
"Dava, bangun mandi sana pulang. Jangan lupa nanti ke sekolah. "
Pagi-pagi Vander membangunkan Dava yang tertidur karena menjaga Ira selaman. Sampai pagi ini Ira belum bangun juga. Jadinya Vander dan Dava memutuskan untuk menjaga dia.
Semalam juga tiba-tiba Gavin datang. Dia marah-marah dengan Vander. Dia bilang Vander menutupi hal penting ini.
*Brakk!
Pintu ruangan Vander tiba-tiba terbuka dengan paksa. Vander dan Dava terlonjak kaget. Gavin datang dengan wajah marahnya. Dava merasa tak asing dengan Gavin.
"Dava?! Ngapain lo?" Tanya Gavin tajam.
Dava mencoba mengingat orang itu.
"Ah! Gavin ya?!" Serunya. Gavin masih menatap tajam dan menuntut penjelasan.
"Eee jadi gini Vin...." Belum selesai Dava berbicara, Vander sudah memotong perkataannya.
"Ira drop." Sahut Vander dengan sorot mata sendu.
" gue yakin lo ga sebodoh itu, Vin. " Ujar Dava.
Gavin terdiam lalu mengangguk. Gavin mendekati ranjang rawat Ira. Ira masih tertidur dengan wajah pucatnya. Sekelebat bayangan Ira yang selalu bicara ia baik-baik saja, tiba-tiba terlintas.
Gavin malah tertawa kecil.
"Eh! Lo gila ya??... Ohh pantes lo sama temen lo itu waktu balapan sama gue kalah.... Ahahaha " Ejek Dava. Memang waktu kejadian Cahaya mabuk itu karena mereka balapan dan kalah dari Dava. Karena itulah Cahaya merasa kesal dan pergi ke Club. Dan di sana ia malah mendapati sebuah kenyataan.
"Cahaya gimana, Vin?" Tanya Vander.
Gavin pun ikut duduk dan menghela napas kasar.
"Dia belum sembuh." Jawab Gavin.
Dava malah yang menyahuti jawaban Gavin.
"Emang sih itu bisa terjadi karena diingatkan oleh trauma/hal yang membuat dia stress. Tapi sebenarnya apa yang terjadi dengan dia?"
Pletak!
Vander menjitak kepala Dava yang malah menanyakan itu.
Gavin hanya melirik mereka lalu menjawab pertanyaan Dava.
" Mamanya dia yang sekarang bukan mama kandungnya. Dia anak orang club. " Ujar Gavin datar.
"Et dah lu ngomong irit amat. Kagak jelas nii," Protes Dava. Vander mengiyakan. Gavin hanya menghela nafas kesal.
"Paman Haico sama mamanya Cahaya berbuat kesalahan dan akhirnya lahirlah Cahaya. Tapi mamanya ga mau urus dia." Jawabnya.
"Ya alloh.... kek nya ribet bgt dah. Lu juga ngomongya lebih jelas bisa kagak sih...." Dava kembali sewot karena tak mengerti. Banyak pertanyaan muncul di kepalanya. Begitu juga Vander.
" Yaudah. Cari tau sendiri. Gue mau balik." Gavin pun beranjak dan keluar dari ruangan tanpa mengucap salam.
Dava dan Vander ditinggalkannya dengan banyak pertanyaan. Mereka berdua terdiam sejenak.
"Ira!!" Seru Dava. Wajah Dava sumringah.
"Nanti waktu Ira bangun, gue mau introgasi dia. hehehe..."
" Kepo banget dah lo...." Ujar Vander.
"Iyalah kepo. Kalau menyangkut Ira, gue ga bakal tinggal diam..." Jawab Dava tak terima.
"Posesive bet dah. Ga punya cewek ya lo?" Ejek Vander lagi.
"Emang lo p punya??!" Sahut Dava tak mau kalah.
Gavin hanya terdiam dengan muka masam. Dava pun tertawa terbahak-bahak*.
.
.
.
Selepas dari rumah sakit Gavin kembali ke apartemen Cahaya. Ia duduk di sofa dan memejamkan matanya.
__ADS_1
Apa gue salah uda kasih tau mereka?
Ia kalut untuk saat ini. Ia tak bisa terus menyembunyikan seolah tak ada yang terjadi. Apalagi Indi.
Ia tak tau apa yang di rasakan Cahaya, namun ia mengerti kondisinya.
Sekarang pasti ia merasa tertekan.
Gavin mengingat apa yang ditulis oleh Ira. Dan ia menyadari sesuatu.
Sepertinya Dava dan dokter itu yang ada di foto ira. Pantes mereka posesive. Batinnya.
Alasannya menjaga Cahaya adalah agar tak bertindak di luar nalar. Waktu pertama kali Cahaya seperti ini ,tepatnya 7 tahun yang lalu, Cahaya nyaris membakar rumah sakit.
Sebenarnya Cahaya dan Gavin sudah bersahabat dari SD. Namun ingatan Cahaya sebelum kejadian itu sebagian hilang. Makannya ia hanya tau ia kenal Gavin dari SMP.
Akhirnya Gavin pun tidur di sofa hingga pagi.
Saat subuh Gavin bangun, ia langsung pergi ke dapur. Rencana nya ia akan minum dahulu baru mandi.
Dapur kosong. Tidak ada orang. Tiba-tiba Bu Ning keluar dari kamarnya dengan membawa 2 travel bag.
Gavin hanya menatap Bu Ning dan menunggu Bu Ning mengatakan sesuatu.
"A anu den. Saya pergi sekarang. Kereta saya pukul 6 pagi ini."pamitnya.
"Hati-hati, Bu." Ujar Gavin tenang.
"I iya den. Permisi."
Bu Ning pun keluar dari dapur menuju lobi apartemen.
Di bawah memang sudah ada taxi yang di pesan Bu Ning tadi.
Gavin hanya menghela nafas dan melanjutkan minumnya. Setelah itu ia mandi di kamar mandi Cahaya.
Cahaya masih belum bangun. Wajar ini kan baru jam 5. Tidak mungkin Cahaya bangun jam segitu.
Selesai mandi Gavin baru ingat kalau hari Ini adalah hari kelulusan nya. Cepat-cepat ia membangunkan Cahaya.
"Cahaya! Kita ada graduation party. Bangun lo!" Serunya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Cahaya.
"Heh!!! Cahayaaa!!!" Kali ini Gavin lebih keras.
"Sss.... iya2." Desis Cahaya sambil menggerutu.
"Cepat!" Gavin pun menarik selimut Cahaya dan sambil menggerutu Cahaya masuk ke kamar mandi.
Acara Graduation untungnya pukul 8.00 nanti.
Gavin pun keluar kamar dan memesan makanan lewat aplikasi sambil menunggu Cahaya.
Beberapa menit kemudian makanan telah sampai dan Cahaya juga sudah selesai mandinya.
"Loh, Ira mana?" tanyanya.
Gav i n menjawabnya dengan mengedikan bahunya.
"Tumben kok jam segini udah keluar." Ujar Cahaya merasa heran. Kalau di pikir-pikir sudah hampir 2 hari ia tak bertemu Ira.
"Dah sadar lo?" Tanya Gavin sarkas.
"Sadar apaan, ****?!" Seru Cahaya kesal. Ia merasa pertanyaan Gavin sungguh aneh.
"Yaudah makan. Anterin gue ganti baju nanti." Ujar Gavin masih dengan sikap tenang nya.
Cahaya hanya terdiam sambil celingak celingak mencari keberadaan Ira.
Apa dia di apartemen ka Indi ya?- batinnya.
.
.
.
"Whoaa!!! Selamat datang angkatan 67 SMAN 8 YOGYAKARTAAAA!!!! Hari ini adalah hari yang telah ditunggu-tunggu. Karena apa??? Karena......(blablabla)"
__ADS_1
Suara MC memekakan telinga Dava saat ia masuk ke area party yaitu di tengah lapangan. Ia melihat lihat keadaan sekitar.
Rame juga ya sekolah di Indo....
Dava pun masuk dan menyusuri lorong koridor. Ia mencari ruang kepala sekolah. Karena tak tau, dia pun celingak-celinguk di depan koridor.
Akhirnya seorang cewek menghampirinya.
"Hei! Lo yang kemaren balapan sama Cahaya kan?" panggil cewek itu. Cewek itu Gladis. Kebetulan Gladis adalah penanggung jawab party ini.
"Eh iya gue Daval. Lo siapa? Mm gue cari ruang kepsek." Ujar Dava ramah.
"Ohh... kenalin gue Gladis. Lo cari ruang kepsek? Itu di ujung lorong tepat depan lapangan voli." Ujar Gladis.
Saat hendak beranjak pergi, Dava di tahan oleh Gladis. Dava mengernyit heran.
"Ada keperluan apa lo?" Tanya Gladis.
"Kamu ga perlu tau."Nada suara Dava menjadi berubah setelah tau bahwa yang di depannya itu Gladis.
Setelah itu Dava pun pergi. Gladis merasa aneh dengan Dava.
"Ah, mending gue cari Ira. Kemana sih tu cewek?? Dari kemarin ga ada kabar..." Gerutunya lalu pergi juga.
Dava pun segera mengurus surat keterangan lulus Ira. Ia menjelaskan keadaan Ira agar kepsek mengerti dan cepat-cepat memberikan surat itu.
Setelah dapat, Dava lantas pergi. Namun di gerbang ia bertemu Cahaya juga Gavin. Dava menatap Cahaya garang. Sedang Gavin hanya memutar bola mata nya malas.
Cahaya yang menyadari tatapan orang asing di depannya malah terbakar emosi.
"Kenapa lo? Punya masalah lo sama gue??" Cerocos Cahaya.
"Tentu." Dava menyeringai.
"Lo yang kemaren balapan sama gue kan?" (Cahaya)
"Iya. Trus?" Jawab Dava masih memasang muka menantangnya.
"Udalah kalian. Dava pergi gih. " Usir Gavin karena malas jika ada perkelahian disini.
"Gue juga mau pergi. Btw Ira lulus. Bye." Dava pun pergi.
Cahaya mencerna kata-kata Dava.
Ira? dia kenal Ira?
" udalah ayo masuk." Ajak Gavin mereka pun masuk.
"Eh! Cahaya ,Gavin!" Gladis memanggil mereka berdua.
Gladispun berlari ke arah mereka dengan pakaian kebayanya.
"Liat Ira ga Vin? Soalnya udah dari kemaren gue ga bisa hubungin dia. padahal dia penanggung jawab. Hah! Jadinya gue kan yang ngerjain bagian dia..." Cerocos Gladis.
"Ira ga ada?" Tanya Cahaya. Ia semakin penasaran akan keberadaan Ira sekarang.
"Tadi gue ketemu orang namanya Dava dan dia bilang kalau Ira lulus tu. Ya gue kira Ira disini." Ujar Cahaya.
"Ohh... Iya aku tadi juga ketemu Dava, Ya. Dia mau ketemu kepsek katanya."Jawab Gladis.
"Gavin yang mulai tau situasinya hanya diam. Mungkin sebentar lagi Cahaya tau yang sebenarnya. Salah Cahaya juga sudah salah paham waktu itu.
Tanpa babibu Cahaya berlari keluar mencari Dava. Gavin pun ikut serta Gladis.
"Kenapa sih Ya?!" Tanya Gladis.
"Gue harus pergi. Gavin lo ikut gue. Gladis kamu di sini aja ya. Aku pasti balik." Cahaya pun menyeret Gavin ke mobil mereka.
"RS. Gue harus ke RS." Cahaya pun melajukan mobilnya ke arah RS. Dimana setiap weekend Ira ke sana. Ia tau. Ia mengerti sekarang. Dan asumsinya ternyata salah. Ia telah salah paham.
Xixi
Hai yang uda mau baca cerita ku. Makasih ya.... Ini emang bukan pertama kali aku nulis. Tapi makasih udah support aku. Oh iya btw cerita ku ngelantur gak sih? hehe soalnya aku nulis kalo lagi mood. Udah gitu alurnya juga kubuat sesuka hatiku aja๐ Ah pokoknya semua itu ngawur lah.
Lomba buat cerpen aja kalah๐
Udah ya... sekali lagi makasih kalian semuaa. Kalo ada kekurangan, kritik aja dan kasih saran ya...โคโค
__ADS_1
Semoga sukses buat kita semuaa ๐๐