
Pagi pagi sekali Anggun sudah bangun dan melaksanakan kewajibannya. Setelah itu dia Kemabli duduk melamun di kamarnya.
Tadi malam dia tak bisa tidur mengingat apa yang akan di lakukan Gilang padanya. Lebih menakutkan dari kejadian kemaren saat dua orang yang hampir menodainya.
Benar apa yang dikatakan Gilang, jika pernikahan batal orang yang paling sedih dan kecewa adalah mama, bagaimana aku bisa melihat mama kecewa. Tapi jika aku teruskan, aku akan hidup dengan pria mesum yang hidupnya tak pernah bisa jauh dari wanita. Aku akan mati tersiksa karena dirinya setiap hari bergonta ganti wanita.
Apa yang harus aku lakukan???
Ibu...ibu begitu bahagia, aku tak bisa menghancurkan kebahagiaan ibu dan juga mamanya Gilang. Andai mereka tahu kelakukan Gilang yang sebenarnya.
Tok...tok....
"Ya ma."
"Cepat sarapan, kamu nggak kerja?" tanya ibu ya sambil membuka pintu.
"Nggak ma, hari ini anggun mau pergi dengan Gilang."
"Mau kemana? beli cincin lamaran? Jangan minta yang mahal mahal ya nak, ingat sebaik-baik mahar adalah mahar yang murah dan tidak memberatkan calon suami mu." ucap ibu.
"Jauh banget sih ma ngomongnya."
"Kok jauh, mama cuma mengingatkan besok malam acara pertunangan mu lho. Kalian dah beli cincin belum?"
Anggun menggeleng,
"Lah, gimana sih, nanti mama yang akan tanya sama Gilang."
"Ngga usah ma, dia pasti sudah menyiapkan nya, anggun nggak mau merepotkan hilang, apapun yang dia kasih anggun terima."
"ya sudah cepat turun dan sarapan."
"Ya ma."
Anggun kembali duduk termenung setelah kepergian mamanya. Dia mengambil ponselnya dan menelpon Linda.
Sebaiknya aku minta pendapat Linda.
"Assalamualaikum calon pengantin!" sapa Linda begitu panggilan diangkat.
"Lho kok kamu tahu, aku kan belum cerita!" ucap anggun terkejut.
"Semua udah tahu kali nggun, Bu Mila yang cerita di kantor, heboh banget. Diam diam kamu punya hubungan dengan Gilang. Kamu tahu nggak dia itu yang mau aku kenalin ke kamu lho, temannya mas Haris."
"Ha!!"
"Kok ga sih, harusnya aku marah nih, kok kamu nggak pernah cerita punya hubungan dengan dia." tajuk Linda.
"Aku mau cerita tapi jangan di potong sampai selesai ya."
Anggun mulai menceritakan pertemuannya kembali dengan Gilang dan ide gilanya mengajak anggun sebagai partner ke pernikahan sepupunya sebagai balasan hutang Budi Anggun.
Hingga kesalah pahaman kedua orang tua mereka dan rencana lamaran yang akan di lakukan besok malam.
"Aku harus gimana Lin?" tanya anggun
"Aku juga bingung, kalau jujur kasihan mama mu dia begitu bersemangat. Aku nggak bisa bayangin wajahnya jika dia tahu yang sebenarnya."
"Trus, kalau aku terima aku akan tersiksa seumur hidupku!"
"Apa dia masih seperti itu Samapi sekarang?" bisa jadi dia dah tobat." ucap Linda
"Jika dah tobat, dia pasti sudah menikah, paling tidak punya hubungan serius dengan seorang gadis. Linda, bantu aku!!"
"Aku jadi bingung nggun, saran aku terima aja lagipula lamarannya besok malam, nggak mungkin kan dibatalin. Yang ada ibumu semakin malu karena putrinya gagal menikah. Apa yang akan di katakan orang disekitar mu"
Anggun terdiam dan membenarkan ucapan Linda, jika dia jujur pasti ibunya akan syok mungkin juga jantungnya akan kambuh.
"Coba sholat istikharah nggun, mohon petunjuk."
"Ya udah biar aku coba. makasih darannya.. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam."
Tut...
panggilan terputus.
Anggun semakin galau dia kembali termenung, semua yang diucapkan oleh Linda benar. Ibunya selama ini sudah menjadi bulan bulanan ibu kompleks di tambah lagi jika dia gagal.menikah, apa jadinya mulut ibu ibu itu. Anggun semakin pusing di buatnya.
__ADS_1
"Anggun" panggil ibunya.
"Ya ma"
"Nak Gilang sudah datang tuh,"
"Ya sebentar."
Anggun mengikat rambut panjangnya dan memakai jilbabnya . Dia keluar menemui Gilang yang duduk mengobrol dengan papanya.
"Kok cepat banget datangnya." tanya anggun.
"Ya,nanti sore aku ada kerjaan, jadi aku memburu waktu." sahut Gilang.
"Ya udah sebentar."
Anggun masuk kedalam dan mengambil tas juga ponselnya. Dia kembali keluar menemui Gilang.
"Ayo" ucapnya.
"Om, Tante, Gilang pamit bawa anggun sebentar ya." ucap Gilang berpamitan.
"Ya sudah, hati hati ya." jawab Bu Dewi
...****************...
Gilang terus melajukan mobilnya, melewati jalan ke sekolah Anggun.
"Kok terus sih, sekolah ku dah lewat" protes anggun.
"Kita sarapan dulu, aku belum makan sejak tadi pagi." jawab Gilang.
Dia membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan.
Gilang melenggang turun tanpa membuka kan pintu untuk anggun. Dia terus berjalan memasuki restoran.
Anggun duduk di kursi di depan Gilang.
"Mau pesan apa?" tanya Gilang.
"Ini masih pagi, kenapa sarapan disini!"
Anggun kesal dengan ucapan Gilang. Tapi dia memilih diam.
Makanan datang dan terhidang diatas meja.
"Kok banyak banget?" tanya anggun.
"Gilang tak menjawab dia mulai makan dengan lahapnya. "Cepat makan, kau butuh banyak tenaga jika ingin mendebat ku" ucapnya.
Akhinya anggun ikut makan juga. Setelah selesai mereka keluar restoran.
Gilang membawa anggun ke sebuah tempat yang nyaman sejuk dan jauh dari keramaian.
Gilang turun, lagi lagi dia membiarkan anggun sendiri di belakang.
Mereka duduk dan menatap air terjun yang indah. Gilang membawa anggun kesebuah tempat wisata air terjun yang sunyi.
"Sekarang katakan, apa rencana mu!" tanya Gilang.
"Kok jadi aku? ini semua kan berawal dari dirimu, jika kau tidak memaksa ku menemani mu ke pernikahan Devan pasti ini nggak akan terjadi." jawab Anggun.
"Gimana kalau kau bawa saja salah satu gadismu dan katakan kau ingin menikahinya, mudah bukan!" ucap Anggun.
"Aku tidak mau menikah tanpa cinta!" sahut Gilang cepat.
"Aku juga tidak!"
"Apa sebaiknya kita setuju saja dengan rencana orang tua kita?" ucap Gilang.
"Tidak, aku tidak mau menikah dengan mu."
"Apa kau pikir aku juga mau, dasar menyebalkan! tapi apa kita punya pilihan lain?" tanya Gilang.
"Please Lang, jangan bawa bawa aku dalam masalah mu, sebaiknya kau jujur kepada papa mu dan..."
"Kau mau jantung ibumu kambuh? kau mau orangtuamu malu!!" bentak Gilang.
"Ok aku akan bilang sekarang juga tapi jangan salahkan aku jika terjadi apa apa dengan mamamu."
__ADS_1
"Kenapa kau menjebak ku?" teriak Anggun.
"Menjebak?"
"Iya, kau menjebak ku dalam sandiwara mu ini, kau jahat!"
"Aku juga terjebak, disini kita berdua korban. Bukan cuma kau aku juga. Aku harus menikah dengan gadis menyebalkan, keras kepala dan suka ikut campur urusan orang." ucap Gilang.
"Aku benci kau Gilang, benci!!!"
"Keduanya terdiam cukup lama. Larut dengan pemikiran masing masing.
Anggun tahu semua yang diucapkan Gilang benar, mamanya pasti akan kecewa dan malu. Tapi membayangkan menghabiskan hidupnya dengan pria seperti Gilang juga bukan pilihan dalam hidupnya.
"Aku putuskan, aku akan menerima pernikahan ini dengan satu syarat." ucap Anggun.
"Syarat, kau pikir kau bisa mengajukan tawaran disini!" bentak Gilang.
"Aku tidak mau setelah menikah ada rumor kau bersama dengan wanita lain, jika kau memiliki pacar terserah, tapi harus sembunyi sembunyi jangan sampai orang lain tahu apalagi orangtua kita." ucap Anggun.
"Kau pikir aku pria hidung belang. Kau selalu saja menuduhku bermain wanita, aku bukan pria seperti itu. Aku...
Akh...Untuk apa aku memberitahu mu kau pasti akan tetap beranggapan buruk tentang ku." ucap Gilang.
"Aku juga punya syarat." ucap Gilang.
"Bersikaplah manis di depan kedua orang tua kita dan orang lain. Aku tidak mau oranglain tahu gimana rumah tangga kita."
"Aku setuju." jawab Anggun.
"Sekarang kita pulang dan beli cincin pertunangan. Ok" ucap Gilang.
Anggun berjalan mengikuti Gilang di belakang.
Ya Allah ampunilah dosaku, aku telah membuat keputusan untuk menikah dengannya, restui dan berkahilah langkah ku agar aku bisa selalu ada dijalan mu. Bukan niatku mempermainkan pernikahan, aku hanya ingin membahagiakan kedua orang tuaku.
Mereka berdua kembali diam dengan pemikiran nya masing-masing, anggun memilih melihat keluar jendela, dan Gilang fokus mengemudikan mobilnya.
Sampai di toko perhiasan, Gilang meminta anggun memilih cincin yang dia suka, tapi anggun hanya memilih sebuah cincin sederhana dan murah. Gilang kesal, dan membelikan nya yang paling mahal.
"Kau ingin mempermalukan ku dengan memilih cincin yg murah?" ucap Gilang didalam mobil.
"Aku lebih suka yang sederhana, lagipula cincin itu hanya topeng dari sebuah hubungan palsu diantar kita." jawab Anggun.
Gilang terdiam sejenak mendengar ucapan anggun, tapi dia dengan cepat menguasai dirinya dan menghidupkan mobilnya kemudian dia membawa anggun kesebuah butik.
"Pilih baju yang bagus jangan mempermalukan aku," ucap Gilang sebelum mereka turun dari mobil.
Gilang turun bersama dengan anggun dan memasuki butik. Anggun tampak memilih milih kebaya yang cocok untuknya.
"Mbak, saya mau lihat kebaya terbaru, ada?" tanya Gilang.
Pelayan membawakan dua buah kebaya, satu berwarna mocca dan satu berwarna dusty pink.
"Coba yang ini," ucap Gilang kearah Anggun
"Anggun memasuki ruang ganti dan mencobanya, cantik dan sangat pas tapi dia terkejut melihat harganya.
Anggun keluar , Gilang menatapnya takjub. Kebaya. itu sangat pas dan cocok di tubuh Anggun. Anggun terlihat begitu cantik.
"Aku pilih itu." ucap Gilang
"Tapi Lang ini..."
Mbak carikan jilbab dan sepatu yang senada dengan bajunya." ucap Gilang memotong perkataan anggun. Anggun hanya diam dan kembali mengganti bajunya.
Selalu saja seenaknya, bathin Anggun.
Gilang membayar tagihannya dan keluar dari butik tersebut. Dia menyerahkan kantong belanjaan nya kepada Anggun. Gilang melenggang memasuki mobilnya.
"Aku akan mengantar mu pulang? "
"Motorku?" protes Anggun
"Apa kau tidak melihatnya tadi di rumahmu, dasar ...
Anggun kembali memilih diam, dia malas mendebat Gilang. Gilang mengantarkannya hingga ke rumah.
Dukung terus dengan like, vote dan koin seiklasnya. Makasih
__ADS_1