
Pagi menjelang, azan di masjid terdengar merdu membangunkan anggun dari tidurnya.
Malam ini dia tertidur dengan sangat lelap. Nyaman dan hangat, itulah yang dia rasakan, anggun merasa sangat bahagia.
Netra nya yang terbuka dengan perlahan. Sebuah pemandangan indah di depan matanya, anggun terpaku dan tak lepas memandang lekat wajah damai suaminya yang Begitu dia cintai. Damai dan, tenang, keras kepala dan tentunya tampan.
Tangannya perlahan mengusap lembut rahang suaminya yang mulai di tumbuhi bulu bulu halus yang belum sempat di cukur oleh nya, namun itulah yang menambah ketampanan Gilang dimatanya.
Anggun sendiri heran mengapa dia sangat terpesona dengan gilang, padahal selama ini dia juga sudah tinggal bersama dan tidur bersama, namun sepertinya baru kali ini dia benar benar menyadari ketampanan suaminya dan rasanya ingin selalu dalam dekapan hangatnya.
"Sayang, ada apa?" Tanya Gilang membuyarkan lamunan anggun.
"Nggak ada apa apa mas." Jawab anggun malu.
"Bangun yuk, sudah siang kita belum sholat subuh." Ucap Gilang sambil meregangkan ototnya dan melepaskan Pelukan anggun.
Gilang tak mau berlama lama memeluk istrinya, bisa bisa dia tidak jadi sholat subuh dan mereka akan melakukan olahraga lagi.
"Bentar lagi mas" rengek anggun manja.
Gilang terkejut, biasanya justru Gilang yang suka memeluknya berlama lama, tapi ini justru kebalikannya.
Senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Masih mual dan pusing" tanya Gilang lembut kembali tangannya dia lingkarkan di tubuh istrinya.
Anggun menggeleng sebagai jawaban, dia menggambar sesuatu di dada Gilang, membuat garis abstrak, namun justru membuat darah Gilang berdesi hebat. Sungguh menguji kesabaran, bathin Gilang
"Sayang, lepas kau bisa membuatku hilang kendali, atau kau mau lagi?" Tanya Gilang yang kini sudah berguling dan menindih tubuh anggun. Posisinya tepat diatas tubuh sang istri.
"Mas" anggun ingin protes, namun terlambat Gilang sudah mendaratkan ciuman hangat penuh hasrat di bibirnya, tangannya mulai bergerilya mencari sesuatu yang sangat dia sukai, anggun pasrah dan ikut terbuai.
Pergumulan pagi yang melelahkan namun sangat menyenangkan, Gilang tak berlama lama karena mereka belum melaksanakan kewajibannya sebagai hamba Allah,
Gilang langsung bangkit dan berjalan ke kamar mandi, mandi dan segera sholat subuh begitu juga dengan istrinya.
"Mas, nggak sarapan?" Tanya anggun melihat Gilang sudah bersiap untuk pergi.
"Nanti saja, mas cuma sebentar, mau ijin. Mas mau bawa kamu ke rumah sakit, lihat wajah mu pucat,mas takut kamu kenapa Napa."
"Nggak usah mas, aku cuma lelah aja, habisnya kamu sih." Geutu anggun.
"Kok nyalahin mas, tadi pagi siapa yang mancing mancing mas, Hem" ucap Gilang yang kini sudah berdiri dihadapannya menarik anggun lalu dia mencium keningnya. "Mas berangakt dulu ya. assalamualaikum"
"Waalaikum salam" jawab anggun.
Anggun kembali masuk ke dalam rumah, dia mengambil roti dan menaruh selai diatasnya kemudian menggigit nya pelan. Baru satu gigitan, rasa mual itu kembali menyerangnya, dengan cepat Anggun berlari ke kamar mandi.
Karena belum memakan apapun, angggun hanya memuntahkannya cairan bening berwarna kuning yang sangat pahit.
__ADS_1
Dengan susah payah anggun berdiri dan membasuh wajahnya di wetafel, wajahnya terlihat pucat, keringat dingin juga mrmbanjiri dahi nya
Ada apa denganku, apa aku hamil?
Anggun berjalan kembalikan ke kamar, mengambil sesuatu yang dia beli krmaren di apotek.
Dengan hati hati dia menggunakannya alat tersebut setelah membaca petunjuk penggunaan nya.
Anggun menunggu dengan perasaan was was dan tak menentu, dia begitu nervous, berharap sesuatu benar terjadi, sebuah harapan wanita yang sudah menikah.
Satu garis merah terang dan satunya lagi masih samar samar. Keraguan menyelimuti dirinya, kekecewaan jelas terlihat, anggun lemas dan meletakkannya tespack tersebut ke tempat sampah.
Dia kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ya Allah, mengapa kau masih belum memberikan kepercayaan padaku, aku sangat menginginkannya hadir disini. Apakah aku belum pantas menerima rahmatmu, dan diberi tanggung jawab sebagai seorang ibu! Bisik anggun sambil mengusap perutnya.
Anggun yang masih merasa pusing memilih tidur, apalagi suasana hatinya yang kurang baik saat ini.
Terdengar suara motor Gilang di depan, anggun tak memperdulikan nya, dia masih dipenuhi rasa kecewa.
"Sayang, ayo ke rumah sakit. Lho, kamu kok belum bersiap?" Tanya Gilang heran.
"Nggak usah mas, aku cuma demam biasa minum obat juga sembuh." Jawab anggun menolak
"Tidak bisa, kita harus ke rumah sakit untuk memastikan penyakit mu, jangan di biarkan mas khawatir." Ucap Gilang
"Tapi mas?"
"Ayo buruan, sebelum mas berubah pikiran." Ucap Gilang
" Aku sudah siap mas."
"Kita naik mobil saja ya, mas takut kamu tambah sakit kalau kita naik motor." Ucap Gilang lagi
"Terserah mas" jawab anggun singkat.
Perjalanan menuju rumah sakit hanya sepuluh menit. Gilang langsung memarkirkan mobilnya dan mereka berdua turun, berjalan masuk ke dalam.
Anggun dan Gilang duduk mengantri Setelah tadi Gilang mendaftarkan istrinya. Tak berapa lama giliran anggun yang di periksa.
"ada keluhan apa Bu?" Tanya dokter Halimah.
"Istri saya merasa mual, pusing dan muntah dok" jawab Gilang.
"Naik bu, biar saya periksa." Ucap dokter halina meminta anggun naik ke ranjang untuk di periksa.
Dokter mulai memeriksa anggun, "kapan terakhir menstruasi Bu?" Tanya dokter halima dengan suara lembut.
" Bulan lalu dok, bulan ini belum" jawab anggun
Dokter tersenyum, untuk memastikan nya saya akan melakukan USG, bisa buka bajunya sedikit Bu?" Tanya dokter Halimah.
__ADS_1
Istri saya sakit apa dokter?" Tanya Gilang takut dan was-was, jika istri nya menderita penyakit yang serius.
" Kita periksa dulu ya pak!" Jawab dokter ramah
Dokter halina mengoleskan gel diperutnya dan mulai melakukan USG , beberapa saat kemudian dokter tersebut tersenyum.
"Selamat bapak ibu, ibu anggun positif hamil. " Ucap dokter
"Hamil? Ucap keduanya bersamaan. Wajah bahagia tampak jelas di wajah kedua pasangan ini.
"Lihat ini," dokter menunjukkan calon bayi yang masih sangat kecil, Dan untuk usianya kira kira baru tiga Minggu " ucap dokter Halimah
"Ok bu, silahkan kembali duduk." Ucap dokter mengakhiri pemeriksaan nya.
Anggun duduk di samping Gilang, Gilang menggemgam tangan istrinya erat, di yang begitu bahagia tak mampu menyembunyikannya.
"Tapi saya tadi melakukan tes dok dan hasilnya samar samar, kok bisa ya dok?" Tanya anggun
"Bisa jadi karena baru berusia beberapa Minggu Bu, dan saya harap ibu bisa menjaga kesehatan ibu, emosi juga harus stabil jangan stress dan melakukan pekerjaan berat. Jual muntah dan pusing itu hal biasa di trimester pertama kehamilan, biasanya akan hilang jika sudah memasuki bulan keempat." Jelas dokter Halimah
"Apakah melakukan itu, juga berbahaya dokter?" Tanya Gilang ragu
"boleh pak, tapi harus hati hati dan jaraknya juga tidak boleh sering seminggu satu atau dua kali, karena janin dalam kondisi rentan. Ingat harus hati hati ya pak " jawab dokter sambil tersenyum
Gilang jadi malu dan salah tingkah.
"ini vitamin yang harus ibu makan ,agar bayinya sehat, jangan lupa minum susu dan makan makanan bergizi. Perbanyak buah ya Bu "
Terima kasih dokter. Anggun dan Gilang berpamitan. Diluar Gilang yang sudah tak sabar langsung memeluk istrinya, rasanya dia benar benar bahagia, " terimakasih sayang" ucapnya mencium kening istrinya dan mengusap lrmbut perut anggun.
"Ayo kita pulang, kamu harus banyak istirahat, "
"Mas, aku cuma hamil jangan berlebihan"
"Todak sayang, kita harus menjaganya, ini anugrah dari Tuhan yang paling indah Setelah dirimu " ucap Gilang
Mereka berdua kembali ke rumah, Gilang memborong banyak buah dan Juga susu ibu hamil.
*Mas",panggil anggun
"Aku pengen makan bubur mas"
"Bubur apa?' tanya Gilang antusias
"Bubur duren."
"Bubur duren? Dimana belinya, mas juga baru dengar?" Tanya Gilang heran.
"Ada mas, lihta di Google pasti ada bubur duren." Jawab anggun
__ADS_1
Gilang menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Sebentar mas cari dulu." Ucapnya