
Yang ditunggu akhirnya datang, sore ini sesuai janjinya kepada sang ayah dia kembali kerumah orang tuanya setelah pulang kerja lebih tepatnya jam enam sore.
" Assalamualaikum."
Elang yang sedang berada diruang tamu berdiri dan tersenyum, kembarannya datang meski berbeda generasi, " waalaikumsalam akhirnya kamu Dateng juga." Elang juga memeluk sang anak meski sebenarnya Gauri agak risih biar bagaimanapun dia sudah dewasa dan sang ayah adalah pria dewasa.
" Mamah mana?"
" Lagi masak."
Gauri manggut-manggut dan pamit menuju kamarnya yang sudah sangat lama sekali ia tinggali, ia membuka kamar miliknya yang berada dilantai dua, tidak ada yang berubah, ia sejujurnya amat merindukan kamar yang sudah sejak lama ditinggalinya itu.
Memilih membersihkan diri dan menuju kelantai bawah, masakan mamahnya amat enak dam sejujurnya Gauri merindukannya, hanya sikap gengsi terhadap kedua orang tuanya sangat besar, takut dibilang tidak bisa mandiri.
" Selamat malam mah, pah." Almira yang sedang menata makanan terkejut sang anak sudah datang lantaran Elang tidak bicara apapun atas kedatangan sang anak.
" Sayang kapan datang?" Almira memeluk sang anak dan mencium pipi nya.
" Aku sudah datang daritadi mah, hanya ketemu papah diluar."
" Papahmu tidak bicara apapun."
" Mamah kok masak banyak tumben? Mau ada tamu?" Gauri merasa heran saja masakan mamahnya amat sangat banyak seperti akan kedatangan tamu.
Almira terkejut, anaknya memang luar biasa bisa menebak apapun, " ada tamu nanti."
Saat Gauri ingin bertanya siapa, suara bel terdengar, Almira bernafas lega ia terselamatkan sambil tersenyum penuh arti, " sebentar ada tamu kayanya udah datang."
Afanin, sang bungsu datang dengan gamis berwarna soft pink dan hijab senada, penampilan Afanin memang sangat berbeda dengan sang kakak yang suka pakaian sedikit formal dan berkelas, tidak dipungkirinya jika siapapu. Melihat Gauri maka yang berasal dibawah level pasti memilih mundur.
" Assalamualaikum kak, kapan datang?" Afanin takzim kepada sang kakak sambil tersenyum, anak SMA ini memqnt sangat santun.
" Waalaikumsalam, aku dari jam enam tadi, kamu mau kemana? Rapi gitu?"
" Ada acara taklim malam Sabtu kak," Gauri hanya manggut-manggut saja mendengar apa yang dikatakannya.
__ADS_1
Terdengar suara pria dewasa bersama sang mamah menuju ke arah dapur, dan pria yang sedari dulu sangat Gauri hindari adalah tamu sang mamah, " Bara." Gumam Gauri dalam hati.
" Gauri, apa kabar??"
Dengan datar Gauri pun menjawabnya, " seperti yang kamu lihat, aku baik." Gauri mencium sesuatu yang tidak biasa dari sang mamah, ia menelisik wajah Almira dan Almira tahu itu, ia hanya tersenyum saja melihat anaknya yang sedang mencari sesuatu.
" Mamah gak sengaja ketemu sama Bara kemarin, katanya dia mau ketemu kamu, ya karena mamah nyuruh papah buat dateng, ya sekalian aja biar Bara bisa lihat kamu." Almira mengeluarkan pendapat sendiri memang begitu adanya.
" Ia benar, aku kuliah bareng sama kamu di luar negeri tapi selama disana maupun setelah lulus kita enggak pernah ngobrol ataupun sekedar sehai.
" Gimana mau ketemu, kamu saja asik godain cewek sana."
Bara yang sedang minum pun tersedak akan alasan yang dikatakan oleh Gauri, " kenapa dia bisa tahu?" Batin dalam hati.
" Gausah heran aku tahu darimana, jurusan yang aku ambil rata rata bicarain tentang kamu, jadi tanpa aku caritahu aku tahu semua lagian mereka merasa jadi korban kamu, kamu suka PHP mereka."
Sial, niat hati mau mengambil hati Gauri dan keluarganya agar perjuangannya selama beberapa tahun ini tidak sia sia, malah sudah dipandang jelek duluan ah apa Bara salah menyukai Gauri, wanita yang tidak pernah bisa Bara taklukan?
" Emm.. masih main main, kalo yang ini mau serius, gapapa kan Tante?" Bara harus cari pembelaam agar dapat dukungan dari orang tua Gauri, tidak tahu saja jika Gauri bukan type orang yang suka diatur oleh orang lain meski dia orang tua kandungnya sendiri.
" Ya, makanya sekarang harus tetapi pilihan yang mau dituju." Almira akhirnya membuka suaranya agar terasa tidak canggung.
Elang datang, ia melihat keadaan meja makan yang terasa canggung, " loh kenapa tidak dimulai saja makan malamnya?"
" Nunggu kamu lah mas."
Afanin sebenarnya mengerti akan keadaan yang ada, namun ia hanya menjadi penonton saja lantaran baginya itu urusan orang dewasa, memilih menikmati makan malam dengan tenang.
" Aku denger kamu lagi dekat sama Celine? Benar Bara?"
Aduh ini Gauri benar benar menyerangnya, apa dia sudah tahu atau mencari tahu sebagai alasan menolak dirinya yang secara terang terangan mau mendekati dirinya?"
" Loh kamu bilang ke Tante kamu enggak dekat dengan siapapun?" Almira berkata begitu lantaran memang sebelum mengundang, dia sempat bertanya mengenai Bara yang dekat dengan siapa karena Almira tidak mau jika ada yang mendekati anaknya dalam keadaan sedang dekat dengan orang lain.
Susah payah Bara menelan salivanya, ia memang sedang dekat dengan Celine namun hanya untuk mau main main saja.
__ADS_1
" Celine cuma ya buat temen aja Tante."
" Apa temen bisa dijadikan partner kissing?"
" Ya enggak apa kan selama keduanya enggak keberatan."
" Mungkin ini kali ya yang dibilang PHP ketika anak kampus Deket sama kamu."
Skakmat.
" Aku udah selesai, aku mau ke kamar, " selera makan Gauri kacau karena Bara, dari dulu ia tidak suka dengan Bara meski sebaik apapun Bara kepadanya.
Merasa tidak enak, Almira meminta maaf pada Bara, " maafin Gauri ya dia kalo sudah bau konspirasi suka begitu."
" Enggak apa Tante, saya juga minta maaf, mungkin kali ini saya mau mundur aja."
" Maaf ya, semoga dapet yang baik."
Setelah acara makan malam selesai, Almira dan Elang melakukan pillow talk sebelum tidur, aktifitas ranjang yang panas sudah menurun mengingat keduanya sudah senja.
" Mas,"
" Hmmm."
" Menurutmu, salah gak sih aku cariin jodoh buat Gauri, dia sudah secara terang dan langsung bilang tidak tertarik akan membangun rumah tangga, aku takut dia bakal jadi perawan tua aja mas."
" Aku juga mikir gitu, tapi kayanya jangan dari kalangam pebisnis deh, kasian nanti dua duanya sibuk."
" Jadi?"
" Coba kamu tanya Afanin ada seseorang kenalan pengajar atau siapa yang usianya siap menikah asal jangan pebisnis."
" Kok Afanin?"
" Ya karena kami lingkup pertemanan Afanin jauh lebih besar."
__ADS_1
Benar apa yang dikatakan suaminya, ia sepertinya harus mencari calon mantu diluar pengusaha, " aku coba cari tahu deh."
Tobe continued