Belenggu Sang Mantan

Belenggu Sang Mantan
Gauri Sharman Daniswara


__ADS_3

pelik dan juga menyebalkan, dua kata yang saat ini sedang dialami oleh seorang Gauri Sharman Daniswara yang terus saja di pertanyakan oleh kedua orang tuanya mengenai pernikahan.


sejujurnya dia lebih baik menyendiri seumur hidupnya, pernikahan dimatanya adalah sebuah kisah rumit dan sewaktu bisa membuatnya jatuh ke jurang, sama seperti kala dahulu mamahnya yang dibuat terjatuh oleh seorang Elang Daniswara meski sekarang keadaannya sudah jauh membaik bahkan kehadiran seorang Afanin Kamala adalah jawaban dari sebuah keharmonisan keluarga Elang Daniswara.


hanya saja, ingatan dan juga rasa trauma akan hubungan sejujurnya membuat Gauri enggan untuk menetapkan hati.


jika saja mamahnya tidak memaksa untuk menyuruhnya membangun rumah tangga, sudah tentu Gauri tidak akan memusingkan mencari seorang pria bayaran demi sebuah misi agar tidak dianggap aneh ataupun kedua orang tuanya.


" baik mbak, saya mau menerima pekerjaan itu." senyuman seorang Gauri memang menenangkan namun mematikan, semua kalangan pengusaha yang pernah berurusan dengannya pernah merasakan bagaimana tangan besi seorang anak muda yang selalu berhasil meyakinkan lawannya entahlah keturunan seorang Daniswara memang tidak diragukan lagi.


Rasya Putra, setelah beberapa hari meminta waktu untuk berpikir menerima ajakan bekerjasama dengan imbalan besar akhirnya menyetujui, demi kesehatan sang ibu.


" tapi saya minta 300 juta dimuka untuk pengobatan ibu saya."


" oke hanya saja, saya mau kamu keluar jadi waiters disana dan menerima pekerjaan di perusahaan saya, saya yakin hanya sebagai pegawai saja kamu mampu bukan?"


Rasya bingung dengan calon majikannya, ia berhenti bekerja, " Apa saya akan digaji jika bekerja disana?"


bodoh, " tentu saja kamu itu lulusan apa memang?"

__ADS_1


" hanya SMA."


tidak apa, hanya satu tahun bukan ia akan berurusan dengan orang ini, selebihnya ia tidak akan berkomitmen ataupun memulai hubungan diluar kontrak, tidak tahu saja jika tuhan mampu membalikkan hati seseorang.


" baik, gedung Daniswara, setelah itu bilang saja sudah ada janji dengan saya dan jangan lupa atitude pakaian ke kantor tidak boleh menggunakan levis."


Gauri pamit dari restoran tempat keduanya bertemu, ia harus menyusun sebuah strategi agar kedua orang tuanya mau dan yakin akan sosok Rasya yang tengah dibentuk oleh Gauri, bukan ingin memainkan sebuah pernikahan hanya saja ia tidak mau dipusingkan sebuah urusan hati.


" Darimana?" Almira datang dengan gaun tertutup dan hijab yang sederhana namun mempesona, apapun yang digunakan nyonya Daniswara selalu anggun meski hanya mengenakan pakaian ratusan ribu saja.


" ngopi sebentar di cafe." tidak bohong  bukan jika Gauri memang hanya ke Cafe shop untuk menikmati secangkir Americano yang pekat namun menenangkan itu.


" sendiri aja? nggak ketemuan sama client."


" mamah hanya mampir, udah sebulan ini anak mamah enggak pernah pulang ke rumah orang tuanya."


" aku sibuk mah."


" sibuk apa? keluarga belum punya tapi sibuknya ngalahin wanita karir."

__ADS_1


" aku kan memang wanita karir." mamah saja yang selalu menyuruh berumah tangga yang rumit hanya demi seorang keturunan.


" makan dulu."


" aku udah makan sekalian."


" jangan bohong,   mamah tadi tanya sekertaris kamu kontekan katanya kamu nggak isi perut dari pagi." haruskah Gauri memecat sang sekertaris yang sudah berani berkomplot dengan mamahnya di belakang dirinya? beruntung hanya dirinya yang tahu soal Rasya.


" dasar lemes."


" demi kebaikan kamu."


" aku masih mau meeting sepuluh menit lagi, mamah masih mau disini?" sangat hafal akan karakter Gauri ang memilih menghindar perbincangan lama dengannya, selain menghindari menyakiti hati juga mnghindari pertanyaan soal urusan hati.


" nggak boongin mamah kan?"


" tengok saja ruang meeting jika tidak percaya."


berdiri dan mengambil sebuah amplop coklat, Almira letakkan di depan Gauri, " jika belum ada jodoh bisa diliat dulu itu anak temen mamah semua baik baik dan juga santun."

__ADS_1


" mamah jadi tempat ajang biro jodoh?"


" siapa tahu anak mamah nggak bisa milih cowok tepat." memilih pergi dan meninggalkan tempat kerja sang anak, Gauri menghela nafas akan ulah sang mamah yang selalu saja menekan untuk segera menikah, jika seperti ini terus ia harus secepatnya meresmikan pernikahannya dengan Rasya agar segera selesai, kedua orang tuanya tidak mempermasalahkan mengenai asal usul yang bukan dari kalangan berada, asal agama dan mahromnya dijaga dengan baik, isnya allah dipermudah.


__ADS_2