
Gilang membawa anggun ke rumah orangtuanya. Sesuai kesepakatan mereka, mereka berdua akan mengaku jika mereka berbohong dan berharap rencana pernikahan mereka dibatalkan.
Perasaan gugup mulai menyerang anggun, semangat dan keberanian nya lenyap saat menatap rumah megah di hadapannya.
Bukan karena dia terpesona dengan kekayaan dan kemewahan rumah Gilang. Bukan karena keluarga Gilang yang tajir, tapi sebuah rasa ragu menusuk ke dalam relung hatinya.
"Ayo turun" ucap Gilang.
"Eh..iya iya." jawab anggun segera turun dari mobil Gilang.
Jangan kira Gilang bersikap manis seperti dalam kisah novel, si cowok membuka kan pintu untuk wanitanya. Ini dunia nyata dan Gilang melenggang meninggalkan anggun begitu saja.
Rasa ragu membuat langkah anggun lambat. Gilang menoleh ke belakang dan dia merasa kesal.
"Hei pesek, bisa jalan nggak sih. Gitu aja lama amat. Buruan!!" ucapnya
"Sabar kenapa, dasar cowok nggak peka." guman anggun.
Gilang yang nggak sabar menarik tangan anggun, namun anggun segera menepisnya.
"Bukan muhrim." ucap anggun.
Gilang yang akan marah seketika terdiam mendengar ucapan anggun.
Mereka berdua kembali berjalan bersama.
"Lang, kamu yakin!!!
Pertanyaan anggun menghentikan langkah Gilang, Dia menolah dan menatap tajam anggun.
"Apa kau ragu?" tanya Gilang.
Jangan ditanya wajahnya, Seperti singa kelaparan yang siap memakan anggun hidup hidup.
Anggun menggeleng ketakutan.
"Bu..bukan begitu. Ya udah ayo!" ucap anggun setelah menarik nafas dalam.
Tok...tok...tok...
"Assalamualaikum," ucap Gilang
"Waalaikum salam," terdengar jawaban dari dalam.
"Eh mantu mama datang, ayo masuk!" sambut mama Gilang menarik tangan Anggun agar mengikutinya masuk dan duduk di dalam. Setelah cipika cipiki.
Gilang geleng kepala melihat sikap mamanya. Dia ikut masuk dan duduk di sofa di depan anggun.
"Gimana kabarmu sayang, mama senang deh, kamu datang mengunjungi mama. Gimana kabar ibumu"
__ADS_1
"Alhamdulillah mama sehat Tante." jawab anggun.
"Kok Tante sih, mama dong. Kan sebentar lagi kamu jadi mantu mama, ya kan Lang."
"Ma. sebenarnya kedatangan _"
"Nanti aja lang, Kita makan aja dulu, kebetulan mama baru selesai masak, Lang ajak anggun ke meja makan,. Mama panggil papa dulu." ucap Bu Yanti memotong ucapan Gilang.
Anggun menatap Gilang meminta penjelasan, tapi Gilang sendiri tak bisa berbuat apa apa. Dia menggedikkan bahunya.
"Kita makan aja dulu." ucapnya akhirnya
Mereka berdua berjalan menuju meja makan dan duduk, Bu Yanti datang dan duduk disamping anggun bersama suaminya.
"Sore om" sapa anggun
"Sore," ucapnya menatap anggun.
" Ayo mulai, sayang ambilkan makanan untuk Gilang." ucap Bu Yanti.
Anggun mengambil piring dan mengambilkan nasi, lauk dan sayur. Lalu menyerahkan nya kepada Gilang. Dia sendiri mengambil piring dan mengisinya dengan makanan untuknya.
"Sedikit sekali makan mu sayang, ambil yang banyak, jangan sungkan." ucap Bu Yanti.
"Iya Tan, makasih tapi porsi makan anggun memang cuman segini." jawab anggun.
Mereka mulai makan bersama sambil mengobrol.
"Oh ya nak anggun, kenal dimana dengan Gilang?"
"Kami dulu satu sekolah pa, waktu SMA dan belum lama ini bertemu kembali." jawab Gilang.
"Oh.. berarti sudah kenal karakternya Gilang kan? Dulu itu dianya bandel banget waktu sekolah sampe mama pusing dibuatnya." ucap Bu Yanti.
"Ma..." protes Gilang.
Bu Yanti dan pak Mansyur terkekeh. Sementara anggun tersenyum kecut.
*Andai Tante tahu, akulah yang melaporkan perbuatan nya kepada guru. bathin Anggun.
Pesek kampungan ini yang melaporkan ku kepada guru ma, hingga aku dihukum dan tak dapat uang saku selama satu bulan.
Mengingat kejadian itu, amarah Gilang kembali berkobar, dia cowok terganteng dan terpopuler harus menahan malu karena di hukum melakukan tindakan asusila di toilet sekolah*.
"Mama tanya ini, biar anggun nggak kecewa karena dia tahu siapa kamu Sebenarnya. Dan mama senang jika kalian sudah saling kenal sebelumnya. Jadi mama nggak perlu repot repot menjelaskan, ya kan pa."
Pak Mansyur manggut-manggut tanda setuju.
Anggun yang mendengar ucapan Bu Yanti menjadi semakin bersalah di dalam hatinya. Tangannya gemetar dan rasanya makanan yang dia makan tak bisa melewati kerongkongannnya.
__ADS_1
Betapa antusias dan bersemangatnya kedua orangtua Gilang, dan anggun tak sanggup untuk mematahkannya. Apalagi dia seorang guru, dia mampu membaca isi hati seseorang melalui gerak, mimik wajah dan sikap. Anggun semakin di landa keraguan.
"Loh sayang, dihabiskan makanannya! masakan mama nggak enak ya?" tanya Bu Yanti menyadarkan lamunan anggun. Makanan di piringnya hanya dia aduk tanpa dimakan..
"Eh.. enak kok Tante."
"Makanlah yang banyak, Kau tahu nak, mama sangat senang, bisa kumpul makan bersama seperti ini di meja makan, apalagi jika mungkinkan mama ingin setiap hari. Ada kamu , Gilang dan mama papa."
Tenggorokan anggun rasanya semakin tercekik, makanan yang dia makan tak mampu lewat hingga dia tersedak dan terbatuk.
"Uhuk .uhuk...uhuk.."
Cepat cepat Gilang memberinya minum, melihat dia yang kesusahan.
Pak Mansyur senyum senyum sendiri, dia senang melihat kepedulian anaknya.
Makan malam selesai,. Anggun membawa piring kotor dan mencucinya, walau Bu Yanti menolak, tapi anggun tetap melakukan nya.
Pak Mansyur dan Gilang berjalan ke ruang tamu, namun pak Mansyur memintanya mengikutinya ke ruang kerjanya.
"Lang, ikut papa"
Langkah Gilang berat mengikuti papanya. Pasti ada hal penting, jika tidak papanya tidak akan mengajak nya bicara secara pribadi.
"Papa tahu maksud kedatangan mu kesini." ucap pak Mansyur to the point.
Gilang mangangkat kepalanya menatap papanya.
"Jangan kira papa tidak tahu, dia gadis yang menyebabkan kau di hukum di sekolah bukan? Lalu atas dasar apa kau ingin menikahinya?"
Gilang bernafas lega, dia pikir papa nya mengetahui rahasia nya dan anggun yang berpura pura.
"Tapi papa bersyukur, karena kau memilih gadis yang tepat, dia gadis yang baik, cantik dan sholeha. Kau beruntung, Di jaman sekarang ini sulit mencari gadis yang seperti dia.
Banyak diluaran sana gadis cantik dan berhijab tapi yang Sholeha seperti anggun jarang papa lihat. Papa merestui mu nak, satu pesan papa jangan kau sia siakan dirinya, karena kau akan sangat menyesal nanti setelah dia pergi, kau tak akan mendapatkan gadis yang seperti itu lagi."
"Tapi pa!!"
"Sebenarnya aku dan anggun berbohong, maaf kan aku pa!" ucap nya sedih.
"Bohong? Apa maksud mu?"
"Maafkan Gilang pa, Gilang salah!!!!"
"Jelaskan apa maksud mu?"
"Sebenarnya aku dan anggun tidak memiliki hubungan, kami hanya sebatas saling mengenal,tidak lebih" jawab Gilang jujur. Terlihat jelas wajah penuh penyesalan.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan selanjutnya? Kau ingin membatalkan rencana pernikahan ini? Apa kau tidak memikirkan apa yang dirasakan oleh mama mu, mamanya anggun? betapa kecewanya mereka. Apa pernah kau pikirkan semua itu!!!!" Bentak pak Mansyur
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan Gilang???"