Benci Tapi Menikah

Benci Tapi Menikah
Galau


__ADS_3

Jam sepuluh anggun keluar dari kelas XII TKR, segera menuju ruang rapat karena rapat pembahasan Ujian Akhir Sekolah akan dilaksanakan.


Setelah satu jam rapat berakhir. Anggun bersiap siap untuk pulang ke rumah. Baru saja dia membereskan buku di mejanya, Linda datang dan menghampiri nya.


"Bareng yuk!" ajak Linda.


"Kamu nggak di jemput?" tanya anggun balik.


"Nggak, mas Haris masuk pagi. Sekalian kita makan dulu. Aku yang traktir deh." ucapnya lagi.


"Ya udah deh, ayok." jawab anggun.


Linda dan anggun berangkat menuju warung bakso langganan mereka. Setelah memesan makanan, mereka berdua memilih duduk di pojok.


Tempat paling nyaman dan strategis buat ngobrol disana.


"Del" panggil Linda.


Biasanya jika dia sudah memanggil dengan seperti itu tandanya dia dalam mode serius.


Anggun mengangkat kepalanya dan menatap kearah Linda.


"Sebaiknya kamu lupain aja Gio dan mulai kehidupan yang baru. Mungkin juga dia dah nikah kan? Terus apa lagi yang kamu harapkan?"


Anggun menarik nafas dalam dan membuangnya kasar. Terasa beban berat sedang menghimpit hatinya.


Melupakan Gio, kata yang mudah namun sangat sulit untuk dia lakukan. Gio adalah cinta pertama nya, diam diam dia menyukai playboy yang satu itu. dan dengan bodohnya dia mau di manfaatkan oleh Gio. Tugas kuliah Gio semua dia yang mengerjakan. perhatian Gio selama ini ternyata hanya kebohongan karena ingin memanfaatkan dirinya.


Memang aku yang bodoh, dia bahkan tak pernah mengatakan cinta padaku, hanya aku yang kepedean. Dan salah menafsirkan perhatiannya.


Jika mengingat itu semua hati anggun kembali terasa sakit dan dia trauma menjalin hubungan yang baru.


"Del" panggil Linda.


Linda tersadar dari lamunannya.


"Kamu harus move on dan lupain Gio." ucap Linda.


"Aku nggak ingat Gio kok, dan aku nggak nunggu dia. Mang belum ada yang cocok aja." bantah anggun.


"Kamu.bisa bohong ma orang lain tapi tidak dengan ku. Aku kenal kamu, dan aku tahu bahwa kamu masih mengharapkan dia, ya kan?"


"Tidak, aku tidak mengharapkan Gio." ucap anggun dengan cepat memotong kalimat selanjutnya yang akan di ucapkan oleh Linda.


"memang kau sudah tak mengharapkan nya, tapi trauma dan takut menjalin hubungan yang baru? sama aja kan?" ucapnya kesal.


Anggun terdiam sesaat. Didalam hatinya dia membenarkan ucapan Linda. Memang sejak kejadian tersebut, anggun tak lagi pernah menjalin hubungan dengan orang lain. Bukan tak ada yang coba mendekat padanya, tapi rasa takut dimanfaatkan dan di kecewakan membuatnya tak berani membuka hatinya.


Hatinya sudah tertutup rapat tanpa ada seorang pun yang mampu membukanya hingga kini. Padahal peristiwa itu sudah enam tahun berlalu.


"Del"


Panggilan Linda mengagetkan anggun dan menyadarkan nya dari lamunan.


"Please Del, mau sampai kapan kau kayak gini. Aku sahabat mu, aku ingin kau bahagia. Menikah dan memiliki keluarga kecil yang bahagia. Itu kan yang diharapkan Tante Dewi?" ucap Linda.


"Udah deh kok jadi bahas Gio, sekarang gimana aku bisa datang ke rumah Devan, nggak mungkin aku datang sendiri, tahu sendiri kan gimana Bu Mila." ucap Anggun mengalihkan pembicaraan.


Linda hanya bisa mendesah kecewa. Begitulah sahabatnya Selalu menghindar saat di tanya soal pernikahan.


Pelayan datang membawakan dua mangkuk bakso super besar dan dua lemon tea. Linda dan anggun segera menyantapnya.

__ADS_1


"Nggun" panggil Linda


Anggun yang sedang asyik makan bakso mengangkat wajahnya menatap Linda. Wajahnya terlihat merah padam akibat bakso yang dimakan super pedas dan panas.


"Kamu mau nggak ak kenalin teman nya mas Haris. Orangnya masih muda, ganteng . Dia juga seorang manager sama seperti mas Haris. Mereka hanya beda divisi saja.


"Jangan mulai deh." ucap Anggun mencebik kesal.


"Nggun nggak ada salahnya untuk saling mengenal terlebih dahulu. Siapa tahu cocok. Aku rasa dia bisa jadi partner kami ke acara Devan." ucap Linda membujuk.


"Akan aku pikirkan."


"Jika kau mau besok datang ya ke rumah ku jam lima sore."


"Ada apa? jangan bilang dia juga ada disana?"


"Yah benar, besok ulang tahun Alila yang ketiga. Aku mengundang teman teman mas Haris ke rumah. Aku harap kau datang. Paling tidak menambah satu teman bukan. Dan aku yakin dia mau membantumu, menjadi partner untuk ke pernikahan Devan."


"Entahlah. Akan aku coba. Tapi jika dia resek dan nyebelin jangan salahkan aku ya." ucap Anggun.


"Siap."


Anggun dan Linda keluar setelah membayar makanannya.Anggun mengantarkan Linda ke rumahnya yang berada di kompleks perumahan perusahaan.


Anggun langsung pulang kerumahnya dari sana. Cuaca panas mengiringi kepulangannya. Hingga dia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa begitu dia memasuki rumah.


"Loh kamu kenapa nak?" tanya Dewi khawatir.


"Nggak apa apa Bu, diluar panas banget rasanya seperti terbakar.'


"Mama kira kenapa? ya udah sana makan, mama sudah masak makanan kesukaan mu."


"Ya udah, mama mau arisan dengan ibu ibu kompleks. Jangan lupa untuk makan siang. Bakso itu bukan makanan sehat. Ingat harus tetap makan nasi."


"Ya ma."


"Mama pergi dulu, assalamualaikum"


"Waalaikum salam."


Setelah Bu Dewi pergi, Anggun mengunci pintu depan dan memilih masuk kedalam kamarnya. Dia mengganti seragamnya dan segera melaksanakan sholat juhur. Kemudian dia memilih merebahkan tubuhnya yang lelah. Dan masuk ke alam mimpi.


Sayangnya pikirannya tak mau diajak kerjasama. Ucapan bundanya dan Linda mengusik hatinya.


Kata kata Linda yang menyuruhnya move on dari Gio mengusik hatinya.


Benar dia sangat menutup rapat hatinya dan tak pernah membiarkan siapapun coba masuk termasuk Devan.


Rasa sakit hati dan trauma yang di tinggalkan gio masih membekas dan menghalangi setiap dia ingin memulai hubungan yang baru.


"Ya Allah berikanlah hamba petunjuk mu."


......................


Sementara di tempat arisan Bu Dewi terlihat kurang bersemangat. Pasalnya anak jeng Vina baru saja lamaran.


"Bu Dewi, ibu tau nggak itu loh Nita anaknya Bu Vina." ucap Bu Rahma mulai menggosip.


"Ya, ada apa Bu?"


"loh ibu belum tahu ya, kemaren dia dilamar Sama anaknya pak Rudi. Itu juragan dari kampung sebelah. Padahal Nita kan baru tamat SMA kemaren."

__ADS_1


"Iya masak Bu Dewi nggak tahu. Oh ya, anak Bu Dewi si Anggun kan dah cukup umur, kapan lagi Bu?" tanya Bu Mina menimpali.


"Jangan lama lama bu, nanti jadi perawan tua, yang seusia dengannya aja sudah menikah semua." tambah Bu Rahma.


"Atau Jangan jangan si Anggun terlalu pemilih ya Bu, kalau gitu ibu jodohin aja. Ibu nggak mau kan dia jadi perawan tua?" tambah Bu Mina.


"Ih...amit amit Bu." jawab yang lain


"Sudah kok jadi bahas anak saya. Anggun itu sudah punya pacar, tapi dia masih belum mau menikah. Saya nggak mungkin maksa." ucap Bu Dewi menutupi.


"Masak sih Bu, kok saya nggak pernah lihat dia jalan bareng cowok atau ada cowok yang datang kerumah ibu?'


"Pacarnya kerja di luar kota." ucap Bu Dewi kesal.


"Saran saya nih ya Bu, buruan ibu paksa dia menikah, sebelum pacarnya diambil orang, apalagi berada di luar kota." ucap Bu Rahma.


Bu Dewi pulang kerumah dengan perasaan mendongkol. Bagaimana tidak, putrinya menjadi top bahasan disana hanya karena anaknya belum juga menikah.


"Assalamualaikum" ucap ibu ketus.


"Waalaikum salam, loh kenapa muka ibu kusut begitu?" tanya anggun heran.


Ibu masuk dan duduk di meja dapur. Anggun mengikuti dan duduk di sebelah ibu.


Tiba tiba ibu menangis.


Anggun jadi panik. Pasti ada yang tidak beres. Tadi ibu pergi baik baik aja. Apa yang diucapkan ibu ibu kompleks hingga ibu berubah begini.


Dia mendekat dan memegang pundak ibunya.


Ibunya terisak.


"Mama malu nak, malu!" ucap ibunya


"Malu kenapa ma?"


"Nita sudah di lamar anak juragan kampung sebelah, jadi semua orang membahas mu. Mereka mengatai mu perawan tua. Mama malu, malu." ucap ibunya di sela tangisnya.


"Biarkan saja mereka mau bilang apa, anggun nggak perduli ma"


"Tapi mama perduli. Mau sampai kapan kamu seperti ini nak, usia kamu sudah cukup dewasa bahkan teman teman seusia mu sudah memiliki anak. Apa salahnya jika mama juga menginginkan hal yang sama. Mama mau cucu?"


Akhirnya bu dewi meluapkan semua isi hatinya.


Anggun terdiam di dalam hatinya dia merasa sakit, miris benar hidupnya. menikah?? bahkan pacar saja dia tidak punya.


Apa salahnya jika aku belum juga memiliki pasangan hingga saat ini, mengapa mereka semua menghakimiku seperti ini.


"Mama bilang kau sudah punya pacar dan dia berada di luar kota. Dalam waktu dekat dia akan datang melamar mu."


Kata kata terakhir ibunya membuat anggun syok.


"Ma mengapa mama mengatakan itu, ma! Mengapa mama bohong? Mama kan tahu anggun nggak punya pacar." ucapnya.


"Mama nggak punya pilihan. Mama nggak mau mereka terus mengolok olok dirimu. Jika dalam satu bulan ini kamu tidak juga mau mengenalkan pacarmu, mama akan kembali menjodohkan mu." ancam mama.


"Nggak bisa gitu ma?" protes anggun.


"Kali ini kamu tidak punya pilihan. Kau tak bisa menolak, kecuali kau mengenalkan pacarmu pada mama." ucap mama setelah itu dia bangkit menuju kamarnya dan meninggalkan anggun yang pusing.


Cari pacar dalam satu bulan, dimana?

__ADS_1


__ADS_2