
Elang mencari Desi, dari keberadaannya seharusnya ia ada dikantor namun fakta mencengangkan.
" Desi enggak masuk katanya sakit."
ia mengenal Desi ia akan tetap masuk meski sakit yang diderita cukup memberatkan.
biasanya ia tidak masuk jika ada masalah pelik seperti dahulu yang pernah bertengkar dengannya lantaran menuduh ia masih menyimpan foto mantannya dan Elang tahu bahkan menuduh berselingkuh.
tidak, dengan langkah cepat Elang datang ke kost Desi namun tidak ada yang tahu para tetangganya dan Desi sama sekali tidak mengangkat telponnya tidak bukan mengangkat melainkan seperti memblokir nomor ponselnya.
sial. jika begini Desi seolah mengulur waktu agar tidak terlepas dan Elang tetap terbelenggu dengannya.
" Johan cari tahu Desi dimana pakai detektif kepercayaan kita." ponsel dimatikan ia bergegas ke sebuah tempat dimana dahulu Desi pernah mengajaknya dan memberitahu jika ia mengalami masalah, ia akan berlari ke tempat itu.
dengan kecepatan tinggi, ia melangkah kesana sebuah daerah pedesaan yang terdapat danau buatan indah dibelakang perumahan elit.
sial disana tidak ada. " dimana kamu Desi? apa sengaja kau melakukan ini atau kau mau balas dendam denganku lantaran aku tak mengabarimu beberapa hari ini? aku kalut dan bingung dengan hidupku ini. maafkan aku."
sedang Desi, ia berada di sebuah apartement tepatnya di roftop diajak oleh Keenan untuk menenangkan diri dan entah dorongan dari mana Keenan begitu peduli dengannya.
ia melihat Desi yang menatap kosong ke arah depan, dari sorot matanya banyak beban yang dipikul olehnya, mungkin jika Keenan menelisik masalah perasaan yang mendominasi.
" kau bisa bercerita denganku, jika mau kau bisa jadikan aku teman."
" aku bahkan tidak mengenalmu tuan."
" aku sudah bilang, aku akan bertanggung jawab, dan jika tidak ada perasaan, biasakan agar perasaan itu muncul seiring berjalannya waktu."
" aku bingung, aku tidak terbiasa dengan keberadaan orang lain."
" baiklah aku akan antar kau pulang jika begitu."
" bisakah tinggalkan aku sebentar saja?"
" baiklah setengah jam lagi aku akan kemari lagi." keenam meninggalkan Desi sendiri tidak bukan meninggalkan sendiri namun membiarkannya sendiri karna Keenan tidak benar benar meninggalkan Desi sendirian hanya menunggu disudut bangunan lantai atas itu.
Desi menangis, memanggil nama kedua orang tuanya yang sudah berpulang, mungkinkah ini memang sudah jalan dari Tuhan dirinya tidak dapat bersatu dengan Elang? akan kah ia harus menyerahkan sisa hidupnya dengan pria yang notabennya tidak sama sekali ia kenal?"
Almira sedang memikirkan ucapan yang dikatakan Elang tadi.
ia berpendapat jika Elang memang mau membalaskan dendam tapi tidak juga spekulasi bertebaran ia sampai bingung mengenai sang mantan suami itu.
__ADS_1
" apa ia aku harus bertanya dulu ke Gauri?" nanti saja ia mesti mengerjakan banyak project namun bukannya selesai justru malah kalut dalam pikiran.
jika ditanya apakah hati masih mencinta jawabannya ya hanya rasa benci terlalu besar terlebih apapun yang dilakukan dirinya dahulu selalu salah dimatanya, salahkah hati menolak bersatu?
Senja menyapa bumi, pekerjaan Almira selesai dan rencananya ia akan menjemput sang anak.
dengan langkah pasti, meninggalkan gedung ciputri grup ia siap melenggang menuju kawasan pondok indah.
sesampainya, sambutan hangat ia dapatkan.
" Almira," sang mantan mertua memeluk erat "kok udah jemput aja?"
" sesuai janji aku kemaren aku bakal jemput Gauri, apa dia menyusahkan?"
" enggak santai aja dia justru banyak keluar rumah katanya sih bosen sama suasana apartemen." Almira tahu itu hanya saja memiliki rumah tapak mesti banyak yang dipikirkan.
" mamah," Gauri memeluk mamahnya baru kali ini ia berjauhan dengan mamahnya.
" let's go?" dan antusias yang ditunjukan oleh Gauri.
" omah, Gauri pulang ya.."
" ia Omah."
keduanya pamit dan menuju ke apartemen, dijalan sesekali mereka berbincang dan tak terasa sudah sampai di apartement.
" mamah, aku ganti baju dulu ya."
" oke."
keduanya melakukan aktifitas masing masing dikamar, Almira masih memikirkan mengenai ucapan Elang yang mengajaknya rujuk ia tidak tahu apakah hati harus menerima atau tidak.
Gauri, alasan nya masih bernafas dan bekerja adalah dirinya, ia akan bertanya dengan Gauri mungkin dengan begitu ia akan menemukan titik terang atas kegundahan nya.
" mamah," rupanya saat Almira hendak ke ruang meja makan, sang anak sudah ada di meja, ia nampak senang mungkinkah dengan kehadiran mantan mertuanya sedikit mengubah perilaku sang anak yang cenderung cuek itu?
" kamu happy banget kayanya ya habis menginap disana? betah?"
" iya aku suka banget makan randang buatan omah enak." Almira tidak kaget, sang mertua yang notabennya orang Padang sangat jago memasak masakan khas daerahnya itu.
" kalo suka, kamu bisa menginap lagi."
__ADS_1
" really mom?"
" sure."
keduanya makan malam dalam diam, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu. selesai Almira membuka suaranya.
" mama mau bicara boleh?" dan dianggukan Gauri
" kalo papah kamu ngajakin mamah menikah kembali tapi mamah menolak, kamu marah atau bersedih atau sebaliknya?"
" mamah sendiri, apa yang mamah rasain?"
" kalo mamah menolak?"
" yaudah tolak aja. lagian aku juga mau punya papa yang berkualitas bukan plin-plan macamnya."
" beneran engga marah? kalo mau mamah menikah lagi dengannya, mamah ga masalah demi kamu."
" ia dan aku sama saja kaya enggak biarin mamah bahagia atas keinginan mamah, aku ga masalah kalo mamah mau menikah dengan orang lain kok."
" tapi kamu enggak akan ubah sifat ke omah dan opah kan kalo mamah menolaknya? dan mamah mau kamu tetap menganggap dia itu papah kamu, karena ia memang papah kamu kan." Gauri diam entah lah rasanya ada yang mengganjal dalam benak ia tak tahu itu.
" yaudah kamu masuk istirahat mamah juga ada kerjaan dikit harus dikerjakan besok ada kolega baru dari luar." Gauri bangkit dan pergi tanpa menyapa Almira tahu keadaan Gauri sedang tidak baik hanya saja membiarkan saja akan jauh lebih baik daripada terus membahas.
keesokan harinya selesai meeting panjang dengan klien, Almira hendak keluar untuk makan siang, rasanya ia ingin makan ramen.
namun ponsel berdering menandakan pesan masuk, Elang tertera disana
aku mau ketemu kamu makan siang ini bisa?
ck, ia malas hanya saja tumben sekali mantan suaminya itu mengajaknya bertemu? penasaran ia pun membalas.
aku mau ke resto Jepang dekat kantor
kembali memasukkan ponselnya ke tas yang ia bawa, Almira melangkahkan kakinya menuju restoran yang akan ia sambangi.
memakan waktu sekitar sepuluh menit karna harus memutar arah, Almira datang dan memesan ia sempatkan menelpon Gauri menanyakan keadaan nya, namun saat hendak memasukkan ponselnya Almira dikejutkan dengan kedatangan seseorang.
" maaf aku mau bicara sama kamu."
tbc
__ADS_1