
Setelah matahari tenggelam mereka berdua kembali ke villa. Karena letaknya yang tak.begitu jauh, Anggun dan hilang dapat dengan segera tiba disana.
Anggun segera bergegas ke kamar mandi dengan langkah tergopoh gopoh. Magrib hampir selesai dan dia belum juga melaksanakan kewajibannya.
Gilang menyusul masuk dan dilihatnya anggun sudah selesai mandi, dan bersiap sholat.
"Mas, buruan keburu habis waktunya?' ucap anguun.
"Kamu duluan saja, nanti isya kita baru berjamaah." ucap Gilang santai.
Malas berdebat, Anggun menyegerakan sholat meninggalkan suaminya. Gilang melangkah ke kamar mandi. Mandi dan segera menyusul istrinya melaksanakan kewajibannya menghadap sang pencipta.
Senyum lebar mengembang di bibir mungil anggun. saat melihat imamnya melaksanakan ibadah sholat.
Alhamdulillah ya Allah, suamiku mau melaksanakan keajaibannya menyembahmu. bathin anggun.
Makan malam romantis ala babang Gilang, mereka lakukan di pelataran villa. Hanya berdua ditemani lilin dan makan ikan bakar.
"Sayang, apakah ini sudah seperti di film film? atau drakor yang suka kau tonton?" tanya Gilang.
Anggun yang semula asyik makan tiba tiba berhenti dan menatap suaminya. "Mas, aku nggak suka nonton drakor mana aku tahu." ucap anggun.
"Biasanya para gadis suka nonton drakor itu yang bintangnya Lee min ho. Bukankah dia sebelas dua belas dengan mas." ucap Gilang narsis.
"Hahahah..." Anggun tak dapat menahan tawanya. Pede sekali suaminya.
"Mas nggak salah? mas sebelas dua belas dengan lee min ho?" tanya Anggun sambil tertawa.
Merasa disepelekan Gilang mencebik kesal dan memanyunkan bibirnya.
Anggun melihat suaminya kesal, meraih tangannya dan berkata dengan lembut.
"Mungkin orang diluar sana mengidolakan Lee min ho dan mungkin dia lebih tampan dari mas, tapi bagiku mas lah yang paling tampan di dunia ini." ucap anggun.
Mendengar ucapan Anggun, wajah Gilang berubah menjadi merah, sungguh hatinya begitu tersanjung dengan ucapan istrinya.
"Mas, pipi kamu kenapa?" tanya anggun yang tahu jika suaminya tersipu malu.
"Mas nggak apa apa,emangngnya kenapa?" tanya Gilang menutupi rasa malunya yang ketahuan oleh anggun.
"Nggak, nggak apa apa. Mas, kamu malu ya? hahahah" kembali Anggun mentertawakan Gilang. Gilang mencebik kesal, namun akhirnya dia ikut tertawa bersama Anggun.
Makan malam romantis ala ala Gilang dan Anggun telah selesai. Keduanya makan sambil mengobrol dengan santai,
Pukul sepuluh malam keduanya masuk ke dalam kamar. Setelah sholat isya, Gilang naik ke tempat tidur lebih dulu. Menunggu anggun yang mengganti pakaiannya dan membuka hijabnya.
"Yang...." panggil Gilang yang merasa jika anggun sangat lama.
"Hemm...." jawab anggun sambil menyisir rambutnya yang panjang.
Anggun berjalan dan ikut merebahkan dirinya di samping Gilang.
Tanpa menunggu waktu Gilang memeluknya, "Mas, sesak, aku nggak bisa nafas?" ucap Anggun dan mendorong pelan dada Gilang yang memeluknya erat.
Hehehehe....
"Itu hukuman mu karena membuatku menunggu lama."
"Menunggu apa?" tanya anggun heran.
__ADS_1
"Menunggu kamu berdandan, kamu itu nggak usah dandan sudah cantik malah lebih cantik seperti ini." ucap Gilang.
Anggun membenamkan kepalanya di dada Gilang menutupi rasa malunya.
"Mas...boleh tanya?"
"Hem..."
"Kok Hem sih, janji dulu di jawab ya mas?" ucap anggun.
"Mau tanya apa?" ucap Gilang masih menikmati wangi rambut anggun di dalam dekapannya.
"Mas.... mas bilang mas cinta samaku, sejak kapan mas?" tanya anggun.
Deg....Gilang terdiam, walau dia yakin anggun akan mempertanyakannya suatu hati nanti, tapi Gilang masih belum siap membaginya.
"Kenapa? apa kau masih meragukan mas?'
"Bukan, aku hanya ingin tahu mas. Mas dan Cindy kan dah lama dekat, sejak SMA lagi. Dan mas juga....." anggun menggantung kalimatnya. Rasanya tak sanggup melanjutkannya.
Melanjutkan ucapannya membuat hatinya terasa nyeri dan cemburu.
"Dan apa?" tanya Gilang dengan sorot mata tajam.
"Kau benar mau tau kebenarannya?" tanya Gilang menatap wajah anggun yang menunduk.
"Lihat mas, kau benar sudah siap mendengar nya?" tanya Gilang sekali lagi.
Entah apa sebabnya hati anggun meragu. Anggun takut kejujuran Gilang menambah nyeri di hatinya disamping rasa penasaran dan ingin tahu yang kuat.
Lama anggun terdiam, setelahnya dia mengangguk.
"Mas akan cerita, tapi jangan memotong cerita mas, sebelum mas selesai. Ok!"
Anggun mengangguk sebagai jawaban.
"Kamu sudah tahu jika dulunya mas itu playboy. Dan kamu juga sudah melihat nya bukan, mas dan Cindy di kamar mandi. Tapi mas, tidak sebejat yang kau tuduhkan waktu itu,
Yang mas lakukan hanyalah sebatas pelukan dan ciuman tidak lebih." ucap Gilang.
"Tapi kan waktu itu....! anggun memprotes, ada nyeri di hatinya mendengar kejujuran suaminya.
"Stop, tadi janji nggak di potong!' protes Gilang. Anggun kembali terdiam. Dia menutup rapat mulutnya mendengarkan Gilang melanjutkan ucapannya.
"Dilanjutin nggak nih!" tanya Gilang menggoda anggun.
Anggun mengangguk.
"Waktu itu mas begitu kesal dan marah padamu. Karena ulah mu mas, mendapat ejekan dan hinaan terlebih lagi uang jajan mas dipotong selama satu bulan. Dan semua itu karena kau melaporkan mas dan Cindy di toilet waktu itu." Gilang berhenti sebentar menjeda kalimatnya.
"Sejak saat itu mas begitu benci padamu dan mas ingin balas dendam, hingga mas terus mengikutimu dan mencari tahu kelemahan mu. Mas begitu senang saat bisa mempermalukan mu waktu itu di sekolah, mas puas dan senang."
Gilang berhenti dan mendesah pasrah. Nafasnya terasa berat dan penuh penyesalan.
"Tapi saat melihatmu menangis dan menamparku waktu itu, aku tersadar satu hal, aku sedih. Dadaku terasa hampa. Aku tidak merasakan kebahagiaan walau aku berhasil membalasmu, berganti rasa bersalah, tapi aku terlalu malu untuk meminta maaf padamu.
Sejak saat itu kau berjanji untuk setia pada satu wanita. Dan aku memilih seorang gadis, sayangnya dia membohongiku dan mengkhianati ku.
Hukum karma berlaku, dan aku yang mendapat balasan atas semua perbuatanku dulu. Sejak saat itu, aku tak lagi mempercayai wanita apalagi menjalin hubungan serius.
__ADS_1
Hingga akhirnya kita bertemu waktu itu." ucap Gilang.
"Berarti mas masih mencintai?" ucap.anghun. Terasa perih dihatinya saat mengatakan nya tapi dia mencoba ikhlas.
"Tidak, sebenar nya mas sudah menyukai mu sejak pertemuan kita yang pertama, saat mas menyelamatkan ku waktu itu. Tapi sikapmu yang masih membenci mas, membuat mas menekan dalam rasa itu." ucap Gilang.
"Jangan jangan lamaran itu benar ide mas?" tanya anggun lagi, kali tatapan matanya menelisik tajam mencari kejujuran Dimata Gilang.
"Kalau itu benar bukan ide mas, dan mas tak menolak karena sebenarnya mas juga menyukaimu."
"Terus saat kita menemui orang tua mas, kenapa mas setuju?'
"Karena kamu menolak mas, tapi mas yakin kamu pasti akan jatuh cinta pada mas!" ucap Gilang penuh percaya diri.
"Nggak juga , sebenarnya aku juga punya ...."
"Udah ah mas ngantuk mau tidur!" potong Gilang.
"Mas nggak ingin tahu masa lalu aku?" tanya anggun penasaran.
"Nggak, Karena mas sudah tahu semuanya." ucap Gilang enteng dan mulai memejamkan matanya.
"Mas tahu masa lalu aku? mas tahu darimana? jangan asal mas." ucap anggun.
"Mas sudah tahu jika kamu belum pernah pacaran, perasaan kamu ke dia hanya lah kagum bukan cinta, buktinya kamu nggak apa saat dia pergi ninggalin kamu. Kamu hanya sebatas suka, dan dia manfaatin perasaan kamu itu kan?"
Anggun membelalakkan matanya, Rasanya biji salak menyangkut di tenggorokan nya hingga dia susah untuk menelan ludahnya.
Melihat wajah anggun panik, gang tersenyum dan menarik kepalanya dan membenamkan nya kembali ke dadanya, walau anggun berontak.
"Mas....mas tahu dari mana? siapa yang cerita ma mas?" tanya anggun sambil terus menggoyang tangan gilang.
"Dari buku harian kamu?'
"Apa? mas membacanya? kamu...kamu..." anggun marah dan malu. Dia memukuli gang dengan membabi buta.
"Maafkan mas, tapi mas senang, Karena mas pria pertama untukmu, dan jujur kamu adalah wanita pertama mas, walau sikap kamu jutek dan sok nggak perhatian tapi mas yakin kamu juga mencintai mas." ucap Gilang
Anggun terdiam, dia merasa tersanjung sekaligus malu. Gilang mengangkat dagunya agar anggun menatapnya.
"Mas, tak pernah menyesal memaksamu menikah dengan mas, Karena mas mendapatkan bidadari surga yang cantik dan Sholehah."
Gilang mendekat kan wajahnya dan anggun memejamkan matanya siap menerima perlakukan manis suaminya, keduanya mulai hanyut dengan cinta dan kebahagiaan. Menyalurkan asa dan hasrat yang dipenuhi cinta mencapai surga dunia bersama.
Anggun dan Gilang jujur dengan perasaan masing masing, dan mereka berdua merasa bahagia.
Pagi menjelang, anggun mengajak Gilang pulang kembali ke rumah mereka.
"mas, sebelum pulang kita singgah ke rumah kost aku ya?"
"Tidak perlu, cukup katakan dimana alamatnya, biar anak buah mas yang mengambilnya." Ucap Gilang.
"Baiklah, nanti aku kasih alamatnya." Ucap anggun.
"Mas, kita pulang ke rumah kan?" Tanya anggun sambil mengemasi bajunya dan memasukkan ke dalam koper yang tersedia disana.
"Tidak, kita pulang ke rumah mama, kita harus menemui ibu dan meminta maaf." Ucap Gilang.
Anggun membenarkan ucapan suaminya. Mereka memang bersalah dan harus meminta maaf kepada ibu mertuanya.
__ADS_1
Apakah ibunya Gilang mau memaafkan mereka?