Benci Tapi Menikah

Benci Tapi Menikah
Merawat


__ADS_3

Gilang melajukan motonya kencang. Pikirannya ruwet, tujuannya adalah bar. Dia ingin menenangkan hatinya dengan minum. Gilang ingin melupakan semua masalahnya. Menikah dengan anggun membuatnya banyak masalah.


Gilang terus melaju dengan kencang dan tiba di bar. Dia duduk di depan bartender dan memesan minuman. Dia terus memesan hingga mabuk.


Jam sepuluh malam Gilang pulang sempoyongan dan mengendarai motonya. Karena mabuk dan ngebut di sebuah tikungan Gilang jatuh dan menabrak pembatas jalan.


Orang orang menolongnya dan membawanya ke rumah sakit.


Dert...derrrt...


"Ya halo" jawab anggun.


"Dengan keluarga bakal Gilang Riski Ramadhan?"


"Iya saya istrinya" jawab anggun dengan perasaan nggak enak.


"Maaf Bu saat ini pak Gilang ada di rumah sakit VI karean mengalami kecelakaan, ibu bisa datang kesini segera."


"Kecelakaan, baik baik saya akan kesana sekarang." ucap anggun kebingungan.


Anggun mengambil tas dan ponselnya, dia pergi ke rumah sakit seorang diri dengan motor maticnya.


Setengah jam kemudian dia sudah sampai di rumah sakit. Dia langsung menemui perawat dan menanyakan dimana ruangan Gilang.


Dengan tangan gemetar anggun membuka ruang rawat Gilang. Dapat dia lihat, Gilang terbaring dengan perban di kepalanya dan juga tangan dan kakinya.


Tubuh anggun lemas tak bertenaga. Dia tak berani membayangkan apa yang telah terjadi pada suaminya. Tadi di sepanjang jalan anggun terus berdoa demi keselamatan suaminya.


Anggun duduk di samping Gilang yang masih memejamkan matanya. Tangannya terulur pelan mengusap kepala Gilang. Airmata nya jatuh tanpa permisi dan mengalir dengan deras. Anggun terisak menahan tangis.


"Mas..... bangun mas....jangan tinggalkan aku, aku takut mas..." ucap anggun.

__ADS_1


Gilang diam tak bergerak dan tak membuka matanya.


perawat masuk dan memeriksa keadaan Gilang.


"Bagaimana kondisi suami saya sus?" tanya anggun.


"Ibu bisa menanyakannya langsung kepada dokter." ucap perawat.


Anggun bangkit dan menemui dokter.


"Permisi dokter." ucap Anggun.


"Silahkan masuk!". jawab dokter dengan ramah.


"Saya istri dari pasien yang mengalami kecelakaan tadi, gimana keadaanya dokter?" tanya anggun was was.


"Pak Gilang maksud ibu?"


"kondisi nya lumayan parah Bu, kaki dan tangannya patah, kepalanya juga luka. Kemungkinan pak Gilang tidak akan bisa berjalan lagi Bu, Kalaupun dia bisa berjalan mungkin akan menggunakan tongkat." jelas dokter yang bernama Faisal.


"Apakah tidak ada cara lain dokter?" tanya Gilang.


"Kita akan berusaha melakukan yang terbaik Bu, untuk hasilnya serahkan sama yang diatas. Dan itu hanya kemungkinan terburuk Bu."


"Terima kasih dokter."


Anggun berjalan keluar dengan perasaan sedih. dia bersandar di dinding kamar rawat Gilang.


"Jika dia lumpuh, bagaimana dengan karier nya, apa dia sanggup menerimanya?" bathin anggun.


Anggun kembali masuk kekamar rawat Gilang setelah dia berhasil menguatkan hatinya.

__ADS_1


Anggun menghapus airmatanya dan duduk di sebelah Gilang.


Tak berapa lama Gilang membuka matanya. "Mas, kamu sudah sadar mas!" ucap anggun senang.


"Kenapa kau disini?" tanya Gilang dingin.


"Alhamdulillah kamu nggak apa apa mas!"


"Sebaiknya kamu pulang saja. Tak usah mengasihani ku." ucap Gilang.


Anggun menarik nafas dalam dan menghembuskan nya. "mas,...


"Sudahlah, aku tahu kau tidak mencintai ku, dan ingin berpisah dengan ku, sebaiknya kau pergi sekarang, apalagi yang kau pikirkan. Tak ada gunanya bertahan dengan pria cacat seperti ku. Benar kata mama, sebaiknya kita berpisah!" ucap Gilang


"Mas, kamu apa apaan mas, apa salahku hingga kau mau menceraikan ku!" ucap anggun menangis.


Gilang sendiri sebenernya merasa sakit mengucapkan kata cerai tersebut. Di dalam hatinya terasa ada yang hilang dan kosong.


"Sebaiknya mas istirahat. Aku akan mengabari mama!"


"Jangan, tak perlu mengabari mama, aku tidak mau penyakit jantung mama kambuh. Sudahlah sebaiknya kau pulang, ada perawat yang akan merawat diriku." ucap Gilang


Anggun diam namun dia tak bergeming. "Aku..aku bersedia kau ceraikan jika kau sudah sembuh, sebelum kau sembuh, aku akan merawat mu karena itu tanggung jawabku." ucapnya


Gilang tak menjawab dia hanya diam. Tak berani menatap wajah anggun.


Pagi pagi sekali Anggun bangun dan pulang kerumahnya. Gilang masih tertidur pulas.


Anggun menelpon ke sekolah dan meminta ijin cuti selama beberapa hari. Apalagi saat ini anak anak sedang ujian mid semester, jadi kepala sekolah mengijinkannya.


Dia mengambil beberapa pakaian gantinya dan juga Gilang. kemudian dia kembali ke rumah sakit untuk merawat Gilang.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan koin seikhlasnya. Terima kasih


__ADS_2