Bad Liar

Bad Liar
20 ANEH


__ADS_3

Ira menyapu seluruh rumah sendirian. Di sini memang tak tak ada pembantu. Semua dia kerjakan sendiri. Kadang Dava dan Cahaya juga membantu.


Selesai menyapu rencananya Ira ingin membersihkan kebun. Tapi hidungnya malah mengeluarkan darah. Cepat-cepat Ira pergi wastafel untuk membersihkan darahnya.


Di saat-saat seperti ini, Ira tak mau membuat Cahaya khawatir. Apalagi Cahaya juga sedang sakit. Ira kemudian duduk di salah satu kursi di kebun. Ia mencoba meredam sakit kepalanya.


"Ga boleh manja! Gannbatee!" semangatnya pada diri sendiri.


Ia pun hanya bisa menyapu daun-daun yang gugur di sekitar kebun. Setelah selesai, Ira langsung ke dapur dan membuatkan makanan untuk Cahaya karena hari sudah siang.


Ira masuk ke kamar dan mendapati Cahaya yang sedang bermain handphone di atas kasur sambil bersender di dinding belakangnya.


"Ra," sapa Cahaya sambil tersenyum. Lantas ia mematikan ponselnya dan menariknya di nakas.


"Makan dulu ya." ujar Ira membalas senyuman Cahaya tadi.


"Suapinnn!" rengek Cahaya seperti anak kecil. Ira hanya terkekeh lalu mulai menyediakan makanan dan dilayangkan ke mulut Cahaya.


"Mm Ra," Panggil Cahaya saat sudah beberapa suap dia makan.


"Iya?" jawab Ira lembut.


"Gak kerasa ya udah 5 tahun aja kita nikah." Ucap Cahaya. Matanya memandang ke depan. Kosong.


"Iya. Kenapa?" Tanya Ira karena seperti ada yang janggal dengan ucapan Cahaya.


"Kalau aku membuat kesalahan yang sama lagi, apa kamu mah maafin aku?" Tanya Cahaya.


"Mm... kesalahan ya. Aku bukan Tuhan yang bisa ngurusin segala sesuatu sih. Tapi aku bisa mutusin kalo apapun yang terjadi aku bakal terus sama kamu. Apapun yang terjadi nanti." jawab Ira mantap.


Sekarang ada raut kesedihan di mata Cahaya yang menatap Ira sendu.


"Aku sayang sama kamu Ra. Makasih udah kasih aku kasih sayang, perhatian, dan... ah pokoknya makasih banget udah kasih semuanya buat aku. Padahal aku punya banyak kekurangan dan salah sama kamu." Ujar Cahaya dengan nada menyesal.


"Aku juga cinta kamu. Aku tau cahaya itu terang. Tapi seterang-terangnya cahaya pasti suatu saat akan padam. Artinya, nggak semua yang kamu miliki sekarang bisa bertahan hingga esok. Akan tiba saatnya dimana kamu akan merasa berada dalam kekelaman. Dan saat itu terjadi, inget aku Ya. Aku pasti selalu ada buat kamu."


Cahaya hanya menatap Ira. Ira yang ditatap jadi salah tingkah.


"Apa sih Ya. Jangan liatin gitu deh.. malu aku!!" Seru Ira sambil menutup mata Cahaya dengan satu tangan.


"Hahaha kamu lucu. Jadi pengen buat kamu ga bisa keluar kamar hari ini,..." goda Cahaya.


Wajah Ira sudah memerah.


"Hahaha. udah nanti gosong muka mu itu. Janji ya jangan menyerah sama penyakitmu dan jangan tinggalin aku." ujar Cahaya menyodorkan kelingkingnya. Ira juga mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Cahaya.


"Asal bukan kamu yang usir aku dan minta aku buat pergi, aku janji." Mereka berdua pun tertawa dan saling berpelukan.


.


.

__ADS_1


.


(**Di part ini anggep aja dialognya bhsinggris. Habisnya aku ga banjir bhs inggris :|) )


Pukul 3 Cahaya keluar dari perusahaan Dady. Pengretrutan pekerja baru sudah selesai. Cahaya berniat pulang ke rumah tapi ada sesuatu yang mengganggu. Di depan sana, ada cewek lagi tarik-tarikan tas sama laki-laki yang agak tua dari dia. Preman? kayaknya bukan karena dia sendiri. rentenir? mm bisa jadi. Tapi kok maksa banget gitu?


Cahaya pun deketin mereka berdua. Cewek itu nangis dan tetep keukeuh megangin tasnya.


"Nggak kak.. hikss aku udah ga ada uang. Ini buat sekolahku." Isak Cewek itu.


"Kebutuhan kakak lebih penting. Lagian tinggal minta papa aja susah ." seru si lelaki.


"Kak.... kakak kan juga punya uang sendiri. bahkan lebih banyak dari aku..." Ujar si cewek.


"Maaf? bisakah anda tidak kasar dengan perempuan?" Tanya Cahaya menyela. Ia kasihan dengan cewek itu. Susah sampai menangis tapi tetap dipaksa.


"Apa urusan lo?!" Tanya si cowok dengan bahasa Indonesia*.


Et dah tau gitu dari tadi pake bahasa indo kek. batin Cahaya.


"*Anda kakaknya? Berapa uang yang anda butuhkan saya beri. Lalu lepaskan adik anda." Ujar Cahaya masih sopan dan formal. ( uda pake indo gaes)


"Ah. Tidak udah,Sir. Saya bisa menyelesaikannya sendiri. " Tolak si cewek karena ia belum kenal dengan Cahaya.


" Berani ya lo!! Gue tantang lo balapan. Kalo gue menang lo kasih semua uang yang ada di dompet lo ke gue. Kalo lo yang menang, oke, gue ga bakal lagi minta uang ke adek kesayangan gue ini. Gimana?" Tantang si cowok pada Cahaya.


Cahaya yang dasarnya sudah lama tak balapan jadi tertantang juga.


"Oke. Setuju." Jawab Cahaya. Sedangkan si cewek tadi terlihat pasrah namun cemas.


"Tak apa. Serahkan pada saya. Saya orang Indonesia juga kok." potong Cahaya sambil tersenyum.


Akhirnya sore itu Cahaya dan cowok tak dikenal itu balapan motor. Dan kalian pasti susah tau pemenangnya. Tentu saja Cahaya*. (tapi ternyata efeknya sampai Cahaya demam )


"*T-Terimakasih Sir." ujar si Cewek.


"Cahaya. Gue Cahaya. Lo?" Tanya Cahaya sambil perkenalan diri.


"Avi. Saya Avi. Sekali lagi maaf sudah merepotkan. Bagaimana cara saya menebus kebaikan anda?" Tanya Avi.


Mendengar nama itu, Cahaya mematung.


Avi!


"Mm.. Cahaya? ada apa?" Tanya Avi heran karena Cahaya hanya mematung.


"Avi? "Tanyanya memastikan. Avi lantas terkejut karena Cahaya terlihat bingung.


"Ya. Saya Avi. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Avi. Ingatan Cahaya jatuh ke kejadian bertahun-tahun lalu saat ia SMP.


Avi! Avi! Avi!

__ADS_1


Nama itu terngiang ngiang di kepalanya dan membuat kepalanya sakit.


"Akhh!" rintihnya hampir jatuh terduduk. Namun Avi menahannya.


"Kenapa? Cahaya?" tanya avi panik. Avi memang gamang panikan.


"Ti-tidak. Sa-saya pergi." ujar Cahaya sambil berdiri dan menjauh dari Avi. Ada ketakutan di raut wajahnya. Avi yang melihatnya merasa aneh. Ada apa dengan Cahaya itu? Kenapa ia ketakutan? itulah yang dibenak Avi sekarang.


Cahaya menjauh dengan rasa takut yang bergejolak di hatinya. Ingatan itu kembali menghantuinya. Cahaya terus berjalan menjauh dari perusahaan dan meninggalkan mobilnya di sana. Rasa bersalah itu tetap ada. Diapun memutuskan untuk pergi ke Club, untuk menenangkan pikirannya


Yah, jika dipikir pikir semenjak pindah ke Belanda dia belum menyentuh alkohol sama sekali. Akhirnya dia pun masuk dan memesan beberapa Alkohol.


"Ingatan sialan!!" Gerutu Cahaya saat sudah begitu mabuk, tapi tidak bisa melupakan kejadian itu.


Nama yang sudah di dilupakannya selama beberapa tahun terakhir dan rasa yang sudah ia coba kubur dalam-dalam itu kembali lagi. Tapi da perasaan lega saat melihat orang itu, Avi, sudah baik-baik saja. Dia sepertinya sudah pulih.


Malam sudah lewat dan sekarang berganti subuh. Cahaya juga sudah mabuk berat. Seorang bartender menghampiri Cahaya yang tertidur dengan keadaan mabuk. Sebentar lagi Club akan tutup.


"Sir, im sorry. Kami akan tutup. Apa tuan akan menginap?" Tanya nya.


Cahaya bangun an hanya menyerahkan handphone nya. Sang bartender awalnya bingung, namun akhirnya dia memilih menelepon orang terdekat pelanggannya. Untungnya ponselnya tidak di kunci.


Panggilan terakhirnya adalah Dava. Akhirnya sang bartender menelepon Dava.


"Sir, maaf. Saudara anda mabuk berat. Kami akan tutup. Mohon segera jemput beliau di club xxx. terimakasih." Ujar sang bartender. Lalu panggilan itu dimatikan.


Tak berapa lama, Dava datang dengan muka kusut. Dia juga bangun tidur.


"Eh, Curut! Lo ngapain mabuk sih. Nyusahin aja." Gerutu Dava yang membopong Cahaya ke mobil.


"Mm? gue.. hik. lagi sedih...hik"Jawab Cahaya.


"Hh sedih. Cuih!" Ejek Dava lalu memasukan Cahaya ke mobil dan mengendarai nya pulang.


Sampai di rumah ia masuk ke kamar Cahaya dan Ira. Ira sudah tertidur. Tak tega membangunkan, akhirnya Dava dengan sadisnya melempar Cahaya ke ranjang begitu saja Untung saja Ira tidak terbangun. Tanpa apa-apa lagi dia keluar dan kembali ke kamar tamu lalu tidur lagi.


Sedangkan Cahaya terbangun dan melihat Ira di sampingnya yang tertidur lelap.


"Bidadari ku, periku. Jika apa yang aku takutkan terjadi, apa dia masih mau bersama ku?" gumamnya.


"Maaf belum bisa cinta sama kamu. Tapi seenggaknya aku udah sayang sama kamu. Sayang yang lebih dari sahabat saja." Lalu setelah itu Cahaya benar-benar tidur lelap karena pusing yang menderanya.


xixi*


Hai, kalian... Apa kabar??? Aduh sebenernya ide cerita ini melenceng jauh dari yang aku pikirkan sebelumnya.:( Aku masukin Avi karena inget kalo aku punya novel di ******* dan tokohnya dia. Tapi belum selesai sih. hehehe. jadi aku coba hubungin aja ceritanya biar jalan ceritanya lebih seru .


Lagi pula kalau aku masukin Gladis sekarang, itu kecepetan.Makanya skip dulu. Kalo penasaran apa yang terjadi sama Cahaya sebenernya baca 'Rasa untuk Rasya' di *******. Tapi jangan sekarang karena belum selesai sama sekali tu cerita. Masih setengah setengah kayak cerita ini.


Oh iya, makasih ya kakak-kakak yang udah support aku dan bantu aku dalam nulis cerita iniπŸ₯ΊπŸ₯Ί. Semoga kalian juga sukses dalam apapun hal yang sedang kalian kerjakan.. πŸ˜‹πŸ˜š untuk ke depannya mohon kerja samanya ya. Arigatou.....


salam aku,,

__ADS_1


Rin, (kembaran Rin di anime naruto πŸ˜…)


GANNBATEE!!!!


__ADS_2