
Selesai sholat Gilang mengajak anggun keluar kamar mereka. anggun berjalan di belakang Gilang setelah merapikan hijabnya.
"Mas, kita ada di ma..na...."
anggun tak melanjutkan ucapannya saat dia menyadari kini berada di sebuah tempat wisata yang sangat ingin dia kunjungi. Sebuah villa yang terletak di pinggiran danau dengan views langsung kearah danau yang indah.
Udara dingin begitu terasa dan langsung menyerang kulit putih anggun yang tertutup gamis berwarna navy yang begitu kontras dengan kulit putihnya.
Gilang melirik anggun yang tampaknya kedinginan. Dia membuka jaketnya dan memasangkannya di pundak istrinya.
"Ayo kita sarapan." ucap Gilang menarik tangan anggun agar mau mengikuti langkahnya.
Mereka berjalan menyusuri tepi danau yang indah, apalagi di pagihari seperti ini.
"Indahnya..." ucap anggun.
"Kamu tahu nggak bedanya matahari dengan kamu?" tanya Gilang tiba tiba.
"Nggak"
"Kalau matahari menyinari dunia, kalau kamu menyinari hati aku." ucap Gilang.
Wajah anggun tersipu malu dengan gombalan receh Gilang.
"Kok kamu sekarang pandai gombal?' tanya anggun.
"Kamu lupa suami kamu ini mantan cowok tergantung di sekolahmu." ucap Gilang dengan bangga.
"Ehm...dasar buaya!!!_ ucap anggun yang kesal dan berjalan meninggalkan Gilang.
"Kok jadi ngambek sih. Aku benar kan kalau dulu aku adalah cowok terganteng dan terpopuler di sekolah?" tanya nya lagi semakin membuat anggun kesal
"ngun... sayang....Kok jadi marah?" ucap Gilang mengejar anggun yang terus saja berjalan menjauh.
Hati anggun tiba tiba meragu, kesedihan menyusup dalam, bayangan ucapan Cindy dan kisah masa lalu sang suami membuat kepercayaan diri anggun terbang terbawa angin.
Apakah ini semua mimpi yang akan hilang dan terbang jauh saat mata terbuka atau dia mengangap ini semua permainan?
"Hei kamu kenapa?" tanya Gilang menyelidik. Karena anggun terdiam dan melamun.
"Tidak apa apa. Aku hanya terlalu bahagia, bisa menyaksikan ini semua. Walau aku tidak seperti yang kau inginkan. Setidak nyaa aku sudah berusaha menjadi yang lebih baik." ucapnya.
Mengapa hatiku meragu dengan mu mas? bathin anggun.
Mereka kembali duduk dan menatap orang yang berlalu lalang.
Setelahnya Gilang mengajak anggun bermain main di tepi danau. Naik sepeda, ke kebun strawberry dan memetik sendiri buahnya langsung dari pokoknya.Dan berbagai aktivitas lainnya hingga sore hari.
"Kamu tahu nggak, sebenar nya aku sudah lama banget pingin datang kesini." ucap anggun.
"Benarkah?'
"Iya mas, disini begitu tenang, damai dan segar. Aku jadi betah dan nggak mau pergi dari sini."
__ADS_1
"Oh ya, berarti nggak sia sia donk."
"Maksudnya mas?"
"Sebenarnya aku dah dari bulan lalu booking tempat ini. Aku ingin mengadakan bulan madu disini." tutur Gilang di sertai senyum.yang manis.
"Terus?"
"Terus kamu merusak semuanya dengan pergi dari rumah."
"Kok jadi nyalahin aku,mas?'
"Nggak nyalahin tapi. Kan aku benar, kamu yang merusak semua rencana ku. Gara gara kamu pergi dari rumah, aku gagal berbulan madu." tutur Gilang dan berpura pura marah.
"Maaf!"
"Maaf saja nggak cukup."
"Terus mas mau apa? Hukum aku?"
"Nanti mas pikirkan apa hukuman yang tepat untukmu. Yang pasti kau bersalah, dan aku nggak akan mentoleransi itu."
"Katakan apa hukumannya mas?"
"Masih rahasia."
"Mas, maafkan aku jika karena ku kau selalu mendapat masalah, semua itu tidak aku sengaja. Aku janji mas, aku akan menjauh dari hidupmu sehingga kau tidak mendapat kesialan lagi." ucap anggun lirih.
"Jadi kau tidak mau bertanggung jawab dan lari Setelah semua yang terjadi ini?" tanya Gilang dengan ekspresi galaknya.
"Tapi apa?"
"Tapi aku nggak sanggup jika harus melihatmu dengan Cindy. Aku nggak kuat mas, maka ijinkan aku pergi." ucap anggun lirih. setetes bening airmata jatuh dipipinya.
"Cindy? kenapa jadi Cindy?" tanya Gilang bingung.
"Cindy bilang kalian akan segera menikah dan kau harus meninggalkan mu mas." jujur anggun.
"Dan kau membiarkan oranglain merebut suami mu? istri macam apa kau tak coba mempertahankan hak mu sebagai seorang istri. Harusnya kau garang seperti di sinetron sinetron itu."
"Aku....aku nggak berani mas, karena aku pikir kau juga..."
"Apa kau tak merasakan cintaku padamu?"
"Aku takut salah menafsirkan perhatian mu. Dan aku..."
"Akh...sudahlah yang pasti, aku ingin menikmati masa bulan madu kita. Lupakan semua nya ,Tidak ada Cindy di dalam hatiku."
"Bulan madu kita?" Tanya anggun dengan wajah bingung.
"Lalu kau pikir bulan madu siapa? Aku menyiapkan Ini semua untuk bulan madu kita, sayangnya aku mengalami kecelakaan itu dan harus terbaring." Gilang berdecak kesal meliaht ketidak pekaan anggun.
"Mas menyiapkan ini semua untukku?" Ulang anggun masih belum mempercayai ucapan Gilang.
__ADS_1
"Jadi untuk siapa lagi. Kau istri ku dan aku ingin berbulan madu dengan mu. apa itu salah?" ucap Gilang menarik pinggang anggun hingga kedua tubuh mereka merapat.
Anggun terdiam dan tak tahu harus berbuat apa. hanya jantungnya yang berdetak semakin cepat.
Bahkan Gilang dapat mendengar detak jantung anggun yang bersahutan dengan detak jantungnya sendiri. Berada di pisoso ini membuat keduanya merasakan sesuatu yang berbeda..
"Dengar, aku mencintaimu dan hanya dirimu, apa itu belum cukup. Apa kau masih belum bisa mempercayai ucapanku?" tanya Gilang.
"Aku percaya mas." Jawab anggun terbata
Gilang menarik anggun kedalam pelukannya. Dan membenamkan tubuh mungil istrinya di dalam hangatnya dekapannya.
"Mulai saat ini Tidak akan ada lagi yang akan memisahkan kita berdua."
"Makasih mas" ucap anggun membalas pelukan hangat Gilang.
"kok cuma bilang makasih?'
"lah terus apa mas? Kembali anggun menunjukkan wjaah polos dan menggemaskannya.
"Beri aku sebuah ciuman untuk semua ketidak pekaaanmu." Ucap Gilangencebik kesal.
"Cium? Ditempat Rai seperti ini?" Tanya anggun.
Gilang mengangguk sebagai jawaban.
Anggun tampak bingung, dia melirik ke kiri dan kana, setelah dirasa cukup aman, anggun memberanikan diri mencium pipi Gilang. sontak wajahnya memerah menahan rasa malu dihatinya.
Merkea berdua kini duduk melihat matahari terbenam dari sisi tebing yang lumayan tinggi.
"Boleh mas bertanya?"
"Hem...."
"Sejak kapan kau mencintai mas?" Tanya Gilang.
Gilang memutar duduknya menghadap anggun untuk memastikan jawaban anggun dengan tidak sabar.
"Aku sendiri nggak tahu mas, cuma saat Cindy datang dan selalu perhatian pada mas, aku merasa kesal dan marah. Puncaknya saat kemaren dia mendatangi ku dan mengatakan jika mas dan dia akan segera menikah. Hatiku sakit, dan aku sadar aku mencintai suamiku." Jawab anggun lirih
"Mengapa aku memilih pergi?
Karena aku tidak mau melihat mas bersanding dengan nya, aku nggak akan kuat.
"Mas sendiri kapan mas mulai jatuh cinta pada ku?"
"kapan ya .." Gilang sengaja menggantung kalimatnya.
"Sejak kau menjadi istriku yang sesungguhnya." Ucap Gilang
Blush.... wajah anggun kembali merona mengingat kenangan pertama nya dengan Gilang.
" Aku sangat bahagia saat itu, karena istri yang tak mau ku sentuh datang sendiri dan menyerahkan dirinya padaku. Tapi sayang nya dia kabur setelah itu?"
__ADS_1
"Mas....ih...kok mulai????
"sudah lihat matahari nya sudah terbenam, tapi cinta mas tidak akan pernah terbenam dan pudar " ucap Gilang memegang kedua tangan anggun. Kemudian dia mencium keningnya.