
Gilang dan anggun kembali ke kota mereka setelah sarapan. Anggun duduk manis di samping suaminya yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.
Anggun tak banyak bicara, hatinya gundah membayangkan kemarahan ibu mertuanya. Wajar jika mama marah, kami memang bersalah, telah mempermainkan pernikahan. Bathinnya.
Gilang dapat memahami perasaan anggun saat ini. Dia meraih tangan anggun dengan sebelah tangannya dan menggemgam nya erat. "Jangan khawatir, kita akan menghadapinya bersma sama. Percaya pada mas, semua akan baik baik saja." Ucap Gilang menennagkan.
"Mas, apa ibu....!' anggun menggantung kalimatnya, dirinya enggan melanjutkannya.
Kehawatiran jelas terlihat diwajahnya, mengingat kalimat mertuanya yang menyuruh mereka bercerai.
Tanpa terasa mobil yang mereka kendarai telah tiba di tempat tujuan. Sebuah rumah megah dipenuhi bunga bunga yang indah.
"Ayo turun, jangan takut, ada mas?" Ucap Gilang meyakinkan anggun.
Mereka berdua berjalan bersisian, Gilang menggenggam erat tangan anggun.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam" terdengar sahutan dari dalam rumah.
Cwkleek suara pintu terbuka.
"Mama" ucap anggun meraih tangan wanita itu dan menciumnya.
"Masuk!" Ucap Bu Yanti dengan suara datar.
Gilang membawa istrinya masuk dan duduk di sofa berhadapan dengan mamanya.
"Apa yang membawa kalian berdua kesini?" Tanya Bu Yanti dengan ketus.
"Maafin kita berdua ma. Kami sadar apanyang kami lakukan salah. Dan kami sudah menyadari nya, kami minta maaf." Ucap Gilang.
"Tak perlu minta maaf pada mama, minta ampun lah kepada Allah," ucap Bu Yanti masih dengan nada ketus.
"Tapi ma, kami bersalah pada mama. Kami mengecewakan mama. Maafkan kami, kami janji akan memperbaikinya." Ucap Gilang
"Sudahlah mama sudah memaafkan kalian, Gilang antar anggun pulang?'
"Pulang? Ini juga rumahnya ma? Mengapa mama mengusir nya?"
"Mama tidak mengusir nya, tapi tidak baik kalian bersama, bukankah kalian akan bercerai? Jadi untuk apa lagi dia disini?"
Anggun tak dapat menahan air matanya yang sejak tadi sudah menggenang dipelupuk matanya.
"Ce..Rai? Ucapnya pelan
"Iya, mama rasa itu adalah pilihan terbaik untuk kalian berdua."
" Tapi ma, aku mencintai anggun begitu juga sebaliknya." Ucap Gilang
"Jangan membodohi mama lagi. Mama tahu selama ini kalian bersandiwara. Tidur terpisah, rumah tangga macam apa itu? Lagipula mama sudah sepakat dengan Bu Dewi. Mama rasa ini keputusan terbaik.Mama ingin kalian berdua bercerai demi kebaikan bersama.
"Tidak ma,mama salah. aku mencintai anggun ma, aku nggak mau cerai darinya?" Ucap Gilang meyakinkan mamanya.
"sudahlah jangan mbohongi mama lagi. malam tahu semuanya."
"Mama akan mengantarkan nya pulang ke rumah orangtuanya, dan kau bebas memilih pasangan hidupmu Kali ini mama tidak akan memaksamu lagi."
"Tidak, jangan bawa anggun. Aku tak akan berpisah dengannya. mau mama setuju atau tidak yang pasti aku mencintai anggun dan aku bahagia hidup dengannya. Aku tidak akan menceraikannya. Maafkan aku ma." Ucap Gilang
"Sayang ayo kita pulang, tidak ada gunanya kita lama lama disini."
"Tapi mas?"
"Sudah ayo!!! Gilang menarik paksa tangan istrinya.
Sepanjang jalan perjalanan pulang kerumah mereka, Gilang tak bersuara. Anggun juga takut Untuk memulai pembicaraan. Anggun tahu saat ini Gilang sedang sedih dan kecewa. Anggun tak mau membuatnya semakin kesal, dia memilih diam.
__ADS_1
"Mas, sabar mas. Mungkin saat ini mama sedanf marah pada kita. Tapi aku yakin mama akan merestui kita ,semua butuh waktu mas. Mas, sudahlah mas jangan marah lagi." Ucap anggun mengusap lembut lengan suaminya.
Kata kata anggun masuk ke dalam hati dan pikiran Gilang. Dia seperti tersadar. Tiba tiba amarahnya lenyap bersama dengan usapan lembut anggun di lengannya.
Anggun memang paling mengerti dirinya. Dan Gilang sangat bersyukur karena bisa memiliki istri yang baik dan pengertian.
Dirumahnya mama yang tersenyum senang, aktingnya tak sia sia. Total dan sangat meyakinkan hingga Gilang ketakutan dan kewalahan dibuatnya.
"Anak anak nakal itu, harus diberi peringatan agar mereka sadar jika mereka itu saling menyayangi dan saling membutuhkan. Jangan hanya menuruti ego dan gengsi, padahal mereka saling cinta. Untung semalam aku ketemu Bu Dewi, hingga aku bisa membuat persiapan." Ucap Bu Yanti tersenyum lega.
"Tugasku telah selesai, sisanya aku tunggu kabar dari Bu Dewi. Biar kedua nak bodoh itu mau mengakui perasaannya. Saling cinta tapi gengsi." Ucapnya kembali.
Gilang dan anggun telah tiba di kediaman mereka. Gilang memasuki rumah b gitu juga dengan anggun.
Anggun sempat tertegun lama di depan pintu kamarnya. Bagaimana tidak, sudah hampir sebulan dia meninggalkan rumah ini. Bahkan dia berpikir jika dirinya tak mungkin lagi kembali kesini, mengingat dia akan memajukan cerai kepada suaminya.
"Sayang, apa yang kau lamunkan?" tanya Gilang yang sudah berdiri didepan anggun.
"Nggak ada mas, aku hanya terlalu merindukan rumah ini." ucap anggun menunduk.
"Ini rumah mu dan rumah kita. Kita akan membangun impian kita bersama disini, dengan anak anak kita kelak." ucap Gilang.
"Tapi mas, gimana dengan mama? bukankah mama menentang hubungan kita! jujur, aku takut mas, aku takut jika harus berpisah dengan mu tapi aku juga takut jika kau menjadi anak yang durhaka karena melawan mama." ucap anggun sedih.
"Dengar kan aku, Allah paling membenci yang namanya perceraian, dan Allah tidak pernah merestui itu walau hal itu tidak di haramkan. Aku akan berusaha meyakinkan mama jika kita benar benar serius dengan pernikahan kita ini. Dan aku, aku janji aku akan menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan anak anak kita kelak."
"Kita berdua pernah mengecewakan mama dan mungkin itu yang membuat mama tidak bisa mempercayai kita lagi, mas" ucap anggun.
"Percaya pada mas, semua akan berjalan dengan baik, kita serahkan semuanya kepada Allah." ucap Gilang menggenggam tangan istrinya.
"Mas, lapar. Apa kau tidak ingin membuatku makanan?" tanya Gilang mengalihkan pembicaraan.
"Sebentar mas, aku akan ke dapur dan melihat apa ada yang bisa kita makan." ucap anggun.
Anggun bergegas kedapur dan membuka kulkas. Mengambil telur, bawang, daun bawang dan seledri. Dan a mengiris semuanya tak lupa menambahkan sedikit lada karena tidak ada cabe.
Setengah jam kemudian makanan telah terhidang, telur dadar dan mie goreng.
Anggun memanggil Gilang dan mereka makan bersama.
"Mas, seperti bahan makanan di kulkas habis. Aku akan berbelanja sebentar." ucap anggun
"Biar mas antar, motor mu juga masih di rumah bunda kan?" ucap Gilang
Anggun mengangguk. Dia membereskan meja makan dan mencuci piring. Setelah itu mereka berdua berangkat ke pasar.
Satu jam berbelanja, semua bahan makanan telah mereka beli ada ikan, daging, ayam dan sayuran segar.
"Sayang, kita ke rumah mama Dewi." ucap Gilang
"Tapi aku takut mas,"
"Tidak apa apa, ada mas. Kita harus minta maaf untuk semua kesalahan yang kita lakukan. Wajar jika mereka marah, karena kita telah membohongi mereka." ucap Gilang
Gilang mengemudikan mobilnya ke rumah mertuanya. Anggun terlihat pucat dan takut, bayangan kemarahan Bu Yanti, dan kalimat nya yang meminta mereka bercerai semakin membuat anggun kehilangan kepercayaan dirinya.
"Tenanglah mas disini." ucap nya pelan namun sangat menyejukkan hati.
Gilang dan anggun melangkah turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," ucap anggun
"Waalaikum salam, sebentar!" ucap Bu Dewi Dari arah dalam rumah.
ceklek pintu terbuka.
"Anggun, kamu nggak apa apa nak?" tanya bu Dewi heboh.
__ADS_1
"Anggun nggak apa apa , ma. Seperti yang mama lihat, anggun baik baik saja." ucap anggun
"Kau, apa yang kau lakukan disini. Pergi?!!!" teriak Bu Dewi penuh emosi.
Gilang dan anggun terkejut melihat perubahan sikap mamanya.
"Ma, jangan gitu ma, malu di lihat orang. Mas Gilang kan suami anggun. Kita bicarakan baik baik, ma." ucap anggun menarik tangan mamanya masuk ke dalam rumah.
Gilang juga ikut masuk dan duduk dihadapan mertuanya.
"Ma,"
"Dengar ngun, mama sudah tahu semuanya. Kamu tak perlu lagi menutupi semua kebusukan suamimu itu. Maafkan mama, karena mama memaksa mu menikah hingga mama menjerumuskan kamu dan membuatmu tersiksa dengan pernikahan mu. Maafkan mama."
"Ma, anggun baik baik saja. Begitu juga hubungan Anggun dan mas Gilang."
"Sudahlah nggun jangan membohongi mama lagi. Mama sudah tahu semua, Bu Yanti sudah menceritakan semuanya kepada mama. Dan mama setuju dengannya. Mama rasa perceraian adalah jalan yang terbaik. Dan setelah ini mama tak akan memaksamu menikah lagi. Semua mama serahkan padamu." ucap Bu Dewi dengan sedih.
"Maa, siapa yang mau bercerai?" tanya anggun juga menangis.
"Bu, saya tak akan pernah menceraikan anggun, karena saya mencintainya. Saya benar benar menyayangi anggun."
"Omong kosong, jika kau mencintai putriku, kau tak akan menyiksanya. Cinta apa yang kau maksud, bahkan kalian tidur terpisah. Kau tidak pernah memperhatikan nya, kau menyakiti hatinya dan kau membawanya lari....setelah dia pergi meninggalkan mu bukan?
"Suami macam.apa yang kau maksud? kau menyiksa putriku!!!" teriak Bu Dewi.
Gilang bangkit dan bersimpuh di hadapan Bu Dewi. Anggun juga mengikutinya duduk bersimpuh di samping Gilang.
"Maafin Gilang Bu, apa yang ibu katakan semuanya benar, ya aku memang salah. Tapi aku sudah menyadari kesalahan ku Bu, aku dan anggun sudah sepakat untuk memulai semuanya dari awal. Kami akan memulai rumah tangga kami dengan cinta dan kejujuran.
Aku mencintai istriku Bu, jangan pisahkan kami." ucap Gilang di hadapan Bu Dewi
"Apa aku bisa memegang kata kamu!"
"Aku berani bersumpah Bu, Aku sangat menyayangi anggun."
"Dan kau anggun apa kau juga mencintai suamimu!" tanya Bu Dewi kepada anggun.
"Iya ma, anggun mencintai mas Gilang dan kami memang sudah sepakat untuk memulainya dari awal lagi." ucap anggun
"Baiklah mama percaya. Kembalilah ke tempat mu, Mama merestui kalian. Tapi satu hal yang mama ingatkan. Jika sekali saja mama dengar kau menyakiti anggun, maka mama akan mengambilnya dan kau tak akan bisa lagi menemuinya." ucap bu Dewi.
"Makasih ma," ucap anggun dan Gilang bersamaan.
"Kalian istirahat lah, mama mau ke keluar sebentar. Anggun buatkan minum untuk suamimu."
Setelah bu Dewi pergi, anggun memeluk erat suaminya. "Alhamdulillah mas, kita mendapatkan restu mama, tinggal mama Yanti. Aku yakin mama Yanti juga kan merestui kita jika kita menunjukkan keseriusan dalam hubungan kita ini." ucap Anggun.
"Sayang, mas ngantuk mau tidur dulu. Mas ke kamar ya." ucap Gilang.
Anggun mengangguk dan membiarkan Gilang ke kamarnya dan beristirahat. Tinggallah Anggun sendiri. Dia berjalan ke dapur dan mengambil buah di dalam kulkas.
****************
Sementara itu Bu Dewi ternyata pergi menemui besannya di rumahnya.
"Gimana jeng!" tanya Bu Yanti penasaran
"aku rasa mereka benar benar serius, buktinya Gilang sampai bersimpuh di hadapanku begitu juga anggun. Rencana kita berhasil, jeng."
"Aku senang sekali, berarti sebentar lagi kita kan segera punya cucu. Kamu tahu, aku bahagia sekali jeng," ucap Bu Dewi.
"Sama, saya juga bahagia. Besok kita datang kerumahnya dan buat kejutan untuk mereka berdua, gimana?"
"Boleh juga idenya. kalau begitu saya pulang dulu ya, sampai ketemu besok. Assalamualaikum" ucap Bu Dewi.
"Waalaikum salam,
__ADS_1