegur Ira.


"Nanti ah Ra. Gue kan pinter, jadi ga harus belajar...hehehe" Jawab Cahaya cengengesan.


"Ah iya Ra, apa rencana Lo selesai SMA?" tanya Cahaya. Akhirnya pertanyaan itu keluar juga.


"Mmm kuliah lah." jawab Ira masih fokus dengan bukunya.


"di..."


"Oh iya Ya, aku perlu ijinmu. Aku akan kuliah di Inggris. Aku mendapat beasiswa."

__ADS_1


Belum sempat Cahaya tanya Ira sudah menjawabnya. Cahaya hanya terpaku.


Inggris? kenapa jauh sekali? batinnya


"Ya? Cahaya? Boleh kan?" Tanya Ira .


"Ah.. ituu... i.. iya boleh kok. Gapapa" jawab Cahaya. Sebenarnya ia sungguh tak rela. Kenapa harus Inggris?


"Yaudah makasih ya... Mungkin setelah hasil ujian keluar aku akan langsung ke sana mengurus sisanya di sana." ujar Ira.


"Tapi Ra... Kok Lo bisa disana? Gue ga pernah tau Lo ikut ujiannya?!" Tanya Cahaya.


"Ohh... itu udah diurus ka Indi. Aku pake jalur prestasi jadi ga ujian." Jawab Ira.


"Tapi kalo kamu ga ngebolehin aku gapapa kok. Aku bakal kuliah di sini." Lanjutnya.


Ingin rasanya Cahaya berkata tidak boleh. Tapi ia juga sadar diri. Ia hanya sebatas 'suami' sah diatas kertas. Ia bahkan tak pernah memberikan kewajibannya sebagai suami. Padahal selama ini Ira melaksanakan kewajiban nya sebagai istri(yah kecuali itu-itu nya, kan masih SMA) Ia tak bisa menghalangi mimpi Ira.


"Ah... Ga papa kok. Lo bisa ke sana." Jawab Cahaya pad akhirnya.


"aaa... Terimakasih Cahaya. Kalau kamu gimana?" tanya Ira.


"Gue... gue ga ada rencana buat kuliah sekarang. Gue mau bantu papa dulu. Mungkin tahun depan aja kali." Jawab Cahaya.


"Kalo gitu, tahun depan kamu mau kuliah dimana?" Tanya Ira


Cahaya berpikir sebentar.


"Mungkin bareng Lo." Jawabnya pasti.


"Serius? Kalo gitu semangat ya!!" Seru Ira sambil tersenyum manis.


Cahaya terpana akan senyumnya.


Sedetik kemudian ia tersadar.


"Ahh.... i iya.." Jawabnya.


"Aku seneng deh kamu udah jadi kamu lagi." Ujar Ira tanpa sadar. Cahaya mengkerut kan dahinya tanda tak mengerti.


"Iya. Kamu jadi Cahaya yang aku kenal. Jaga diri kamu nanti ya kalau aku udah pergi."


"Apa maksudmu jadi diriku? Aku sudah jadi diriku Ira..." Ujar Cahaya tak mengerti.


"Kamu akan mengerti nanti. Ah sudahlah lupakan. Aku hanya melantur." Setelah itu Ira berbalik dan kembali mengerjakan tugasnya.


Cahaya lalu berpikir keras.


Apa maksudnya Ira? memang dia kenapa? Apa ada yang salah?


Akhirnya Cahaya pun tertidur. Satu jam kemudian Ira juga ikut tidur di sebelah Cahaya. Ira memandangi wajah Cahaya yang tertidur.


"Cahaya... Kamu harus inget kalo aku itu cinta sama kamu. Apapun yang terjadi nanti, aku tetep cinta sama kamu." Ujarnya lirih. Ira pun akhirnya tertidur juga.


Cahaya merasa sekarang ia sedang mimpi Ira menyatakan cinta padanya. Namun sayangnya Cahaya tak bisa berkata apapun. Lidahnya kelu dan mulutnya enggan terbuka.

__ADS_1


__ADS_2