Belenggu Sang Mantan

Belenggu Sang Mantan
BSM : Episode 37


__ADS_3

" bagaimana keadaannya mah?" Almira datang tanpa ingat dirinya membawa dua nyawa karena khawatir akan bagaimana Gauri.


" sudah membaik, maaf mamah enggak tahu Gauri ada alergi obat semacam Paracetamol."


" aku mau masuk," Almira menerobos dua orang usia senja tersebut diikuti Elang yang nampak jauh lebih tenang.


melihat Gauri terbaring lemah dengan infus di punggung tangan kiri dan juga saluran pernafasan yang dipasang di hidung, membuat Almira merasa pilu, sedih dan mengingat ketika Gauri berusia 2 tahun yang dinyatakan hampir meregang nyawa karena sesak nafas akibat alergi Paracetamol.


" kakak." Almira menangis dalam diam melihat keadaan Gauri.


Elang dibelakang, mengelus punggung sang istri dengan lembut sambil berkata, " Gauri kuat, dia anak kuat."


" dia berharga buat aku, aku takut banget Gauri gagal nafas kaya waktu umur dua tahun dulu ketika di Washington."


" sini duduk di sofa, kamu lagi hamil nanti capek kasian bayinya." Almira menurut dirinya juga lelah baru menikmati indahnya bersama sang suami akibat permasalahan membuat hubungannya sedikit merenggang meski tidak genap satu hari.


keadaan Gauri membaik, mamah Mayang membujuk Almira untuk kembali karena kondisi kehamilan yang besar dan udara rumah sakit tidak baik mau tidak mau ia menurut dan dirawat selama dua hari, Gauri kembali ke pondok indah dan dirawat disana.


awalnya Almira tidak setuju namun bujuk rayu dari ayah, mamah dan suami nya membuat Almira menghela nafas dengan kasar untuk menerimanya.


saat hendak ingin menuju ke rumah mertuanya untuk menyambut kepulangan Gauri sore ini, Almira hendak ke kantor dulu, ada berkas yang harus ditandatangani dan berkas tersebut penting, ia sudah ijin dengan Elang dan diijinkan dengan catatan kembali sebelum makan siang, Elang akan menjemput tepat saat makan siang.


ia melangkah ke gedung Ciputri, melangkah pasti meski agak kesulitan naik ke atas karena kehamilannya memang sudah memasuki usia 38 Minggu.


" ingat jangan kelelahan jangan lupa ngemilnya susu hamil juga." pesan Elang sebelum melepas sang istri masuk.


" ia aku pamit."


" siang aku jemput."


" hmm." Almira mencium takzim sang suami dan diberikan kecupan di dahinya.


melangkah ke dalam, banyak karyawan yang menyapa dan menawarkan bantuan namun hanya dengan senyum dan gelengan dijawab.


sampai dengan selamat di gedung tertinggi, ia meregangkan tubuhnya sesaat di kursi kebenarannya, bergelut dalam pekerjaan sambil meminum susu hamil siap minum yang dibelikan Elang tadi di minimarket.


Aline memberikan semua berkas yang dibutuhkan tanda tangan, tak lupa di cek dan Almira fokus mengerjakan.


telepon dari receptionis, seorang wanita ingin bertemu merasa tidak memiliki janji awalnya ditolak namun tamu tersebut bersikukuh untuk bertemu mau tidak mau ia menerimanya.


ketukan pintu terdengar kata " masuk," sebagai izin untuk tamu itu masuk.

__ADS_1


" Bu, ini tamunya sudah datang."


" suruh masuk saja, saya malas ke ruang meeting kecil." karena efek kehamilan yang sudah besar dan dianggukan Aline sang sekertaris.


" selamat pagi mbak Almira." suaranya terbata dan sangat familiar, Almira yang asyik sedang mengecek berkas menaikan pandangannya pada sang tamu.


" Desi."


Almira berdiri kaget? tentu saja namun ia berusaha tak menampilkan kegugupannya.


dengan membawa bayi dan dua koper besar, kesusahan sekali rasanya menaiki barang dengan kapasitas besar itu.


" silakan duduk, emmm itu bayi jamu tidur ga?"


" iya mbak."


" kamu bawa masuk ke dalam ruangan itu, nyalahin AC nya kasian digendong gitu pasti pegel." Desi tercengang, baik sekali Almira ini masih sempatnya memperhatikan bayi kecilnya itu.


" apa enggak apa apa mbak?"


" udah bawa masuk sana, kasian dia."


bergerak sedikit diberi sentuhan pukpuk putranya kembali tenang.


ia bergegas keluar dengan tujuan utamanya.


" maaf mbak lama tadi agak bangun jadi aku pukpuk sebentar."


" oke, duduk." Desi duduk dimeja sudah disiapkan Snack yang biasa Almira dapatkan dari kantor dan minuman botol kemasan yang masih dingin.


" diminum dan makan aja kuenya."


" makasih mbak, saya kesini mau bicara sesuatu sama mbak, saya mau minta maaf untuk segala kesalahan saya di masa lalu yang terlalu egois sehingga mbak bercerai dengan suami mbak dan ketika acara pernikahan saya dan emm calon mantan suami saya. mungkin minta maaf saja enggak cukup tapi saya melakukan itu, selain saya mengakui kesalahan saya, saya juga mau hidup tenang bersama buah hati saya ke tempat baru."


" mau kemana memang kamu? ketempat bude kamu itu kah?" dan dijawab dengan gelengan kepala Desi.


" bude kecewa sama aku mbak saat nikahan aku dan insiden itu, merupakan pertemuan terakhir aku sama beliau, karena ia malu katanya aku malu maluin bawa petaka, jadi aku enggak berani ke bude atau sekedar tanya, keberanian saya nol mbak."


ia mulai tertarik dengan cerita Desi.


" jadi kamu mau kemana sekarang?"

__ADS_1


" belum tahu mbak, cari kontrakan yang murah dulu terus cari kerja kalo bisa yang bisa bawa anak enggak apa deh gaji kecil asal anak kepegang."


terlalu bahaya, ini Jakarta bisa saja anaknya di culik dan dijual sudah banyak sindikat perdagangan bayi.


" emm aku mau bantu kamu, tapi dengan syarat."


Desi melihat Almira, ia masih mencerna, bantuan?


" aku bakal bantu kamu buat tempat tinggal, kamu enggak perlu bayar anggap aja kamu tempati apartement aku sebagai gantinya kamu mau bantu bersihin tempat aku itu, toh itu kosong kalo terisi sama kamu jadi keurus betul kan? lagi pula unit itu kosong tempat tinggal aku sebelum di rumah yang sekarang, tapi aku mau ini rahasia kita berdua tidak ada yang boleh tahu kamu aku bantu ataupun kamu tinggal dimana, setelah anakmu dan kehidupanmu jauh lebih baik, kamu bisa tinggalin tempat itu, karena aku ga mau kamu bawa orang lain ke apartemen aku." Desi mengerti ia bersembunyi dibawah naungan Almira.


" apa tidak apa apa?"


" Keenan pasti bakal cari kamu kemanapun dan emm kamu memang siap anak kamu diambil dia? biar Keenan tolol karena kekanakan tapi dia dilimpahi materi dan kekayaan juga bisnis bisa saja kan dia mata-matain kamu, aku yakin sekarang pasti ada salah satu anak buahnya nungguin kamu."


Desi nampak berpikir bagaimana caranya ia mencari nafkah namun benar yang dikatakan Almira Keenan berkuasa pasti melakukan apa saja.


" aku mesti kerja mbak."


" aku akan kasih kamu kerjaan yang wfh, enggak masalah kamu juga bisa urus anak kamu, tapi kamu resiko nya kerja wfh enggak ada kata jam pulang kantor artinya standby ketika dibutuhkan."


" mau mbak, beneran embak enggak masalah mau nolongin saya."


" saya pernah diposisi kamu dan itu sakit banget."


benar disini Desi tahu mana musuh mana teman mana keluarga, disaat dia sedang butuh bantuan temannya tidak ada yang mau menolong dengan alasan macam macam namun Almira, yang notabennya pernah ia sakiti mau membantunya.


tak henti Desi mengucap terimakasih, namun ada sesuatu yang mengganjal, " embak kok mau bantu saya?"


" aku ngerasa kamu lagi menuai apa yang kamu tanam dulu, menyakiti aku dan sekarang kamu merasakan kesakitan itu kan?" Desi menunduk ia malu namun benar ucapan Almira.


" dan aku juga merasa kamu udah cukup dapat apa yang kamu tuai, asal tekad mau berubah its okay aku enggak masalah hanya saja perjanjian kita tetap tidak ada yang boleh tahu masalah ini."


" baik mba." Almira tidak mau semua salah sangka, niatnya tulus membantu mantan rivalnya biasanya netizen akan menyinyir sikap baik seseorang dengan alasan pansos ataupun pahlawan sok baik masa bodo maka dari itu lagipula jangan sampai Elang tahu.


selesai, ia menyuruh supir kantor terbaiknya, menjelaskan duduk permasalahannya jika ada seseorang yang mengikuti Desi, akhirnya lewat pintu belakang ia meninggalkan Ciputri grup.


Almira tahu dari rekaman cctv yang merekam area depan dan lobby, ada satu mobil yang terus memandang ke arah gedung dan ia curigai itu orangnya Keenan.


" Keenan bodoh."


tobe continued.

__ADS_1


__ADS_2