Benih Yang Kau Titipkan

Benih Yang Kau Titipkan
Bab 18


__ADS_3

"Siapa namamu?" tanya Dev. Dia mengajak kedua bocah itu ke restoran yang cukup mewah di kota New Delhi.


Krish dan Rahul tak lantas langsung menjawab. Mereka berdua merasa takjub dengan keindahan interior ruangan yang dipilih oleh penyanyi terkenal itu. Dev mengajak mereka ke ruang VIP, yang di mana tak sembarangan orang bisa masuk.


Kedua bocah itu saling memandang, lalu tersenyum. Dev terus menatap bola mata cokelat milik Krish, bulu matanya yang lentik mengingatkannya pada Kiran. Lalu, dia menggelengkan kepala dengan cepat. Menepis bayang-bayang wajah Kiran yang terus menghiasi di setiap hari bahkan setiap detik.


Setelah di telisik dengan dalam, Dev merasa dirinya ada kemiripan dengan bocah itu. Namun, dia tak ingin selalu menduga-duga. Nyatanya dia selalu kecewa dengan kenyataan yang selalu tak pernah berpihak kepadanya. Lagian, mana mungkin bocah miskin itu anaknya. Kiran pasti hidup berkecukupan bukan? Terakhir dia melihat tampilan Kiran waktu itu cukup baik, bahkan penampilannya tidak berubah. Masih memakai pakaian yang bagus, tanpa dia tahu bahwa baju yang dikenakan Kiran waktu itu adalah pemberian, Neha. Wanita yang selalu menjadi Dewi penolongnya.


"Jadi, siapa nama kalian?" tanya Dev untuk yang kedua kalinya.


"Namaku, Rahul. Dan dia, Krish. Sahabatku." Rahul merangkul Krish sembari tersenyum.


"Kalau kau temanku, kenapa kau menertawakan ku tadi?" tanya Krish dengan polos. "Kau menertawakan ku karena aku miskin," sambung Krish.


"Kau ini selalu tersinggung dengan ucapanku, kau kan tau aku sering bercanda," ujar Rahul.


"Sudah, sudah. Kalian jangan bertengkar, Paman mengajak kalian ke sini untuk bersenang-senang. Kalian boleh pesan apa pun yang kalian mau," kata Dev.


"Sungguh?!" Rahul nampak senang.


Tapi tidak dengan Krish, bocah itu teringat ibunya. Wanita itu selalu mengutamakan dirinya, sehingga dia bersedih bisa makan yang enak. Sementara ibunya tidak tau makan apa di tempat kerjanya.


"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Dev.


"Apa aku boleh membungkus makanannya?" tanya Krish dengan nada yang cukup pelan.

__ADS_1


"Tentu, kau boleh membawa pulang makanan itu untuk ibumu," kata Dev.


Krish langsung sumringah, matanya berbinar bahagia. Jika dia bisa makan enak, maka ibunya pun harus makan enak. Akhirnya, kedua bocah itu memesan makanan kesukaan mereka.


"Apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Dev. Permintaannya menghentikan aktivitas para bocah itu.


"Apa? Asal jangan menyuruh kami membayarnya karena kami tidak punya uang," jawab Rahul dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Tidak, aku hanya ingin Krish menyanyi. Nyanyikanlah laguku dengan syahdu," pinta Dev.


"Itu hal yang mudah, Krish akan menyanyi tapi nanti setelah kami selesai makan." Rahul selalu menjawab karena sedari tadi Krish hanya fokus makan. Dia memanfaatkan itu karena dia tidak tahu kapan lagi bisa memakan makanan yang enak di restoran itu.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Dev pada Krish.


"Dia pemalu, Paman. Biarkan dia makan sepuasnya," kata Rahul.


Perpaduan wajah yang tidak asing baginya, kenapa dia merasa melihat wajahnya juga wajah Kiran ada di wajah Krish? Namun, dia tak berani bertanya banyak hal mengenai itu. Dia juga mengusap pucuk kepala Krish sampai anak laki-laki itu menoleh dan tersenyum manis.


***


Krish bernyanyi, dia menyanyikan dua lagu. Lagu yang dia hafal adalah ciptaan ibunya sendiri, tanpa Krish tahu apa makna dari lagu itu. Dev yang mendengarnya pun sampai menangis.


"Kenapa Paman menangis?" tanya Krish, dia menghentikan lagunya di bait terakhir.


"Tidak apa-apa, Paman suka lagu itu karena ciptaan orang yang paling spesial," jawab Dev apa adanya.

__ADS_1


Krish dan Rahul melupakan sesuatu, mereka pergi cukup lama hari itu.


"Rahul, jam berapa ini? Kita harus segera pulang. Bibi Neha pasti mencariku, kalau Mommy ku tau aku pergi dia bisa marah," ujar Krish. "Paman, kita harus pergi," pamit Krish.


"Iya, kami harus pergi. Terima kasih makanannya," timpal Rahul.


Kedua bocah itu keluar dari restoran, kedua tangan mereka membawa bungkusan. Dev tak lupa menepati janjinya pada mereka. Krish dan Rahul membawakan makanan untuk orang tuanya.


Sedangkan di tempat lain.


Kiran sudah ketar-ketir mencari Krish. Apa lagi dia tahu bahwa anaknya pergi dengan Rahul. Anak yang cukup terkenal dengan bandelnya. Kiran dan ibunya Rahul sampai berdebat saling menyalahkan.


"Anakku pergi pasti ajakan anakmu!" sentak Puja ibunya Rahul. "Diakan sering ke kota untuk ngamen," sambungnya.


"Berhentilah saling menyalahkan," kata Neha. Dia melerai pertengkaran itu, meski memang sering terjadi pertengkaran di antara mereka.


"Tapi dia sudah keterlaluan, Neha. Dia selalu menyalahkan Krish, dia selalu merasa dirinya paling benar. Dan kali ini aku tidak suka dia menyalahkan anakku. Dan kau bilang tadi Rahul yang datang dan mengajak Krish pergi bukan?"


Di tengah-tengah pertengkaran itu, Krish dan Rahul akhirnya kembali. Kedua bocah itu datang dengan raut wajah tak berdosa.


"Mommy, aku pulang," kata Krish tiba-tiba dari sebrang sana.


"Krish, dari mana saja kau ini, hah?! Kenapa selalu buat Mommy khawatir?"


"Ini untuk, Mommy. Mommy harus tau ini dari siapa, ini dari pama Dev. Penyanyi idola, Mommy," tutur Krish.

__ADS_1


Kiran membulatkan kedua matanya.


"Apa?" Kiran sangat terkejut.


__ADS_2