
Malam harinya mereka kembali ke rumah orangtua anggun. Setelah makan malam bersama anggun memilih masuk ke dalam kamar dan tidur lebih dulu.
Gilang masuk dan mendapati istrinya yang sedang tertidur. Dia berjalan mendekat, dan tersenyum karena dia tahu jika anggun berpura pura tidur.
Muncul ide jahil untuk mengerjai anggun. Gilang ikut merebahkan tubuhnya dan dari belakang dia memeluk anggun. Seketika tubuh anggun menegang. Darah mengalir deras di dalam tubuhnya. Matanya terbuka dan tubuhnya menegang.
Gilang menyadari perubahan anggun, namun dia berpura pura dan semakin memeluk erat anggun.
Anggun melepaskan tangan Gilang yang memeluk tubuhnya, namun bukannya lepas Gilang malah semakin erat memeluknya.
"Mas..lepas!" ucap anggun akhirnya.
Gilang diam dan berpura pura tetap tidur, anggun kesal dan menyikut perut Gilang. Gilang langsung mengaduh kesakitan.
"Apa yang kau lakukan, kau mau membunuh suami mu!" ucap Gilang memegang perutnya yang terasa sakit.
"Kau yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, ingat batasan mu." ucap anggun. Dia mengambil bantal dan memasangnya di tengah tengah.
"Kau, kau mau jadi istri durhaka!" ucap Gilang.
Anggun tak menjawab, dia memilih kembali tidur. Gilang tak habis akal, dia mendekat dan berbisik kuat di telinga anggun.
"Kecoa!!!" ucap Gilang.
"Anggun langsung melompat kearahnya dan memeluknya. "Usir usir .... jauh jauh...." ucap anggun mengibaskan sebelah tangannya dan tetap memeluk Gilang.
Gilang tersenyum tipis, "apa dadaku terlalu nyaman untuk mu." ucap Gilang.
Refleks anggun melepaskan pelukannya, dia melirik ke kiri dan kanan, Gilang tertawa melihatnya.
"Kau mengerjaimu!!" ucap anggun kesal.
Gilang semakin keras tertawa. Anggun yang kesal kembali mencubit perutnya sekuat tenaga.
"Auw...sakit, kau KDRT tau!"
"Au ah aku mau tidur."
Anggun menyusun bantal guling sebagai pembatas dan membaringkan tubuhnya. Membiarkan Gilang yang mengaduh kesakitan.
Gilang bangkit dan duduk di meja belajar anggun. Diperhatikan nya anggun yang sudah tertidur pulas.
Lelah duduk dan berpikir ,dia bangkit akan beranjak kembali ke tempat tidur, tapi dia tertegun menatap buku kecil berwarna pink di bawah Al-Qur'an.
Gilang melirik anggun dan memastikan jika dia sudah tertidur pulas. Gilang meraih buku yang dia yakini adalah diary anggun.
Perlahan Gilang membukanya dan dia mulai membacanya, Gilang tersenyum sendiri, cemberut dan kesal membaca diary anggun.
Ternyata si pesek pernah di kecewakan pantas saja dia tak mempercayaiku, kasihan juga dia hanya di manfaatkan, bathin gilang sedkit kesal.
Gila g terus mebacanya hingga pada satu bagian yang membuatnya terdiam dan membacanya berulang ulang.
*Ya Allah hari ini aku merasa sangat bersyukur, kau telah mengirimkan malaikat yang telah menyelamatkan diriku dan juga kehormatan ku, dia datang dan menyelamatkan ku dari para preman itu. Aku sangat bersyukur ya Allah, kau telah mengirimkan nya untuk ku.
Gilang tersenyum tipis, hatinya merasa hanagta dan bahagia.
__ADS_1
Dihalaman berikutnya...
Apa yang telah aku lakukan, mengapa aku begitu bodohnya mau menuruti keinginan nya dan mau dibawa ke acara keluarganya. Sehingga semua orang menganggap aku adalah calon istrinya, calon istri pria mesum dan menyebalkan itu. Bermimpi pun aku tak pernah membayangkan nya.
Gilang tertawa sendiri mengingat kejadian di pesta Devan.
Dear diary...
Malapetaka akhirnya datang, akibat kecerobohan ku mamanya datang dan ingin melamar ku. apa yang harus aku lakukan*.
Gilang terus membacanya hingga pada halaman yang terlipat rapi.
*Ya Allah aku menerima semua takdir yang engkau tuliskan untukku, jika memang dia jodohku aku menerimanya, hanya satu pinta ku ya Allah, berilah aku keikhlasan dan kesabaran hingga aku mampu menjalani semua ini dengan sabar dan ikhlas. Aku yakin akan ada kebahagiaan yang engkau siapkan untukku, nanti.
Walau aku tahu dia membenciku, tapi aku menerimanya sebagai imam yang engkau pilihkan untukku, untuk itu aku mohon berikan lah hidayah untuknya agar dia berada di jalan mu.
Saat* Gilang ingin membalik halaman berikutnya anggun berbalik dan Gilang refleks menutup bukunya dan meletakkannya kembali.
Gilang memandang wajah anggun. "Dia sabar dan ikhlas menerima ini semua tapi mengapa dia tak bisa menerima ku dan menolakku sebagai suaminya?"
Gilang mengambil bantal dan selimut kemudian dia memilih tidur di bawah, bisa gawat jika dia tidur disebelah anggun. Gilang takut dia khilaf.
Gilang tak bisa memejamkan matanya, pikirannya tak mampu mencerna kalimat anggun yang ikhlas menerimanya tapi tak mau dia sentuh. Lama dia berpikir hingga akhirnya dia tertidur pulas.
Pagi ini Anggun bangun tak mendapati Gilang disebelahnya. Dia duduk dan terkejut ternyata Gilang tidur di bawah.
Setelah mandi dan bersiap anggun bermaksud membangunkan Gilang, ternyata orangnya sudah bangun dan berjalan ke kamar mandi. Anggun meletakkan pakaiannya di atas tempat tidur. Dan berlalu ke dapur.
...****************...
"Kami berangkat pagi ini pa, besok Gilang dan anggun sudah masuk kerja. Jadi kami mau bersiap siap."
"Baiklah, papa hanya berharap kau bisa menjaganya, dia harta papa satu satunya."
"Gilang akan menjaganya, Gilang janji pa." ucap Gilang.
Selesai sarapan Gilang menarik koper anggun keluar kamarnya, Bu Dewi tampak menangis memeluk putrinya.
"Ma, jangan nangis ma, anggun nggak jauh kok. Anggun akan s ring jenguk mama kesini."
"Iya, mama nggak nangis kok. Kamu jaga dirinya nak. Jangan lupa makan."
"Iya ma."
"Gilang jaga anggun ya, bahagia kan dia."
"ya ma, Gilang dan anggun pamit ya ma." ucap Gilang menggandeng tangan istrinya.
Mereka memasuki mobil dan berangkat ke rumah Gilang. Anggun tertegun melihat rumahnya. Kini dia harus tinggal di rumah baru dan hidup dengan Gilang.
"Gilang tak mengatakan apapun dia terus melajukan mobilnya hingga tiba di rumahnya.
Samapi disana Gilang langsung turun dan membawa koper anggun, tanpa bicara.
Anggun masuk kedalam rumah dan masuk ke dalam kamarnya. Mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper dan menyusunnya.
__ADS_1
Anggun mendengar suara motor Gilang pergi. Dua duduk di tepi tempat tidurnya.
"Neraka baru di mulai, apa aku sanggup hidup seperti ini terus!" bathinnya.
Gilang pergi menemui bosnya, di perjalanan tadi dia mendapat informasi jika terjadi kesalahan di lapangan dan Gilang kesana untuk memeriksanya.
"Bagaimana suda diketahui penyebabnya? tanya Gilang pada asisten nya.
"Masih diselidiki pak. Pak Gilang kan sedang cuti kok masuk?"
"Tidak apa apa, lagipula besok saya juga sudah masuk kerja."
Dua jam kemudian Gilang pulang ke rumahnya. Dilihatnya anggun sedang memasak makan siang untuknya dan suaminya.
Gilang bersandar di pintu dan terus memperhatikan anggun dari velakang. Dengan cekatan dan lincah anggun menyiapkan makan siang mereka. Tanpa dia sadari bibirnya tersenyum tipis.
Gilang balik ke ruang tamu dan duduk di sofa menunggu anggun masak sambil nonton televisi.
"Sudah lama mas" ucap anggun menyapa Gilang.
"Baru saja, kau sudah masak. Aku lapar!" ucap Gilang.
"Sudah"
Gilang berjalan ke dapur dan anggun menyiapkan makanan untuk ya.
"Kapan kau masuk kerja?" tanya Gilang.
"Besok" jawab anggun.
"Bagus, aku akan menyuruh supir mengantarmu!" Ucap Gilang.
"Tidak usah mas, aku naik motor ku saja." anggun menolak.
"Baiklah hati hati di jalan. Jangan lupa menghubungiku jika terjadi sesuatu di jalan."
"Baik mas".
Mereka makan dengan lahap. Harus Gilang akui anggun pandai memasak dan masakan anggun sesuai dengan selera nya.
Selesai makan siang, anggun ke dapur mencuci piring, ponsel Gilang kembali berdering.
"Ya, Ok aku kesana sekarang. "
Anggun berdiri di dekat pintu saat Gilang menjawab telponnya .
"Del...aku mau keluar sebentar. Kau bisa istirahat dan tidur tapi jangan lupa kunci pintunya"
Tak menunggu jawaban Gilang segera bergegas keluar rumah dan mengendarai motor sportnya.
Anggun hanya diam menatap kepergian Gilang.
Kemana dia pergi, apa dia menemui Cindy lagi? Siapa sebenarnya Cindy apa dia pacar Gilang?
Aku harus bisa menjaga hatiku agar aku tak jatuh cinta padanya.
__ADS_1