
Ira berjalan cepat menuju kelas nya. Entah kenapa ia merasa diikuti. Sedari tadi berangkat ke kampus, ia merasa diikuti. Buktinya mobil yang berjalan kurang lebih 10 meter dari taxinya.
Ya, beberapa hari ini dia memang berangkat sekolah dengan taxi. Cahaya? Entahlah. Terakhir kali dia bertemu dengannya saat di rumah sakit itu. Sebenernya Ira juga merasa aneh karena beberapa hari ini ahkan hampir 1 minggu,Cahaya tak pulang. Waktu di rumah sakit, dia pulang diantar bibinya, mamanya Dava. Beliau juga mengajukan pertanyaan yang sama dalam pikirannya.
Di telfon tak diangkat, Dava juga seakan menghilang, Teman-teman Cahaya juga tak tau keberadaan Cahaya. Keluarganya di indo juga tak tau. Bahkan ia ke telfon ke perusahaan papanya juga tak tau. Tapi Ira mencoba menutupi kenyataan bahwa cahaya yang tak kunjung pulang. Ia hanya bilang kalau Cahaya tak bisa di hubungi makannya ia menanyakan pada mereka.
Segera setelah masuk kelas dia duduk di meja nya dan menghela nafas berat.
Brakk
Tiba-tiba mejanya digebrak oleh seseorang. Sontak ia pun menoleh.
Plakk!!
Bunyi tamparan itu membuat seisi kelas hening. Ira yang di tampar oleh orang yang tak di kenalnya itu memegangi pipinya dengan tatapan tak percaya.
"Kenapa aku di tampar?" Tanyanya polos. Ira memang tak tau apa-apa dan dia tak kenal dengan cewek itu.
"Dimana Dava?!" Tanya cewek itu dingin.
"Dava?" Tanya Ira membeo. Ah ia mengerti sekarang. Cewek itu mungkin pacarnya Dava. Tapi...
"Lo temen nya yang sering deket kan sama dia?!" sentak cewekitu .
"Kamu siapa nya ya?" Tanya Ira mengalihkan topik. Ia memang sangat penasaran dengan cewek di depannya.
"Gue pacarnya. Kenapa?!" Jawab Cewek itu ketus. Oke Fyi ya, disini tuh banyak banget mahasiswa/i dari Indonesia karena biasanya kampus ini sebagai tempat pertukaran pelajar Belanda-indonesia. Jadi gak heran banyak yang bisa bahasa Indonesia.
"Pacar? Bukannya Dava-" ira ingin berkata tapi terpotong.
"Udah deh! Kasih tau dimana Dava!!" Geram cewek itu.
Ira pun mengalah.
"A aku nggak tau."
"Hah?! Gak tau?! Lo kan deket banget tu sama dia. Bahkan lo itu di prioritaskan. Gak tau terima kasih banget.
Iyalah prioritas, kan aku adiknya. jawab Ira dalam hati. Ia tak berani bicara.
"Ah sudahlah ga guna lo." Ujar cewek itu lalu pergi. Ira masih bingung. Siapa sih cewek itu?! Pacar? hmm Ira ragu. Dan juga ia bingung. Kemana 2 orang yang di sayangnya itu. Kenapa tak ada kabar sama sekali. Bahkan telfon dan pesannya tidak di jawab. Ira mendesah pelan.
.
.
.
Ira keluar dari taxi dan masuk ke dalam rumahnya yang terlihat sepi. Sekarang pukul 2. Ira sengaja pulang telat karena masih melanjutkan penelitian tentang orang misterius itu.
Setelah mengunci gerbang, Ira pun masuk ke dalam rumah nya.
Eh ? kok ga ke kunci? perasaan tadi pagi aku ngunci pintu deh. Apa Cahaya sudah pulang? Pikirnya.
Iapun membuka Pintu dengan semangat.
Dan..........
Jduarr!!! pfriitttttt.....priifft.....
" Happy brithday Nadhiiraaa!!!" Teriak orang-orang di dalam rumah. Ia terkejut. Ah kenapa dia bisa lupa ulangtahunnya.
"Ahh.... Terima Kasih...." Ujar Ira terharu. Disana sudah ada Mommy, Dady, Indi, Bibi dan pamannya, Vander, Dava, dan Kirara, serta mama papa Cahaya juga oma nya.
Ira memeluk satu persatu dari mereka. Terlebih Indi dan Vander. Oh dia sangat merindukan mereka.
Tapi dia bingung. Kenapa Cahaya gak ada?
" Loh Ra, Cahaya mana?! Tadi Mommy kira bareng kamu...." Tanya Mommy nya. Matilah dia. Dia berkilah.
"Dia... dia ada kelas masihan mom."
__ADS_1
Dava yang mendengar alasan itu lantas mengerutkan kening.
"Bukannya hari ini dia cuma ada kelas pagi ya?" Sahutnya.
Aduh aku harus bilang apa lagi??
"Iya. Dia juga seminggu terakhir ga dateng ke perusahaan." Ujar Dady nya. Dia sudah terpojokan. Ia tak bisa berkilah lagi.
Orangtua Cahaya sudah menatap penuh selidik le arah Ira.
Ira menundukkan kepalanya sedih.
"Maaf." Lirihnya di sertai air mata yang berderai.
"Kenapa sayang?" Tanya Oma Cahaya lembut.
"Udah satu minggu Cahaya ga di rumah. Hiks.. Aku ga tau dia dimana. Telfon ga diangkat dan... dan pesan jg ga dibalas.. Hiks.. hikss... maaf ga bilang ke kalian..." Tangis Ira pecah dalam pelukan Oma.
Dava dan Indi yang melihat itu saling berpandangan. Vander juga. Mama papa Cahaya juga merasa aneh. Mommy Dady Ira kasihan melihat putrinya itu. Tapi mereka tak bisa apa-apa karena sudah bukan urusan mereka.
Tapi mereka merasa harus bertindak karena Cahaya sudah kelewat lama menghilang...
"Sudahlah Sayang. Hari ini hari ulang tahunmu. Kita rayakan dulu baru nanti mikirin Cahaya ya..." tenang oma sambil mengusap air mata Ira.
Ira mengangguk menurut. Orang tuanya pun segera menyodorkan kue ulang tahunnya.
"Make a wish, sayang," ujar Mamanya. Ira tersenyum dan mengangguk. Ia membuat permohonan.
Semoga Cahaya baik-baik saja. Bahkan setelah aku pergi nantinya. Tuhan aku tak tau bisa tidak aku merayakan di taun depan. Tapi berjanjilah padaku kau selalu melindunginya di manapun dia berada dan bagai mana pun keadaannya. Dan aku akan berjanji mengabdikan hidup ku demi kemulianmu. Amin.
Setelah itu ia meniup lilinya.
"Yeayy... selamat ulang tahun sayangnya Mommy panjang umur, sehat selalu, taat sma Tuhan, sayang suami, dan jadilah dewasa. wish you all the best." Dia Mommy nya. Yang lainnya pun ikut berdoa untuknya.
Semoga aku masih bisa hidup dengan doa-doa dari kalian. batinnya.
Mereka pun pesta di rumah. Tanpa cahaya tentunya.
"Hehehe.... Maaf Ra. Alasan gue ga kuliah ya karena dia. Risi tau di tempelin gitu.."Jawab Dava.
" Ya tapikan jangan gitu juga. Aku yang jadi sasarannya." Ujar Ira kesal.
"Yee... sakit ya di tampar? sini gue lihat.." Jawab Dava sambil meniti wajah Ira.
"Sudahlah. Aku juga ga percaya yang ngaku-ngaku pacar mu. Kan kamu sukanya sama Kirara... Ya gak? Upss..." Ujar Ira. Ia keceplosan. Wajah Dava sudah merah padam sedangkan Kirara yang di sebut juga sama memerahnya.
"Mm kayaknya kita pergi aja deh. Ada yang mabuk asmara nih." Goda Vander. Mereka bertiga pun meninggalkan mereka berdua yang masih terdiam dengan wajah memerah dan masih diam saja. Mereka bertiga terkikik dengan tingkah laku Dava.
Ira pun ijin pamit ke kamarnya sebentar. Ira merebahkan badannya dan mengecek ponselnya. Kali aja Cahaya menghubunginya.
Tring !
Ponselnya bunyi tanda ada pesan masuk. Dari nomor misterius itu.
Rodquiez Hospital, unit 304,Rose
begitulah isi pesannya. Pesan itu sama dengan alamat terakhir yang di dikirimkannya hanya beda unit dan bangsalnya.
Apa mungkin Cahaya di situ?!
Cepat-cepat Ira turun dan mengambil kunci motor mobil milik Cahaya di atas nakas. Memang sih terakhir kali Cahaya pergi itu kan menggunakan motor. Alasan dia tak ke kampus pakai mobil sendiri? Dia malas.
Dengan tergesa-gesa dia keluar Dari rumah. Panggilan para keluarganya ia hiraukan dan masuk ke mobil. Tapi sebelumnya ia membuka gerbang dulu.
Dava, Kirara, Vander, dan Indi pun akhirnya mengikuti Ira dari belakang atas suruhan Ayah Cahaya.
Ira mengemudi di atas rata-rata. Ia sangat cepat.
"Gila! Dia mau mati apa?!" Gerutu Dava yang menyetir.
Ira pun sampai dia rumah sakit dan segera turun sambil.menyerahkan kunci pada pak satpam. Niatnya adalah menyuruh pak Satpam memarkirkan nya karena ia sembarangan parkir.
__ADS_1
Ia segera masuk dan mencari kamar yang di maksud.
Ia membuka pintu ruangan bertuliskan Rose,301.
Ia melihat seorang lelaki tidur dengan wajah lebam. Itu Cahaya. Cahaya nya sedang terbaring (lagi) di rumah sakit. Setelah 1 minggu ia tak melihat nya.
Di samping kasur Cahaya ada secarik kertas. Ia membaca tulisan yang ada di kertas.
Jangan dekati Avi. Atau nyawa nya dalam Bahaya.
Ira tak tau itu di tujukan untuk siapa. Namun ia yakin itu dari pria misterius itu lagi.
"Ra!!" Seruan itu mengagetkan Ira. Segera ira menyembunyikan kertas itu dalam sakunya dan berbalik. Saudara-saudara nya sudah di sana. Ah ternyata mereka mengikuti.
"Lo kenapa sih?!" Tanya Indi.
Raut wajah Ira berubah sedih sambil menatap Cahaya. Mereka semua pun melihat siapa yang ditatap Ira.
"Cahaya?!" Seru mereka serempak. Ia kaget karena wajah Cahaya yang lebam. Cahaya kaget karena seruan mereka lantas bangun.
"I Ira? K kalian?!" lirihnya kaget. Ia langsung menangis memeluk Cahaya.
"K kenapa gak bilang hikss..." isaknya. Cahaya pun membalas pelukan Ira dan membawa Ira naik ke Kasurnya.
"Maaf. Maafkan aku." Lirihnya. Badannya masih sakit karena di pukuli.
Yang lainnya hanya terdiam. Oke dia juga marah sih karena Cahaya juga menghilang gitu aja dan pas uda ketemu malah bonyok dan uda di rumah sakit.
Ira masih menangis dan memeluk Cahaya.
"Pokoknya... kamu harus... cerita.."
"Iya aku cerita. Tapi kamu tenang dulu." Pinta Cahaya sambil mengusap air mata Ira. Ira pun tenang dan mendengarkan Cahaya.
Yang lain juga dalam mode menyimak.
"Sebelumnya. Happy birth day Ira. Jadi yang terbaik buat aku dan kamu. Buat kita. Wish you all the best. " Ujar Cahaya. Ira semakin mengeratkan pelukannya. Ia senang Cahaya ingat ulang tahunnya.
Yang lain, mereka berempat langsung menutup mata saya Cahaya tanpa aba-aba dan tanpa tahu malu mencium Ira.
Ciuman itu berlansung lama, hingga Vander menyela.
"Telah malah jadi film biru. Katanya mau jelasin." Sarkas Nya. Cepat-cepat Mereka melepaskan pangutannya.
Mereka jadi lupa kalau ada orang lain di sini.
"Eheheh... Maaf. Oke aku bakal cerita." Ujar Cahaya cengengesan. Ira yang malu masih tetap menyembunyikan wajahnya di pelukan Cahaya.
"Mm dari mana ya gue mulai." bingung Cahaya.
"Intinya gue harus selesaiin masalah ini dulu baru gue bisa cerita. Kalo gak kita semua dalam Bahaya." tuturnya.
"Ehlah. lo tinggal bilang masalahnya gimana. Yakin sama kita, kita bisa bantu." Ujar Dava.
"Ceritanya panjang. Jadi kasih gue waktu buat selesain itu semua. Gue ga mau, terutama Ira dalam Bahaya." Jawab Cahaya. Mereka ber empat pun hanya pasrah.
"Tapi jangan libatin orang lain lebih jauh lagi. Apalagi orang tua gue atau Ira. Percaya sama gue gue bisa urus ini." Ujar Cahaya meyakinkan.
"Tapi kamu juga harus janji jangan pergi lagi dari rumah. Jangan lagi kamu gak kasih kabar dan jangan buat aku sendirian." Pinta Ira yang masih di atas ranjang sambil memeluk Cahaya.
"Iya. Aku janji." Jawab Cahaya.
"Yaudah kamu jangan pulang dulu. Papa sama mama pasti bakal marahin kamu. Nanti aku buat alasan sama mereka. Kalian juga diem dulu ya." Ancam Ora.
Kalau Ira sudah marah seperti ini memang semua tak berani berkutik. Yah memang ya, orang diam kalau lagi anteng ya anteng. Kalo lagi marah uda kayak bangunin naga nya yang di hobbit.
.
.
.
__ADS_1
xixi