
Gilang bangun pukul enam, dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan anggun, namun dia tidak dapat menemukannya.
Gilang bangkit dan duduk. Dia menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya. Dilihatnya diatas meja belajar anggun pakaian gantinya telah di siapkan.
Gilang bangkit berdiri dan bermaksud berjalan ke kamar mandi, tapi perhatiannya teralihkan pada layar laptop yang masih menyala.
Rasa penasaran muncul dan dia melihat apa yang dikerjakan oleh anggun.
Gilang terdiam saat membaca teks dilayar komputer. Ternyata dia seorang novelis, hahaha dia bahkan menulis kisah cinta, padahal aku tahu dia tidak pernah pacaran. ucap Gilang dalam hatinya.
Gilang membuka isi laptop anggun dan membaca di tiap babnya. Tak ku sangka dia menulis kisah cinta romantis, hahaha dari mana dia mendapat kan referensi nya. aku jadi penasaran.
Tiba tiba pintu terbuka, "Apa yang kau lakukan pada laptopku" bentak anggun dan berjalan masuk.
"Tidak ada, aku hanya tidak menyangka, kau bisa menulis kisah cinta. Darimana kau mendapat ide dan inspirasi." tanya Gilang.
"Kau membacanya!" ucap anggun dengan tatapan tajam.
"Ya, siapa suruh kau teledor dan aku bisa membacanya. Apa kau pernah mengalami apa yang kau tulis di dalam nya." ucap Gilang.
Anggun merasa malu dan wajahnya memerah, Gilang membaca isi ceritanya. Sementara dia sendiri tidak pernah mengalami apa yang dia tulis.
"Mengapa kau melamun, aku benar bukan? bahkan aku yakin kau belum pernah berciuman." ucap Gilang.
Wajah anggun memerah mendengar kalimat vulgar Gilang. Dia menutup laptopnya dan beranjak untuk keluar dari kamar tersebut, namun langkahnya terhalang karena Gilang menarik lengannya.
Gilang membawa anggun kedalam pelukannya. Mata mereka saling beradu, Gilang dapat melihat dengan jelas, wajah cantik alami istri nya. Anggun memang cantik, dan Gilang mengakui itu.
Sesuatu di dalam dirinya mendorong Gilang untuk mencium bibir mungil nan menggoda. Perlahan Gilang mendekat dan mencium bibir anggun. Anggun terkejut, dan dia berusaha berontak namun tangan Gilang dengan cepat menahan tengkuknya. Gilang mencium bibir anggun dengan sedikit kasar.
"Ehm...emmp..." anggun coba berontak.
Gilang melepaskan ciumannya. "Gimana rasanya?" tanya Gilang merasa tak berdosa.
"Kau!!!' tunjuk anggun.
Nafasnya tengah engah akibat ulah Gilang.
Gilang terkekeh...
"Aku hanya memberi mu inspirasi rasa dari sebuah ciuman, ada getaran dan hasrat untuk terus mela_"
"Stop!!! sudah jangan di lanjutkan." potong Anggun.
Anggun segera berlari keluar kamar. Gilang menarik bibirnya tersenyum. "Aku yakin ini yang pertama untuknya, " ucap Gilang pelan. Muncul rasa bahagia dihatinya tanpa dia sadari.
Gilang melangkah menuju kamar mandi, dia kembali tersenyum mengingat ulahnya tadi pagi.
...****************...
" Pagi om, maaf saya agak kesiangan." ucap Gilang melangkah ke meja makan.
"Kok masih panggil om, panggil papa sama seperti anggun. " ucap Bu Dewi.
"Papa maklum namanya pengantin baru." ucap papa anggun.
Anggun hanya diam mendengar ucapan papanya.
__ADS_1
"Nggun, ambilkan makanan untuk suami mu" ucap Bu Dewi membuyarkan lamunan anggun.
Anggun mengambil piring dan mengambilkan nasi goreng dan telur mata sapi ke piring Gilang.
"Makasih sayang" ucap.gilang
Bu Dewii dan suaminya tersenyum melihat sikap manis menantunya. Tapi tidak dengan anggun dia merasa kesal.
"Ma,siang ini boleh nggak aku ajak anggun pulang ke rumah" ucap Gilang.
"Loh, kok cepat sekali," ucap Bu Dewi.
"Iya ma, tapi kami mau beres beres rumah kami. Nanti malam kami pasti kembali kesini, ya kan sayang." ucap Gilang menatap anggun.
"Iya ma,"
"Oh ya udah boleh, tapi malam ini masih nginep disini kan!"
"Iya ma, lusa kami akan pulang ke rumah kami." ucap Gilang.
"Mama terserah kalian saja." ucap Dewi.
"Ya sudah, sebaiknya kalian segera berangkat sekarang, agar tak terlalu malam pulang kesini." kembali Bu Dewi berucap.
"Mama benar, jangan pulang malam, jadi lebih baik kalian berangkat pagi ini. " ucap papa
"Baiklah pa. Oh ya sayang, bawa sekalian barang yang ingin kau bawa, biar sekalian kita bereskan." ucap Gilang.
Anggun hanya diam dan mengangguk.
Disepanjang perjalanan anggun diam dan hanya menatap keluar jendela. Gilang merasa tak enak hati Dia tahu anggun pasti kesal akibat ulahnya pagi tadi.
"Mengapa kau diam!' ucap Gilang memecahkan kesunyian.
"Aku...aku tidak apa apa."
"Lalu mengapa kau mendiamkan ku."
"Sudahlah, kau fokus saja menyetir, aku tidak apa apa." ucap anggun.
Gilang melakukan mobilnya dan berbelok menuju rumahnya.
Dia segera turun, Anggun juga turun mengikuti langkah Gilang memasuki rumahnya.
Gilang membuka pintu rumah. Anggun masuk kedalam.
"Ini kamar ku dan itu kamarmu" ucapnya.
Anggun mengangguk dia membawa masuk tasnya ke dalam kamar. Membuka lemari dan menyusun beberapa bajunya disana. Kamar nya lumayan besar, ada sebuah tempat tidur, lemari pakaian meja rias dan sebuah kamar mandi didalam.
Anggun kemudian mengambil sapu dan mulai membersihkan kamarnya.
Saat dia berjalan ke dapur tak sengaja dia melihat ponsel Gilang menyala tertera nama Cindy disana.
Belum sempat dia mendekat, Gilang sudah mengambil ponselnya dan mengangkatnya. Dia a berjalan menjauh dari anggun.
"Ok, aku akan kesana."
__ADS_1
"Del, aku pergi dulu. Kau tidak harus membersihkan rumah ini karena akan ada pembantu yang datang membersihkannya setiap hari. Kalau mau masak dapurnya ada disana. " ucap Gilang dan berlalu pergi.
Dia mengeluarkan motor kesayangan nya dan segera melajukannya pergi meninggalkan anggun yang terdiam.
Anggota menatap kepergian Gilang dengan perasaan sedihnya. Siapa Cindy, apa dia kekasihnya? lalu aku siapa? mengapa dia menikahi ku padahal dia mencintaiku gadis lain.
Anggun merasa sedih. Pernikahan apa ininya Allah, bahkan kami harus tidur terpisah.
Anggun beranjak ke dapur dan melihat kulkas, dia mulai memasak makan siang untuknya dan Gilang jika dia pulang nanti.
...****************...
Gilang menemui Cindy. Cindy tadi menelponnya dan mengatakan jika ban mobilnya kempes dan dia berada jauh dari pemukiman warga dan dia ketakutan.
"Kamu baik baik saja." tanya Gilang.
"Aku baik baik saja, hatiku yang sakit Lang." ucap Cindy.
"Mana mobilmu, tapi ban nya baik baik saja."
"Jika aku bilang aku rindu, apa kamu mau datang, nggak kan, makanya aku bohong. Aku rindu padamu Lang." ucap Cindy memeluk Gilang.
Gilang melepaskan pelukan Cindy dengan kasar.
"Kau bercanda, aku sudah menikah. Dan aku tidak mencintaimu, sudah berapa kali aku katakan."
"Tapi aku mencintai mu Lang, dan aku tahu kau tidak mencintai istri mu kan! Aku tahu, dia kan gadis yang melaporkan kita di SMA dulu. mana mungkin kau mencintai nya."
"Aku memang tidak mencintai nya tapi aku juga tidak mencintai mu, dan aku ingatkan aku sudah beristri jangan menggangguku lagi."
Gilang kembali menaiki motornya dan pergi meninggalkan Cindy yang tersenyum kecut.
Aku akan mendapat kan mu Lang, gimana pun caranya, Desi dan siapapun itu tak boleh memiliki mu cuma aku yang boleh mendampingi mu. aku akan menyingkirkan istrimu.
Cindy masuk kedalam mobilnya dan melajukannya kencang.
Gilang tak langsung pulang kerumah. Dia duduk di bawah sebuah pohon besar. Tempat biasanya dia merenung jika memiliki banyak masalah.
Dia duduk dan termenung, tiba tiba terlintas wajah anggun dan kejadian tadi pagi.
Mengapa aku tiba tiba menciumnya! apa yang sudah merasuki ku hingga aku bisa melakukan itu. Tapi kalau aku pikir pikir dia itu lucu dan menggemaskan.
Lama Gilang merenung, hari menjelang sore dan dia kembali pulang kerumah.
Gilang memasuki rumah, anggun tidak ada, Gilang ke dapur dan melihat makanan tersaji diatas meja.
*Dia pandai juga masak?
Tapi dimana dia?
Gilang* berjalan ke belakang, dan dia melihat anggun asyik dengan laptopnya duduk di gazebo.
Gilang tersenyum, pasti dia sedang menulis kisah cinta. Lucu padahal dia tidak berpengalaman. Mengapa dia bisa membuat kisah romantis seperti itu ya. tanpa sadar bibir Gilang tertarik ke belakang.
Dia masuk ke dalam mengambil ponselnya dan menelpon anggun.
"Ya halo assalamualaikum"
__ADS_1
"Siapkan makan siang ku, aku mau mandi dulu." ucap Gilang tak menjawab salam nya. Gilang membayangkan wajah kesal anggun, dan merasa senang.