
"Loh ada tamu, kok nggak diajak masuk? kamu gimana sih nggun." ucap Bu Dewi.
"Pagi Tante." sapa Gilang ramah.
"" pagi, saya mama nya Anggun."
"Masuk yuk, ini si anggun masak tamunya dibiarin diluar.
"Nggak apa apa Tante disini saja."
" Gilang Tante." ucap Gilang dengan sopan dan ramah. Tangannya terulur menyalim dan mencium tangan Bu Dewi.
Wajah Bu Dewi berbinar dia terlihat sangat senang, Anggun tersenyum miris melihatnya.
Jadi namanya anggun, aku bahkan tidak menanyakan namanya. bathin Gilang
"Oh ya, Tante. Saya mau mengajak anggun keluar. Sepupu saya menikah dan saya ingin mengajak anggun." ucap Gilang.
"Boleh, tapi ingat pulangnya jangan malam malam ya. Oh ya, apa kamu yang mengantarkan anak saya tadi malam." ucap bu Dewi.
"Darimana ibu bisa tahu." jawab Gilang.
"Insting seorang ibu tidak pernah bohong. Terima kasih nak, ibu sangat berhutang Budi padamu." ucap Bu Dewi tulus.
"Iya Bu, siapapun pasti akan menolong nya. Ibu tak perlu berterima kasih."
Anggun turun kebawah dengan gamis berwarna peach senada dengan hijabnya. Lagi lagi Gilang di buat terpesona oleh kecantikan dan keanggunan ya.
sesuai dengan namanya anggun.
"Sudah siap? ayo!" ucap Gilang.
"Kami pamit dulu Bu. Assalamualaikum." ucap Gilang sopan.
"Anggun pamit Bu, assalamualaikum." ucap anggun mencium tangan ibunya.
"Waalaikum salam hati hati nak." ucap Bu Dewi.
Mobil melaju meninggalkan rumah anggun dan berjalan dengan kecepatan sedang. Anggun tak membuka suaranya, dia memilih diam.
Gilang membelokkan mobilnya ke sebuah toko. Dia memilih sebuah kado untuk sepupunya.
Setelah selesai dia memberikannya kepada anggun.
Gilang menatap anggun.
"Dengar, akting dimulai dari sekarang. Saat ini kau berpura pura menjadi kekasih ku. Jadi bersikaplah selayaknya seorang kekasih." ucap Gilang.
"Tapi tidak ada kontak fisik!" ucap anggun cepat.
"baik aku setuju, lagipula apa yang mau aku lakukan padamu. Tapi kita harus bergandengan tangan, apa itu juga tidak boleh? "
Lama berpikir akhirnya anggun mengagguk.
"Ok hanya sebatas berpegangan tangan. Itupun jika terpaksa. Tidak lebih."
Mana ponselmu?" tanya Gilang
"Untuk apa? "
"Cepat berikan.!"
Anggun mengambil ponselnya dan memberikannya pada Gilang.
"Paswordnya?"
"270793"
Gilang tampak mengetik setelah itu dia mendial ponselnya.
"Ini nomorku, dan aku sudah menyimpannya dengan nama sayangku."
Kemudian Gilang mengembalikan ponsel anggun.
Dia menyimpan nomor anggun dengan nama Pesek.
"Kok pesek sih!" ucap anggun protes.
__ADS_1
"Kan memang benar kamu pesek dan itu panggilan sayang aku ke kamu. Ingat kita ini berpacaran. Oh ya siapa nama lengkap mu."
"Adelia Anggun."
Gilang manggut manggut dan kembali menyalakan mobilnya. Satu jam kemudian mereka sampai di tempat yang dituju.
"Ayo" ucap Gilang yang sudah turun dan bersiap menggandeng tangan anggun. Anggun melirik kearah tangannya, ada perasaan yang tak bisa dia ungkapkan. Sentuhan tangan Gilang memberikan rasa yang berbeda. Gilang lah lelaki pertama yang menggenggam tangannya.
Hilang tak perduli, dia terus saja berjalan. Mereka berjalan bergandengan tangan. Gilang tersenyum lebar ke arah keluarganya. Orang orang berbisik melihat Gilang datang membawa kekasihnya, yang membuat mereka semakin terkejut, dia membawa gadis berhijab.
Mamanya langsung keluar dan menemuinya.
"Sayang, akhirnya kau datang nak."
"Aku pasti datang Bu, oh ya Bu kenalkan ini Adel. " ucap Gilang.
Entah mengapa dia lebih suka memanggilnya Adel.
"Assalamualaikum Tante." sapa anggun sopan dan menyalim tangan Bu Yanti.
Bu Yanti merasa sangat tersentuh dengan sikap sopan santun anggun. Apalagi dia sangat cantik.
"Waalaikum salam, kamu cantik sekali. Gilang, mama nggak nyangka." ucapnya masih tak percaya.
"mbak, acara sudah mau di mulai." ucapan Mila terhenti karena melihat anggun disana.
"Bu anggun?" ucapnya terkejut.
"Loh ibu kenal dengan Adel?" tanya Bu Yanti penasaran.
"Bu Mila." ucap anggun pelan. Dia tak kalah terkejut mendengarnya. Apa ini pernikahan Devan, jangan jangan sepupunya Gilang adalah Devan. Dunia memang sempit. Pantas mereka sangat mirip. sama sama playboy. bathin anggun.
"Tante kenal Adel, dia ini pacar Gilang Tante." ucap Gilang memperkenalkan anggun.
Bu Mila semakin terkejut, bisa bisanya dia kekasih keponakannya.
"Tante ya kenal betul, wong dia satu kerjaan dengan Tante. Tiap hari tante ketemu dengan dia."
"Maksudmu dia guru di sekolah mu?" tanya Bu Yanti.
"Wah ternyata calon mantuku seorang guru, Gilang memang pintar mencari istri. Aku sangat setuju. Habis Devan kita akan bicarakan pernikahan kalian" ucap Bu Yanti.
"Sudah ayo, acaranya sudah mau di mulai." ucap Bu Mila.
Anggun terlihat terkejut dan syok mendengar ucapan Bu Yanti. Menikah? dengan Gilang, No. ini di luar perjanjian. Anggun menatap Gilang namun yang dia tatap diam tak bersuara.
Acara pernikahan Devan di mulai. Dengan lantang dia mengucapkan ijab kabul. Setelahnya adalah acara kumpul keluarga.
Bu Yanti mengenalkan anggun ke pada keluarga besarnya. Kelihatannya Bu Yanti begitu bersemangat. Dia sangat menyukai anggun yang cantik dan Soleha.
"Gilang, aku nggak percaya jika dia pacarmu!" ucap Devan. Dia menatap anggun penuh arti.
"Apa maksudmu?"
"Aku mengenalnya, setahun lebih aku mengejarnya dan dia tetap menutup dirinya dan menolak ku, jadi aku kenal betul gimana sifatnya. Kau pasti berbohong." ucap Devan.
"Wow, aku baru tahu seorang playboy sepertinya mu pernah di tolak cewek. hahaha" Gilang tertawa.
"Aku tidak bohong, aku lebih dulu mengenalnya, dia adik kelasku di SMA. Dan kami benar pacaran." ucap Gilang.
"Aku melihat wajah dan senyumnya yang terpaksa. Apa yang membuatnya mau menuruti keinginan mu, ingat dia gadis baik baik, Jangan samakan dia dengan gadis gadis mantan mu dulu." ucap Devan.
"Aku tahu,"
"Baguslah jika kau berhasil memenangkan hatinya, aku salut padamu. Tapi jika sampai kau hanya ingin mempermainkannya, aku akan menghajar mu."
"Hai bro, lihat istrimu kau baru saja menikah dan kau membahas cewek lain?"
"Aku tidak mencintai nya lagi, aku menganggapnya adikku, banyak pelajaran yang dia berikan padaku. Aku bertobat juga karena dirinya. Kau sungguh beruntung jika bisa mendapatkan nya." ucap Devan.
"Tapi aku tidak yakin, kau akan bertahan. Dia dekat tapi jauh," ucap Devan lagi.
Gilang terdiam mencerna kalimat Devan. Sebegitu hebatnya kah dirinya, aku jadi penasaran.
Sore hari Gilang bersiap mengantarkan anggun pulang. Tapi ibunya terus saja menghalanginya, bahkan ibunya terus mengajak Anggun mengobrol.
"Gilang, Minggu depan bawa Adel main ke rumah ya. Banyak yang ingin ibu bicarakan dengannya." ucap Bu Yanti.
__ADS_1
"Gilang nggak janji Bu, lagipula Adel juga mungkin akan sibuk minggu depan."
"Kamu itu ya!!' ucap Bu Yanti marah.
"Nak Adel, minggu depan bisa kan datang ke rumah Tante?"
"Insha Allah ya Tante, Adel nggak janji, Akan Adel usahakan." jawab anggun bingung. Dia melirik ke arah Gilang tapi Gilang tetap cuek bebek.
"hati hati ya, jika Gilang macam macam bilang sama ibu, biar ibu jeweer. Salam sama orangtuamu ya nak."
"Adel pamit ya Bu, assalamualaikum" kembali anggun mencium tangan Bu Yanti.
Bu Yanti menatap kepergian mereka, " Dia harus menantu ku bagaomana pun caranya.
Di perjalanan mereka berdua diam. Anggun memilih diam dan merebahkan kepalanya. Terdengar azan Magrib, anggun meminta Gilang membelokkan mobilnya ke mesjid di depan mereka sebentar.
"Boleh minta tolong!"
"Apa?" tanya Gilang.
"Bisa kita berhenti di mesjid di depan, aku mau sholat magrib."
Gilang tersentak, dia segera membelokkan mobilnya ke masjid yang ada di depan. Anggun turun dan masuk ke dalam. Dia kemudian sholat.
Dia benar benar berbeda, dia tidak hanya cantik tapi juga Sholeha.
Setelahnya anggun kembali ke mobil dan perjalanan kembali di lanjutkan.
Kata kata Devan mengganjal dipikiran Gilang.
Apa istimewanya gadis ini, hingga Devan terlihat begitu menyukainya.
"Del, Devan mantan mu ya?"
Anggun menoleh dan menjawab dengan tegas. " Nggak"
"Jangan bohong deh, aku bisa jaga rahasia kok!"
"Beneran kita nggak pacaran."
"Terus kenapa dia kayaknya kenal banget ma kamu, ada hubungan apa di antara kalian?"
"Nggak ada, kita cuma temenan."
"Aku nggak percaya, buktinya kamu sewot , saat aku sebut namanya. Kamu masih cinta ya.!"
Anggun menatap horor kearah Gilang.
"Aku bilang aku nggak pacaran dan aku nggak mau pacaran, paham nggak sih! ucapnya penuh emosi.
"Jangan bilang kamu nggak pernah pacaran?" cecar Gilang.
"Nggak usah ngaco fokus aja menyetir, aku belum mau mati muda apalagi mati sia sia."
"Fix kamu nggak pernah pacaran. Pantas saja kamu belum juga dapat jodoh. Hahaha"
Anggun memilih diam dan membiarkan Gilang mentertawakan nya sepuasnya. Toh setelah ini dia tidak akan bertemu lagi dengannya.
Lama keduanya terdiam, hingga Gilang membelokkan mobilnya memasuki pekarangan rumah anggun.
"Nggak usah mampir deh, dah malam." ucap anggun.
"pantes nggak punya pacar, jadi cewek judes amat, ngga ada manis manisnya." Gerutu Gilang
"aku masih dengar" jawab anggun. Hatinya lelah berdebat terus dengan Gilang. Bertengkar dengan Gilang membuat emosinya nggak stabil.
"Sengaja. Da...."
Gilang melajukan mobilnya dan pulang ke rumah dinasnya. Besok pagi diri nya harus bangun cepat dan kembali bekerja.
Tadi dia sudah menyuruh sekuriti yang menjaga rumahnya untuk mengantarkan sepeda motor anggun ke rumahnya.
Anggun masuk ke dalam rumah, mamanya sudah menunggunya dengan sejuta pertanyaan.
Namun dia harus menyimpannya dan menanyakannya nanti, karena anggun dalam mode sedang tak ingin di ganggu.
Tinggalkan jejak dengan Like vote dan koin seikhlasnya. Terima kasih.
__ADS_1