
Gilang memutar arah duduknya menghadap kearah anggun.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya?" tanya Gilang dengan nada tinggi.
"Kau ingin berpisah denganku dan kembali kepada Devan, iya!!!" bentak Gilang
Gilang tak lagi dapat menahan amarahnya. Dia begitu kesal dan marah karena angggun menghindari nya, dan coba lari dari hidupnya.
"Lepaskan aku!" ucap anggun datar
"Apa maksud mu, mengapa kau tiba tiba ingin pisah dariku? jelaskan mengapa kau menghindari ku?" ucap Gilang coba meredam amarahnya.
"Tidak ada, aku hanya ingin mengakhiri pernikahan ini, buka kah sejak awal kita sudah sepakat."
"Aku tidak akan menceraikanmu!" ucap Gilang dengan nada tinggi memotong kalimat anggun yang belum selesai.
"Sudahlah aku lelah, buka kuncinya aku akan turun disini." ucap anggun yang coba menahan setitik bening air yang hampir saja lolos.
Anggun tak mau lebih lama lagi bicara dengan Gilang, anggun takut dia tak dapat menahan perasaan nya dan Gilang menyadarinya.
Anggun sungguh tidak kuat lagi, lebih lama didekat Gilang membuatnya sulit melupakan Gilang dan semakin mencintai nya.
"Oh, aku tahu kau pasti janjian dengan Devan kan? ya kan?" bentak Gilang.
"Jangan bawa bawa pak Devan, aku nggak punya hubungan apapun dengannya. Sudahlah mas, cepat buka aku malas berdebat denganmu." ucap anggun memohon.
"Lepaskan aku mas, aku mohon!!" ucap anggun dengan ekspresi sedih.
"Tidak akan, lebih baik kita mati bersama daripada harus berpisah " ucap Gilang
Dia kembalikan menyalakan mesin mobilnya.
"Mas, apa yang akan kamu lakukan?" tanya anggun panik.
Setelah bicara Gilang mengemudikan mobilnya kembali dengan kecepatan tinggi. Dia ngebut membuat anggun semakin takut
"Kau ingin pergi meninggalkan ku kan! kita akan mati bersama, karena aku tak akan pernah meninggalkan mu." ucap Gilang
Gilang terus ngebut bahkan beberapa kali mereka hampir menabrak mobil yang berpapasan dengan mereka.
"Berhenti mas, berhenti..... mas ....." ucap anggun pada Gilang dan memegangi lengannya.
"Bukankah kau mau pergi, biar kita sama sama mati." ucap Gilang
Masih dengan penuh emosi dan mengemudikan mobilnya cepat.
"Mas...mas...ok, aku menyerah tapi aku mohon hentikan mas, jangan kayak gini." ucap anggun dengan derai airmata.
Tangannya masih memegangi lengan Gilang yang mengerem mobilnya mendadak.
__ADS_1
ciiiiit,......terdengar suara decitan ban mobilnya.
Anggun hampir terpental ke depan dan menabrak dasbord, Gilang menoleh kearahnya masih dengan tatapan tajamnya.
"Apa kau takut mati?" ucap Gilang dengan wajah galaknya.
"Mas...semua bisa kita bicarakan baik baik, jangan seperti ini mas, aku mohon." ucap anggun, airmatanya terus mengalir dengan deras dan tak terbendung lagi.
Hati Gilang sakit melihatnya menangis, dan kemarahannya perlahan melebur berganti dengan rasa iba.
"Maafkan aku!" ucap Gilang pelan.
Setelahnya Gilang tak bicara lagi begitu juga anggun. Keduanya tenggelam dengan perasaan nya masing masing.
Beberapa menit berlalu, Gilang kembali mengemudikan mobilnya. Namun kali ini dia menjalankannya dengan lebih lambat dan hati hati.
Anggun masih saja menangis, lelah rasanya dengan semua ini. Kemarahan yang seharusnya dia ucapkan kepada Gilang, malah berbalik Gilang lah yang memarahinya.
Satu jam kemudian, mereka tiba disebuah villa sunyi di pinggiran danau.
Gilang turun dan membukakan pintu untuk anggun. Gilang tak bersuara tapi tatapan matanya seakan menghunus tajam dan mengatakan jika dia tak mau dibantah.
Anggun turun, dan langsung di tarik paksa oleh Gilang.
"Mas, ini dimana?" ucap anggun
Anggun memperhatikan sekeliling yang sudah gelap karena hari sudah hampir malam, dan suasananya juga sunyi.
"Mas...jawab aku mas...ini dimana? kau...kau mau membawaku kemana mas?' ucap anggun ketakutan.
"Diamlah, aku akan membawamu ke tempat dimana hanya ada kau dan aku. Tak seorang pun yang akan menggangu kita." ucap Gilang.
"Aku mau pulang mas, tolong lepaskan aku.!" teriak anggun memohon.
"Apa susahnya menurut? mengapa kau selalu saja membantahku. Aku ini suami mu. Dan kau tahu kan seorang istri harus patuh dan taat kepada suaminya. Kemana pun suaminya pergi istri harus mengikutinya, benar bukan?" tanya Gilang.
"I..iiya mas, tapi.."
"Tapi apa lagi?" bentak Gilang
Anggun kembali ketakutan melihat kilatan amarah Dimata Gilang yang masih menusuk nya dengan tatapan tajam. Akhirnya dia menyerah dan menuruti langkah Gilang yang terus menariknya masuk ke dalam bangunan yang menyerupai sebuah rumah.
Penjaga menyapa mereka berdua dan mengucapkan salam, Gilang diam tak menanggapinya. Dia terus membawa anggun masuk dan menariknya ke dalam kamar.
Gilang memcampakkan anggun diatas ranjang kemudian dia mengunci pintunya dari dalam dan mengantongi kuncinya.
"Mas....apa ...apa yang kamu lakukan? buka pintunya mas!" ucap anggun dengan wajah penuh ketakutan.
Sulit baginya menerka perasaan Gilang padanya karena yang tampak hanyalah kemarahannya saja.
__ADS_1
Anggun terus beringsut menjauh ketika Gilang mencoba mendekati nya Gilang menarik tangan anggun dan menyentakkan nya kuat hingga anggun membentur dadanya.
"Layani aku, sebagai suami mu!" ucap Gilang.
Anggun terkejut, matanya membulat sempurna. Dia tak menyangka jika itu yang dinginkan suaminya.
Apakah dia mencariku hanya untuk melampiaskan hasratnya, sebatas itukah perasaan nya padaku.
Anggun masih larut dengan pemikirannya, saat Gilang mulai mencium bibirnya dengan kasar. Dia menggigit bibir anggun agar dia mau membuka mulutnya.
Gilang terus melakukan aksinya walaupun anggun terus berusaha meronta dibawah kungkungannya. Gilang sudah gelap mata dan diliputi rasa cemburu yang membabi buta terhadap Devan. Ditambah penolakan anggun yang salah diartikan olehnya.
Anggun tak terima dengan perlakuan suaminya ini. Dia bisa saja memintanya dengan cara lembut dan baik baik bukan memaksa ku seperti ini. Apa dia menganggap ku hanya sebagai pemuas nafsunya!
Akhirnya anggun mengalah dan pasrah di bawah Gilang. Dia tak lagi melawan, diam dan membiarkan Gilang melakukan apa pun yang dia mau.
Gilang yang dibakar api cemburu, dan juga kerinduan kepada anggun terus melakukan nya tanpa memperdulikan anggun yang terus menangis dibawahnya. Hingga dia mendapatkan pelepasan dan membenamkan benihnya di dalam rahim anggun.
Anggun menangis dan menutupi tubuh polosnya dengan selimut, dia merasa sakit tak hanya di tubuhnya tapi juga hatinya. Hatinya benar benar terluka akan perlakuan Gilang.
Gilang berdiri dan memunguti pakaiannya, Tak memperdulikan anggun yang terus menangis. Dia meninggalkan anggun begitu saja. Di depan pintu Gilang berdiri membelakangi nya, "Itu hanya peringatan, agar kau tahu, jika kau adalah istri ku." ucap Gilang.
Setelah itu dia pergi keluar dan meninggalkan anggun yang terus menangis sedih.
Gilang mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Dia duduk di teras depan. anginmalam.yang dingin masih belum mampu mendinginkan hatinya.
Tangisan anggun dan penolakannya masih membuat hati Gilang bertanya tanya, bagaimana sebenarnya perasaan istri nya terhadap dirinya.
"Apa hubungan Devan dan anggun sebenarnya?"
"Mengapa dia menangis? apa dia menyesal?"
"Apa aku keterlaluan? Tapi aku kan suaminya?"
Akh......
Gilang terus terbayang bayang wajah anggun yang menatapnya dengan memelas dan berlinang airmata.
Hatinya terasa sakit tapi hasrat nya tak dapat dia bendung, ditambah kemarahannya hingga dia melupakan rasa iba di hatinya berganti rasa sakit karena sikap penolakan istrinya.
"Aku tak akan membiarkan Devan dan siapa pun mendekatinya, karena dia adalah istriku."
Gilang mengepal kan kedua tangannya.
Gilang terus berpikir, sementara anggun memunguti pakaiannya dan masuk ke dlaam kamar mandi, dia mengguyur tubuhnya di bawah shower.
Sikap kasar Gilang dan perlakuannya terhadap anggun menyisakan ketakutan dan trauma pada diri anggun. Dia menggosok seluruh tubuhnya dengan air hingga dia lelah dan terduduk di lantai.
Gilang masuk dua jam kemudian, dia tak mendapati anggun di dalam kamar, talindia mendengar gemericik air darinkamar mandi, Gilang mengetuk pintu dan memanggilnya manggil nama istrinya, anggun tak menjawab.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian dia keluar dan melewati Gilang begitu saja.
Gilang bernafas lega, istrinya baik baik saja.