Benci Tapi Menikah

Benci Tapi Menikah
Sabar


__ADS_3

Anggun kembali kerumah sakit sesuai dengan janjinya. Kali ini dia meminta pak Joko yang mengantarnya.


Langkahnya pasti memasuki rumah sakit dan menuju ruangan rawat Gilang. Dia membuka pintu, tampak Gilang duduk melamun disana. Anggun menyimpan tasnya ke dalam lemari pakaian.


Anggun mengambil kemeja ganti untuk Gilang. Dia mengeluarkan handuk dan meletakan nya di atas tempat tidur.


Kemudian dia mengambil baskom dan mengisi nya dengan air hangat. Membawanya ke tempat tidur Gilang.


"Mas, bisa buka bajunya?" tanya anggun.


"Untuk apa!" tanya Gilang dengan wajah galaknya.


"Aku mau mengelap tubuh mu mas, apa kau tidak gerah dan ingin berganti pakaian."


Gilang tak menjawab dia hanya diam, melihat Gilang diam saja, anggun maju dan membuka kancing kemeja Gilang. "Maaf mas" ucapnya


Dia membuka kemeja secara perlahan, kemudian mulai membasuh tubuh Gilang dengan air hangat dan kain lap.


Setelah dirasa cukup bersih, anggun mengusapnya dengan handuk kering dan memakai kan kemeja ganti untuk nya.


Anggun membawa kembali air kotor ke kamar mandi. Dan dia menjemur handuk Gilang.


Saat dia kembali dari balkon, seorang gadis sudah berdiri di samping Gilang.


"Sayang kamu nggak apa apa?" ucap Cindy dengan manja.


Anggun terkejut tapi dengan cepat dia merubah wajahnya dan versikap biasa saja.


"Sayang, ini istri kamu!" ucap Cindy menunjuk anggun.


Anggun diam dan mengemasi barang nya, lalu dia duduk di sofa.


"Ada apa kau kesini?" tanya Gilang dengan. wajah datar


"Aku mengkhawatirkan mu sayang, aku datang untuk merawat mu." ucap Cindy


"Tidak usah, ada istri ku yang akan merawat ku. Kau pulanglah. Ingat kita tidak punya hubungan apapun."


"Kau menolakku hanya karena wanita seperti ini! dia nggak sebanding dengan ku Lang, ala kau tidak sadar." ucap Cindy marah.


Anggun yang mendengar kalimat Gilang tersenyum di dalam hatinya. Dia bangkit dan menghampiri Cindy, "Maaf mbak, suami saya mau istirahat. Silahkan mbak pulang." ucapnya sopan.


"Kau!!! tunjuk Cindy ke depan wajah anggun.


"Berani sekali kau mengusirku! Kau tidak tahu siapa aku!" bentak Cindy.


"Pintunya ada disana, jika mbak nggak mau saya akan panggilkan petugas keamanan " ucap anggun tegas.


wajah Cindy memerah, selama ini tak ada yang berani mengaturnya apalagi ini dia merasa begitu terhina.


"Aku akan pulang sekarang, tapi aku pastikan kau akan menyesal karena berani mengusik ku. Lang aku pulang dulu, besok aku kembali lagi." ucapnya kearah Gilang.


Cindy berjalan keluar, dia sengaja menabrak kan bahunya ke bahu anggun, hingga anggun mundur beberapa langkah.


Anggun tak bersuara hingga Cindy tak nampak lagi dibalik pintu yang sengaja dibanting dengan keras.

__ADS_1


"Del."


"Kau boleh berpacaran dengannya aku tak melarang, tapi ini di rumah sakit tolong hargai aku, setidaknya di depan perawat dan dokter. Aku tidak mau mereka mengasihani ku." ucap anggun berlalu dari hadapan Gilang.


"Apa kau cemburu?"


kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Gilang, dia sendiri tidak menyangka kata itu yang keluar, tapi hatinya sangat mengharapkan jawaban anggun.


Anggun terdiam sejenak, dia kembali melangkah tanpa menjawab pertanyaan Gilang. Dia sendiri tidak tahu apa yang kini dirasakannya, yang dia tahu dia tak suka atas kedatangan Cindy.


Gilang mendesah kecewa. Dia sangat berharap anggun mengatakan iya.


Waktu berjalan dan ini memasuki hati ketiga Gilang dirawat. Kondisinya sudah semakin membaik.


Anggun dengan telaten merawat Gilang, tanpa banyak bicara. Anggun akan bicara saat di perlukan saja. Dia menyuapi Gilang, Menganti pakaiannya dan membantunya ke kamar mandi.


Hati Gilang semakin tersentuh dengan ketulusan istrinya merawat dirinya. Muncul perasaan yang aneh dan tak dapat dia bendung saat berada di dekat anggun. Hatinya bahagia dan tenang saat didekat anggun.


Anggun selalu menghabiskan waktunya mengaji atau membaca buku jika tugasnya merawat Gilang sudah selesai.


Malam ini Gilang ingin mengungkap isi hatinya kepada anggun.


"Del" panggil Gilang.


Anggun menoleh, baru akan bicara pintu kamar terbuka tampak Linda dan Haris datang menjenguk.


"Assalamualaikum, gimana kabarmu bro!" tanya Haris.


"Aku baik baik saja." jawab Gilang membuat Haris terkekeh .


Linda dan anggun mengobrol di sofa jauh dari nereka berdua.


Gilang tampak menatap kearah anggun dan Linda.


"Apa yang kau lihat, apa kau sudah menyadari sekarang jika istri baik dan tulus." ucap Haris.


"Kau benar, aku salah menilai nya, dia tulus dan ikhlas merawat ku. Tapi aku tidak tahu, dia mencintai ku atau tidak?"


"Bodoh, harusnya kau yang buat dia jatuh cinta padamu!"


"Kemana Gilang playboy yang dulu ku kenal, apa seorang anggun saja tak bisa kau taklukkan." ejek Haris.


"Dia berbeda, tak seperti gadis lain yang bisa dengan mudahnya di rayu."


"Justru sekarang lebih mudah menaklukkannya, karena dia istri mu. Aku rasa aku tak perlu mengajarimu, kau lebih paham dariku" ucap Haris.


"Tapi..."


"Wanita butuh kepastian Lang, dia akan melangkah pergi saat kau hanya menunggu nya dan tak berbuat apa apa."


"Tapi aku rasa dia tidak menyukai ku, dia mengatakan akan pergi setelah aku sembuh."


"Hahaahah....dan kau percaya! jika dia tak menyukai ku untuk apa dia disini merawat mu,"


"Terus lah berpikir dan dia akan pergi meninggalkan mu." ucap Haris.

__ADS_1


"Ngomongin apa sih mas, kok kayaknya seru banget sampe bisik bisik." tanya Linda


"Ini loh Gilang tanya gimana caranya buat anak kembar, kita aja lagi proses ya kan!"


Wajah Gilang memerah dan matanya membulat menatap tajam kearah Haris, tapi Haris hanya tertawa menanggapinya.


Anggun sampai tersedak ludahnya sendiri dan terbatuk mendengar ucapan Haris.


"Mas, ih....Kau ini ya udah kita pulang yuk. Kasihan Akila di tinggal. Kak Gilang cepat sembuh ya." ucap Linda


Linda memeluk sahabatnya sebelum Pamotan pulang, Haris juga berpamitan pulang pada Gilang dan Anggun.


Perawat masuk dan mengatakan jika besok Gilang sudah boleh pulang.


Anggun menyusun pakaian Gilang dan dirinya ke dalam tas, dan dia bersiap siap karena besok pagi dia akan pulang.


Anggun bergegas tidur di sofa setalah selesai sholat isya.


"Del" panggil Gilang.


Anggun menatap Gilang sejenak, hingga keduanya saling tatap dan saling mengunci dalam Beberapa saat.


Anggun segera menundukkan pandangannya, takut Gilang bisa membaca usia hatinya.


Sebenarnya anggun sudah jatuh cinta pada Gilang, dia menyadarinya saat Gilang dinyatakan kecelakaan, hatinya bagai diremas dan ketakutan. Takut Gilang akan meninggalkannya selamanya.


" Del" panggil Gilang lagi.


"Ambilkan aku minum" ucapnya.


Gilang bingung akan bicara apa jadi dia beralasan jika dia haus.


Anggun bangkit dan mengambilkan air minum untuk Gilang. Gilang meminumnya tapi dia segera memegang tangan anggun sebelum seempunya pergi.


"Bisa kita bicara sebentar" ucap Gilang.


Anggun diam dan duduk di tepi tempat tidur Gilang.


"Sebenarnya aku..."


Deeerrrt.. deeerrrrrt ponsel Gilang berbunyi tertulis nama Cindy disana.


Anggun sempat meliriknya. hatinya sakit dan dia beranjak dari sana. Gilang mematikan ponselnya dan menatap kepergian anggun.


"Del"


"Sudah malam mas, aku ngantuk besok saja bicaranya." ucap anggun tanpa menatap wajah Gilang.


Dia bergelung di balik selimut tanpa terasa air matanya menetes. Sungguh anggun merasa sakit hati dan dia menyadari dengan jelas dia telah jatuh cinta dengan suaminya.


Maafkan aku mas, aku jatuh cinta padamu tapi aku janji aku akan pergi setelah kau sembuh. aku tak akan menghalangi hubungan mu dengan Cindy lagi.


Gilang mendesah kecewa. Dia ingin mengungkapkan isi hatinya tapi panggilan Cindy menggangunya.


Apa dia benar benar tak mencintai ku sedikit pun, apa dia tidak merasakan seperti apa yang aku rasakan!

__ADS_1


Akankah cinta menyatukan mereka atau salah paham hingga anggun memilih pergi meninggalkan Gilang.


__ADS_2