
Almira bekerja seperti biasa, ia ingat jika beberapa hari lagi Desi, lolinya sang mantan suami akan menikah.
saat hendak melamunkan diri, suara ketukan membuyarkan semua dan ternyata itu adalah sang sekertaris Aline.
" maaf Bu, ada tamu dari PT.Perkasa Anugrah mau ketemu sama ibu?"
" apa kita sudah ada janji dengan mereka?"
" belum tapi mereka mau ketemu sama ibu langsung."
Almira tahu, PT.Perkasa Anugrah adalah perusahaan besar yang bergerak di bidang ritel dan e-commerce.
" bawa mereka ke ruang meeting saja."
" baik Bu." Almira sedikit menyelesaikan pekerjaan dan bergegas menuju ruang meeting.
seorang pria dengan postur tubuh tegap berusia mungkin sudah kepala tiga dengan kacamata hitam bertengger dan aroma mas kulinnya sangat kuat.
" hello selamat pagi,"
pria tadi memutar kursinya dan melihat wanita yang sudah ia caritahu sebelumnya.
" hallo nyonya Almira Sharman Daniswara."
siapa pria ini? kenapa ia menyebut nama marga sang mantan suaminya?
" jangan terkejut, santai and relax." berapa terkejutnya Almira melihat seseorang yang dahulu pernah ada dimasa lalunya.
" Keenan."
" yes, iam.. long time not see you Almira." wajahnya menegang, ia tidak tahu kenapa Keenan ada disini.
" silakan duduk, ada perlu apa datang kemari?"
" wae tidak maukah kau bernostalgia denganku Almira?"
" aku kira kau pasti belum menikah dan masih sering bermain dengan para wanita sewaan, let's see keliatan banget."
" cih kau ini masih sama saja ketus tidak di Washington tidak di Indonesia."
" ya ya ya, jadi perkasa anugrah itu milikmu?"
" Thats right, langsung saja aku mau kasih kami undangan sekaligus kerjasama yang menguntungkan, aku tahu kamu bisa membawa perusahaan besar seperti Ciputri hingga ke titik ini, makanya aku mau kerja sama denganmu." Keenan memberikan undangan pernikahan berwarna gold, sekilas Almira melihat nama sang pengantin wanita hanya menurutnya Desi adalah nama yang banyak dan umum disini.
" waw... kau bertobat untuk tidak bermain dengan wanita lagi?"
" ada penerus didalam dirinya."
__ADS_1
" kau menghamilinya.?"
" hahaha Almira Almira kau tahu aku bukan, ikatan tidak penting bagiku namun aku sadar aku mencintainya meski bertemu di club' karna mabuk dan menggodaku namun jika dari cerita yang dilontarkan, ia parah hati dengan kekasihnya yang memilih kembali ke mantan istrinya padahal sudah sembilan tahun bersama."
tunggu kenapa ceritanya mirip dengan kisah elang dan Desi?
" kau bilang saja pada mantan suamimu agar tidak berhubungan dengan calonku,"
" jadi ini Desi___"
" ya Desi, mantan kekasih dari mantan suamimu itu."
" hahahha jangan libatkan aku dengan kehidupan mereka."
" tapi kau penyebabnya bukan, dulu saat aku ingin menikahimu dan membesarkan anakmu kamu menolaknya namun mungkin inilah jawaban atas apa yang terjadi." Almira tidak habis pikir dunia begitu sempit hingga mengenai pasangan dari Desi saja ia mengenalnya.
" oke aku datang."
" kita urus kerjasamanya."
.
Almira merasakan mual dan pusing yang luar biasa, bahkan ia harus meminum obat namun pusingnya belum juga reda.
ia sepertinya harus kerumah sakit untuk memeriksakan diri jika tidak, pekerjaan akan terbengkalai dirinya tidak bisa melakukan apa apa.
" hallo dok. saya mau periksa badan saya tidak enak dan mual banget pusing."
dokter wanita itu memeriksa Almira, ia hanya tersenyum dan menelpon seseorang " kami free ga?"
"..."
" oke." mematikan telpon dan memanggil suster yang membantunya " sus bawa pasien ini ke ruang dokter Anna."
" baik dok."
" nyonya Almira ikut suster ini, nanti anda tahu apa yang terjadi dengan anda." dokter tadi tersenyum dan membuat Almira bingung apakah dirinya sakit parah karna harus dirujuk ke fasilitas lain?
ia mengikutinya dan betapa terkejutnya mendapati dirinya harus keruangan itu.
" silakan nyonya." masuk ke dalam, seorang dokter wanita cantik menyambutnya " hallo ibu, perkenalkan nama saya dokter Data bagia obgyn, apa sebelumnya ibu pernah melahirkan?"
" emm ya.."
dokter itu memberikan sebuah tespek dan juga alat tampung urin dan Almira sejujurnya masih keringat dingin benarkah dirinya hamil kembali?
setelah beberapa waktu dikamar mandi dan melakukannya, ia terkejut dan menangis merutuki kebodohan dirinya kenapa bisa hamil
__ADS_1
ya Elang, ini semua salah nya ia tidak akan memberitahunya perihal ini dahulu, Gauri ah memikirika nya saja sudah bergidik ngeri bagaimana dirinya menjelaskan kepada sang anak tersebut.
keluar dari toilet dan memberikannya pada sang dokter" ini dok."
" nah ibu bisa lihat ya kalo ibu sedang mengandung, sekarang kita cek dulu berapa usia kandungannya."
" ternyata masih muda sekali Bu dua Minggu selamat ya ... pasti anda tidak menyangka akan hamil kembali."
ya iyalah gimana mau nyangka orang nikah aja belum.
Almira hanya memasang senyum masam.
" nah ibu nanti bisa kerjasama sama suami untuk jangan berhubungan terlalu sering jarna berisiko, suami anda apa ikut?"
kaget dong ditanya gitu, Almira kikuk bukan kepalang dan saat hendak ia menjawab betapa terkejutnya ia mendapati Elang masuk ke ruang dokter.
" saya suaminya disini dok?"
what the___, oh siall kenapa dia bisa tahu Almira ada disini?
" kau, sedang apa ada disini?" desis Almira pada Elang, namun Elang nampak santai tak mengindahkan pertanyaan dirinya.
selesai, keduanya pergi dan mengambil obat, Almira memilih kembali menggunakan mobilnya namun betapa terkejutnya saat Elang ikut masuk kedalamnya.
" kau, mau apa?"
" kita harus bicara."
sudah Almira duga jika ini pasti mengenai pernikahan ah rasanya Almira ingin kembali ke Washington saja jika seperti ini.
" kita akan menikah secepatnya, aku sudah menyiapkan berkas nya dan Sabtu ini kita menikah."
what? menikah? Sabtu? itu artinya " 3 hari lagi? apa apaan kamu ini?"
" anak itu butuh orang tua yang lengkap dan aku enggak mau kejadian Gauri terulang lagi."
hei katakan pada pria brengsek ini dia lah yang memulainya bukan? jangan salahkan Almira " kau tidak berkaca? itu ulahmu semua."
" dan aku enggak mau bahas soal masa lalu."
" ck,,," Almira hendak menyalahkan mobil, ia membutuhkan istirahat.
keterkejutan dirinya hamil ditambah kedatangan Elang membuat kepalanya pening dan mual seketika.
namun Elang menyuruhnya untuk pindah di penumpang.
Almira hanya ingin semua cepat berlalu mau tidak mau ia hanya pasrah mengikuti kemauan seorang Elang Daniswara.
__ADS_1
tbc