
telpon Keenan berdering, salah satu yang bertugas menjaga Desi dan anaknya menelpon.
" ya."
" tuan, kami kehilangan jejak Bu Desi."
prang, Keenan menghancurkan gelas yang sedang digenggamnya pecah dan berserakan.
" bodoh bagaimana bisa kalian kehilangan jejak? masa menjaga wanita satu dan bayi dengan bawaan banyak saja bisa kehilangan, bagaimana bisa bangsat?" Keenan marah dan frustasi.
" kami mengikuti Bu Desi saat ia ke gedung Ciputri, sudah hampir tiga jam kami berjaga dari lobby namun tidak ada tanda tanda Bu Desi keluar?"
" apa? Ciputri? untuk apa dia kesana?" Keenan bergumam sendiri namun dijawab oleh ana buahnya, " saya tidak tahu bos."
" bukan kau bangsat, kamu jaga sampai semua pegawai pulang, sisanya aku yang urus." Tut dimatikan telpon sepihak dan ia mendial nomor seseorang.
" ada apa calon duda kau menelpon ku?" sial jika bukan Almira sudah dihancurkan wanita itu.
" jangan mengejekku, jika kamu mau suamimu aman, apa kau masih ke gedung Ciputri untuk bekerja?"
" aku bekerja wfh tapi memang sedang di kantor dan sebentar lagi kembali karena anakku masuk rumah sakit dan kembali hari ini."
" lalu, emm apakah Desi menghampirimu?" benar dugaannya jika Keenan akan mencari keberadaan Desi dengannya.
" ya tapi hanya sebentar dan sudah kembali."
" aisshhhh."
" apa kau mengikutinya? benar kalian akan bercerai?"
" apa kau begitu menginginkan aku menjadi duda? tidak masalah jika kau mau dengan senang hati, hahahha."
dude manis bicara tapi busuk pemikiran.
" aku lebih tertarik dengan suamiku yang menjaga legalitas area intimnya sorry aku ga minat sama kamu."
shittt dia menggodanya.
" oke aku hanya bertanya itu, kalo Desi datang lagi tolong tahan dan kabari aku."
" untuk apa? apa yang akan kau dapatkan?"
__ADS_1
" haish sudah kaya masih saja matre."
" tidak ada yang gratis bung." Keenan geram dan mematikan teleponnya sepihak sedangkan Almira hanya tertawa pasti Keenan sudah memerah menahan kesal dengannya ia tahu bagaimana sikap Keenan yang mudah tersulut emosi nya.
jika seperti ini ia akan melindungi Desi, hatinya tulus membantu namun Desi selalu saja ingin membalas kebaikannya.
" *maaf mbak aku enggak bisa terima ini sebagai cuma cuma, setidaknya aku harus membalas Budi mbak ke aku."
" oke kalo begitu, kamu bisa anggap ini hutang dan aku akan meminta sesuatu suatu hari nanti, anggap saja sebagai bayaran*."
itulah kata kata yang ia berikan kepada Desi kemarin.
telpon berdering, nama suaminya muncul memberitahu jika ia sudah dilobby, bergegas meluncur kebawah namun saat hendak melangkah ke area lift, perutnya sakit akibat kontraksi.
" awwsss..."
ini bukan kontraksi pertama yang ia rasakan namun rasanya sesuatu yang besar akan turun prediksi masih dua Minggu lagi namun kenapa dirinya merasakan mulas yang hebat.
seorang OB menghampirinya, " ibu baik baik saja?"
" telpon receptionis suruh suami saya di lobby ke sini, saya mau melahirkan sepertinya." sebisa mungkin Almira menahan sakit supaya tidak menimbulkan kerumunan namun ia gagal, semua orang membantu nya duduk.
lift terbuka Elang datang dengan gagah, ia menghampiri Almira dan menggendongnya ala bridal style.
Elang panik, ia ditemani Aline, supir kantor ia tugaskan mengambil perlengkapan bayi dirumahnya.
tak lama sampailah di UGD, ditangani dengan cepat kedua orang tua Elang yang masih dilantai atas kebawah bersamaan dengan Gauri yang sudah membaik meskipun masih pucat.
" dimana mamah, papah?"
" mamah lagi di tindak."
keempatnya cemas, Gauri masih lemah sedikit limbung namun dengan cepat Elang menahan beban Gauri dan memeluknya.
" biar papah bantu sayang." Gauri menurut ia didudukan oleh papahnya di kursi tunggu.
dokter keluar bertanya keluarga pasien.
" ibu Almira harus ditindak di ruang operasi karena kepala sang jabang bayi berada diatas dan sudah masuk pembukaan delapan."
raut cemas keempatnya nampak, berarti harus di SC.
__ADS_1
" enggak apa apa Elang, dunia melahirkan sudah biasa mengenai ini " dengan mantap ia mengurus semua keperluan SC dan menemani Almira di ruang operasi.
untuk pertama kalinya Elang masuk ke ruangan yang berhubungan antara hidup dan mati, melihat istrinya di sayat dibagian perut, hanya mencium sang istri secara bertubi tubi dan mengajaknya bicara banyak hal meski mengenai pekerjaan dan bisnis tidak masalah.
owek.... owek.... owek....
sesosok janin sudah dikeluarkan dari perut sang istri, ia melihat wajahnya mirip sekali dengannya.
" tolong dibersihkan dulu supaya bisa di adzani." Elang dipersilakan keluar karena operasi sudah selesai, Almira sedang istirahat dan menunggu masa observasi selama dua jam.
" suami Bu Almira."
" saya buk.."
" silahkan di adzani dulu di ruang bayi pak." Elang melangkah masuk dan melakukan sesuai dengan kepercayaannya.
ia cium bayi yang baru berumur beberapa jam itu, ia menangis membayangkan perjuangan Almira melahirkan Gauri saat dirinya egois menyesal sangat kenapa baru sekarang ia terbuka pintu hatinya.
dipeluk Gauri secara erat sambil menangis sesekali, kedua orang tua Elang paham jika Elang baru sadar perjuangan istrinya melahirkan begitu sulit.
" kalian pulang saja Gauri butuh istirahat."
" aku enggak mau papah, aku mau tungguin mamah."
" masih ada waktu beberapa hari lagi, kamu baru sehat nanti sakit lagi nular ke dedek bayi kasian dia." Gauri paham dan langsung menuju kamar inap untuk membersihkan rumah.
Oma Opa nya meminta Almira tinggal di rumah pondok indah hingga usia empat puluh hari.
semua akan mengurus acara akikahan seminggu lagi.
" siapa namanya Elang??" tanya opa Tedy yang penasaran dengan cucu keduanya.
" namanya adalah...."
Tamat..
hello genks ini season satu tamat yak.. akan dilanjut season dua untuk mendalami kehidupan Gauri ketika dewasa.
sengaja nama dan jenis kelaminnya masih aku sembunyikan soalnya biar pada penasaran eiiyttss tenang saja nanti akan ada di season dua okay..
sampai ketemu lagi love you all..
__ADS_1
dari pecinta Kim Taehyung aka V BTS 💜💜💜