Belenggu Sang Mantan

Belenggu Sang Mantan
BSM : Episode 6


__ADS_3

pengalaman adalah guru terbaik sepanjang masa.


belajar dari kesalahan sangatlah penting terutama bagi yang mulai bangkit.


namun jangan meremehkan seseorang yang sudah mulai bangkit.


karna bisa saja, kucing manis berubah menjadi singa garang.


**********


Almira melangkahkan kaki di sebuah menara Ciputri grup yang megah dengan elegan.


meski ia seorang petinggi, namun sikap ramah kepada setiap karyawan yang menyapanya tentu disambut baik.


dengan menggandeng seorang anak perempuan yang memaksa untuk ikut lantaran Miss Jenna, guru privat nya tetiba ada urusan mendadak dan hanya memberikan ya tugas.


tugas yang tidak main main.


dibawah naungan kak Sato, privat tsb sudah tentu memiliki lisensi yang diakui semua penjuru bumi Pertiwi.


" aku akan masuk keruang istirahat mama," membawa sebuah tas besar dan ipad ditangannya melangkah ke arah ruang yang dimaksud.


Almira mengerjakan rutinitas seperti biasa yang menurutnya membosankan namun menyenangkan.


telpon berdering, Aline sang sekertaris memanggil


" tuan Daniswara ingin bertemu dengan seseorang dari Pandawa group buk,"


" mau apa mereka? kita enggak ada meeting ataupun pembahasan hari ini, enggak bosen ketemu saya dari kemaren ber jam jam?"


" sepertinya akan ada hal penting yang mau dibahas Bu,"


" biarkan masuk."


ketukan tiga kali terdengar dan menampilkan sang sekretaris dan dua pria yang menatap nya intens namun manik Almira hanya fokus kepada seseorang


tuan muda Daniswara


" silakan duduk,"


salah satu pria nampak memuja tatkala melihat seorang Almira Sharman sedang yang satunya nampak jijik dan tak ingin berlama lama berada di sini.


" aku mau mengalihkan projects bersama Toshaba ke temanku, dia adalah salah satu dari team Pandawa grup, aku sudah memberikan detile project kerjasama kita."


" kenapa anda memutuskan sepihak begitu? harusnya diskusikan dahulu oleh kami dan tuan Adiwilaga."


karna aku ingin menjauh sejauh jauhnya darimu.


niat bertekad jika hari ini adalah pertemuan terakhir dengan sang mantan hanya saja sepertinya tuhan tidak berpendapat.


" saya sudah mempelajarinya, saya rasa enggak masalah."


mata genit seorang player selanjutnya yang Almira kenal karna karirnya yang sudah malang melintang


" maaf tuan Adi Cipta, tentu saya tidak akan meragukan kepiawaian anda hanya saja apa ini tidak mendadak, jangan membawa urusan pribadi dengan perusahaan apa itu disebut profesional?"

__ADS_1


skakmat


mulut pedas seorang Almira Sharman benar benar tepat di hati seorang Elang Daniswara.


" tapi saya rasa ini masih tahap awal,"


" jika memang tidak sanggup, kenapa tidak sejak awal memilih mundur."


mata Adi Cipta tidak henti melihat jandanya seorang Elang Daniswara ia tahu akan perjalanan sang sahabat yang terpaksa menikahi wanita itu.


ia sering mendengar umpatan dan cacian untuk sang wanita tsb namun ia memiliki respon lain, ia melihat daya tarik tersendiri untuk seorang Almira Sharman.


" nyonya Almira kenapa anda sangat cantik sekali?"


mendengar ucapan itu, Almira memandang Adi Cipta dengan senyum mengembang namun dalam hati mengumpat, seorang pemain tetap saja tidak mengenal dimana tempat.


" anda juga terlihat tampan sekali, memang tersenyum selain bisa membuat pancaran aura positif, juga memiliki peran besar ya pak membuat awet muda, banyak loh yang cepat tua hanya karna sering mengeraskan rahang."


saat berkata tsb, dirinya melirik Elang yang semakin mengepalkan tangan ia merasa dipermainkan dan dicoreng didepan sahabatnya sendiri sedang sang pelaku hanya tersenyum manis mengembang


senyum iblis.


" aku memang begitu menawan nyonya Almira."


" jadi, kenapa anda tidak menyanggupinya tuan Daniswara?"


karna adanya kehadiranmu yang buat seorang Elang Daniswara tidak nyaman.


Adi Cipta menerima panggilan dan keluar ruangan, ia akan menyerahkan semuanya pada seorang Elang Daniswara tsb karna ia hanya seseorang yang dipaksa ditarik agar menyelesaikan project tersebut.


" untuk?"


" menjeratku."


Almira tertawa puas segala sesuatu yang membuat seorang tuan muda Daniswara marah justru membuat Almira senang " apa untungnya?"


" kau masih menggilaiku sudah jelas bukan?"


" jangan mimpi disiang hari."


" aku tidak pernah bermimpi, yang ada kau."


saat hendak ingin melanjutkan, suara pintu terbuka memperlihatkan sosok gadis mungil berusia delapan tahun dengan iPad ditangannya.


" mama, aku udah selesai, bisa kirim ke Miss Jenna?"


mama? siapa dia? mata itu?


sang gadis hanya menatap sang mama dengan penuh damba tanpa tahu jika sang pemberi benih ada didalamnya


sedang memandang ya dengan intens.


" oh ada om, maaf Gauri enggak tahu ada om,"


Elang ingin mengeluarkan kata kata namun kelu, menatap intens pemilik gadis kecil tsb.

__ADS_1


seperti


" iya nanti mama kirim ke Miss Jenna ya, sekarang Gauri masuk dulu."


" Om, mama saya lagi sibuk, apa om kerjaannya cuma mandangin orang cantik macam mama saya? atau berniat menggoda mama saya karna dia sukses?"


glekkk


menelan saliva sendiri, rasanya sulit padahal ucapan tsb hanya seorang anak kecil.


" eh .. om.. mau..."


" mam jadikan kita makan steaknya? aku mau makan steak? pengen tahu makanan disini sama enggak kaya di US."


hah


ia membandingkan makanan di indo dengan di US tentu saja jawabannya


" pasti enak disini lah," Almira bangkit dengan meletakkan iPad tugas sang anak yang sudah ia kirim ke Miss Jenna sedang Gauri sedang menunggu untuk berdampingan dengan sang mama.


" boleh saya ikut,"


seorang Elang Daniswara bicara demikian


" loh orang sibuk mana sempat makan sama kami yang tidak kenal dekat, apa mama mengenalnya?"


" tidak."


" iya,"


Gauri hanya acuh dan menggenggam kembali sang mama yang sudah membuka pintu, Adi Cipta yang sudah selesai dengan telponnya ingin makan siang dengan sang kolega didekat sini dan ingin mengajak Elang namun, melihat Elang mengekor seorang Almira dan seorang anak kecil ia mengejar Elang


" woy ******, malah ninggalin gw, gw ada meeting sama klien, elo jadi ikut makan sama gw ga?" dan dijawab dengan gelengan kepala Elang " elo duluan gw ada misi."


segera berlari mengikuti langkah Gauri dan Almira yang sudah masuk lift membuat emang mengumpat dirinya sendiri dan sang sahabat


" shittt bisa bisanya kehilangan jejak."


ia terus menuruni lantai dengan tangga, cukup menguras tenaga rupanya menuruni sepuluh lantai dengan tangga darurat.


hingga sampai loby, nyatanya keduanya belum sampai menunggu di depan receptionis yang masih keadaan kosong karna jam makan siang.


tepat dimenit kelima keduanya muncul, daya tarik seorang gadis kecil membuatnya tertarik nak magnet.


melihat ekspresi sang mantan suami, Almira bersorak dalam hati, ia berkata pada sang anak " Gauri masuk ke mobil dulu."


" mau ngapain mah? ngurus om ini? apa dia lagi cari kerjaan ke mamah sampai ngejar mama dengan turunin tangga dari lantai sepuluh?"


Elang merasa tertampar dirinya mendengar kata kata anak kecil tsb tidak lihatlah ia menggunakan jas mahal seharga dua puluh juta dan ia menuduhnya membutuhkan pekerjaan?"


" boleh saya ikut?" saya belum mendengar ucapan boleh dari kalian?"


" Gauri," melihat kode seperti itu membuat Gauri memutar bola matanya dengan malas namun menuruti apa yang diucapkan sang mama.


" kenapa?" ucapan pertama Almira setelah Gauri masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


tbc


__ADS_2