
Gauri dan ke sembilan belas temannya sedang menikmati hari dimana ia akan bersenang senang dengan semua teman temannya.
makan, nonton, berbelanja, dan apapun asalkan happening namun sayangnya itu tidak dinikmati Gauri.
karena Gauri mencintai kesenangan dengan kesunyian dan hening.
" kamu enggak nyaman yakk?" Bara yang menangkap ekspres muka Gauri yang memang terlihat risih.
mendengar suara Bara, semua menoleh dan Gauri hanya menghela nafas, ia memang nggak nyaman hanya saja menjaga perasaan teman temannya yang mengajak dirinya.
" emm oke let's go kita balik atau ke cafe lagi nih, pake pribadi kasian nanti si Bara mendadak bangkrut." Rebecca memecahkan suasana yang mulai memanas, sedang wanita yang berada dibelakang beberapa orang, Chintya nampak mengepalkan tangannya, ia menyukai Bara namun tak pernah dilihat sedikitpun.
sama sama anak pengusaha namun masih dibawah Gauri, ayahnya Nathanael selalu memperingatkan Chintya untuk menjaga sikap karena keluarga Chintya bisa dibilang numpang hidup dibawah naungan Ciputri grup dan sebagai pelampiasannya, ia hanya mengumpat dari belakang.
dulu sekali ketika kelas dua SMA, Chintya sebelum tahu itu, ia melabrak Gauri bahkan menamparnya, dan Gauri hanya menanggapinya dengan datar namun ada yang mengadu ke pihak sekolah dan diutus.
kedua orang tuanya dipanggil dan terkejut Nathanael jika Gauri yang ditampar anaknya adalah pemilik Ciputri grup.
sejak kejadian itu, semua membatasi diri tapi tidak dengan Bara, dia semakin gencar dan merubah dari badboy menjadi sosok yang setia karena hingga kini ia tidak menjalin asmara.
sejujurnya, Gauri lebih nyaman jika dia dikenal sebagai anak biasa tanpa embel nama papah mamahnya hanya saja karena itu, memilih membentengi diri sendiri, se-takut itu dia dengan jatuh cinta.
dan Chintya, benar benar merubah sikapnya karena hampir terusir oleh ayahnya jika Almira tidak jadi memutus kerjasama dengan perusahaan keluarga Chintya.
" kalian mau ke cafe lagi?"
" iya Gauri udah aus lagi nih abis nonton iya enggak." Fla disini lah yang paling antusias.
" kalian cari cafenya nanti aku yang tanggung."
__ADS_1
" seriusan?" kompak semua orang dan Gauri hanya mengangguk.
" yes..." berhamburan menuju cafetaria yang berada di sebelah bioskop, disana banyak aneka menu dan cage dalam satu lantai, membuat semuanya memilih sana.
.
dua jam berlalu, Gauri tepat pukul tujuh sampai dengan taksi.
sopirnya pulang dan ijin karena anaknya sakit.
sebenarnya Gauri ingin diantar Bara namun lagi lagi ditolak dan alhasil yang mencari taksi online adalah Bara karena Gauri memang tidak pernah mengenakan aplikasi ojek online.
" kakak baru pulang?" Afanin yang sedang menonton tv dua bocah kembar kepala botak yang sedang menghadirkan adegan bermain mobil mobilan menemaninya.
" hhmm mamah sama papah dimana?"
" kamu mau ikut ke kamar kakak?"
" enggak deh bosan, aku mau masuk ke kamar aja."
" oke."
suatu hari, Gauri dan keluarganya sedang sarapan pagi, Gauri yang memang sudah tidak ada sekolah lagi sedang Afanin akan ke sekolah dengan Almira dan Elang dengan supir pribadinya.
" emm mah pah, aku mau bicara sesuatu."
" katakan." Elang sudah tau jika sulungnya sudah berkata demikian, maka memang ada yang mau dibicarakan.
" aku sudah mengikuti test ke universitas Harvard, Oxford dan Stanford dan aku juga ikut di Pennsylvania juga, aku diterima di keempat universitas itu bahkan Havard akan menyiapkan tempat tinggal dan beasiswa selama aku disana,.hanya saja aku mau sekolah jalur mandiri bukan beasiswa karena aku nanti tidak bisa sambil bekerja disana."
__ADS_1
prang
gelas jatuh yang dipegang Almira, " maaf bik tolong dibersihkan."
" baik Bu."
" memang kamu udah ada bicara sama kami?" Elang paham maksud dari kata kata yang ingin dikeluarkan istrinya namun kelu.
" ini hidup aku, jadi aku yang memutuskan dan kalian hanya perlu merestui langkah selanjutnya bagiku ini baik ini juga tidak lah buruk."
" tapi sayang, kami ini orang tuamu, wali-mu atapmu, jika kamu melakukan kesalahan jelas yang disalahkan kami namun sebaliknya jika kau berprestasi sudah tentu namamu yang baik."
" keputusanku sudah bulat, maaf aku sudah selesai makan." Gauri berlari Elang menghela nafas dengan kasar anaknya keras kepala tidak bisa dibicarakan dengan nada kasar juga, setidaknya bicara dalam posisi kepala dingin.
Almira? dia hanya tidak menyangka anaknya menjadi seperti itu.
" yaudahlah mas turutin aja."
" ya aku enggak masalah, tapi keputusannya itu besar takut menjadi bom waktu buat kita."
" oke kita bicara lagi nanti." ketiganya bubar dari meja makan dan menjalani aktifitas seperti biasanya.
Gauri hanya tidak menyangka keputusannya yang sudah tekad dan bulat malah dipersulit oleh orang tuanya, ia akan coba bicara lagi nanti.
hari kelulusan tiba, Gauri mendapatkan gelar murid berprestasi selama tiga tahun berturut bahkan nilai ujian nasionalnya mendapat urutan kedua tertinggi se-nasional dan atas predikatnya itu, Gauri mendapatkan beasiswa di Stanford dan Gauri menerimanya.
pertama kalinya ia berjauhan dari kedua orang tuanya membuat was-was hanya mereka percaya Gauri bukan seorang yang mengecewakan terbukti hanya dengan lima tahun, ia mendapat gelar MBA (Master of Business Administration) dan setelah ini ia siap menata hidup yang baru menjadi komisaris sekaligus CEO dari Ciputri grup yang sudah di merger dengan perusahaan Daniswara grup sehingga menjadi C-Daniswara Grup.
tobe continued
__ADS_1