
Jenny bangun dari tidurnya, dia melihat tubuh pria terbaring di sampingnya dan mereka tidak mengenakan sehelai benang pun. Dia memungut bajunya yang berserakan di lantai, lalu meninggalkan kamar hotel.
Saat sampai di apartemennya Jenny membuka pintu dan melihat Reyhan sudah duduk di sofa ruang tamu.
“Kemana saja kamu Jenny kenapa kamu baru pulang jam segini”
“abis terima tamu” jawab Jenny ketus
“Bukan kah aku sudah melarang mu untuk menerima tamu, apa kau tidak menghargai ku ?”
“Kenapa ? Kau tidak terima ? Kau bisa dengan wanita lain mengapa aku tidak bisa dengan lelaki lain ?”
“dia istri ku wajar jika aku masih menyentuhnya”
“Dan aku hanya simpanan yang kau butuhkan saat kau bosan dengan barang istrimu begitu ?”
“jaga bicara mu Jenny, berhenti menjadi ******* jika kau masih ingin bersama ku, aku tidak mau terlibat dengan wanita malam yang doyan ganti pasangan”
“Pergi dari sini aku tidak ingin berdebat dengan mu” usir jenny
Reyhan meninggalkan apartemen Jenny dengan rasa kesal. Jenny sangat jengkel mendengar ucapan Reyhan, seakan-akan Reyhan sangat memandang rendah dirinya.
***
Jenny pergi berbelanja, dia menghilangkan rasa kesalnya dengan shopping dan ke salon. Saat sedang asyik berbelanja handphone miliknya berdering.
“dimana kamu ?”
“kenapa kamu mencari ku ?”
“Jawab saja kamu dimana ? Kenapa tidak ada di apartemen ?”
“aku keluar menghilangkan stress”
“dimana ?”
__ADS_1
“Mol Z”
“Tunggu disitu”
Reyhan menutup panggilan dan segera mendatangi Jenny.
***
“ngapain nyusul kesini” tanya Jenny masih dengan raut wajah yang kesal
“Mau makan”
“ya sudah makan aja sendiri ngapain nyusul aku”
“ya aku maunya makan bareng kamu”
“Makan Saja sama istri mu sana”
“bosan, udah ah nggak usah debat terus”
“Maafin omongan ku tadi yah, dan jangan berani-berani menerima tamu lagi”
Reyhan memeluk Jenny.
Dari kejauhan Siska lagi-lagi mendapati mereka secara terang-terangan. Siska memotret adegan yang mereka perlihatkan. Kemudian dia menghampiri mereka
“memalukan sekali kalian”
Reyhan sangat terkejut melihat Siska begitupun dengan Jenny tapi dia berusaha menyembunyikan raut wajahnya agar tidak kentara dihadapan Siska.
“kamu lagi, kamu lagi. Kenapa ? mau ngelapor lagi ?”
“Tentu, dan kali ini aku tidak akan kalah dari mu”
__ADS_1
“Oh ya Celine tidak mungkin percaya dengan kata-kata mu Siska, berhentilah mengganggu kami”
“kali ini aku tidak bodoh Jenny aku bahkan punya bukti foto kalian saat berpelukan tadi, bagaimana pendapat mu Rayhan”
Reyhan dan Jenny gugup raut wajah mereka sangat jelas. Siska pergi meninggalkan mereka dengan penuh rasa bangga. Jenny menggenggam kedua tangannya penuh dengan amarah.
Takkan aku biar kan kau merusak hubungan ku. Gumam Jenny dalam hatinya.
“Sudahlah tidak usah kamu pikirkan biar aku yang membereskan Siska”
Jenny mengangguk kemudian mengikuti Reyhan, mereka pergi ke parkiran lalu mengantar Jenny ke sebuah salon kecantikan.
Jenny duduk di kursi dan pelayan salon menghampirinya.
“perawatan seperti biasanya ya non”
“iya mba”
Saat sedang menikmati pijatan tangan pelayan salon Jenny kembali di kagetkan dengan suara Siska,
“Wanita ******* seperti mu memang sangat jago dalam urusan laki-laki, bahkan Reyhan sendiri tidak pernah menemani Celine ke salon sampai menunggunya”
“Oh ya apa aku sehebat itu”
“Lebih baik kau segera pergi sebelum Celine melihat kalian 5menit kedepan”
Jenny tertengun dia bahkan menyuruh pelayan berhenti dan segera memakai bajunya lalu meninggalkan salon tersebut. Setelah mereka pergi seseorang menghampiri Siska
“apa kau sudah memotret mereka”
“sudah Bu”
“Simpam foto itu baik-baik dan berikan kepada Celine pada tanggal yang ku tentukan”
“Baik Bu”
__ADS_1