
Anggun baru saja keluar dari ruangan dokter Faisal. Dia merasa bersyukur karena akhirnya Gilang di nyatakan sembuh.
"Gimana kondisi suami saya dok?" tanya anggun
"Suami ibu sudah pulih, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, hanya luka ringan diluar ditangan dan kakinya."
"Lalu bagaimana dengan tangan dan kakinya?"
"Alhamdulillah semua baik seperti sedia kala. Hanya perlu berhati hati di dalam berjalan karena masih dalam masa pemulihan. Semua berkat doa ibu." ucap dokter Faisal.
"Terima kasih dokter. Saya permisi dulu."
"Sama sama ibu." jawab dokter Faisal
Anggun berjalan keluar dan masuk ke dalam kamarnya. Dia mengeluarkan tas dan menyusun pakaiannya.
"Apa kita akan pulang hari ini?" tanya Gilang.
Anggun mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Gilang. Gilang sedikit heran melihat sikap anggun. Dia lebih banyak diam dan seperti ada yang sedang dia pikirkan.
Didalam hatinya anggun merasa sangat sedih. Hari ini suaminya pulang ke rumah dan di nyatakan sembuh sesuai perjanjiannya maka dia akan pergi hari ini.
Anggun tak sanggup menahan air mata yang dengan kerasnya berusaha keluar dan menetes.
"Ayo mas, semua sudah siap. " ucap anggun.
Tak berapa lama pak Joko datang dan membawa barang barang mereka. Anggun memapah Gilang dan menuntunnya berjalan.
Mereka sampai di pelataran parkir dan masuk kedalam mobil. Disepanjang perjalanan anggun juga tampak diam, hatinya sangat sedih. Sebentar lagi dia akan pergi, sedangkan anggun bingung akan pergi kemana? pulang? apa yang akan di katakan ibunya.
Pikiran anggun berkelana hingga mereka sampai di rumah Gilang tanpa dia sadari.
Pak Joko memasukkan barang barang Gilang di bantu oleh Bik Minah. Anggun membantu Gilang berjalan menuju kamarnya.
"Mas, aku ke kamar ku dulu!" ucap anggun.
Gilang sebenernya ingin mencegahnya, tapi dia sendiri bingung harus mulai bicara dari mana.
Anggun berjalan keluar dan memasuki kamarnya, dia mengeluarkan pakaiannya dan menyusun nya di falam.koper tanpa terasa airmatanya jatuh.
Takdir apa yang kau buat untukku ya Allah, rasanya aku tidak sanggup menjalaninya. Baru saja aku menikah tapi mengapa aku harus menjadi janda. Padahal aku masih belum melakukan kewajiban ku, apa memang seperti ini nasib yang harus aku jalani.
Anggun menangis dan terus menyusun pakaiannya. Dia mengusap airmatanya yang tak mau berhenti menetes.
__ADS_1
Ya Allah kuatkan lah hatiku, setidaknya jangan buat aku menangis di hadapan Gilang.
Anggun kembali teringat akan pesan singkat yang di kirim oleh Cindy. Yang mengatakan mengatakan jika Gilang akan segera menceraikan nya dan menikah dengan Cindy. Dia meminta anggun segera pergi dari kehidupan Gilang. Anggun mendesah berat dan kembali mematikan ponselnya.
Setelah semua beres, anggun ke dapur menyiapkan makan siang untuk Gilang.
Dia membawa makanan nya ke dalam kamar. Gilang duduk di atas ranjang sambil membaca buku.
"Mas, silahkan makan." ucap anggun
"Suapin"
Anggun mulai menyendokkan makanan dan menyuapkannya ke mulut Gilang. Satu persatu hingga makanan di piringnya habis, tapi anggun tak mau berbicara.
Selesai makan siang, Anggun memberikan obat pada Gilang dan menyuruhnya beristirahat.
"Del, mas mau bicara."
"Nanti saja mas, sebaiknya mas istirahat saja dulu."
Anggun terus berjalan ke belakang. Dia tak sedikitpu menoleh. Gilang hanya mendesah kecewa menatap punggung anggun yang menghilang di balik pintu.
Gilang tak bisa tidur, dia duduk dan membaca buku. Anggun tampak melamun di kamarnya.
Lelah melamun anggun mengambil kertas dan mulai menulis surat.
Malam ini setelah sholat isya, Anggun Kembali menyuapi suaminya. Anggun sedih mungkin hari ini adalah hari terakhir nya, karena besok pagi anggun bersiap siap untuk pergi.
Gilang juga sudah bisa berjalan walau masih menggunakan tongkat. Jadi untuk apa aku masih disini. bathin nya.
"Del, mas mau bicara" ucap Gilang.
Deg...dada anggun berdetak keras. Hatinya berusaha kuat untuk mendengar kalimat berikutnya. Kemungkinan terburuk sudah dia siapkan.
"Aku tahu mas, dan aku akan menepati janjiku" ucap anggun berusaha tegar.
"Apa tidak ada cara lain?" tanya Gilang terdengar frustasi.
"Ini yang terbaik mas." ucap anggun.
Dia mengambil piring dan meletakkannya nya di atas meja. Kemudian dia mengambil obat Gilang dan meminta Gilang untuk meminumnya.
"Del, dengarkan aku dulu."
__ADS_1
Anggun terdiam.dan menunduk, dia takut jika dia menatap wajah Gilang, Gilang bisa melihat cinta di matanya dan anggun tak mau terlihat lemah.
"Aku tak memiliki hubungan dengan Cindy."
Ucap Gilang.
Anggun yang duduk di tepi tempat tidur, terus menunduk menunggu kalimat berikutnya yang mungkin akan menjadi bom waktu untuknya. Yang siap memporak porandakan hatinya yang sudah sudah payah dia jaga.
"Del.."
Anggun yang sudah tidak kuat lagi langsung memotong kalimat Gilang.
"Aku nggak apa apa mas,mas tak perlu mengkhawatirkan aku. Satu lagi jangan mengasihani ku, aku ...aku...
Cup..
Gilang menyambar bibir anggun hingga di tak dapat melanjutkan kalimatnya.
"Mas nggak mau pisah darimu, mas membutuhkan mu." ucap Gilang
Anggun tersenyum miris, aku tak percaya mas, mas sangat membenciku mana mungkin dalam sekejap perasaan itu bisa berubah jadi cinta. Kau membutuhkan ku merawat mu mas, sebentar lagi ada Cindy yang akan mengurus mu.
"Mas, sadar mas salah selama ini tapi asal kau tahu, mas sangat..." ucap Gilang.
"Sudahlah aku tahu semuanya. Dan aku akan menerima nya."ucap anggun memotong kalimat Gilang. Anggun tak sanggup jika sampai Gilang meneruskan kalimatnya.
Gilang tersenyum girang, anggun juga mencintai nya,anggun membalas perasaannya.
Anggun menunduk, dia tak berani menatap wajah Gilang. Gilang mengangkat dagunya dengan tangan nya agar menatap Gilang.
Cup..
Kembali Gilang mencium bibir anggun. Anggun diam dan menegang. Gilang adalah pria pertama yang menyentuhnya.
Melihat anggun diam, Gilang kembali melanjutkan ciumannya. Perlahan dia ******* bibir mungil anggun. Lama keduanya berciuman hingga mereka kehabisan nafas.
Tak menunggu anggun menjawab Gilang kembali mencium bibir istrinya dan mulai memeluknya. Hingga akhirnya dia membaringkan tubuh anggun di tempat tidur. Matanya menatap penuh gairah. Anggun hanya dia dan pasrah. Gilang mulai melakukan kewajibannya sebagai seorang suami.
Anggun sungguh terkejut dengan perlakuan Gilang. Di dalam hatinya dia sangat sedih, tapi anggun berusaha tegar. Biarlah aku melakukan kewajiban Ku sebelum aku pergi. Setidaknya aku pernah menjadi istrinya yang sesungguhnya. Dan dia membiarkan Gilang mengambil haknya.
Anggun pasrah dan menyerahkan dirinya pada pria yang kini adalah suaminya. Pria yang dia cintai dalam diam.
Gilang memeluk anggun setelah menunaikan kewajibannya. Keduanya tertidur lelap. Gilang yang merasa sangat bahagia memeluk erat tubuh istrinya. Sedangkan anggun merasa sedih karena dia akan pergi meninggalkan Gilang.
__ADS_1
Gimana lanjutannya?
jangan lupa like, vote dan koin seikhlasnya.