
" aku enggak suka ya dijodoh jodohin sama kalian jangan mimpi aku bakal mau balik kerumah ini dan menerima perjodohan yang kalian susun buat aku, itu konyol benar kan dugaan aku Bara adalah konsiprasi mama buat jodohin aku sama dia? Aku tahu bagaimana menjijikkannya dia saat aku sekolah dan kuliah dulu di luar mah," Gauri sangat marah ketika ketika mendengar mamahnya mencari tahu teman yang memiliki anak yang usianya sekitar 25-30 tahun hanya agar menjodohkan dirinya.
" Tapi ini demi kebaikan kamu, kamu tahu apa yang dipikirkan mamah saat kamu bilang tidak mau berumah tangga? Ingat umur kamu itu sudah dua puluh lima tahun, sudah pantas menikah, jangan sampai di usia tiga puluh tahun kamu baru mau menikah, akan sangat terlambat."
" Kalian yang menyebabkan aku mengalami trauma akan yang namanya pernikahannya."
" Mamah tahu itu, makanya mamah mau cari yang terbaik."
" Terbaik buat mamah belum tentu baik buat aku."
Almira nampak berpikir, bagaimana caranya agar dia dapat membuat sang anak menikah dengan cepat ataupun mengubah pemikiran sang anak.
" Mamah kasih kamu waktu selama tiga bulan ini, kamu cari calon suami sendiri jika memang tidak mau mamah jodohkan, lewat dari itu, mamah akan langsung menikahkan kamu dengan pilihan mamah atau, kamu mau kehilangan perusahaan tidak masalah mamah akan kasih semua perusahaan ke badan amal atau mamah akan persiapkan untuk Afanin."
" Afanin itu tidak tertarik dengan perusahaan."
" Oke mamah akan kasih ke badan amal."
Gauri menatap nyalang kepada mamahnya, " mama konyol, hanya karena aku tidak mau nikah, mamah melakukan itu semua."
" Mamah melakukan ini demi kebaikan kamu."
" Mamah lupa, siapa yang membangun karakter seperti ini ke aku?"
Almira diam, dia lupa semua yang berada di diri Gauri adalah hasil pembangunan karakter darinya.
" Sudah, mamah tetap kasih waktu tiga bulan kalo tidak, mamah akan tarik perusahaan." Gauri mengerang, hasil usaha selama ini akan diberikan ke badan amal? Oh tidak bisa ia akan melakukan apapun agar posisinya bisa baik baik saja di perusahan, ia sudah lama ingin menjadi bos di perusahaan Ciputri Daniswara grup, dan berhasil melakukan trobosan baru bahkan digadang sebagai perusahaan terbesar mengalahkan perusahaan otomotif yang berasal dari Jepang maupun ritel bank yang ada di negeri ini tidak akan kerja kerasnya ia sia siakan.
" Oke tiga bulan aku bakal cari calon suami, kalau aku berhasil, mamah jangan utak atik apapun yang sudah aku lakukan dan berikan pada perusahaan."
__ADS_1
" Ya, asal kamu menikah dan juga memiliki minimal satu orang anak, maka itu semua tetap jadi milikmu."
Gauri akhirnya memilih pergi dan kembali ke apartemen, sepertinya mamahnya tidak main main dengan ancamannya kali ini.
Jika seperti ini Gauri harus mencari seorang pria yang mau menjadi suami namun dengan kontrak atau perjanjian, ia tidak mau hidup bergantung terhadap seseorang baginya hidup diirnya ya atas dasar kemauan dirinya.
Gauri segera melakukan mobilnya dengan kencang, lantaran ini Sabtu masih pagi dan sangat lengah jalamam ibu kota, ia akan mencoba mencari sarapan lantaran perutnya lapar tadi ia memang tidak makan dahulu sebelum pergi, selera makan nya mendadak hilang akibat perdebatan dengan mamahnya.
Ia memilih kedai fast food yang buka 24 jam, memesan sebuah burger dan capuccino, ia menyeruput sesekali minuman berkafein itu sambil membuka tab melihat bursa efek milik perusahaannya yang semakin lama semakin naik.
" Aku enggak bisa operasi mamah sekarang ini, uangku tidak ada untuk biaya sebesar itu." Gauri mendengar suara pria yang sedang berbicara sambil sedikit terisak, merasa tertarik ia mencoba mendengarkannya.
" Uangku hanya ada lima juta, kartu kesehatannya sudah tidak diurus sejak ayah tidak ada."
" Itu uang yang besar, 200 juta uang darimana aku."
Gauri melihat pelaku yang sepertinya laki laki dan butuh uang, ia melihat wajahnya cukup tampan namun penampilannya sederhana, dia hanya pegawai restoran yang sedang Gauri kunjungi
Tiba tiba, ide cemerlang masuk ke pikiran Gauri, ia menaruh tab dan ponsel yang sedang ia gunakan ke dalam tas, ia manggil salah satu pegawai.
" Mas..."
" Ia kak, ada yang bisa saya bantu?"
" Kenal pegawai yang tadi telepon itu?" Gauri menunjuk pria yang tadi sedang bertelepon itu.
" Oh namanya Rasya, dia pegawai disini kak, apa dia buat salah sama kakak?"
" Oh enggak, bisa suruh dia kemari, saya ada keperluan?"
__ADS_1
Merasa bingung, pegawai tadi sedikit termenung, Gauri mengeluarkan uang senilai 200 ribu dan memberikannya, " tolong ya, saya butuh dia."
Karyawan tadi berbinar, tanggal tua dengan uang senilai itu cukup untuk memperpanjang masa garansi kuota internet yang sudah menunu puncak, " oke kak aku panggil."
" Makasih ya."
Tak berselang lama, pria yang tadi menelepon itu datang dengan wajah cemas, " kakak panggil saya?"
" Hmm duduk."
Patuh dengam titahnya, pria yang kataya nama Rasya duduk dan menundukan kepalanya merasa cemas.
" Apa saya buat kesalahan kak?"
" Langsung saja, sebenarnya saya sebelumnya mau minta maaf karena saya mendengar percakapan kamu di ponsel tadi."
Pria tadi langsung menaikkan pandangannya menatap tidak percaya akan yang dilakukan oleh Gauri.
" Apa saya mengganggu ketika saya berbicara tadi, saya minta maaf kak karena mengganggu kakak."
" Saya tahu kamu butuh uang untuk pengobatan saya tidak mendengar terlalu detile intinya kamu butuh uang banyak untuk pengobatan, saya mau menawarkan pekerjaan tambahan tanpa mengganggu pekerjaan utama kamu dengan bayaran tinggi dan juga benefit yang menggiurkan tentu itu semua ada hitam diatas putih dan kontrak."
Pria tadi merasa bingung, ia masih belum mencerna semua dan Gauri paham itu.
" Saya mau kamu jadi suami kontrak saya, saya akan memberikan apapun untuk kamu asal kontrak itu semua tidak ada yang tahu maupun berjalan lancar, dan iti berlaku selama satu tahun jika sudah selesai, kamu akan terbebas dari semua kontrak, gimana kamu tertarik? Kamu bisa pikirin dlu secara matang, aku kasih waktu tenang aja ini kartu nama aku, hubungi aku kalo kamu tertarik dan ingat, waktu kamu hanya satu Minggu nanti untuk lebih lanjutnya aku kabari kamu secepatnya."
Pria tadi masih bingung namun menerima kartu nama dari Gauri, Gauri pergi setelah berkata demikian, kini pria tadi sedang memikirkan apakah ia harus terima atau tidak.
To be continued.
__ADS_1