
Acara terus berlanjut hingga malam hari. Orang tua Anggun mengundang banyak rekan dan kerabatnya. Maklum anggun adalah anak satu satunya. Sebenarnya dulu anggun memiliki seorang kakak sayangnya sang kakak harus meninggal karena kecelakaan saat pulang sekolah.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Para tamu pun sudah pulang semua Hanya tinggal kerabat dekat dan keluarga saja.
"Sebaiknya kalian juga istirahat" ucap mama Dewi.
"Iya ma, Anggun duluan ya ma." ucap anggun meninggalkan ruangan tersebut. Gilang masih tampak sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Nak Gilang, silahkan istirahat. Biar ini dibereskan oleh pihak wedding organizer saja." ucap Bu Dewi.
"Baik Bu, Gilang masuk dulu ya."
Gilang segera menyusul anggun masuk ke dalam kamar.
Bu Dewi hanya tersenyum melihat menantunya pergi. Di dalam hatinya dia berdoa semoga pernikahan Gilang dan Anggun mendapat restu dan segera memiliki momongan.
Gilang membuka pintu kamar, namun dia tak menemukan anggun, dia melihat isi kamar yang baru pertama kali di lihatnya.
Kamar yang cukup sederhana dan kecil untuk ukuran rumahnya. Hanya ada tempat tidur Sebuah lemari, meja rias kecil dan meja belajar. Walau kecil dan sempit, namun kamar tersebut terlihat rapi.
Pandangannya jatuh kearah tempat tidur yang sudah di hiasi dengan bunga bunga. Didalam hatinya Gilang tertawa kecil.
Malam pertama! tak akan ada malam pertama diantara mereka berdua. Dia sudah berjanji didalam hatinya tidak akan menyentuh Anggun.
Anggun keluar kamar mandi dengan rambut basahnya. Di sudah tak mengenakan baju pengantinnya lagi. Anggun memakai piyama tidur panjang dengan rambut basah yang masih di bungkus handuk.
Pertama kali Gilang melihat rambut panjang dan tubuh indah anggun. Selama ini dia selalu menutupinya dengan gamis longgar dan hijab panjangnya.
Gilang terpesona, anggun yang polos tanpa make up terlihat begitu cantik dimatanya. Naluri nya sebagai laki laki normal bangkit, ingin rasanya dia segera mendekap anggun, memeluknya dan mencium bibir merah mudanya. Sesuatu di dalam dirinya berdesir hebat, namun akal sehatnya mengingatkan dirinya.
"Ingat Lang, kamu menikahinya hanya karena paksaan orangtuamu , kau tidak mencintai nya dan dia juga tidak mencintai mu. Jangan sampai kau tergoda, Kau harus sadar, sadar..." ucapnya dalam hati
__ADS_1
"Mengapa kau memandangiku seperti itu?" tanya anggun sewot. Jujur dia tidak suka dengan cara Gilang memandangnya, seolah olah Gilang ingin menelanjanginya.
"Jangan GeEr, siapa yang suka padamu. Dada rata , aku tidak tertarik dengan mu " ucap Gilang. Dia melemparkan jasnya dan meraih handuk. Lalu masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama terdekat suara gemericik air menandakan jika Gilang sedang mandi.
Anggun menarik nafas dalam, baru beberapa menit mereka menikah dan kini mereka sudah bertengkar. Seperti apa pernikahan yang akan mereka jalani nanti nya, anggun sendiri tak tahu dan takut membayangkannya.
Anggun berjalan memunguti jas dan kemeja Gilang yang berserak di lantai. Dia menaruhnya diatas keranjang pakaian kotor. Anggun membuka koper Gilang dan mengambilkan pakaian gantinya. Walau pernikahan mereka hanyalah sandiwara tapi Dimata Allah pernikahan mereka sah. Anggun tak mau menjadi istri durhaka, dan dia akan melayani Gilang.
Gilang melenggang keluar kamar dengan handuk melilit di pinggangnya. Anggun yang melihat langsung membalikkan badannya dan menutup mukanya.
"Lang, apa yang kau lakukan!"
"Aku , aku hanya mau mengambil bajuku." ucap Gilang cuek. Dia mengambil pakaiannya dan memakainya.
"Bisa nggak sih, pakai bajunya di kamar mandi!" protes Anggun.
"Nggak usah sok deh, kamu memang pengen lihat tubuh aku kan, kamu pasti seneng banget , ngaku deh!"
Anggun bersiap menjerit, namun Gilang yang dapat melihat nya segera membekap mulut anggun dengan tangannya.
"ehm...ehmmm..." ucap anggun dan berontak.
Gilang mendelik dan membentaknya pelan. "Jangan teriak, atau orang orang akan mengira kita..." akh...diam lah." ucap Gilang kesal.
Hampir saja anggun berteriak dan membuat orang orang mentertawakan mereka karena mengira mereka sedang....
"Bisa diam!" ucap Gilang.
Anggun mengangguk cepat. Gilang melepaskan tangannya dan Anggun ingin mengatakan sesuatu, namun Gilang langsung menatapnya tajam. Tanpa sadar Gilang mengikis jarak diantara mereka berdua. Gilang dapat melihat wajah anggun dengan sangat jelas begitu sebaliknya, Anggun dapat melihat wajah tampan Gilang.
"Dengar, jika kau tak mau diam, aku akan membungkam mu dengan caraku." ancamnya.
__ADS_1
Kemudian dia mengedipkan sebelah matanya genit.
Anggun bergidik ngeri dibuatnya. Seketika anggun menggeleng sebagai jawabannya.
"Anak pintar," ucap Gilang.
Dia bangkit dan meninggalkan Anggun yang masih tertegun di tempatnya. Anggun belum mampu menguasai dirinya. Dia masih syok dengan tindakan Gilang.
"Oh ya, jangan panggil aku nama, mulai saat ini biasakan memanggilku mas. Ingat, aku suami mu." ucap Gilang.
"Kenapa harus mas, kan bisa bang!" protes anggun.
Gilang kembali merasa kesal karena Anggun yang selalu mendebatnya, bahkan urusan panggilan saja harus berdebat.
"Aku buka. Abang tukang bakso, dan siomay langganan mu. Aku suami mu dan aku mau kau memanggilku mas."
"Baik mas." jawab Anggun.
"Bagus, aku akan membacakan tugasmu sebagai istriku.
pertama kau harus melayaniku , menyiapkan semua kebutuhan ku mulai dari pakaian, makanan dan semuanya.
Kedua, didepan orang orang kita harus selalu mesra dan kelihatan harmonis.
Ketiga, jangan menggangu urusan pribadi masing masing.
Deal" ucap Gilang menyodorkan tangannya.
"Deal" anggun menjawab tantangan Gilang dan menjabat tangannya.
"Aku akan lapar, siapkan makanan untuk ku." ucap nya.
__ADS_1
jangan lupa dukung penulis dengan like vote dan koin seikhlasnya.