
Gilang kembali pulang tanpa membawa hasil. Perjuangannya hari ini sia sia. Besok dia harus sudah kembali bekerja mengingat jika cutinya sudah habis.
Gilang kembali ke dalam kamarnya, dia duduk termenung menatap photo Anggun yang baru saja dia pajang disana. Photo Anggun yang dia curi secara diam diam dia ambil dari akun sosial media nya.
"Sayang, kamu dimana sekarang?" ucapnya lirih mengusap photo yang sama di ponselnya.
Sungguh menyedihkan memang nasibku ini, mengapa aku baru menyadari jika aku menyayanginya dan mencintai nya, apa yang aku lakukan selama ini hingga aku tak menyadari perasaan ku sendiri.
Adel dimana dirimu, tahukah kau betapa aku sangat merindukan mu, aku merindukan mu adelia. bathin Gilang.
Gilang kembali coba menghubungi istrinya, namun tak tersambung juga. "Apa mungkin dia sengaja memblokir nomorku?" ucapnya pelan.
Gilang menarik nafas kasar dan dalam kemudian menghembuskan nya dengan berat. Diam dan berpikir.
Gilang mengambil ponselnya yang dia pakai untuk bekerja dan coba menelpon anggun tetap tak tersambung . Gilang semakin merasa kecewa dan sedih.
"Sayang, mas pasti akan menemukan mu dan membawamu kembali." ucapnya pada dirinya sendiri.
Ditempat lain, anggun pun hanya bisa duduk termenung. Dia termasuk orang yang tertutup dan hanya membagi masalah pada orang orang yang dia rasa nyaman, bahkan kepada ibunya pun anggun tak menceritakan semua masalahnya.
"Kamu sedang apa mas? apakah kamu sudah meminum obatmu, jangan tidur terlalu larut dan sibuk bekerja, nanti kau akan sakit mas" ucapnya tanpa sadar.
Dia memeluk guling dan menangis.
Sesakit inikah rasanya berpisah dengan orang yang kita sayaang!" bathin anggun.
Tiga hari berlalu, hari ini Anggun berencana akan berangkat ke sekolah. Karena cutinya juga sudah habis. Gilang bolak balik ke sekolahnya dan menanyakannya kepada satpam namun orang yang dia cari belum juga datang.
Siang ini Anggun bersiap untuk pulang ke rumah kostnya, namun Linda dengan cepat menahannya.
"Nggun makan bakso ditempat biasa yuk, aku lagi pengen banget." ucapnya.
"Maaf Lin, tapi aku nggak bisa. Aku buru buru." tolaknya.
"Memangnya kenapa? apa Gilang tak mengijinkan mu, apa dia belum sembuh? kata mas Haris Gilang sudah kembali bekerja, apa perlu aku yang ijin ma dia, iya?" tanya Linda.
"Sini ponselmu biar aku yang minta ijin." ucap Linda.
Alhamdulillah mas Gilang sudah sembuh dan sudah kembali bekerja, bathin anggun.
"Maaf, tapi aku beneran nggak bisa Linda. Aku.....!"
Linda menyeret anggun menjauh dan menatapnya tajam.
"Kamu kenapa nggun, cerita ma aku, aku kan sahabatmu atau kau sudah tak menganggap aku teman? ucap Linda dengan wajah memelas dan suara dibuat sedih.
Anggun tak bersuara hanya tetes air mata sebagai jawaban atas pertanyaan Linda.
"Ayuk," Linda menarik anggun. Mereka keluar gerbang menuju kafe yabg letaknya hanya beberapa meter dari sekolah.
__ADS_1
Linda memesan dua mangkok bakso dan dia mengajak anggun bicara di lantai atas yang kebetulan sunyi di jam segini. Biasanya lantai dua hanya di gunakan pada malam hari saja.
"Sekarang cerita!" ucap Linda tegas.
"Aku...aku pergi dari rumah." ucap anggun sedih.
"Pergi? apa kak Gilang mengusir mu?" tanya Linda dengan mata terbuka lebar.
Anggun menggeleng.
"Lalu kenapa kau pergi?" tanya nya masih dengan nada tinggi.
Anggun akhirnya menceritakan semuanya, awal perjanjian pernikahan mereka, hingga kehadiran Cindy yang memintanya meninggalkan Gilang karena mereka akan segera menikah.
Linda geleng geleng kepala dibuatnya. "Trus kamu peegi gitu aja, kamu itu istrinya, kamu berhak atas Gilang, kok malah kamu yang pergi. Harusnya kamu yang buat pelakor itu pergi." ucap Linda dengan nada marah.
"Aku nggak bisa, mas Gilang tidak mencintai ku dia mencintai Cindy."
"Tapi kau istrinya!" ucap Linda kuat.
Untung hanya mereka berdua yang makan disana, jika tidak mereka akan jadi pusat perhatian.
"Apa kau mencintai suami mu?" tanya Linda menatap anggun tajam.
Anggun diam tak menjawab.
Linda mangut manggut, "Sudah tak perlu kau jawab, aku tahu jawabannya." ucap Linda sedih.
"Menangis lah jika itu membuatmu lebih baik, aku tahu perasaan mu saat ini." ucap Linda lembut.
Beberapa menit kemudian, Anggun kembali duduk dan mengusap airmatanya. "Terimakasih Lin, kamu selalu ada buatku." ucap nya.
"Itulah sahabat." jawab Linda.
"Lantas sampai kapan kau akan sembunyi begini. Dan dimana saat ini kau tinggal!" tanya Linda.
"Aku tinggal di kost tak jauh dari sini. Aku belum berani pulang ke rumah."
"Pulanglah, kasihan ibumu dia pasti khawatir. Aku yakin Gilang pasti sudah mencarimu disana." ucap Linda
"Benar yang dikatakan oleh Linda, mas Gilang pasti sudah kerumah, mama...pasti mama khawatir." ucapnya.
"Baiklah besok aku akan pulang ke rumah mama, tapi kau harus janji jangan beri tahu mas Haris atau Gilang, aku di rumah ibu "
"Ok, sekarang yuk makan baksonya keburu dingin." ucap Linda.
Mereka berdua makan bakso dengan hening. Sesekali Linda bercerita tentang Akila, sang buah hati yang lucu untuk menghibur dan mengalihkan perhatian anggun.
Sore menjelang Gilang pulang ke rumahnya. Didepan dia melihat ada sandal seorang wanita.
__ADS_1
siapa yang bertamu ke rumahku? apa anggun yang pulang, tapi mana mungkin! bathinnya
Gilang terus melangkah,dan membuka pintu rumah. Alangkah terkejutnya dia melihat Cindy disana.
Cindy asyik menyusun makanan diatas meja.
"Gilang, kamu sudah pulang sayang!" ucap Cindy dengan suara manja.
"Apa yang kau lakukan dirumahku!" ucap Gilang dengan suara meninggi.
"Sayang, aku membuat makan malam untuk mu, aku yakin kau belum makan kan?"
"Pergi kau dari rumahku!" bentak Gilang.
"Sayang..." Cindy mendekat dan ingin menyentuh Gilang namun dia menepis tangan Cindy.
"Siapa yang mengijinkan mu masuk kedalam rumahku! apa kau tidak malu mendatangi seorang pria beristri!" sindir Gilang.
"Istri mana! bukankah dia sudah pergi. Akhirnya dia sadar juga dimana posisinya." ucap Cindy.
"Apa maksud mu, apa yang kau katakan pada nya?" ucap Gilang mencengkram erat bahu Cindy. Cindy mengaduh kesakitan.
"Lepas, sakiit Lang.." ucap Cindy. Namun Gilang tak bergeming.
"Katakan cepat, apa yang kau ucapkan pada istri ku." bentak Gilang.
Cindy ketakutan, nyalinya menghilang melihat kemarahan Gilang.
"Apa kau mengusirnya?" ucap Gilang dengan nada yang cukup tinggi hingga terdengar keluar.
Cindy yang merasa terjepit juga nggak kalah emosi. Dia menatap Gilang dengan nyalang.
"Ya, aku yang menyuruhnya pergi, dia tidak pantas mendampingi mu, hanya aku, aku!!!" ucap Cindy penuh emosi.
"Aku yang pantas mendampingi mu bukan wanita sialan itu." bentak Cindy.
Gilang mendorong tubuh Cindy hingga dia jatuh terduduk dilantai.
"Asal kau tahu dia itu istriku dan aku mencintai nya." ucap Gilang tegas.
Cindy semakin sakit hati mendengar ucapan Gilang yang mengatakan dia mencintai istrinya.
"Tapi aku juga mencintaimu! apa kekuranganku hingga kau lebih memilih dia!
"Dia lebih segalanya, dan satu lagi dia tidak murahan seperti mu " ucap Gilang kemudian dia pergi dari sana.
Gilang kembali melajukan mobilnya, dia bingung hendak mencari anggun dimana. Gilang membelokkan mobilnya ke rumah Haris.
Gilang ingin menghilangkan stress nya, setelah capek berdebat dengan Cindy. Gilang masih tak habis pikir jika Cindy yang meminta istrinya pergi.
__ADS_1
"Sayang....dimana kau!!!" bathin Gilang