Benci Tapi Menikah

Benci Tapi Menikah
Sidak mertua.


__ADS_3

Anggun bangkit dan menutupi tubuhnya, bajunya robek karena di buka paksa oleh Gilang. Anggun bangun dan mengunci kamarnya. Dia kembali menangis sejadi jadinya di dalam kamar.


Anggun sedih karena sikap kasar Gilang.


Apa yang telah merasuki suamiku, hingga dia hampir saja memperkosa ku, istrinya sendiri.


Aku tahu dia berhak atas diriku tapi apa harus dengan cara kasar seperti itu dia memintanya, aku ini istrinya bukan mainan nya.


Anggun terus menangis sepuasnya.


Diluar Gilang terlihat semakin prustasi. Dia tersadar dengan apa yang dia lakukan. Dia tak menyangka pertengkarannya dengan Devan membuat dirinya hampir saja memaksa istrinya.


*Mengapa aku bisa terhasut oleh Devan. Mengapa aku harus marah saat dia mengatakan mencintai istri ku! aku tak mencintai anggun, Lalu untuk apa aku marah?


Gilang* duduk di teras dan meremas rambut nya dengan kasar. Wajahnya kusut sekusut pikirannya saat ini.


Waktu terus berlalu hingga malam menjelang. Anggun tak juga keluar kamar, Gilang semakin merasa bersalah dan khawatir.


Gilang mengetuk pintu kamar anggun berkali kali tapi tak ada sahutan apalagi pintu yang terbuka.


Gilang duduk di sofa hingga malam dan tertidur disana.


Pagi pagi sekali Anggun sudah bangun. Dia melakukan kewajiban nya dan bersiap ke sekolah. Sesuai ijin cutinya, hari ini dia harus masuk.


Anggun ke dapur membuat sarapan untuk nya dan Gilang. Dia melihat Gilang masih tertidur di sofa, tapi tak sedikit pun dia berani membangunkannya. Anggun masih trauma dan takut.


Gilang tak seperti yang dia bayangkan, ternyata dia kasar.


Gilang terbangun dan duduk. Diliriknya jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.


Gilang bangkit dan berjalan menuju kamarnya, dia dapat mencium aroma masakan anggun. Sudut bibirnya tertarik ke belakang.


Alhamdulillah ternyata dia baik baik saja.


Aku akan meminta maaf nanti.


Gilang terus berjalan menuju kamarnya dan mandi. dia keluar, namun tak mendapati istrinya.


Makanan telah terhidang lengkap dengan teh nya. Sebuah note, terletak disebelah sarapannya.


"Aku berangkat lebih dulu, jangan lupa kunci pintu."


Gilang meletakkan note itu kembali, dia tak berselera memakan sarapannya.


"Bik", panggil Gilang pada asisten rumah tangga yang baru saja datang.


"Ya pak."


"Masukkan ke dalam kotak bekal ku, Aku akan memakannya nanti."


Dengan cepat Bik Minah membungkus masakan anggun dan memberikan nya kepada Gilang. Didepan Gilang sudah menunggu bersama supirnya.


"Jalan pak!" ucap Gilang pada pak Joko.


Anggun mengendarai motor bebeknya hingga ke sekolah. Dia melaksanakan kewajibannya seperti biasa.

__ADS_1


Malam harinya anggun langsung masuk ke dalam kamar, saat Gilang pulang kembali kerumah. Tak ada komunikasi diantara keduanya. Gilang tak mendapat kesempatan untuk bicara dengan anggun, karena dia menutup dirinya dan berkurung di dalam kamarnya.


Semua itu tak luput dari pantauan Bik Minah. Walau dia tak menginap disana, tapi dia dapat mengetahui semuanya. Gilang dan anggun yang tidur terpisah dan kekakuan hubungan diantara keduanya. Bahkan Setiap pagi dia yang selalu menyiapkan bekal bosnya.


Mama Gilang tak tinggal diam mendengar laporan bik Minah. Siang ini dia sengaja datang berkunjung dan berencana menginap di rumah anak dan menantunya.


"Assalamualaikum" ucap anggun memasuki rumah.


"Waalaikum salam sayang, kamu sudah pulang!" sambut bu Yanti


"Mama, kapan datang ma." tanya anggun terkejut.


"Kok gitu sambutannya, kamu nggak senang mama datang!" ucap Bu Yanti pura pura marah.


"Nggak gitu ma, anggun cuma kaget aja. kalau bilang kan anggun akan siap siap." ucap anggun.


"Nggak pa pa sayang, mama mau menginap disini, papa ada tugas keluar kota dan mama sendirian di rumah. Bolehkan mama menginap?"


"Ya ...no...boleh ma!" jawab anggun terbata.


Jika mama menginap, dia akan tidur di kamarku, wah bisa ketahuan nih aku. Gimana ini!!!"


"Sayang kok bengong, kamu nggak suka ya mama datang, ya udah mama pulang aja."


"Eh..e..engak ma , saya senang banget malah ma, oh ya, mama sudah makan?"


"Sudah."


"Nggak usah khawatir, masakan kamu enak banget, mama suka. Sudah sana ganti baju dulu, mama mau nonton Indosiar kesayangan mama."


"I...iya ma." jawab anggun gagap.


Anggun bingung mau masuk ke dalam kamar, takut ketahuan tapi dia ingin mengganti pakaiannya.


Dengan mengendap endap dia memasuki kamarnya dan membuka lemari, dia terkejut semua baju bajunya sudah tidak ada disana. "Dimana pakaianku!" bathinnya.


Saat mencari pakaiannya terdengar suara Gilang memasuki rumah.


"Ma, mama nggak apa apa, Ma?"


"Mama nggak apa apa Lang, mama cuma mau bicara dengan mu." ucap Bu Yanti tegas.


"Anggun" panggilnya.


"Ya ma!"


Anggun bergegas keluar dari kamarnya dan menemui mama mertua nya yang sudah duduk berhadapan dengan Gilang.


"Duduk!" ucap bu Yanti tegas.


Anggun duduk di sebelah Gilang, perasaan nya was was pasti ada yang tidak beres. Apa mama tahu semuanya dan dia yang menyimpan pakaianku? tapi dimana.


"Mama sengaja mendudukkan kalian berdua."


Ucap Bu Yanti memulai ceramahnya. Anggun tersentak dari lamunannya.

__ADS_1


"Gilang, anggun apa yang sebenar terjadi diantara kalian?"


"Tidak ada ." jawab anggun dan Gilang bersamaan. Kedua nya saling pandang, namun anggun dengan cepat menundukkan kepalanya.


"Trus ini apa? kalian tidur berpisah, tidak saling menyapa, apa maksud semua ini Lang, jelaskan kepada mama."


"Mama tahu dari mana? apa kau yang mengadu?" ucap Gilang menantap tajam anggun.


"Gilang!" bentak Bu Yanti.


Gilang terdiam.


"Anggun tidak mengadu kepada mamanya atau mama, tapi mama tahu semuanya. Kalian tidur terpisah! apa maksudnya ini? apa kalian pikir pernikahan ini sandiwara dan kalian bebas mempermainkannya." bentak Bu Yanti.


"Bu..bukan seperti itu ma!" ucap anggun.


"Mama kecewa padamu nggun, mama ikut kamu bisa membuat Gilang menjadi lebih baik, kamu gadis Sholeha, baik cantik dan terpelajar. Mama pikir kau bisa menjadi istri yang baik dan menantu yang membanggakan, tapi kau sama saja dengan Gilang, kalian mengecewakan mama, Kalian telah mempermainkan pernikahan".


Anggun tak dapat membendung airmatanya, kata kata bu Yanti menusuk hatinya. Benar dai telah mempermainkan pernikahan, dia telah mengecewakan wanita sebaik ibu mertuanya, gimana jika sampai mamanya tahu.


"Ma.. maafkan anggun ma" ucap anggun disela tangisnya.


" Mama malu....


Mama kecewa .. pada kalian berdua." Bu Yanti juga ikut menangis.


Anggun yang terisak, turun dan menyembah kaki ibu mertuanya.


"Maafkan anggun ma, maafkan anggun, anggun salah ma."


Gilang hanya tertunduk lesu.


"Gilang, jika kau tidak mencintai nya, kembalikan dia sekarang juga kepada orangtuanya, daripada kau menyiksanya seperti ini. Ceraikan anggun!


Kata cerai yang diucapkan mamanya membuta Gilang membulatkan matanya. Walau dia tak mencintai anggun, namun tak terpikir sedikitpun untuk menceraikannya.


"Ma!"


"Apa? untuk apa dia tersiksa bersama mu, lepaskan dia dan biarkan dia bahagia."


"Tapi ma, Gilang nggak .."


"Gilang, lepaskan dia, dan besok mama akan menemani mu mengantarkannya kembali ke rumah Bu Dewi.


"Gilang nggak mau ma!"


"Kamu tidak punya pilihan."


"Mama pulang, dan anggun kau kemasi barang barang mu. Mama minta maaf, tapi mama ingin yang terbaik untuk kalian berdua."


setelah bicara bu Yanti mengambil tasnya dan berjalan keluar rumah. Dia memanggil pak Joko dan memintanya mengantarkannya pulang.


Anggun hanya duduk terdiam di tempatnya. Pikirannya bercampur aduk,


Cerai....kata kata itu terus berputar di kepalanya.

__ADS_1


Batu menikah dua Minggu dan kini aku sudah menyandang status baru, ya Allah cobaan apa lagi ini. Sesial itukah hidupku!!!


Gilang duduk terdiam tak mengatakan apapun. Lama keduanya terdiam, hingga akhirnya Gilang bangkit dan keluar mengendarai motornya dengan kencang.


__ADS_2